Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Mama, bangun!


__ADS_3

Mereka berjalan beriringan, tangan Amara bergelayut manja di lengan Micho. Laki-laki itu menampakkan sifat dinginya, bahkan menganggap Amara hanya seekor lebah yang menggelantung di lengannya.


Amara melirik ke belakang. Wendi masih saja mengawasinya sehingga dia masih saja menggelayutkan tangannya di lengan Micho.


"Mau sampai kapan seperti ini?" tanya Micho setelah mereka benar-benar jauh dari wendi.


"Maaf," ucap Amara kemudian melepas tangannya. Ada sedikit rasa canggung yang menggelayuti hatinya.


"Maaf? Bukankah ini hobimu? Wanita murahan sepertimu pasti sudah sering melakukan hal ini, sudah berapa laki-laki yang sengaja kau Goda seperti ini?!" ucap Micho sinis. Hati Amara terasa sesak. Ucapan Micho benar-benar menyakiti hatinya.


"Berapa lelaki? Kau mau tau?" tanya Amara tak kalah sinis. Micho berdecih sambil mengalihkan pandangannya.


"Kau bisa menghitungnya sendiri, berapa orang laki-laki yang menyentuhku kemudian menelanjangiku 4 tahun yang lalu," ucap Amara. Micho menghela napas panjang tak menjawab ucapan Micho.


Mereka masuk kedalam mobil mewah yang terparkir di sebrang sana. Micho hanya diam, sesekali saja melirik Amara dengan malas. Fikiranya menerawang jauh, memikirkan wajah orang yang suaranya mirip dengan suara Sabrina.


"Sabrina," gumamnya. Amara terdiam mendengar gumaman Micho. Hatinya berdesir ngilu, rasanya sakit dan sesak. Entah itu karena apa. Sabrina? Nama itu selalu diingatnya, nama wanita yang telah di gagalkan pernikahanya. Amara menghela napas panjang, membayangkan saja rasanya sakit ketika harus mengalami hal yang dirasakan Sabrina.


Micho menancap gas mobilnya. Tak Ada percakapan diantara keduanya. Hanya terdengar Alunan musik yang mengalun syahdu. Mereka menikmati alunan musik itu tanpa berbicara sepatah katapun.


Deringan ponsel Amara terdengar, keduanya terkejut dan saling melirik. Amara segera mengambil ponselnya di dalam tas, is menatap layar ponselnya yang memperlihatkan kontak papa. Amara tersenyum, papanya mau menghubunginya. Amara segera menggeser tombol hijau.


"Hallo, Asalamualaikum Pa," ucap Amara menjawab panggilan orang disebrang. Mendengar suara papanya menjadi obat rindu yang mendalam baginya.


"Hallo, Amara sayang ini papa, Nak, " ucap suara disebrang. Amara tersenyum sambil menyelipkan rambutn di telinganya.


"Papa bagaimana kabarnya?" tanya Amara. Matanya berkaca-kaca. Amara menatap langit-langit mobil menahan deraian air mata yang memaksa keluar.

__ADS_1


"Papa sehat, papa sangat merindukan mu, kamu bisa pulang sekarang juga, Nak?" tanya papanya. Amara merasa ada sesuatu yang terjadi. Kini Air matanya benar-benar tidak bisa dibendung.


"Amara akan pulang, papa dimana sekarang?" tanyanya. Tak ada jawaban dari papanya. Hanya suara tangisan yang dia dengar.


"Pa, bisa jawab Amara? Papa dimana pa?" tanya Amara dengan suara paraunya. Micho tampak menoleh. Melihat Amara seperti ini membuatnya merasakan kesedihan juga. Micho menghentikan mobilnya di pinggiran jalan.


"Pa, papa dimana? Bisa disambungkan dengan mama?" tanya Amara panik. Micho masih menyimak obrolan kedua orang itu.


"Anu, Mbak... i-bu....ibu," ucap Asisten rumah tangga yang mengambil alih ponsel pak Rudi.


Amara tampak khawatir, ia memandang Micho. Micho seakan khawatir dan bertanya ada apa? Namun, Amara menggelengkan kepalanya.


"Ibu kenapa, Bi? Bisa kan Bi Ratna berkata dengan jelas?" tanya Amara agak tegas.


"Ibu dirumah sakit, Mbak. Ibu Kritis. Bapak juga lemas mbak, apa mbak bisa pulang secepatnya mbak? Ibu merindukan mbak Amara," ucap Bi Ratna. Amara menjatuhkan ponselnya. Air mata membasahi pipinya.


"Halo ... Halo ... Mbak ... " Suara disebrang terdengar memanggilnya.


