Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
128


__ADS_3

"Zidan, aku tidak bisa bersabar lagi. Putriku dalam bahaya, aku harus segera bertindak..." seseorang tampak mematikan ponselnya dan mengepalkan tangannya.


"Ada apa pa?" tanya seorang wanita cantik dengan khawatir, tampak sebuah kepanikan di wajahnya. Dia adalah Melati, istri dari Kenzo. Wanita cantik dan lelaki itu adalah ibu dan ayah kandung dari Sheyna Amara. Mereka selamat dari maut karna ayah Zidan yang menolongnya.


Mereka membiarkan Amara hidup di lingkungan keluarga Rusdiantoro, karna merasa Amara aman bersama mereka. Tapi, keamanan Amara sudah tidak lagi bisa dijamin beberapa minggu ini. Sehingga Kenzo meminta Zidan untuk mengikuti gerak Amara dan menjaga putrinya.


Milano? Ya, Milano adalah alasan ketidak nyamanan yang terjadi. Rekan bisnis yang sangat serakah dan licik itu telah mengenali wajah Sheyna Amara yang memang begitu mirip dengan ibunya setelah dia dewasa.


Semua dokumen dan aset berharga yang beratasnamakan Sheyna Amara berhasil dibawa Milano saat perampokan besar-besaran dulu. Hanya membutuhkan tanda tangan seorang Amara untuk menguasainya. Hanya beberapa saja yang mampu di selamatkan Melati dan ditinggalkan bersamaan dengan surat untuk Amara di dalam sebuah tas.


"Pa, ada apa?" tanya Melati lagi.


"Sheyna, dia tertangkap oleh Milano. Kau tau, Sheyna dekat dengan Micho aditya pratama. Dia adalah putra dari pembunuh bayaran yang di sewa oleh Milano, mungkin ini jawaban kenapa akhir-akhir ini Sheyna dalam bahaya," ucap Kenzo sambil mengusap pelan pundak Melati. Melati membelalalakan matanya.


"Lalu apa sebaiknya kita bertindak sekarang pa? Aku tidak mau Sheyna terluka," ucapnya.


"Zidan telah merancanakan semuanya, kita tunggu saja kabar darinya," ucap Kenzo sambil mengusap puncak kepala Melati.


"Apa Sheyna dan anak pembunuh itu saling mencintai, atau hanya sebatas dekat?" tanya Melati panik.


"Entah, Zidan belum menyelidiki hubungan mereka lebih lanjut. Sekarang kau tenanglah, Zidan masih berusahan untuk menyelamatkan putri kita," ucap Kenzo.


****


"Selamat malam Amara, Sayang." Rayen tersenyum bahagia dan mendekat ke arah tubuh Amara. Rayen mendekat sambil membawa sepiring makanan untuk Amara.


"Kau lapar? Aku akan menyuapimu, Sayang." ucapnya sambil menyendok 1 sendok makanan ke mulut Amara yang memang dari siang belum makan.


Amara yang tampak lemah memalingkan wajahnya, bahkan menatap makanan yang di sodorkan Rayen membuat dirinya ingin muntah.


"Mundur, jangan mendekat Rayen. Aku tidak menyangka kamu sejahat ini, lepaskan aku Rayen," lirih Amara. Rayen meletakan piring yang di bawanya kemudian menatap Amara dengan sinis.

__ADS_1


"Kau akan mati jika menolak menikah denganku, kau akan tetap hidup jika kau mau menamdatangani berkas ini dan menikah denganku," ucap Rayen sambil menyodorkan beberapa berkas pada Amara. Amara melirik berkas itu yang entah berkas apa dia juga tidak tau.


"Dasar pria gila! Minggirlah!" ucap Amara.


Rayen tersenyum, kemudian berjongkok dan menggengam tangan Amara yang ada di pangkuan Amara. Dia mencium tangan Amara dan tersenyum.


"Masih baik aku menawarkan pernikahan, sebenarnya bisa saja aku hanya meminta tanda tanganmu saja cantik," ucapnya.


Dengan sekuat tenaga Amara mencoba menarik tangannya dari genggaman Rayen, Rayen murka dan berdiri kemudian menarik rambut Amara dengan keras.


"Kenapa kau selalu menolakku Amara? Kau begitu sombong dan angkuh," bentak Rayen. Amara hanya bisa meneteskan air mata. Dia terdiam, mana bisa dia hidup dengan manusia jahat seperti Rayen? Amara menggelengkan kepalanya. Rayen semakin kuat menarik rambut Amara.


"Lepaskan dia,"


Sebuah suara lantang terdengar dari depan pintu. Rayen dan Amara menoleh bersamaan. Amara benar-benar tampak bahagia melihat sosok Micho yang dinantinya. Kedua bola mata saling bersitatap, mengisaratkan sebuah kerinduan yang mendalam.


"Mas Micho," lirihnya di tengah keadaan tubuhnya yang mulai lemah.


