
"Sabrina, aku mohon beri waktu aku untuk berbicara."ucap Micho.
"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Micho. Kita sudah selesai, jangan lagi mengusik hidupku." ucap Sabrina tegas. Micho menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Memang sudah menjadi takdir, ketika dirinya harus tidak berjodoh dengan wanita didepannya.
Rasa sakit masih membekas dihatinya melihat takdir berkata jika Sabrina wanita yang pernah dicintai telah menjadi milik orang lain, namun nama Amara tetap menjadi hal yang terindah di hatinya saat ini. Rasa sakit mendera hatinya ketika mengingat kejahatan papanya yang telah merebut perusahaan orang lain dengan cara kotor.
Rasa sakit mendera hatinya saat mengetahui papa yang dia sayangi ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan. Micho menghela nafas panjang. Melepaskan Sabrina adalah sebuah kesalahan yang menghancurkan hatinya, namun semua berujung kebahagiaan karna sekarang dirinya telah menemukan pasangan hidup yang sangat dia cintai, dia tak akan mengulang hal yang sama. Yang ingin dia lakukan adalah menyelesaikan masa lalu dan membuka lembaran baru.
"Sabrina, maafkan aku." ucap Micho. Sabrina terhenyak. 4 tahun bersama membuat hatinya sulit untuk melupakan kebersamaan yang dulu sangat berharga.Tetapi rasa sakit yang pernah diberikan Micho terlalu sadis untuk dilupakan. Sabrina memejamkan matanya, menghela nafas panjang.
"Micho, lupakan masa lalu. Hiduplah bahagia dengan lembaran baru, aku sudah bahagia dengan suamiku. Anggap saja aku sudah memaafkanmu," ucap Sabrina panjang lebar.
Micho menghela nafas panjang, ia mengangguk pelan. Dia menyadarinya, ia mencoba menguasai hatinya.
"Aku memaafkanmu bukan berarti aku kembali padamu, aku sudah bahagia dan menemukan cinta yang lain Micho. Aku sudah bahagia dengan Andika." ucap Sabrina.
"Ya, aku tau itu Sabrina. Aku tau. Aku hanya ingin melegakan perasaanku. Rasa bersalah yang selama ini menghantuiku harus hilang, agar aku mampu hidup di masa depan." ucap Micho. Sabrina merasa lega, setidaknya masalah dengan Micho telah usai.
"Boleh kita berteman?" tanya Micho. Sabrina tampak berfikir.
"Aku berharap kita berteman, tidak lebih. Apa itu juga membuatmu keberatan?" tanya Micho lagi. Sabrina terdiam.
"Aku tidak bermaksud apapun, aku tau kamu kelaparan. Wajahmu pucat sekali, jika kamu menolak martabak dariku karna aku adalah mantan yang pernah menyakitimu. Maka terimalah martabak kesukaanmu ini sebagai tanda pertemanan kita." ucap Micho sambil mengulurkan martabak pada Sabrina.
Sabrina tersenyum singkat, ia memang begitu kelaparan.Tangan Sabrina tergerak untuk mengambil martabak. Tetapi sebuah tangan kekar menghalangi aksinya. Sabrina dan Micho sama-sama terkejut saat Mendapati Andika berada tepat di depan Sabrina. Andika berada diantara Micho dan Sabrina.
Andika menatap keduanya bergantian, dan pada akhirnya ia menatap wajah Sabrina dengan sorot mata tajamnya. Ia memegang ke dua pundak Sabrina. Sabrina menghela nafas panjang, ia tau suami tampannya kini telah salah paham dengannya.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini? Kenapa bersama dia?" tanya Andika dingin. Sabrina menunduk. Sabrina bingung harus menjawab apa, Andika dan Micho pernah terlibat perkelahian karna dirinya dan itu membuatnya sulit menjelaskan tentang pertemanan yang diajukan Micho saat ini.
Andika yang tersulut emosi menghadap kearab Micho. Andika menarik kerah baju Micho dan siap melepaskan satu pukulan. Dengan cepat Sabrina berada diantara mereka dan menarik tangan Andika agak menjauh.
"Mas,tenangkan dirimu." ucap Sabrina yang tampak mengendalikan emosi Andika. Micho memalingkan wajahnya, dia tau pasti ini sulit untuk Andika.
"Bagaimana bisa aku tenang, Sayang. Mana bisa aku tenang ketika aku melihat dia. Dia manusia laknat yang masih mencintaimu, dia manusia laknat yang mengibarkan bendera perang untuk merebutmu dariku. Mana bisa aku tenang?" ucap Andika panjang lebar sambil melirik Micho yang hanya berdiri dengan santainya sambil membawa kantong plastik entah apa isinya.
Sabrina meletakkan kedua tangannya di pipi Andika, mengamati wajah tampan Andika yang tampak merah. Sabrina tampak menjinjit kemudian mencium sekilas bibir Andika. Membuat Andika merasa tenang dan Membuat Micho memalingkan wajahnya.