"Ada apa? " tanya Micho. Amara tak menanggapi ucapan Micho. perlakuan Amara membuat Micho bergemuruh marah. Micho mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya.


"Ada apa?" bentak Micho. Amara menoleh dan menatap tajam keluar arah Micho.


"Apa perdulimu? Ini bukan urusanmu, pergilah. Terimakasih karna telah membantuku." ucap Amara. Bukan senang melihat Amara menangis, justru dia marah Amara mengabaikannya.


"Aku juga manusia, aku bisa mengantarmu jika perlu." ucapnya. Amara menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Ya, kau manusia laknat yang menghancurkan hidupku, pergilah. Jangan menyibukan dirimu untuk mengurus hidupku!" tegas Amara.

__ADS_1


Amara hampir saja berjalan, namun Micho menarik tangan Amara dan membopong Amara. Amara terkejut, tapi perasaannya yang tak karuan membuatnya tak sanggup melakukan perlawanan. Mereka saling menatap dalam.


"Mamamu, Kritis? Ayo kita kerumah sakit sekarang, aku akan mengantarmu," ucap Micho. Amara sedikit terkejut, iapun terdiam. Micho segera menancap gas mobilnya menuju rumah sakit dimana Mama Amara berada.


Beberapa saat kemudian, Amara dan Micho telah sampai di rumah sakit. Amara yang mendengar mamanya kritis tak kuat menahan deraian air mata, bahkan sebelum memberi tahu kan kabar kepulangannya, berita mengejutkan terdengar di telinganya.


Dengan langkah terburu Amara menuju kekamar rawat dimana mamanya terbaring lemah.


"Bi, bagaimana ibu? " tanya Amara saat bertemu dengan Bi Ratna. Bi Ratna hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya, membuat Amara semakin Khawatir.


Dengan langkah seribu Amara segera menghampiri mamanya yang terbaring lemah. Amara membuka pintu dengan lebar, dengan langkah gontai dan linangan air mata Amara mengamati perempuan paruh baya yang memejamkan matanya tersebut. Perempuan yang selalu menyayanginya, selalu merindukannya dan mempunyai berjuta kasih sayang untuknya.


Air mata Amara berjatuhan, sedari kecil selalu dilimpahi kasih sayang dan cinta. Sedari kecil selalu diberikan limpahan kebahagiaan. Dan sekarang dia harus melihat orang yang banyak berkorban untuknya kini terbaring lemah.


Amara mengamati wajah pucat mamanya, air matanya terus saja mengalir. Amara meraih tangan mamanya, menggenggam dan menciumnya. Tetesan air mata membasahi tangan mamanya.


"Mama,,, bangun. Aku pulang, Ma. Bukankah mama merindukan Amara? Rara pulang, ma..." ucap Amara ditengah isak tangisnya. Namun ucapannya tak tersambut. Mama Hana masih enggan untuk membuka matanya.


"Ma, Mama dengar Aku kan, Ma? Mama bilang mama rindu Rara, mama bilang mau memeluk Rara, mama bilang akan melihat Rara di pelaminankan? Rara pulang, Ma. Bangun Ma," tangisnya pecah.


Suasana Haru. Bi Ratna dan Micho yang melihat pemandangan ini begitu tersentuh. Micho tak kuat melihat Amara menangis, tapi hatinya juga teriris melihat keadaan ibu Rafa yang kritis. Micho mendekat kearah Amara, sontak membawa Amara dalam peluk hangatnya. Entah, perasaan apa yang mendorongnya melakukan hal ini.


"Ra, jangan seperti ini," bujuk Micho, Amara hanya menangis, suaranya tercekat di tenggorokan. Amara tak sanggup untuk berkata lagi. Amara meronta dan lepas dari pelukan Micho. Micho terdiam, bingung. Harusnya dia bahagia melihat Amara menangis. Tapi kenapa malah dia juga merasa sedih?


"Ma, bangun. Apa mama begitu benci sama Amara sehingga mama tega? Ma, maafkan Amara ma, maafkan Amara, bangun ma...!" Hatinya terasa perih, sakit, kecewa. Bahkan belum pernah dirinya membahagiakan mama yang ada di depannya ini.


Micho tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Micho memutuskan keluar. Dan saat itu, Rafa, Raka dan Pak Rudi bersamaan masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


Mereka berpapasan, Rafa dan Micho saling memandang. Sorot mata tajam tampak dari sorot mata keduanya. Rafa mengeratkan tangannya. Rasanya ingin melayangkan bogem mentah di pipi Micho Adytia Pratama yang berada di depan matanya.


😭😭😭🤣🤣


__ADS_2