Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Mengikuti permintaan


__ADS_3

Micho terus mencari, dia mendengar suara seseorang, dia menoleh, dan yang dia lihat adalah punggung orang yang sedang memunguti belanjaan, mungkin wanita itu sangat ceroboh sehingga menabrak belanjaan orang lain.


Hatinya terasa sesak. Dunia seakan berhenti berputar, bayangan masa-masa bahagia terngiang diotaknya. Kakinya terus saja melangkah menyentuh pundak seorang yang didepannya.


"Sabrina," ucap Mico sambil memegang kedua pundak gadis itu. Gadis itu menoleh, terkejut saat melihat orang dibelakangnya menyentuhnya.


"Maaf mas, saya bukan Sabrina," ucap gadis itu. Menyadari gadis itu bukan orang yang dia garing, Micho tersenyum garing memandang wajah didepannya, kemudian menurunkan tangannya dari pundak orang itu, beberapa orang mengamati Micho yang tampak pias.


"Maaf mbak. Saya kira kekasih saya," ucap Micho kemudian berlalu. Micho mengusap wajah kasar dan melangkah pergi.


****


Amara dan Nada juga Wendi menunggu di ruang tunggu, Nada terus saja tertawa melihat Amara yang menghindari Wendi. Amara selalu emosi dekat dengan lelaki kemayu itu. Tak lama dari itu, jemputan untuk Nada datang. Seorang paruh baya datang dan mendekati mereka.


"Ayah," Nada berdiri dan menyambut ayahnya. Memeluknya dan menghilangkan keriunduan yang mendalam. Amara mendekati mereka dan menyapa ayah Nada.


"Ayah," ucapnya setelah Nada melepas pelukannya.


"Amara," sambutnya sambil merengkuh Amara dalam dekapannya.


"Aku merindukan Ayah," ucap Amara sambil tersenyum.


"Ayah juga merindukan kalian, sangat rindu," ucapnya kemudian melepas pelukannya.


"Ayo kita pulang," ajak ayah Nada sambil tersenyum.


"Ayah, kita pulang sendirian. Rara sudah Ada yang jemput," ucap Nada yang bergelayut manja di lengan ayahnya.


"Siapa? Kekasih?" tanya ayah menggoda. Amara memelototkan matanya tetap senyuman indah menghiasi bibirnya.


"Ayah ah," sangat Amara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kalian sudah dewasa ayah menginginkan kalian segera menikah," ucapnya. Amara dan Nada saling berpandangan dan tersenyum.


"Udah kangen-kangenannya? Kenapa aku dicuekin?" protes Wendi. Ayah melirik lelaki kemayu itu, lelaki yang berdiri di belakang Amara. Ayah mengernyitkan dahinya.


"Dia?" tanya Ayah. Amara menggelengkan kepalanya cepat.


"Ayah, masak iya seperti itu." protes Amara sambil berbisik mendekatkan mulutnya di telinga ayah. Meski begitu Nada mendengar dengan jelas dan tertawa lepas.


"Ya sudah, Kami pulang duluan jika kamu masih menunggu dan tidak mau barengan," ucap Nada. Amara mengangguk dan tersenyum. Ayah dan Nada berjalan malangkah pergi. Kini Amara dan Wendi saling berpandangan.


"Apa?" bentak Amara kemudian menarik kopernya menyusuri kerumunan.


***


Micho, lelaki itu masih saja mencoba memastikan apa matanya salah. Lelaki itu masih saja mengedarkan pandangannya menuju ke berbagai sudut ruang. Micho menangkap suara yang seperti dia kenal.


Micho menoleh, yang dilihatnya adalah sepasang kekasih yang memunggunginya. Tampak seorang lelaki merangkul pundak wanitanya. Mereka tampak bahagia, tatapan matanya masih saja tertuju pada mereka hingga sebuah tangan melingkar sempurna di pinggangnya dari belakang.


Micho meraih tangan Amara di pinggangnya. Sentuhan itu membuat Amara memejamkan matanya. Dia pernah merasa nyaman seperti ini. Dimana? tanya batinnya.


Sedangkan Micho merasakan sengatan yang aneh menjalar di tubuhnya. Perasaan apa ini? Tidak mau larut dalam perasaannya Micho segera melepas tangan Amara. Namun, Amara seakan enggan untuk melepasnya.


"Tolong, tolong selamatkan aku dari manusia aneh sepertinya. Aku mohon, Tuan Micho Aditya Pratama, " pinta Amara dengan berbisik di telinga Micho.


Micho yang mendengar permintaan Amara masih terdiam, gadis cantik yang biasanya selalu meledak-ledak itu tampak sedang dalam keadaan yang tertekan.


