
Di sebuah Danau, Rafa memejamkan matanya dan mencoba mencari segala kemungkinan yang terjadi. Bagaimana bisa Bianca menjebloskan Prayoga ke penjara, jika tadinya mereka bekerja sama? Lalu, jika memang Micho dan Bianca ada hal sepesial, kenapa Bianca sampai hati melakukannya? Apa artinya dirinya telah melakukan kesalahan? Apa ada hal yang menjadikan kesalah pahaman antara dirinya dan Micho?
Rafa memejamkan matanya dan mengambil sebuah bongkahan kerikil di depannya, kini dirinya berada di pinggiran danau.
Bukan melempar ke dalam danau, dirinya malah melemparkan bongkahan kerikil itu ke belakang, terang saja bohkahan itu mendarat di kepala orang yang juga menikmati keindahan danau malam ini juga.
"Woi, kau sengaja?" suara teriakan seseorang yang mulai mendekat membuat Rafa menoleh. Mereka saling berhadapan dan sama-sama terkejut.
"Rafa,"
"Micho,"
ucap keduanya bersamaan, keduanya mengusap wajah kasar. Mereka menyadari sesuatu. Dulu, mereka selalu berasama kesini apapun keadaannya. Senang, susah, sampai pada akhirnya mereka terjebak dalam suatu kesalah pahaman.
"Kau masih mengingat tempat ini?" tanya Rafa, Micho memasukan kedua tangannya ke saku celana dan menatap hamparan danau yang luas.
"Aku pikir hanya aku yang mengingat, ternyata kau juga sama."
Rafa mengarahkan padangannya ke danau juga, keduanya menikmati malam yang sunyi. Mencoba untuk berfikir jernih.
"Apa yang kamu keluhkan?" ucap keduanya bersamaan.
Mereka saling menoleh, bahkan hubungan yang sempat terpecah belah baru saja menghangat karna status ipar diantara keduanya. Dan kali ini apa akan seperti sedia kala?
Rafa dan Micho tertawa bersama. Hal yang seperti ini begitu sulit untuk di mengerti, mereka benar-benar merasakan ketenangan.
"Kau bicara dulu, Micho." pinta Rafa.
__ADS_1
"Sebaiknya kakak ipar dahulu," sanggah Micho. Rafa menghela napas panjang. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya. Beberapa tahun berlalu, dan momen seperti ini sangat langka untuk keduanya. Malam ini benar-benar seperti mimpi.
"Bianca, aku ingin tau, apa aku melewatkan penjelasan darimu saat itu?" Rafa duduk disebuah kursi kayu.
Kini Micho menatap ke arah Rafa, dia kesini juga untuk membahas Bianca dan beberapa masalah lain dengan Damar. Dan sekarang Rafa mau flash back ke masa lalu? Micho mengerutkan keningnya.
"Apa yang ingin kau dengar? Bukankah aku sedah mengatakan jika kau salah paham?" tanya Micho. Rafa memandang hamparan danau dan menghela napas panjang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tak ada yang spesial diantara kami. Waktu itu, aku hanya membantu Bianca membiayai pengobatan ibunya," ucap Micho.
"Kau tau, Bianca juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kau rasakan. Hanya saja dia terlalu takut untuk mempunyai pasangan hidup sepertimu ... Aku pikir Bianca wanita baik, tapi sekarang aku kecewa padanya," ucap Micho. Semula sebuah kebanggaan menyeruak di hatinya. Namun, sebentar kemudian rasa kecewa menyelimuti pikirannya.
Rafa sedikit tersentak, begitukah sebenarnya? Kenapa semua ini bisa terjadi? Rafa menghela napas panjang.
"Tidak untuk saat ini Rafa," ucap Micho. Rafa menatap Micho dengan santai.
"Okey aku mengerti, bahkan karna ini juga sampai kau melampiaskan dendammu pada Amara. Pada keluargaku," ucap Rafa. Micho menatap tajam ke arah Rafa.
"Amara tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Pertemuanku dengannya murni karna ketidak sengajaan," ucap Micho. Rafa menatap Micho dengan tajam.
"Amara mengalami pelecehan di waktu yang bersamaan dengan aku menawar perusahaanmu, apa kau yakin itu bukan ulahmu?" tanya Rafa sedikit meninggi.
"Perusahaan yang aku pertahankan dan engkau hancurkan, kemudian aku menyerahkan pada orangku? bukankah kau puas mengacaukannya sehingga aku harus memperbaikinya dan meninggalkan negara ini?" ucap Micho. Rafa membelalakkan matanya. Bahkan dia tidak pernah melakukan apa yang di tuduhkan Micho.
"Aku tidak pernah melakukannya, omong kosong macam apa yang kau ucapkan?" tanya Rafa dengan nada tingginya.
__ADS_1
"Jangan menyangkal, aku juga tidak akan marah. untung saja kekacauan yang terjadi bisa teratasi," ucap Micho. Rafa menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku benar-benar tidak melakukannya Micho," ucap Rafa. Micho mengeryitkan dahinya dan menatap ke arah Rafa. Keduanya saling memandang.
"Apa ada tangan lain yang sengaja mau menghancurkan ketenangan kita?" ucap Micho. Rafa menghela napas panjang.
"Bisa jadi," jawab Rafa.
"Lalu, bagaimana bisa Amara juga terlibat? bahkan aku tidak pernah memperkenalkan dia pada public," lirih Rafa.
"Aku rasa mereka mengenal kita dan juga Amara," ucap Micho. Rafa menghela napas panjang.
"Jadi Amara juga di jebak? Lalu, kenapa kau ada disana? Kenapa Amara menganggapmu pelakunya?" tanya Rafa.
Micho menceritakan kejadian dimana mobilnya mogok di tengah hutan dan mengetahui beberapa preman melakukan kekerasan pada seorang gadis yang tak sadarkan diri, hingga kesalah pahaman terjadi karna Amara melihat tetesan darah dari lengannya yang Amara pikir adalah darah miliknya.
"Lalu kenapa kau tak mengatakan pada Amara dengan jelas?" tanya Rafa.
"Bukankah kalian kompak? Kalian sama-sama angkuh dan semaunya sendiri,"
"Jangan mengejekku," ucap Rafa. Micho menatap kedepan dan melempar bongkahan kerikil ke danau.
"Sebenarnya aku masih kesal, sebelum malam itu aku bertemu dengan Amara. Dia menghancurkan berkasku sehingga aku kehilangan proyek besar, aku ingin mengerjainya dan menjelaskan lain waktu setelah aku dan Sabrina menikah. Tapi, nyatanya dia menghancurkan pernikahanku," ucap Micho. Semua sudah teejadi dan telah usai. Bahkan Sabrina telah bahagia, dan dirinya juga sangat mencintai Amara.
Micho dan Rafa saling memandang, mereka mulai mencerna sesuatu hingga kedatangan Damar mengagetkan keduanya.
"Aku sudah mengantongi beberapa bukti pelaku kerusuhan, tapi aku belum tau pasti. Aku akan memastikan besok," ucap Damar sambil meletakan beberapa berkas di atas meja.
__ADS_1
😍😍😍😍😍