Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Sabrina


__ADS_3

"Hem, permisi. Apa benar dengan Pak Micho dari Alexander group?" tanya suara yang tiba-tiba muncul mengisi keheningan di antara 2 manusia yang sibuk dengan berkas.


Damar menoleh, kemudian berdiri menyambut kedatangan wanita cantik yang kini berdiri di sampingnya.


"Deg,"


Micho merasakan desiran di hatinya.


Sesak seketika mendera dadanya ketika dirinya merespon suara indah yang mengusik pikirannya. Darah seakan berhenti. Hari ini adalah hari ulang tahun wanita yang sampai saat ini masih dia cintai, dan sekarang suara wanita itu menghantui pikirannya.


Damar dan wanita itu saling berpandangan, seakan dia bertanya kenapa dengan Bosmu? Hingga pada akhirnya Damar memecah keheningan.


"Maaf pak. Perwakilan dari Zata Star sudah hadir. Apa bapak baik-baik saja?" tanya Damar sambil berbisik ditelinga Micho. Micho terkejut, kemudian menoleh dan berdiri.


Pandanganya terhipnotis oleh sorot mata indah wanita yang ada di depannya. Wanita dewasa yang sangat cantik bagi Micho. Wanita dewasa yang mengingatkannya pada sosok masa lalu yang membuatnya bahagia.


"Sabrina," gumamnya.


Damar menatap tajam ke arah wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. Yang benar saja, wajah itu begitu mirip dengan Sabrina. Hanya saja dia tampak lebih dewasa dari sosok yang pernah di kenalnya.


Sejenak Micho dan wanita itu saling memandang, sorot mata Micho tajam mengamati setiap inci wajah wanita yang dirasa mirip, tetapi tampak berbeda dengan kekasih hatinya. Wanita itu Mengulurkan tangannya.


"Taza Alexandra," ucap wanita itu dengan tegas. Micho tersadar dari lamunanya, dan Mengulurkan tangannya. Ada rasa yang berbeda ketika nama yang di lontarkan tak sama dengan apa yang dia harapkan.


"Micho Aditya Pratama," sahutnya. Wanita itu tampak terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak beberapa lama kemudian dia tersenyum dan mencoba melepaskan genggaman Micho.


"Senang bertemu dengan Anda," ucapnya. Micho yang tersadar wanita itu menarik tangannya segera melonggarkan genggamanya. Tatapannya seakan mengintimidasi dan meminta penjelasan. Namun, wanita itu seakan tak menangkap maksud dari tatapannya.


Wanita itu menarik tangannya dan bergantian menjabat tangan Damar di samping Micho, wajah Damar tampak gugup menyaksikan pertemuan ini. Sabrina atau bukan? batin Damar.


"Taza Alexandra,"


"Damar, silakan duduk Nona Taza. Senang bertemu dengan Anda," ucap Damar sambil mengarahkan telunjuknya pada kursi kosong di depan Micho. Wanita cantik itu mengangguk dan tersenyum kemudian duduk di kursi depannya. Tak lama dari itu, pelayan restaurant mengantarkan pesanan minuman. Mereka bertiga menyesap minuman dan saling diam.


"Pak Micho Aditya Pratama, kenapa dengan anda? Apa anda berfikiran hal yang sama dengan yang saya pikirkan? Kenapa Anda seperti orang bodoh ketika berhadapan dengan Nona Taza? Urusan hati nanti saja, sekarang kita urus perusahaan terlebih dahulu," ucap batin Damar.

__ADS_1


"Apa benar-benar ada manusia yang mirip seperti ini? Ini mirip atau mataku yang salah? Apa dia Sabrina? Apa dia pura-purw tidak memgenaliku? Kenapa Aku berharap dia Sabrina,!" ucap batin Micho.


"Apa bisa kita mulai?" tanya Taza disela keheningan.


Damar dan Micho saling memandang, mereka mengangguk bersamaan. Diskusi dimulai.


Micho, lelaki itu sesekali mencuri pandang. Wajah cantik itu begitu membuatnya penasaran. Taza mendongak, sesekali tatapan mereka bertemu menciptakan kecanggungan diantara keduanya.


30 menit berlalu, ketiganya menghela Nafas panjang. Taza membaca beberapa notuline yang menjadi kesepakatan.


"Jadi bagaimana untuk penawaran terakhir? Perusahaan kami sanggup untuk menghendel 100 persen modal, tapi kalian hanya memberikan kesempatan 80 persen saja. Lantas apa tidak akan menyesal dikemudian hari? Kami berbaik hati kali ini, jangan ditanya besok, bahkan satu Jam kedepan kami bisa berubah pikiran," ucap Taza tegas. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis disana.


Micho tampak menimbang, dia juga tidak mau terjebak dalam situasi yang nantinya akan mencelakakan dirinya sendiri. Micho menatap Taza, Wanita yang menyembunyikan sorot matanya dibalik kaca mata hitam itu tampak elegan, bahkan setiap kata yang terucap dari bibirnya seolah menegaskan bahwa dia sangat berkuasa. Dan itu bukan Sabrina, Sabrina adalah gadis manja yang cerewet dan menggemaskan. Sedangkan, wanita dewasa yang kini duduk didepannya tidak menunjukan sifat yang Sabrina miliki.