"Kamu bisa diam sebentar Tuan Andika? bagaimana aku menjelaskan jika kamu terus saja bicara?" tanya Sabrina dengan senyuman yang berhasil menguasai Andika. Ucapan Sabrina Bagai sihir yang melumpuhkannya. Andika terdiam dan menatap wajah Sabrina dengan tenang. Micho tersenyum, kini dia merindukan Amara, wanita cantik yang kini mengisi hatinya. Sedang apa dia dirumah?
"Aku lapar, Mas. Aku pengin makan martabak. Disana antri sekali, Micho menawarkan martabaknya untukku." ucap Sabrina.
Andika mengarahkan pandangannya ke penjual martabak yang memang sangat ramai sekali. Ia juga menatap Micho yang terlihat tenang. Kemudian menatap Sabrina, Andika terkejut ketika mendapati wajah Sabrina yang tampak pucat. Sabrina memang belum makan sejak pagi.
Andika menggenggam tangan Sabrina yang masih berada dipipinya, ia menatap Sabrina dengan teduh. Ia tidak tau bagaimana harus bersikap, dilain sisi Sabrina sangat kelaparan, tetapi hatinya masih saja enggan untuk menerima begitu saja pemberian dari rivalnya itu. Sabrina menghela nafas panjang.
Adegan yang membahagiakan untuk Sabrina dan Andika itu lagi-lagi membuat Micho harus memalingkan wajahnya, dia benar-benar ingin bertemu Amara, bayangan istri cantiknya itu ada di pelupuk matanya.
"Apa Kalian sudah baikan? "tanya Andika. Sabrina melepas pelukannya pada Andika dan menatapnya penuh cinta.
"Micho menawarkan sebuah pertemanan. Dia ingin melupakan masa lalu dengan meminta maaf padaku, dia butuh maaf untuk hidup lebih baik lagi kedepannya," ucap Sabrina. Andika menghela nafas panjang.
Andika menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Sabrina dan berjalan kearah Micho berada. Andika menatap Micho dengan tajam ketika berada di depan Micho.
"Berikan martabakmu, aku akan membayarnya."ucap Andika. Micho mengernyitkan dahinya, menatap kearah Andika lelaki yang sebenarnya adalah sepupunya itu.
__ADS_1
"Aku tidak menjualnya. Disana pedagangnya." sahut Micho santai, membuat Andika menghela napas berat.
"Apa maumu? Aku tidak sudi memberikan gratisan makanan darimu untuk istriku." ucap Andika seolah menegaskan jika Sabrina adalah miliknya. Ucapan Andika membuat Micho tertawa, ia begitu yakin jika Andika begitu menyayangi Sabrina.
Micho mengambil tangan Andika dan memberikan martabat ditangan Andika. Ia tersenyum dan menepuk pelan pundak Andika.
"Bahagiakan Sabrina, itu adalah harga yang harus kamu bayar, kebahagiaan seorang teman juga sepupu lebih berharga. Aku juga tidak sudi menerima uang darimu, Tuan Andika Alexander." ucap Micho kemudian berlalu.
Andika mematung, ia memberikan kantong plastik kepada Khalista sebelum Akhirnya mengejar langkah Micho.
"Tuan Micho, tunggu." teriak Andika. Micho menghentikan langkahnya. Ia berbalik arah dan mendapati Andika didepannya.
"Ada apa?" tanya Micho. Andika menepuk pelan pundak Micho dan mereka saling berangkulan sejenak.
"Terimakasih telah memberikan martabakmu, bukankah kita berteman sekarang?" tanya Andika sambil mengulurkan tangannya. Micho tersenyum dan membalas uluran tangan Andika.
"Bukan lagi berteman, kau adalah sepupuku." ucap Micho. Andika mengernyitkan dahinya.
"Sepupu?" tanya Andika. Sabrina yang memang sudah mengetahui dari ibu mertuanya hanya tersenyum. Tidak menyangka mantan kekasih dan suaminya itu adalah saudara sepupu.
"Almarhum papamu dengan papa Prayoga adalah saudara. Maafkan jika papaku membuat hidupmu susah," ucap Micho. Andika membelalakan matanya. Jadi Prayoga adalah Om nya?
"Sekarang aku pulang, bahagiakan dia. Jangan seperti aku yang menyakitinya." ucap Micho.
"Tanpa kamu meminta aku sudah melakukannya, dia istriku. Dan kewajibanku memang untuk membahagiakannya." ucap Andika tegas.
Sabrina menghela nafas lega, setidaknya masa lalunya telah berakhir. Dan kini rasanya bahagia ketika melihat pemandangan yang seperti ini. Micho dan dirinya telah selesai, Andika dan Micho juga sama. Itu adalah kebahagiaan tersendiri.
__ADS_1
Micho undur diri, sekarang yang dia inginkan adalah bertemu dengan makhluk cantik yang mengusik hatinya. Ia ingin makan siang bersama.
😊😊😊😊😊