Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Berdua


__ADS_3

Amara dan Micho berjalan ke arah kantor polisi yang menahan Prayoga. Amara dan Micho keluar bersamaan. Micho menatap Amara, Amara berjalan menuju ke arah Micho yang memandang ke depan.


"Aku tidak tau, bagaimana sebenarnya semua ini bisa terjadi. Entah ini kesalahan papa, atau memang salah mereka. Yang pasti sebenarnya aku tidak pernah mau berada di posisi ini, sebagai anak angkat yang telah dirawat papa sejak kecil, rasanya tidak adil jika aku mengabaikan permintaannya untuk menghendel perusahaan yang kacau ini." ucap Micho panjang lebar.


Amara menghela napas panjang dan menatap ke arah Micho. Ini pertama kali lelaki tampan itu berbicara panjang lebar padanya. Dan hal yang sangat mengejutkan baginya adalah ketika Micho mengatakan bahwa dirinya adalah anak angkat. Ada rasa sesak yang menyeruak masuk di dadanya. Amara mendengar semua keluh kesah yang diucapkan Micho.


"Dari kecil hanya papa yang selalu memberikan aku kasih sayang yang tak henti, tanpa papa aku tidak akan seperti ini. Tanpa papa aku hanya anak terbuang yang mungkin menjadi gelandangan, orang tuaku? Aku tak tau dimana mereka," ucap Micho.


Amara menatap ke arah Micho. Dibalik semua sifat dingin Micho ternyata ada sebuah kesedihan yang dia pendam. Amara menghela napas panjang. Memposisikan dirinya pada Micho. Mungkin dia akan bersedih jika orang yang merawat dia dari kecil mengalami hal yang serupa. Dan pasti sangat terpukul bila dia tau bahwa dirinya hanya anak angkat yang tak tau dimana orang tua kandungnya.


"Aku tau bagaimana sakit yang kamu rasakan, yang perlu kamu tau sekarang kamu tidak sendiri. Bukankan aku istri dan juga temanmu? Aku akan berdiri disampingmu, menghadapi masalah bersama," ucap Amara sambil bersandar di mobil.


Micho melirik Amara, didekat Amara benar-benar membuatnya nyaman. Wajah cantik itu tersenyum memandangnya.


"Sebaiknya kita ke dalam," ucap Amara sambil berdiri dan melangkah.


"Amara,!" panggil Micho. Amara berhenti dan menunggu Micho.


"Ya," sahut Amara saat Micho telah sampai di dekatnya.


"Boleh aku menggenggam tanganmu?" tanya Micho. Amara tampak terkejut dan memandang Micho dengan senyum.


"Kalau boleh, kalo tidak juga aku tidak memaksa." ucap Micho lagi. Amara tertawa dan mengulurkan tangannya.


"Kenapa kamu bertanya, bukankah kamu bebas melakukan apapun? Biasanya kamu akan melakukan tanpa meminta izin," goda Amara. Micho terdiam, ia menautkan jemari tangannya di jari Amara. Menggenggam tangan Amara membuatnya kuat dan merasa nyaman menghadapi kenyataan ini.


Mereka berjalan ke dalam, membuat izin untuk bertemu dengan papanya. Amara dan Micho duduk bersebelahan, tak berselang lama, Prayoga datang dengan memakai kaos tahanan. Micho dan Amara berdiri dan men dekat ke arah Prayoga. Micho meraih Prayoga dalam pelukannya.

__ADS_1


"Pa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Micho. Micho melepaskan pelukan papanya dan menatap papanya dengan sorot mata tajam.


"Micho, biarkan papa mendapat hukuman atas perbuatan papa. Kamu berbahagialah dengan Nona Amara, jangan mengecewakan papa, om Herman juga tante Elisa." ucap papanya. Amara menatap ke arah mertuanya.


"Pa, kita akan berusaha menyelamatkan papa." ucap Micho. Prayoga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Papa melakukan semua hanya untuk kamu, sekarang kamu sudah bahagia. Walaupun papa harus mendekam disini itu tidak masalah," ucap Prayoga. Micho menggelengkan kepalanya.


"Pa,"


Sebelum Micho menyelesaikan pembicaraan, seorang polisi datang dan memberi tau jika waktu telah habis. Micho memejamkan matanya, Prayoga tersenyum dan menepuk pundak anaknya kemudian melangkah mengikuti petugas.


