
Amara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Entah, malam ini dia begitu bahagia.
Setelah menyelesaikan memasak, Amara menyiapkan beberapa hidangan di meja makan. Dilihatnya Micho tengah berkutat dengan beberapa berkas di sofa. Dahinya mengernyit dan tampak berpikir keras.
"Micho, makanan sudah siap. Mau makan sekarang?" tanya Amara. Micho yang terlalu sibuk tak mendengar ucapan Amara. Amara terdiam dan mendekat ke arah Micho. Disaat yang bersamaan, Micho hampir saja berdiri sehingga menyenggol Amara yang telah sampai di tempatnya.
Amara terkejut saat tubuhnya oleng dan entah bagaimana nanti nasipnya. Micho dengan gerakan cepat menyambar Amara dan kembali duduk di sofa. Kini Amara ada di pangkuan Micho, Micho tersenyum melihat wajah Amara yang memejamkan matanya dangan wajah merah merona dan tampak ketakutan.
"Buka matamu," ucap Micho. Amara yang merasa selamat dari bahaya membuka matanya.
Micho mengerjabkan matanya, saat itu Amara menatap ke arah Micho, Micho tampak lebih tampan dari biasannya, wajah yang biasannya jutek dan ketus itu kini tampak tenang.
Keduanya saling berpandangan, debaran jantung Amara sangat cepat. Dia juga bisa merasakan detak jantung Micho yang berdetak lebih dari biasannya. Namun, wajah Micho seolah tak menampakan jika dirinya sama tegangnya.
"Kenapa senang sekali di posisi seperti ini? Apa begini sangat membuatmu nyaman?" Micho berbicara santai, ada seulas senyum yang terbit dari sudut bibirnya yang menambah ketampananya. Amara mencoba berdiri tapi Micho menahannya.
"Jika kau suka, kau boleh berlama-lama seperti ini," ucap Micho lagi. Amara menundukan wajahnya yang merah merona. Amara menahan senyum dan mencoba mengalihkan pandangannya.
"Apa kau memang sengaja mau jatuh dan aku menangkapmu seperti ini?" ucap Micho lagi, Amara menggeleng cepat.
"Makanlah Micho, aku tidak sengaja. Tadi aku memanggilmu, tapi kamu terlalu sibuk sehingga tidak mendengarku," ucap Amara. Micho mengamati wajah cantik istrinya itu, mencari kebenaran ucapan Amara.
"Makan apa?" tanya Micho mencoba menggoda Amara.
"Makan nasi, apa lagi?" ucap Amara kemudian memaksa berdiri dan merapikan pakaiannya. Micho tersenyum dan mengusap puncak kepala Amara.
"Aku kira makan rujak lagi," ucapnya. Amara mengeryitkan dahinya dan menatap Micho penuh tanya.
__ADS_1
"Rujak?" tanyanya.
"Hem, rujak bibir. Ku pikir kau harus banyak belajar lagi agar lebih lemas, bisa menikmati dan juga tidak kaku," ucap Micho kemudian melenggang pergi sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.
Amara menatap punggung Micho yang menjauh darinya. Sudah pasti wajahnya merah seperti tomat. Amara meletakan kedua tangannya di dada dan merasakan detak jantung yang tak beraturan. Amara melangkah kan kakinya dan mengikuti Micho yang tengah mengambil nasi di piring. Mereka menikmati makan dengan hikmad, hanya dentingan sendok yang terdengar.
Beberapa saat kemudian, mereka telah menyelesaikan makan malam. Amara melirik jam yang menunjukan pukul 01.00, Amara segera memberesi beberapa piring makanan.
"Istirahatlah, sudah larut." ucap Micho kemudian melangkah menuju ke sofa dan membuka beberapa berkas dan membuka laptopnya.
"Kau sendiri tidak istirahat? Lukamu bukankah sangat sakit?" tanya Amara kemudian duduk di sofa depan Micho.
"Ada hal yang harus aku selesaikan," ucap Micho sambil memijit pelipisnya dengan tangan kanannya.
"Apa kau membutuhkan dana? Om Prayoga pernah meminta bantuan padaku waktu itu, tapi dia bilang kau melarangnya," ucap Amara. Micho melirik ke arah Amara, dia enggan menjawab. Karna waktu itu memang dirinya yang melarang papanya meminta bantuan pada Amara.
"Lalu kau mau kemana? Apa mau keluar? Ini sudah malam, Micho." ucap Amara tampak khawatir.
"Tampaknya kau takut sekali kita berjauhan, tidurlah! Aku akan menemanimu, aku rasa tidak berbahaya lagi kita bersebelahan. Efek obat itu sudah tidak berfungsi lagi," ucap Micho kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ranjang.
Amara terdiam, lagi-lagi Micho berhasil membuat dirinya malu. Amara tersenyum kemudian mengikuti langkah Micho. Amara membaringkan tubuhnya di samping Micho yang membelakanginya. Namun, sesaat kemudian Micho memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
Micho melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Amara, mereka saling berhadapan dan saling memandang. Entah bagaimana, memeluk Amara ketika tidur membuat Micho merasakan kenyamanan tersendiri. Micho memejamkan matanya, tak perduli pada Amara yang tampak terkejut dengan kelakuannya.
****
Waktu menunjukan pukul 05.00 pagi, Amara mengerjabkan matanya. Semalam tidurnya sangat nyenyak sekali. Amara mulai terbiasa dengan keberadaan Micho yang selalu memberikan pelukan hangat dalam dekapannya selama seminggu ini.
__ADS_1
Amara menatap ke arah Micho yang masih saja memeluknya dengan posesif, Amara melirik ke arah lengan Micho. Ada rasa penasaran yang bergelayut di hatinya, kenapa ada orang yang menembak Micho? Apa ini ulah Rayen? batin Amara bertanya. Amara meraih ponselnya kemudian mengangkat lengan Micho dengan pelan.
"Halo, Nona Sheyna ada yang bisa saya bantu?" tanya orang di sebrang.
Amara segera beranjak dari tidurnya, dan menuju ke balkon kamar. Amara menghela napas panjang dan mencoba menghilangkan sesak yang menyeruak dalam benaknya.
"Kak, bisa kau bantu aku? Aku butuh bantuan kakak," ucap Amara.
"Kami selalu siap Nona,"
"Okey, ada hal yang perlu aku tau, aku akan mengirimkan berkas itu," ucap Amara kemudian menutup ponselnya.
"Sudah bangun Ra?" tanya Micho yang muncul dari dalam. Micho sudah rapi dengan setelan jas yang membuat dirinya semakin tampan.
Amara segera mendekat dan membantu Micho mengenakan dasi Micho yang tampak berantakan, Micho terkejut. Amara benar-benar telah berubah.
"Kenapa pagi sekali sudah bersiap, mau kemana?" tanya Amara sambil merapikan dasi. Micho menatap wajah bantal Amara yang masih saja tetap cantik.
"Aku ada urusan. Aku harus menemui Damar pagi ini," ucap Micho. Amara yang yang tadinya bahagia tampak sedikit layu. Micho menyadari kesedihan istrinya, dia mengusap pelan puncak kepala Amara.
"Kenapa? "tanya Micho. Amara merasakan ngilu. Sepertinya hatinya telah dipermainkan oleh perasaan yang kian merajai hatinya.
"Aku," Amara memejamkan matanya. Entah, kejadian semalam masih saja menyisakan rasa takut dalam dirinya.
"Apa kamu takut?" tanya Micho. Amara terdiam dan hanya bisa memejamkan matanya, mencoba menghilangkan segala ketakutan yang mendera otaknya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1