Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Kecewa


__ADS_3

"Apa kamu takut?" tanya Micho. Amara terdiam dan hanya bisa memejamkan matanya, mencoba menghilangkan segala ketakutan yang mendera otaknya.


"Kalau takut aku akan menemanimu, kakak ipar." suara seseorang membuat Amara membuka matanya, Amara tampak terkejut. Begitu juga dengan Micho, tampaknya lelaki itu mencoba untuk menahan diri dengan mengepalkan tangannya.


"Radit, bagaimana bisa disini?" tanya Amara sambil menatap ke arah Radit dengan wajah yang berbinar.


"Aku mempunyai ini, tadi Aku memencet bel dan mengetok tetapi tak ada jawaban. Aku pikir kakakku pingsan. Ternyata aku lupa kalau Kak Micho sudah ada patner," ucap Radit sambil mendekat ke arah Amara dan Micho sambil memperlihatkan id card cadangan untuk membuka pintu.


"Oh, begitu. Mungkin lain waktu kita bisa mengobrol, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Amara sambil tersenyum. Ya, dia merasa senang bisa bertemu dengan Radit. Dia juga tidak menyangka bahwa Radit adik angkat dari Micho. Pertemuan pertama dengan Radit masih begitu jelas diingatannya. Dia ingin bernostalgia dan berbagi cerita.


"Apa yang ingin Kakak ipar tanyakan? Aku Alan menjadi adik ipar yang baik dengan menjawab semua pertanyaanmu," ucap Radit dengan senyum.


"Nanti saja, sekarang aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian," ucap Amara. Micho melirik ke arah Amara dan Radit bergantian, melihat keakraban mereka membuat Micho merasakan sesak.


"Ehem, tampaknya kalian akrab sekali." ucap Micho dengan wajah yang menahan hawa panas. Micho melangkah ke sofa. Radit dan Amara saling berpandangan.


"Kami memang pernah bertemu sebelumnya," ucap Amara. Micho mengepalkan tangannya di bawah meja, ada rasa tak rela ketika melihat Amara dekat dengan adiknya.


"Bukankah kau mau menyiapkan makanan? Kenapa masih disini?" ucap Micho agak membentak. Amara menghela napas panjang. Micho benar-benar susah di tebak, sebentar baik, sebentar menyebalkan, sebentar jutek, sebentar ketus.


"Aku tinggal dulu, Dit." ucap Amara. Radit tersenyum, di lubuk hati yang paling dalam, ada rasa sesak ketika melihat Amara. Kenyataan bahwa Amara adalah kakak iparnya masih saja sulit untuk di terimanya. Cinta untuk Amara masih saja membekas, untuk melupakan Amara tidak semudah membalikan tela pak tangan.


Micho membolak-balikan berkas yang dibawa Radit kepadanya. Dia melirik Radit yang tersenyum senyum sendiri.


"Kenapa kau senyum-senyum tidak jelas?" tanya Micho yang melihat Radit tersenyum saat melihat Amara yang tengah memasak dengan menggulung rambutnya.


"Aku bahagia Kak," jawab Radit. Netranya masih saja mengarah pada Amara yang ada di dapur.


"Apa yang membuat mu bahagia?" tanya Micho sambil menutup beberapa laporan yang di bawa Radit.


"Bertemu dengan istrimu," ucap Radit spontan.


"Uhuk-uhuk"

__ADS_1


Micho tersedak udara mendengar pengakuan adik angkatnya itu, bagaimana bisa dia terlalu jujur mengatakan hal itu padanya.


"Kau ... " ucap Micho kemudian meraih gelas yang ada di meja depannya. Micho melirik ke arah Amara.


"Kenapa wanita itu tidak pernah mengindahkan perkataanku? Kenapa masih saja menggulung rambutnya," gerutu hati Micho.


Radit tampak memejamkan matanya, bagaimana bisa dia keceplosan seperti itu.Tampak wajah Micho memerah menahan emosi.


"Maksudku," Radit hampir saja menjelaskan, namun Micho memberikan isarat agar Radit tetap diam.


"Kau pergilah," ucap Micho tampak tak bersahabat.


"Tapi, Kak. Aku kesini untuk menjemputmu, kau sendiri yang memintaku untuk kesini," protes Radit.


