Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Bab 93


__ADS_3

"Jangan mengurus rumah tanggaku, urusanmu hanya mencari jodoh." ucap Micho kemudian melenggang pergi diikuti Damar. Rafa mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Netranya menatap Micho yang terus saja berjalan menuju ke parkiran.


"Pulanglah, Damar. Persiapkan segala sesuatu untuk papa," Micho berbicara sambil mengamati kamar Amara yang berada di atas sana. Berharap wanita cantik itu mempunyai hati dan mau mendengar celotehnya.


"Lalu, kau?" tanya Damar.


"Aku akan menunggu disini," ucap Micho. Tatapanya masih mengarah ke arah kamar Amara yang beberapa hari yang lalu juga dia tempati. Damar mengamati wajah Micho yang tampak lelah.


"Sepertinya kau telah menyadari sesuatu," Damar bersandar di pintu mobil dan menatap ke arah kamar Amara juga, sama dengan apa yang dilakukan Micho. Micho terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Aku tampaknya telah jatuh cinta pada Amara. Kau tau, aku begitu tenang dan nyaman berada di dekatnya," ucap Micho. Damar menepuk pundak Micho dan tersenyum.


"Akhirnya kau menyadari. Setelah tenggelam dalam kegengsian yang sedalam lautan, pada akhirnya kau berenang ketepian," ucap Damar. Micho mengernyitkan dahinya dan memberikan satu pukulan di pundak Damar. Micho sedikit meringis menahan sakit karena memukul pohon.


"Sakit?" tanya Damar.Micho menggeleng pelan.


"Tak sesakit diabaikan Amara," ucap Micho. Damar tertawa dan menepuk pelan pundak Micho.


"Aku rasa kau harus memberinya waktu, dia marah padamu itu hal yang lumprah. Dia telah mengorbankan banyak hal karna kesalahpahaman itu," ucap Damar. Micho menghela napas panjang. Ya, dia tau betul kesalahan terbesar yang dia lakukan, dia menyadari semuanya.


"Kau benar, Damar. Aku akan menunggunya berpikir," ucap Damar.


"Disini?" tanya Damar. Ia memastikan jawaban Micho yang masih saja mengamati kamar Amara diatas sana.


"Dimana lagi? Mau masuk juga percuma, apa kau tidak melihat ada singa di ujung sana?" ucap Micho sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Rafa yang tampak berbicara dari ponselnya. Damar tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kau ikut kesana," ejek Damar.

__ADS_1


"Aku masih waras," ucap Micho. Damar tersenyum sebelum akhirnya melangkah pergi dan melajukan mobilnya.


Micho duduk di bawah pohon sambil menggenggam ponselnya. Mencari kontak Amara dan mengirimkan beberapa foto dirinya dan Amara. Micho merebahkan dirinya dan menatap langit malam yang tampak mendung. Micho mengamati galeri di ponselnya dan menghapus beberapa jejak foto Sabrina dari ponselnya.


"Sabrina, sudah saatnya aku melupakanmu." ucapnya pelan.


😍😍😍


Mama Hana mengikuti langkah Amara dan mencoba membujuk Amara untuk bercerita. Namun, putri cantiknya itu enggan untuk membuka mulutnya. Pada akhirnya Mama Hana memutuskan untuk meninggalkan Amara.


"Amara tak mau bicara, pa." ucap mama tampak khawatir.


"Papa akan coba membujuknya, mama beri waktu untuk papa," ucap papa Rusdi. Mama Hana mengangguk pelan dan melangkah keluar dari kamar Amara. Papa Rusdi masuk dan mendekat ke arah Amara.


"Rara," sapa papanya pada Putri cantiknya, sepeninggalan Mama Hana. Amara yang tengah memikirkan Micho sedikit terkejut. Ia menatap kearah papanya yang kini berada di belakangnya. Amara yang semula berbaring kini duduk dan mengusap air matanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya papa Rusdi. Amara menghela napas panjang, mencoba tersenyum pada sosok paruh baya yang kini menatapnya penuh cinta.


"Apa kalian bertengkar?" ulang papa Rusdi. Amara terdiam, dia masih enggan untuk menjawab.


"Bertengkar atau berselisih paham itu wajar. Pertengkaran dan perbedaan pendapat adalah bumbu yang memang menjadi pelangkap didalam rumah tangga, lalu kenapa kamu larut dalam masalah dan menghindar?" ucap Papanya.


"Papa tau kejadian 4 tahun yang lalu bukan?" tanya Amara. Papa Rusdiantoro mengangguk. Amara memeluk papanya dengan erat. Rasa sakit yang dulu mendera hatinya sekarang tak bisa dia sembunyikan lagi. Amara menangis di rengkuhan papanya.


