
"Micho, apa aku menyinggungmu? Aku minta maaf, aku hanya ingin membantumu." ucap Amara dan berdiri di samping Micho. Memandang kemerlip bintang diangkasa yang tampak indah malam ini.
"Micho," Amara memandang Micho yang berwajah dingin.
"Pergilah," ucap Micho pelan.
"Micho kau marah? Aku minta maaf, aku ..."
"Aku bilang pergi? Bukankah kau punya telinga?" bentak Micho.
Amara seketika terdiam, sakit, sesak, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Amara mundur beberapa langkah kemudian memutar langkahnya masuk ke dalam kamar. Micho melirik ke arah Amara yang berjalan gontai. Ada sesal di hatinya, ada sesak yang mendera.
Amara memejamkan matanya, rasa sakit yang dirasakannya begitu nyata. Amara berbaring ke ranjangnya dan melingkarkan tangannya pada boneka beruang kesayangannya. Tak lama dari itu matanya terpejam jan mengarungi alam mimpi.
***
__ADS_1
Micho menyesap filter rokok miliknya, menghirup dalam dan mengeluarkan kepulan asap ke udara untuk meluapkan kekesalannya. Entah mengapa, hatinya seakan sakit ketika Amara membicarakan nama Sabrina.
Micho menghela napas panjang, membuang batang rokok ke dalam tempat sampah, kemudian berjalan ke arah ranjang di mana Amara berbaring. Dilihatnya Amara yang tampak kedinginan karna tak menggunakan selimut, Micho mendekat dan memberikan selimut di tubuh Amara.
Micho mengusap pelan puncak kepala Amara, kepalanya bagaikan tertarik magnet sehingga mendarat di puncak kepala Amara. Micho mencium dalam-dalam puncak kepala Amara. Di usapnya pipi mulus yang tampak sembab.
"Maafkan Aku," ucapnya lirih. Bahkan, dulu untuk mengungkapkan kata maaf begitu sulit baginya dan sekarang di depan Amara Ia mengucapkan kalimat sakral baginya itu. Micho bangkit dan meninggalkan kamar. Amara membuka matanya, menatap punggung Micho dengan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Micho berjalan pelan ke arah kamar yang tak jauh dari kamarnya. Menerobos masuk dan duduk di sofa. Kini netranya menatap ke arah Damar yang tengah tertidur dengan nyaman.
"Pasti ini ulahmu," ucap Damar sambil duduk. Micho tersenyum dan menatap ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Kau pindah ke sini, Aku yang tidur di situ," ucapnya ketus. Damar menghela napas kasar dan berjalan ke sofa dengan wajah dongkolnya.
Micho membaringkan tubuhnya dan menerawang jauh. Taza, Sabrina mengiang di otaknya. Amara? Wanita itu menjelma bagaikan hantu yang setiap saat menghantui otaknya.
__ADS_1
*****
Pagi hari setelah sarapan, Amara, nenek dan juga kakek berjalan ke arah parkiran. Micho sudah berdiri sambil memakai kacamata hitam yang membuat dirinya semakin terlihat tampan.
"Hati-hati, jangan ngebut. Micho, jaga istrimu baik-baik. Kalian harus rukun, tidak boleh bertengkar, apapun masalah yang menghadang harus dinselesaikan dengan kepala dingin." ucap nenek sambil mengusap puncak kepala Amara. Amara tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak neneknya. Micho tersenyum dan mendekat ke arah nenek.
"Kalau begitu kami permisi, Nek, Kek." ucap Micho sambil bersaliman kepada nenek dan kakeknya.
"Bahagia selalu, segera berikan cicit untuk kakek dan nenek," ucap Nenek sambil tersenyum. Amara dan Micho saling melirik. Keduanya tampak canggung setelah kejadian semalam.
Amara dan Micho berjalan ke arah mobil dan melambaikan tangan kepada kakek dan neneknya.
Lajuu mobil begitu santai, tak ada kata yang sanggup terucap. Hanya keheningan yang mengisi di antara sepasang suami istri itu.
😍😍😍😍😍
__ADS_1