
"Waktu itu kenapa?" tanya Micho antusias. Rasa penasaran menyeruak di dadanya. Bayangan suatu kejadian menyelinap di otaknya. Dan dia mengingat kejadian penculikan beberapa bulan yang lalu.
Amara cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah luar.
"Sayang, apa yang terjadi waktu itu?" tanya Micho sambil mencium perut Amara. Amara merasa geli dan menjauhkan wajah Micho dari perutnya. Membuat suaminya itu duduk dan menatapnya dengan sorot mata teduh.
"Ini hanya luka kecil, tidak penting juga kan mas?" tanya Amara kemudian bangkit dan berjalan ke balkon kamar. Micho megikuti langkah Amara yang kini memandang langit luas.
Micho berdiri di belakang Amara dan melingkarkan tangannya di pinggang Amara, menempatkan dagunya di pundak putih mulus milik istrinya. Amara membalikan badannya. Binar bahagia tampak dari kedua bola mata yang saling beradu.
"Kenapa tidak menjawab? Aku hanya ingin tau, apa sebegitu penting luka ini hingga kamu menyembunyikannya?" tanya Micho dengan suara serak beratnya sambil mengusap pelan pipi mulus Amara.
"Apa begitu penting untuk kamu mengetahuinya, Tuan Micho yang terhormat?" tanya Amara sambil menatap kearah mata tajam Micho yang kini menatapnya seolah mengintimidasinya.
"Itu begitu penting untukku, Nona Amara yang terhormat." ucap Micho dingin. Bayangan kejadian di bandara waktu itu menguasai otaknya. Gadis yang pernah terlibat dalam perkelahian waktu itu masih menjadi misteri baginya dan dia ingin memastikan apakah itu Amara? Mengingat luka sayatan itu sama persis dengan luka sayatan milik Amara.
Rasa penasaran itu muncul dan mengoyak hatinya saat mengingat tatapan gadis bermasker itu memandangnya. Dan disaat yang sama dirinya menyaksikan Amara yang duduk di bawah pohon dengan make up menor yang waktu itu membuatnya sangat jijik.
Micho menatap Amara dan mengamati setiap inci wajah Amara, Micho memejamkan matanya dan mengingat betapa lihai gadis itu menyerang saat berada di rengkuhannya. Micho membuka matanya dan menatap Amara dengan tajam saat ingatanya tertuju pada satu kejadian dimana Amara bekerjasama dengan Zidan waktu itu untuk menumbangkan musuh.
Amara merasakan aura yang dingin berada dalam diri Micho. Micho mengangkat dagu Amara. Cinta, penasaran, emosi, bahagia semua tumpah ruah dalam benaknya dan menyesakkan dadanya. Membuat Amara merasakan tubuh Micho bergetar luar biasa.
Air mata Amara mengalir deras, bagaimana bisa Micho yang biasanya lembut kini tampak dingin dan tidak bisa menahan dirinya hanya karna luka itu? Amara terdiam.ia enggan untuk bicara.
"Katakan Sekarang, luka apa itu?" tanya Micho lirih tapi memaksa. Amara terdiam, Micho mendekatkan wajahnya kearah Amara dan mencondongkan wajahnya.
Dengan gerakan cepat Micho meraih dagu Amara. Membungkam bibir Ranum milik Istrinya dengan ciuman lembut dan kuat. Seketika Amara melongo dan Mendorong pelan tubuh Micho.
"Katakan sekarang, atau aku akan menciummu lebih lama lagi?" tanya Micho sedikit melunak tidak sedingin tadi, membuat wajah Amara merona merah.
"Apa untungnya bagimu? Ini bukan urusanmu," ucap Amara yang masih enggan untuk menjawab. Micho kembali memajuka wajahnya dan membuat Amara mundur beberapa langkah.
"Stop, jangan mendekat lagi. Iya aku akan mengatakannya Tuan Micho pemaksa,"ucap Amara tampak jengkel, memang ada baiknya di jujur.
Micho tersenyum tipis, ia maju dua langkah dan meletakkan 2 tangannya di pundak istrinya.
__ADS_1
"Katakan sekarang!" ucap Micho lagi.
"Ini bekas sayatan pisau karna aku menolong anak kecil di bandara," ucap Amara.
Deg,
Jantung Micho seakan terhantam batu besar, bagaimana bisa? Jadi selama ini wanita itu adalah Amara? Kenapa dulu dia menutup mata dan selalu menilai Amara dengan penilaian yang negatif? Jika memang gadis itu Amara, lalu kenapa Amara berada di bawah pohon dengan make up menor? Lalu untuk apa Amara ke bandara? Apa dia sengaja untuk menemuinya?
"Itu saja? Lalu, kenapa kamu ke bandara malam itu?" tanya Micho lagi. Amara terdiam, masak iya dia harus mengatakan jika dia ingin melihat wajah Micho? Memalukan bukan? pikirnya.
