Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Menelpon


__ADS_3

Malam telah tiba, Micho dan Damar kini tengah berada di Apartemen. Beberapa orang bodyguard masuk dan mengambil koper mereka.


"Maaf, Tuan Micho mobil telah siap. Anda dipersilahkan untuk segera masuk," ucap salah satu dari mereka. Micho dan Damar mengangguk kemudian berlalu menuju ke arah parkiran. Micho dan Damar masuk ke mobil belakang, mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Micho mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak, wajahnya berubah padam ketika mendapati sebuah nama paling atas yang membuat hatinya bergemuruh marah.


"Amara kekasihmu❤" gumam Damar ketika melihat kontak itu. Damar mengernyitkan dahinya kemudian mereka saling menatap.


"Apa?" tanya Micho yang melihat gelagat Damar yang tidak enak.


"Jadi kalian sudah jadian?" tanya Damar. Micho menggelengkan kepalanya dan memberikan satu tonjokan pelan di lengan Damar. Damar tertawa dan memandang perban yang melingkar di telapak tangan Micho.


"Jadi, ini yang membuatmu mengamuk? Kenapa mengamuk? harusnya kamu bahagia, sekarang kau sudah tidak jomblo lagi." ucap Damar. Micho berdecak dan menghela napas panjang. kilas balik percakapannya tadi siang kembali terbayang di otaknya. Rasa benci benar-benar menguasai otaknya.


"Ondel-ondel ini pasti akan merecoki hidupku, jadi tugasmu mengawasinya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia hanya karna wanita itu," ucap Micho. gerakan tangannya cepat mengganti kontak Amara.


"Wanita murahan," gumam Damar.


"Dia masih segelan," ucap Damar. Micho memelototkan matanya dan menatap tajam ke arah Damar.


"Apa maksudmu?"


"Kau lupa bahwa dia masih perawan?" tanya Damar. Micho menatap tajam ke arah Damar yang masih tertawa menggodannya.


"Lupakan, aku tidak berniat membahasnya." ucap Micho. Sebentar kemudian, ponsel Micho bersuara dan menampilkan satu pesan diterima.


Hai sayang, apa kabar? boleh aku menelpon? Aku merindukanmu.


Micho dan Damar saling memandang, Damar tertawa sedangkan Micho tampak tak suka. Dia mengabaikan pesan itu. Dan beberapa menit kemudian ponsel Micho berdering. Damar mengernyitkan dahinya Ketika melihat panggilan itu berasal dari Amara. Micho dan Damar saling memandang.


"Apa dia tau kita Membicarakannya?" tanya Damar sambil tertawa. Dengan jahil Damar menggeser tombol hijau sehingga menampilkan detikan waktu panggilan.


"Malam sayang, kamu sudah berangkat?" tanya suara di sebrang. Micho hanya diam tak menjawab.


"Sayang, aku menghawatirkanmu, apa kamu baik-baik saja? Atau darah tinggimu naik?" tanya suara disebrang lagi. Micho masih terdiam.


"Awas ya, jangan darah tinggi melulu. Aku tidak mau saja kalau aku ditinggal mati karena darah tinggi, aset dan perusahaanmu belum dibalik nama menjadi namaku. Jadi, jangan mati dulu." ucap Amara panjang lebar. Micho benar-benar muak dan tak berniat menjawab ucapan Amara. Dengan cepat dirinya menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya.

__ADS_1


Damar mengernyitkan dahinya dan menatap Micho penuh tanya."Ada apa?"


"Jangan banyak bicara, wanita itu semakin memuakan. Sudah seperti wanita penggoda," ucap Micho.


"Apa yang terjadi? Kemarin kau menyebutnya ondel-ondel dan tadi menyebutnya wanita murahan, dan sekarang wanita penggoda. Mana yang benar?" tanya Damar sambil tersenyum.


"Jangan menampakan wajahmu yang seperti itu, memuakan." ucap Micho sambil mengalihkan pandanganya.


"Sebutan itu patut untuknya, itu memang pantas untuknya." lanjut Micho lagi.


"Hem, terserah kau mau menyebutnya apa. Dia kekasihmu, itu hakmu," ucap Damar kemudian memalingkan wajahnya. Micho menatap Damar yang menampakkan wajah serius lagi. Micho menghela napas panjang kembali.


"Gadis itu menerima perjodohan yang disarankan tante Elisa. Aku memang sengaja menjebaknya melakukan ini, tetapi ternyata nyalinya 2 kali lebih berani dari apa yang aku pikirkan, " ucap Micho. Damar tersenyum tipis.