"Kalian," ucap Rayen terkejut. Bagaimana bisa mereka menemukan tempat terpencil ini? Dengan cepat Rayen menatap ke arah ketiga orang itu dengan tatapan sinisnya.


"Ternyata kalian tidak sebodoh yang aku pikir," ucap Rayen.


Rafa menatap Rayen dengan waspada, lelaki di depannya adalah sosok yang sangat berbahaya. Rayen melangkah maju membuat ketiga pria tampan itu semakin waspada. Rayen menjentikan jarinya dikodekan untuk beberapa pengawal tersembunyi keluar dari tempat persembunyiannya.


Jumlah mereka bahkan lebih banyak dari yang Micho dan Rafa bawa. Rayen tersenyum licik, dengan satu gerakan tangan Rayen, mereka mulai beraksi dan menyerang bertarung dalam kekuatan.


Micho, lelaki itu mendekat ke arah Rayen yang mencengkram bahu Amara. Amara tampak menahan sakit di tangannya. Micho membuat satu gerakan yang melumpuhkan pertahanan Rayen. Sehinga Rayen berpindah haluan dari Amara, keduaya saling menyerang.


Amara tampak panik dan memejamkan matanya. Dia berusaha melepas ikatan yang ada di tangannya dan berhasil. Amara melepas ikatan di kakinya, ia juga berhasil melakukannya. Tapi, tubuhnya yang begitu lemas seakan tak bisa untuk berbuat apapun.


Rayen mengambil pistol yang ada di saku celananya, ia hampir saja menarik pelatuknya. Tetapi, Micho dengan gerakan cepat melompat dan mengambil pistol itu kemudian membuang entah kemana. Mereka bertarung dengan tangan kosong.

__ADS_1


Keduanya tampak semakin menjadi, dengan waktu yang singkat ruangan itu berantakan tak karuan. Amara melangkah minggir, merangkak ke arah dinding untuk mencari kekuatan.


Micho dan Rayen saling memukul dengan kerasnya, saling menghajar tiada ampun membuat Amara mematung dan tampak khawatir. Rayen meraih lengan Micho dari belakang, Amara tampak jelas melihat wajah Micho yang tampak lebam. Dia juga melihat Raka, Rafa dan Damar bergulat dengan beberapa pengawal.


Tak lama dari itu, beberapa pengawal yang memakai ikat kepala kuning tiba-tiba datang diiringi oleh pria tinggi besar yang di panggil Rayen dengan sebutan Om Roy. Mereka tampak berlarian menuju ke ruangan dimana Amara, Rayen dan Micho berada. Pengawal itu membantu pasukan Rayen menghabisi pasukan yang di bawa Rafa yang hanya beberapa saja.


Roy terus berjalan ditengah kekacauan yang ada, Roy menatap ke arah Amara yang terus mencoba untuk merangkak. Dia juga melirik ke arah lelaki yang berkelahi dengan Rayen. Tetapi sayang dia tidak bisa melihat wajah pria yang memunggunginya itu.


Roy mengambil pelatuk dari sakunya, mengarahkan pelatuknya di dada Amara. Micho yang menyadari sinar Red fokus pada Amara tampak mendekati Amara dan...


Dor


Satu tembakan menghentikan perkelahian itu. Semua mata tertuju pada arah dimana suara itu berasal.


Amara terkejut saat mendapati Micho merengkuhnya, punggung Micho tertembak. Darah segar meluncur dari punggungnya, Amara berada dalam rengkuhan Micho. Laki-laki itu menyelamatkan nyawanya. Amara melirik tangannya yang berlumuran darah karna menyentuh luka tembak itu.


"Sayang, aku mencintaimu." Micho berucap sebelum pada akhirnya dia tumbang.


Amara histeris dan menatap Micho yang jatuh ke lantai, wajahnya pusat pasi. Roy? Lelaki itu terpaku dalam diam dan rasa penyesalan, bagaimana bisa dia menembak putranya sendiri? Ya pria yang tadi memunggunginya ternyata adalah Micho.


Raka dan Damar yang semula mematung kembali menyerang, saat musuh mulai kembali beraksi. Rafa? Dia berusaha mendekat ke arah Micho dan Amara ketika Rayen tampak mendekati Amara. Namun, seseorang mendorong Rayen hingga dia tersungkur. Ia menyahut tubuh lemah Amara ke dalam pundaknya sambil menyerang kemudian membawa Amara pergi dari tempat terkutuk itu.


Rafa terkejut melihat Zidan, guru bela diri Amara. Entah bagaimana yang penting Amara terselamatkan lebih dulu. Rafa berlarian menuju ke arah Micho.


Tapi, Rafa melihat Roy, lelaki yang tadi memembak itu mendekati Micho dan menatap dengan iba. Roy meraih tubuh Micho dan membawanya pergi.


Rafa tampak khawatir dan sempat ingin mengejar, tapi orang berikat kepala kuning menyerangnya seperti melarangnya mendekat sehingga mau tidak mau dia harus membela dirinya dan meladeni orang itu.


*****


Like komen hadiah ya...😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2