Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Dasar Wanita Murahan


__ADS_3

"Tidak," jawab Micho dan Amara bersamaan. Amara dan Micho saling memandang rasanya mereka mempunyai misi yang sama.


"Tante tidak mau mendengar keributan seperti ini, lebih baik akhiri saja." ucap Elysa.


"Beri wanita itu kesempatan untuk mengambil hati saya tante," ucap Micho sambil melirik Amara. Amara mengernyitkan dahinya. Menyebalkan sekali orang didepannya itu, seakan menekankan bahwa dirinya yang mengemis pada Micho. Amara melirik ke arah Micho dan memandangnya.


"Lanjutkan perdebatan kalian... Tante harus pergi. Kalian selesaikan masalah kalian, tante akan menghubungi kalian nanti," ucap Elysa kemudian melenggang pergi. Sudut bibir Elysa tersenyum, Elysa yakin mereka akan memberikan kabar yang membahagiakan baginya.


"Apa hadiahnya bila aku bisa mendapatkan hatimu?" tanya Amara seakan menantang Micho.


"Apa yang kamu mau?" jawab Micho dengan entengnya.


"Perusahaan beserta cabangnya?" tanya Micho angkuh. Amara menggelengkan kepalanya.


"Terlalu besar nyalimu, Tuan." ucap Amara.


"Aku berani karna dipastikan wanita sepertimu tak mampu untuk merebut hatiku." ucap Micho percaya diri.


"Kita lihat saja nanti, aku akan membuatmu sulit untuk melupakan aku." ucap Amara sambil melenggang pergi.


"Dasar wanita murahan," ejek Micho dan berhasil menghentikan langkah Amara. Amara memejamkan matanya kemudian membalikan badannya dan memandang ke arah Micho.


"Kau pikir aku semurah itu? Kau pikir aku akan merebut hatimu karna aku mencintaimu begitu?" tanya Amara. Micho hanya diam.


"Bahkan aku sangat membencimu, kalau bukan karna tante Elysa aku juga tidak sudi untuk melakukan semua ini. Kau perlu tau, aku akan merebut hatimu kemudian meninggalkanmu,,, siapkan perusahaanmu beserta cabangnya untukku." ucap Amara sambil menyunggingkan senyum licik di sudut bibirnya. Micho mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Amara melangkah ke arah Micho dan berjinjit.


"Satu lagi, Kita sepasang kekasih mulai saat ini, Sayang. Tidak perlu aku meminta persetujuanmu, karna aku pemainnya." ucap Amara sambil berbisik. Membuat Micho semakin marah. Amara tersenyum kemudian mengambil ponsel Micho yang berada di genggamannya.


Amara mengetikkan sesuatu disana, Micho hanya memandang Amara dengan sorot mata tajam.


"Aku menyimpan namaku disini, Aku juga sudah memanggilnya dengan ponselmu. Aku akan menyimpan kontakmu, Sayang." ucap Amara lagi sambil meletakkan ponsel Micho ditangan Micho. Micho merasa harga dirinya tengah dipermainkan Amara. Micho menarik paksa tangannya dari genggaman Amara.


"Jaga sikapmu, Nona Amara." tegas Micho. Amara menyunggingkan senyum licik.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, Anda atau Saya yang akan memenangkan permainan ini. Jika saya tidak dapat mengambil hatimu, maka nikmati hartamu. Jika saya menang, maka kamu harus rela menderita tanpa harta juga tanpa cinta. Tunggu aku bermain, aku akan menjadi wanita murahan di depanmu!" ucap Amara.


"Kau juga mempunyai peluang yang sama. Bisa saja kau yang terjebak permainanmu sendiri, bisa saja kau jatuh cinta padaku. Nikmati itu, kau tidak akan mendapatkan cinta maupun harta." ucap Micho.


"Bahkan cinta juga memiliki peluang, bisa saja cinta itu hadir diantara kebencian kalian dan akan mempersatukan kalian. Kita lihat saja nanti, ego kalian atau cinta yang akan memenangkan permainan," ucap Elysa yang dari tadi masih berdiri di depan pintu kemudian melenggang pergi.


"Pergilah sayang, aku mau istirahat dulu. Selamat menempuh perjalanan dan hati-hati. Lain waktu aku akan mengunjunhimu," ucap Amara sambil tersenyum sinis. Micho menghela napas panjang. Suasana hatinya begitu tidak bersahabat. Dengan langkah tergesa Micho meninggalkan Apartemen Amara. Amara menghela napas panjang dan memejamkan matanya.


Dengan langkah gontai Amara melangkahkan kakinya, membuka kamarnya dan melihat tumpukan mekena di meja sudut kamarnya. Mekena yang selalu dipakai Nada untuk beribadah saat menginap. Amara mengambil mekena itu dan memeluknya. Sudah lama sekali Amara lupa untuk bersujud, sudah lama sekali dirinya melupakan Tuhan. Amara yang merasakan nyaman memeluk mekena itu kemudian mengambil wudhu dan menjalankan sholat dhuhur 4 rokaat.