Micho berbalik mendadak. Amara terkejut, keduanya saling bertatapan. Tangan Amara masih melingkar di pinggang Micho. Perasaan aneh turut andil di hati Amara. Amara memandang kearah Micho yang melirik lelaki aneh di belakangnya. Amara seakan memohon untuk di selamatkan.


Micho menampilkan senyum liciknya, entah kenapa melihat Amara yang seperti ini membuat dorongan pada dirinya untuk melakukan sesuatu. Micho menuruti permintaan Amara dan memerankan perannya.


Micho mengangkat tangannya di pundak Amara, menatap wanita yang tampak cantik dan posesif itu. Micho mengerutkan keningnya ketika melihat wajah cantik di depannya. Wajah yang jauh lebih fres dari pertemuan terakhir di bandara waktu itu. Waktu itu di bawah pohon dia melihat Amara dengan make up menor. Usianya yang masih terbilang muda tertutup dengan make up menor yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Tuhan, kenapa aku malah membayangkan yang tidak-tidak. Dasar wanita murahan," keluh hati Micho.


Mico menghela nafas panjang. Mencoba berkompromi dengan hatinya.menghadapi Ondel -ondel satu itu selalu membuatnya campur aduk.


"Siapa dia, Sayang?" tanya Micho. Amara mendongak. Kali ini mereka saling menatap, tatapan mereka berbeda dari biasanya. Amara merasakan ketulusan dari ucapan Micho. Tapi dia cukup tau, lelaki jahat itu hanya menuruti kemauanya untuk menolong saja.


Amara memanfaatkan momen untuk berputar dan melepas pelukannya. Lama-lama melakukan adegan seperti itu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Kini Amara dan Micho berjejer dan menghadap kearah Wendi.


"Siapa dia?" tanya Micho lagi. Tangan kirinya merangkul pundak Amara dan tangan matanya menyentuh dagu wanita cantik itu. Amara memejamkan matanya sejenak, desiran di hatinya membuatnya tak tenang.


"Dia, dia menyukaiku. Dia tidak percaya aku mempunyai kekasih. Dia selalu merecoki hidupku, sayang. Dia pikir aku berbohong, dia mengikutiku kemari hanya untuk memastikan aku punya kekasih." ucap Amara manja. Manja sekali.


Micho mengerti sekarang, wanita disampingnya sedang dalam bahaya. Micho menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Amara yang merasa ditertawakan maju selangkah, kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Micho, mengusap dada Micho dengan tangan kirinya. Jantung keduanya berdetak tak karuan.


"Apa-apaan ini? Kenapa jantungku berdetak lebih cepat? ****, jangan berharap lebih. Ingat, wanita murahan ini hanya mencoba merayumu untuk mengambil harta dan cintamu kemudian pergi," ucap Micho dalam hati.


Micho mencoba berkompromi dengan hatinya. Mencoba memberi peringatan pada hatinya jika ini hanya sandiwara. Micho melirik Wendi yang tampak tak suka dengan pemandangan di depannya. Micho melapas pelukannya dan berjalan kemudian arah Wendi.


"Dia kekasihku, masih tidak percaya? Jangan mengganggunya atau aku akan membuat kau menyesal hidup di dunia ini!" tegas Micho dan berhasil membuat Wendi terdiam dan terpaku.


Bukan Wendi saja, bahkan Amara juga merasa terkejut. Ucapan Micho pada wendi seakan melindunginya. Amara memejamkan matanya mencoba memperingatkan dirinya bahwa manusia laknat itu tidak pantas dia cintai.


Micho berbalik arah kemudian menggenggam tangan Amara dan menariknya dan menjauh dari Wendi. Amara terkejut, jantungnya lagi-lagi berdetak tak karuan.


"Sebaiknya jangan banyak bicara dan jangan protes, aku hanya mengikuti permintaan mu. Kita harus pulang sekarang. Jangan sampai kedatanganmu mengganggu kerjaku,"ucap Micho.


"Aku menurut saja apa katamu, okey kita pulang sekarang, Sayang." ucap Amara. Amara merasa bahagia Wendi akirnya tak mengikutinya lagi. Kini Amara melaksanakan misinya untuk kembali untuk meraih hati Micho.


Mereka saling menautkan jemari. Micho melirik wanita disampingnya, kelakuannya membuat Micho merasa jijik dengan wanita yang sedikit mirip dengan wanita penggoda itu.


Mereka berjalan beriringan, tangan Amara bergelayut manja di lengan Mico. Laki-laki itu begitu menampakkan sifat dinginya bahkan menganggap Amara hanya seekor lebah yang menggelantung di lengannya.

__ADS_1


🤭🤭🤭🤭


__ADS_2