"Terimakasih atas penawarannya, Nona Taza. 80 persen saya rasa sudah lebih dari cukup," ucap Mico. Taza mengangguk.


"Okey, Kalian harus menandatangani beberapa berkas. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Taza lagi. Micho mengangguk sambil menandatangani berkas persetujuan.


"Kenapa perusahaan yang kamu pegang bernama Alexander? Apa kalian membelinya dari seseorang dan kalian sengaja tidak merubah namanya?" tanya Taza.


Micho terdiam. Bingung, bahkan tak terbesit difikirannya akan diberi pertanyaan demikian.


Dengan Anggun khalista mengambilnya, gerakan elegan itu selalu mengambil perhatian Micho.


"Alexander group, bahkan nama perusahaanmu cocok sekali bila aku yang memiliki. Taza Alexandra. Bukankah sangat cocok? Aku berharap kamu menandatangani berkas serah terima ini secepatnya,"ucap Taza tegas, dengan senyum licik yang menegaskan dia bisa melakukan apa saja.


Micho sedikit gentar, perasaan takut menyelinap dihatinya .Apa sanggup mempertahankan dan memajukan perusahaan papanya ini? bahkan iapun mulai ragu. Apa dengan mudah perusahaan itu jatuh pada orang lain? Micuo menghela napas panjang dan menghembuskan pelan.


"Kita bicarakan lain waktu, Nona." ucap Micho. Taza menatap tajam kearah Micho.


"Aku bukan orang yang siap bertemu dengan seseorang dengan mudah. Bahkan bisa jadi sekarang adalah pertemuan kita yang pertama dan terakhir kalinya. Mungkin lain waktu asistenku yang akan menemuimu,"ucap Taza tegas. Micho diam, lelaki itu hanya bisa menghela napas kasar.


Taza memasukan berkas kedalam tas kerjanya kemudian berdiri. Micho Dan Damar juga berdiri.


"Saya harus undur diri. Selamat siang," ucap Taza tegas dan memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Nona," suara itu mengagetkan Taza. Wanita itu berhenti ditempat, menunggu sang pemilik suara menghampirinya. Yang benar saja orang itu berdiri di depannya.


Taza tampak sedikit gugup, sejenak pandangan mereka bertemu. Taza memegang kepalanya, merasakan pusing yang tiba-tiba menjalar dikepalanya. Taza sedikit terhuyung, Micho dengan sigap meraih pinggang Taza. Wanita itu terkejut dan menepis tangan Micho.


"Maaf, Nona. Apa Nona baik-baik Saja?" tanya Micho, Taza tersenyum sinis.


"Aku tidak papa.Terimakasih telah membantuku," ucapnya sambil memegang kepalanya. Micho tersenyum. Penasaran pada wanita di depannya kian marajai hatinya. Nama Sabrina seakan tergeser oleh pesona wanita didepannya.


"Apa tidak sebaiknya, Nona Taza istirahat dulu?" tanya Micho.


Taza melirik jam yang melingkar di tangannya. pukul 02.40, Taza menatap ke arah Micho.


"Maaf, saya tidak ada banyak waktu." ucap Taza kemudian melangkahkan kakinya.


Entah keberanian dari mana Micho menarik tangan Taza. Taza terkejut, menatap tangan yang kini digenggam erat oleh Micho.


Sebuah perasaan terselip di benaknya. Sesak. Taza merasakan sesak yang amat menyiksanya. Tidak mau terlalu lama larut dalam perasaan itu, Taza segera menarik tangannya. Menatap tajam kearah micho.


"Jaga sikap anda, Tuan Micho. Saya bisa saja membatalkan kesepakatan kita karna kekurang ajaran anda." ucap Taza tegas.


Mendengar itupun Damar segera mendekat. Menarik Micho beberapa langkah, kemudian menatap Taza seakan meminta maaf atas kelakuan bosnya.


"Maafkan Tuan Micho, Nona." ucap Damar. Taza terdiam,memandang wajah Micho yang sedikit emosi karna ucapannya.


"No problem,bjangan ulangi. Atau kalian akan berhadapan dengan suami saya," ucap Taza.


"Uhuk, uhuk..." Mico tersedak udara, ia mengamati wanita didepannya. Bahkan dirinya tertarik pada wanita yang bersuami? Pasti dia mengada-ngada. pikirnya.


Taza yang menyadari sesuatu Tampak menutup mulutnya dan tersenyum singing kemudian memutar tubuhnya dan melangkah pergi.


"Maaf saya harus pergi," ucapnya sebelum melangkah tadi. Damar dan Micho saling berpandangan banyak pertanyaan yang melintas diotak mereka.


Disana, di sebuah taman yang dekat dengan Restaurant tempat Damar dan Micho mengadakan pertemuan. Seseorang masih saja mematung karna melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa perih.


Amara memejamkan mata indahnya, mencoba menahan rasa sakit yang mendera hatinya. Mencoba menahan air mata yang hampir saja meleleh. Sakit atau bagaimana dia juga belum memahaminya, yang dia rasakan begitu sesak melihat orang yang berstatus sebagai suaminya beradegan mesra dengan wanita lain. Wajah itu jelas di ingatannya, wanita yang dia ketahui adalah mantan yang pernah di gagalkan pernikahannya dengan Micho.

__ADS_1


"Sabrina," gumam Amara.


😊😊😊😊


__ADS_2