"Aku bilang pergi," ucap Micho. Radit menghela napas panjang, meskipun biasannya kakaknya itu tampak dingin. Namun, kali ini ada hal yang berbeda.


Radit berdiri, bersamaan dengan itu Amara keluar dari dapur sambil membawa nampan yang berdiri makanan.


"Aku,"


"Duduklah, kita sarapan bersama. Micho ayo kita sarapan!" ucap Amara. Micho berdiri dan melangkah ke arah Amara. Micho mengambil nasi sambil berdiri, dia juga mengambil lauk pauk dengan banyak. Amara tampak tersenyum melihat Micho mengambil makanan begitu banyak.


"Makanlah bersama dia, aku masih kenyang." ucap Micho kemudian melenggang pergi. Senyum yang sempat merekah dibibir Amara menghilang sudah. Amara menatap makanan di piring kemudian menatap punggung Micho yang menjauh darinya dan hilang di balik pintu.


Radit mengepalkan tangannya, ia memandang Amara yang tampak kecewa.


"Maaf aku merusak pagi kalian, Kak." ucap Radit.


"Tidak usah di pikirkan. Micho memang menyebalkan, sekarang makanlah." ucap Amara sambil duduk. Radit juga duduk, meninggalkannya Amara? Dia takut jika nantinya Amara akan kecewa kembali. Amara merasakan sesak di dadanya, mendengar ucapan Micho membuat dirinya merasakan sakit.


****


Micho memarkirkan mobilnya dihalaman kantor, dia berlari menaiki lif menuju ke ruangannya. Sudah ada Damar di sana. Damar adalah orang kepercayaan yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah. Micho membuka ruangannya. Damar mengeryitkan dahinya saat mendapati sahabat nya tampak lesu.

__ADS_1


"Ada apa denganmu pengantin baru? Bukankah semalam kau berhasil menolongnya? Seharusnya kau bahagia, kenapa tampak lesu?" tanya Damar.


"Belum genap sebulan menikah denganya aku sudah dibuatnya gila," ucap Micho sambil mengusap kasar wajahnya. Damar mengernyitkan dahinya.


"Apa yang dia perbuat padamu? Apa dia menggodamu Bos?" tanya Damar sambil tersenyum sinis.


"Wanita murahan tetap saja murahan, ku rasa Amara dan Radit ada hal yang sepesial," ucap Micho. Damar tersenyum dan memandang bosnya.


"Apa kau cemburu?" tanya Damar sambil tersenyum, Micho yang tampak emosi menatap Damar dengan dingin.


"Mana ada, Lupakan. Sebaiknya kita memikirkan hal lain, aku tidak mau membuang waktu hanya untuk memikirkan wanita itu." ucap Micho. Damar tersenyum sinis kemudian melempar berkas pada Micho.


"Papa," ucapnya sambil mengeratkan tangannya.


****


Disebuah rumah mewah, seorang lelaki tengah duduk sambil mengamati foto anak muda yang tampan. Dia tersenyum dan merasakan bangga karena memiliki anak yang begitu tampan, meskipun tak merawatnya.


"Kembalikan dia padaku," ucapnya pada Prayoga dengan suara dingin yang menakutkan.


"Maaf Tuan, tapi aku sangat menyayanginya. Micho sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." ucap Prayoga.


"Dia putraku, dengan ilmu bela diri yang dia miliki dan kemampuan otaknya yang jenius, aku akan mendapat apa yang aku mau," ucap orang itu.


Prayoga hanya diam, merawat Micho yang sebenarnya anak seorang mafia adalah keberuntungan baginya. Micho menemaninya sedari kecil dan harta paling berharga baginya.


Deringan ponsel Roy terdengar. Lelaki paruh baya tetapi memiliki tubuh yang kekar itu tampak menggeser layar ponselnya.


"Halo, Tuan Milano. Ada apa kau menghubungi lagi? Kau masih mengingat ku setelah sekian taun kau melupakanku. Bukankah kau telah menjadi sukses dan kaya rasa setelah aku berhasil membunuh Keluarga Keluarga Kenzo dan keturunannya? Bukankah harta itu sekarang telah menjadi milikmu? Lalu untuk apa kau menghubungiku lagi?" tanya Roy dengan tatapan sinisnya.


👌👌👌👌👌


Like, komen Vote ya... 😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2