"Apa kalian mempertaruhkan sesuatu?" tanya Damar. Micho bercerita panjang lebar dan membuat Damar tertawa.


"Jangan tertawa!" ucap Micho.


"Apa kau takut jatuh cinta padanya?" tanya Damar tampak antusias.


"Aku tidak sudi jatuh cinta padanya. Aku akan menghancurkan hidupnya," ucap Micho lagi.


"Aku hanya muak, aku pastikan aku akan membuatnya tidak tahan dengan kelakuanku. Aku akan membuatnya mundur," ucap Micho.


"Benci dan cinta itu bedanya tipis, aku harap kamu tidak akan kehilangan perusahaan nantinya. Aku juga berharap kamu juga tidak gila karna cinta. Selamat berjuang, sobat." ucap Damar sambil menepuk pundak Micho. Keduanya sudah sampai di bandara, mereka turun dan segera melakukan cek in, mereka melakukan penerbangan pukul 22.00 malam nanti.


****


Amara tersenyum melihat ke arah ponselnya, dia tengkurap dan sesekali menyembunyikan wajahnya di bantal. Nada yang baru saja dari kamar hanya menatap heran pada Amara. Kata Tante Elysa Amara sakit dan memintanya untuk menemani Amara. Namun, kenyataan yang ada tidak sedikitpun Nada melihat kesakitan di wajah Amara. Kini sahabatnya itu malah tertawa terbahak bahak sambil memandang ponselnya.


"Ra, kenapa? Jangan gila deh," protes Nada sambil tengkurap di samping Amara.


"Ra!" panggil Nada dan sukses membuat wanita cantik 25 tahun itu menoleh.


"Apa?"


"Bahagia sekali, kata Tante Elysa kau sakit. ini kenapa malah kayak orang gila," ucap Nada Amara tersenyum dan duduk sila, Nada juga melakukan hal yang sama. Mereka saling berhadapan. Amara memegang pundak Nada dan tersenyum.

__ADS_1


"Jangan tersenyum, aku geli." protes Nada.


"Jadi kamu berharap aku sedih?" tanyanya.


"Tidak juga, aku mau kamu mengatakan semuanya, kenapa kamu sebahagia ini." ujar Nada.


Amara memberikan ponselnya pada Nada kemudian Nada membaca pesan yang dikirim Amara dan tercentang biru tetapi tidak terbalas.


"Manusia laknat," gumam Nada setelah membaca, netranya mengamati nama kontak yang profilnya gambar sebuah senapan.


"Siap dia?" tanya Nada. Amara tersenyum sangat manis.


"Tebak," jawabnya. Nada mengerutkan keningnya.


"Wendi?" 🤭🤭🤭. jawab Nada. Jawaban Nada membuat Amara kesal dan mendorong Nada hingga Nada terbaring lagi.


"Kenapa Ra?" tanya Nada sambil tertawa dan bangun kembali.


"Masak iya wendi, aku tidak tertarik menyimpan kontaknya," ucap Amara sambil memonyongkan bibirnya, Amara tertawa kemudian menatap Amara.


"Lalu?" tanyanya. Seketika wajah Amara berubah sumringah.


"Aku punya permainan yang unik, lawan mainku Micho aditya pratama..." ucap Amara sambil tersenyum menatap Nada yang tampak bingung. Nada melirik kontak manusia laknat kemudian menatap Amara?


"Permainan? Micho aditya pratama? Apa yang kamu rencanakan? Tampaknya sekarang mood kamu sangat baik ketika Membicarakannya," tanya Nada antusias.


"Aku akan membalas sedikit sakit hatiku, aku rasa tidak ada gunanya aku terpuruk. Aku akan bermain-main dengan caraku," ucap Amara.


"Kamu menyetujui perjodohan itu?" tanya Nada.


"Hemm,"


"Micho?"


"Dia menolak, tapi aku akan merebut hatinya kemudian mencampakannya. Sama seperti apa yang dia lakukan ketika aku meminta pernikahan padanya, aku akan bahagia ketika melihat dia menderita." ucap Amara dengan senyumannya.


"Kamu yakin?" tanya Nada seakan menjatuhkan angan Amara. Amara menatap Nada. Bahkan dia juga tak tau, yakin atau tidak bisa mengambil hati manusia laknat itu. Senyuman Amara memudar dia memejamkan matanya.

__ADS_1


🤭🤭❤❤❤


Like komen vote yaaa....


__ADS_2