"Apa mau aku cium lagi agar kamu mau menjawab?" tanya Micho. Amara sedikit geram, ia mendorong pelan tubuh Micho lagi.
"Aku kesana mencari udara segar," ucap Amara pelan.
Micho tersenyum tipis, dia maju beberapa langkah mendekati Amara. Amara mundur, hingga ia terkunci oleh dinding dan terkunci oleh lengan kokoh Micho. Micho menatap lekat wajah di depannya. Amara tidak bisa bergerak, ia tidak bisa menghindar. Kini wajahnya benar-benar dekat dengan Micho.
"Apa benar begitu?" tanya Micho tepat di samping telinga Amara. Napas Micho terasa di telinganya. Aroma wangi tubuh Micho membuat jantung Amara berdetak tak beraturan.
Di tengah rasa kaget atas pertanyaan Micho, Amara memejamkan matanya. Mencoba berpikir setiap kata yang akan dia lontarkan. Dan diotaknya juga selalu bertanya, kebenaran apa yang di cari suaminya? Apa dia ingin mengejeknya jika ia berkata ke bandara untuk menemuinya?
"Aku,"
"Mau apa?" tanya Micho saat Amara meronta memaksa Micho untuk melepasnya.
"Jangan harap bisa lepas dariku sebelum menjawabnya, Nona." ucap Micho dan membuat Amara menghela nafas panjang.
"Aku..."
"Apa?"
"Kenapa memaksa sekali?Apa untungnya untukmu?" ucap Amara dongkol.
"Katakan saja, apa susahnya mengatakan padaku?" ucap Micho tak mau kalah. Amara begitu bingung dengan sikap Micho. Mau tidak mau Amara mencoba memutar otaknya.
"Iya, iya aku mau menemuimu! PUAS?" teriak Amara. Micho tersenyum tipis, ia melepaskan tangannya membuat Amara bernafas lega. Walaupun harus malu dan akan mendapat bulian, setidaknya dia tidak akan mati berdiri karna jantungnya lompat.
__ADS_1
Sedetik kemudian Micho menatap Amara kuat, membuat nyali Amara kembali menciut.
"Lalu, kenapa kenapa kamu malah duduk di bawah pohon dan tidak mencariku? Apa kau sengaja mencari perhatian lelaki buaya dengan make up menormu?" tanya Micho santai tetapi membuat Amara membelalakkan matanya.
Amara mendorong tubuh Micho, membuat Micho mundur beberapa langkah. Dirinya yang malu tak mampu menyembunyikan dari Micho dan mencoba melangkah pergi.
Jadi Micho tau keberadaanya waktu itu? Fik saat ini Amara harus menyiapkan mental baja ketika Micho membulinya.
"Kenapa menghindar?" tanya Micho. Amara menatap Micho tajam.
"Aku mau masuk, sudah malam," ucap Amara. Amara tidak bisa membohongi perasaannya, wajahnya benar-benar merona merah.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Micho.
"Mas, aku lelah," protes Amara, Amara mendorong Tubuh Micho kasar sehingga membuat Micho terhuyung mundur.
"Aduh," keluh Micho.
"Kenapa? Apa sakit?" tanya Amara sedikit panik. Micho menyeringai tipis.
"Katakan kamu mencariku waktu itu dan sengaja untuk menggodaku," lirih Micho di telinga Amara.
Amara menghela nafas panjang, wajahnya yang tadi tampak khawatir kini terlihat sebal. Amara mengambil langkah meninggalkan Micho. Tetapi Micho dengan cepat mengunci langkah Amara dari belakang.
Micho melingkarkan tangannya di pinggang Amara, meletakkan dagunya di pundak kanan Amara, Amara merasakan kehangatan yang membuatnya terbuai.
"Sayang, maaf aku belum mengenalimu waktu itu. Sampai aku meninggalkanmu saat kamu membutuhkan pertolongan, sebenarnya aku mencarimu. Tapi mataku terlalu tertutup sampai aku benar- benar tidak mengenal wajah bermasker yang nyatanya memang aku kenal,"
Deg....
Jantung Amara seakan mendapat hantaman benda tajam yang kemudian membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Amara mengingat kejadian beberapa bulan silam. Apa maksud Micho? Air matanya tiba-tiba saja berjatuhan. Micho yang merasakan Amara terisyak memutar tubuhnya sehingga ia berada di depan Amara.
Micho mengusap pelan Air mata Amara yang berdiri di depannya. Mata Amara tak lepas memandang wajah yang kini ada di depannya mencoba mengingat wajah lelaki bermasker dengan sorot mata tajam yang dia rasa juga mengenalnya.
"Apa laki-laki itu kamu mas?" tanya Amara.
__ADS_1