"Pa, Micho berbohong. Micho menjebak aku, dia bilang aku tidak pernah kehilangan kehormatan. Aku tidak tau, ini menyakitkan atau membahagiakan? Kenapa baru sekarang dia mengatakan semuanya setelah perjuangan panjang yang aku lakukan? Kenapa dia baru mengatakan setelah semua kesulitan dan kesedihan aku lalui? Kenapa dia baru mengatakan semuanya setelah aku mengorbankan kebahagiaan orang terdekatku? Kenapa baru mengatakan saat ini? Egois sekali Micho pa, Apa salahku sehingga dia sejahat ini, Pa?" ucap Amara pelan sambil mencari kenyamanan di dada bidang papanya.


"Bukankah papa pernah bilang padamu, jika tidak semua yang kamu pikirkan itu benar?" tanya papa sambil mengusap pelan puncak kepala Amara. Amara tampak mengangguk dalam rengkuhan papanya.

__ADS_1


"Kadang kesalah pahaman muncul jika tidak saling mengungkapkan. Sama seperti halnya kamu dan Micho, bagi papa tidak ada yang salah diantara kamu dan juga Micho." ucap papanya.


"Bagaimana tidak salah Pa? Micho salah membiarkan kesalah pahaman ini berlarut," ucap Amara sambil menarik tubuhnya dari pelukan papanya. Papa Rusdiantoro tertawa dan mengusap pundak Amara yang tampak dongkol dengannya.


"Itulah manusia, kadang kala yang di baca itu kesalahan orang lain. Tidak mau introspeksi diri dan mencari kesalahan sendiri," ucap papa Rusdi. Amara mengernyitkan dahinya dan memandang ke arah papanya.


"Maksud papa?" tanya Amara.


"Apa kamu tidak pernah berfikir berada di posisi Micho? Ketika dia capek menolong, menjagamu semalaman. Bahkan dia juga terluka, tapi yang dia dapatkan hanya sebuah tamparan ketika gadis yang dia tolong telah bangun. Papa rasa jika papa ada di posisi Micho papa akan melakukan hal yang sama," ucap papa Rusdi.


Amara membelalakkan matanya. Dia mengingat kejadian 4 tahun lalu, yang benar saja. Memang dia larut dalam kesedihan hingga tak bertanya atau pun berbasa-basi dengan Micho. Yang ada dia langsung saja menampar Micho dan bodohnya lagi menganggap Micho adalah komplotan preman itu. Kenapa dia tidak pernah berfikir bahwa Micho adalah orang yang menolongnya?


"Jadi?" tanya Amara. Papa Rusdi mengusap pelan pundak Amara dan tersenyum.


"Jangan banyak suudzon, berfikirlah positif. Kadang kala, pemikiranmu yang salah akan menghancurkan hidupmu sendiri," ucap papanya.


Amara memejamkan mata indahnya. Ya dia tau kesalahannya, ini bukan hanya kesalahan Micho. Tapi, juga kesalahannya yang terlalu egois. Amara menatap ke arah poto pernikahan yang terpampang di dinding kamarnya. Menatap wajah tampan Micho yang tampak datar.


"Micho masih menunggumu. Papa rasa dia telah jatuh cinta pada putri cantik papa ini," ucap papa Rusdi. Amara mengusap air matanya mencoba menguasai perasaanya.


"Sekarang terserah padamu, mau tetap disini atau menemui suamimu," ucap papanya sambil berdiri. Amara menatap ke arah papanya dan tampak bingung.


"Tunggu apalagi? Seharusnya kamu bahagia masih mempunyai kehormatan yang kamu pikir sudah hilang, Micho yang akan memilikimu nanti." ucap papanya. Amara tampak malu dan menyunggingkan senyum, wajahnya tampak merah merona. Papa Rusdi melenggang pergi, Amara berdiri dan menyambar ponselnya.


"Micho," lirihnya.


Jika hanya ada 2 pilihan di dunia ini untuk berjuang atau mati? Maka aku ingin berjuang untuk mendapatkan cintamu, dan Mati jika aku tak bisa bersamamu.

__ADS_1


Pesan yang di kirim Micho disertai beberapa foto dirinya dan Micho. Amara merasakan sesak, bahagia, haru, semua bercampur menjadi satu. Amara membuka jendela kamarnya. Ia melihat Micho yang merebahkan tubuhnya di bawah pohon. Amara lagi-lagi merasakan sesak di dadanya. Amara memutar langkahnya dan berlari menuruni anak tangga.


😍😍😍😍


__ADS_2