Ya Allah Aku manusia yang jauh dari kata sempurna, ampuni segala salah dan dosa. Ampuni segala khilaf dan salah, Aku hanya mengharap ridho dan Ampunanmu semoga engkau selalu menjagaku memberikan kebahagiaan dunia hingga akhiratku kelak. Amin.


ucap Amara sambil meletakkan 2 tangannya di wajah. Amara melirik ponselnya yang berdering, tampak nama Kak Rafa disana. Tangannya terulur untuk mengambinya.


"Hallo kak," sapa Amara sambil tersenyum memandang ke arah Rafa.


"Hai cantik," jawab Rafa sambil mengamati wajah Amara yang tampak pucat.


"Sedikit," ucap Amara.


"Darimana saja? Kenapa tidak menjawab panggilan kakak tadi?" tanya Rafa sambil melipat bajunya sampai ke siku.


"Tiduran saja, hari ini aku tidak ngantor Kak." ucap Amara sambil tersenyum.


"Sejak kapan adiknya kakak rajin beribadah? Tampaknya Nada sangat berdampak positif padamu," ucap Rafa. Amara tersenyum mendengar ucapan Rafa. Memang benar Nada selalu memberikan hal positif padannya.


"Hemmm, Nada memang selalu memberikan hal yang positif. Lalu, kenapa kakak tak mendekatinya saja?" tanya Amara.


"Kamu jangan ngaco, Nada sudah kakak anggap adik, sama seperti kamu. Sudah ah, jangan bahas itu, bukankah kamu tau hati kakak sudah diisi dengan oranglain?" tanya Rafa.


"Kakak tidak bisa melupakan? Atau sekedar memberi kesempatan pada orang lain untuk masuk ke hati kakak?" tanya Amara sambil memiringkan wajahnya.


"Sulit, sulit sekali. Bukan kakak tidak mencoba, tapi berulangkali mencoba dan gagal." ucap Rafa sambil menatap langit kamarnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia sudah menikah?" tanya Amara. Rafa tersenyum getir.


"Entahlah, setidaknya kakak mememukannya dulu." ucap Rafa.


"Kenapa kakak tidak mencari info lebih lanjut? kakak bisa minta tolong kak Raka." ucap Amara geregetan melihat kamarnya yang santai saja itu.


"Kakak sudah melakukannya dan tidak ada informasi," ucap Rafa.


"Mungkin kakak bisa bertanya keluarganya, atau orang terdekat." sahut Amara lagi. Rafa hanya menghela napas panjang. Yang dekat dengan Bianca adalah Micho. Lalu, apa dia harus bertanya pada manusia yang tega menghianati Persahabatan dengan mendekati Bianca?


" Sudahlah, jangan membahas itu. Kamu kapan pulang? Katamu tahun ini akan pulang,"


" Kenapa membahas aku? Aku masih bingung, Kak. mungkin 3-4 minggu lagi," ucap Amara.


"Keluarga Rayen selalu sayang kesini, papa dan mama kesulitan untuk menjawab. Setidaknya pulanglah untuk beberapa hari," ucap Rafa.


"Rayen?" tanya Amara memastikan.


"Ya, bahkan papanya sendiri yang melamar kesini. Tuan Pramana," ucap Rafa. Amara menghela napas panjang. Rayen? Dia salah satu orang nekat yang pernah ia temui. Dia juga suka memaksakan kehendak, mana bisa dirinya menerima lamarannya.


"Yakinlah, jodoh di tangan Allah. ucap Amara.


"Hemm,,, bijak sekali kau itu." ucap Rafa sambil tertawa. Amara juga tertawa sambil menutup mulutnya.


"Mana olif?" tanya Amara sambil celingak celinguk mencari keponakannya.


"Tidur sama mama dan papa. Kau tidak kasihan pada Kak Raka harus kehilangan kebersamaan dengan Olif karna mama kesepian?" goda Rafa, Mama Hana memang menyita olifia untuk tinggal dirumah utama. Amara tersenyum dan meneteskan air mata disela tawanya. Dia begitu merindukan orangtuanya dan juga kakaknya.


"Kau menangis? jangan menangis, pulanglah. Jangan menyiksa dirimu, menyiksa kami, dan jangan menyiksa mama dan papa hanya karna manusia laknat itu," ucap Rafa yang semula tersenyum kini berubaah menjadi dingin. Amara mengusap air matanya. Kini bayangan manusia laknat yang di maksud Rafa melintas di otaknya.


🤭🤭🤭🤭


Like komen vote... dukung aku... bismilah semoga di karya kedua bisa bagi hadiah untuk kalian...🤭🤭🤭 dukung aku Yaa😅😅 terimakasih untuk kalian yang selalu mendukung aku....

__ADS_1


__ADS_2