Amara melihat Micho mengepalkan tangannya. Amara menatap Micho yang tampak terpukul dan menepuk pundak Micho.


"Sebaiknya kita pulang, Mas." ucap Amara. Micho menatap beberapa surat tahanan yang di tujukan pada Prayoga dari kepolisian yang diajukan oleh Abimanyu Narendra Alexander.


"Kita urus besok lagi," ucap Amara. Micho mengambil ponselnya dan menghubungi Damar.


"Ada apa Bos?" tanya Damar, tampak khawatir.


"Ambil mobil Amara di alamat yang aku kirimkan, aku ada urusan dengannya." ucap Damar kemudian menutup ponselnya. Amara menatap Micho. Micho menarik tangan Amara dan mengajak Amara masuk ke dalam mobilnya.


"Kita kau kemana mas?" tanya Amara. Micho terdiam dan menancap gas mobilnya.


Tak ada kata yang terucap, keduanya sama-sama terdiam. Amara mengambil ponselnya dan mencari kontak Rafa.


Kakak ada waktu besok? Papa Prayoga di tahan, Micho tampak terpukul. Bantu aku untuk mengurusnya, Kak.

__ADS_1


Rafa yang sedang membereskan beberapa berkas melirik ponselnya. Ada pesan dari Amara adik kesayangannya. Rafa mengambil ponselnya dan mengernyitan dahinya.


Apa yang terjadi? tanya Rafa.


Aku belum tau pasti, Kak. Aku akan mencoba mengajak bicara Micho. jawab Amara


Dia kepala batu, Kau harus membujuknya. tulis Rafa. Amara melirik Micho dan mengabaikan pesan Rafa.


Kita bicara nanti malam, pulanglah ke rumah utama. lanjut Rafa lagi.


Micho menghentikan mobilnya di sebuah taman yang indah. Setelah makan dan mengerjakan Sholat magrib, Micho memutuskan untuk mangajak Amara ke tempat yang indah ini. Micho keluar dan diikuti oleh Amara.


"Kamu sering kesini Mas?" tanya Amara sambil menikmati udara segar malam ini. Micho menatap Amara kemudian menatap hamparan bunga yang indah. Tempat ini adalah tempat yang sering di datangi bersama Sabrina, dan hanya Amara wanita kedua yang diajaknya ke tempat ini.


"Dulu, bersama Sabrina." ucap Micho. Amara tampak terusik, mendengar nama Sabrina memberikan sesak di dadanya, tampak goresan penyesalan di hatinya. Micho berbaring menggunakan tangannya sebagai bantal. Dia menatap langit yang indah bertaburan dengan bintang. Sedangkan Amara duduk disebelahnya.


"Kau tau, sebenarnya Sabrina tak pernah mencintaiku." ucap Micho, Amara menoleh dan menatap ke arah Micho yang menatap langit. Lalu, bagaimana bisa mereka hampir menikah jika tidak saling mencintai? batin Amara.


"Aku memaksanya untuk menerima ku, dengan segala cara aku mengejarnya. Aku merasa egois untuk memilikinya meskipun dia tidak pernah mencintai aku. Mungkin takdir memang menginginkan ku untuk hidup dalam kesendirian, hingga pernikahan ku gagal," ucap Micho. Amara masih mendengar ucapan Micho rasa sesak semakin menyeruak di hatinya mendengar ucapan Micho. Bagaimana bisa dia menghancurkan pernikahan Micho yang bisa di dapat dengan segala perjuangan? Amara meneteskan air mata.


"Maafkan aku, Mas." ucap Amara disela isak tangisnya, Micho melirik Amara dan mendapati wajah cantik itu tampak sembab. Micho duduk dan menatap Amara dengan teduh, melihat istrinya menangis membuat dirinya terluka.


"Kenapa menangis? Kenapa meminta maaf? Ini bukan salahmu," Micho mengusap air mata Amara yang terus mengalir. Amara menatap Micho yang tampak khawatir.


"Aku yang menggagalkan pernikahanmu, Mas. Jika aku tidak datang bukankah kalian telah bahagia?" ucap Amara. Micho memejamkan matanya, ia hanya ingin mengeluarkan jeritan hati yang selamat ini disimpannya sendiri. Tapi kenapa malah semakin membuat dirinya terluka ketika menyampaikan pada Amara?


😢😢😢😢

__ADS_1


__ADS_2