
Rafa mengusap pelan pundak Nada dan kembali meraih Nada dalam dekap hangatnya. Nada mendorong pelan dada Rafa kemudian menghapus air matanya.
"Lelaki mana yang kamu sukai? Apa perlu kakak yang bicara padanya?" tanya Rafa. Nada mendongak dan menggelengkan kepalanya. Rafa yang sudah bertahun-tahun mengenal Nada tak sekalipun melihat Nada menangis seperti ini, ia juga tak pernah tau Nada dekat dengan Lelaki. Melihat adiknya menangis membuat hatinya seakan teriris.
"Tidak kak, kakak tidak usah menghawatirkan aku. Kakak bisa pulang dulu, aku masih pengen disini." ucap Nada. Rafa ragu untuk meninggalkan adiknya itu.
"Bagaimana bisa kakak meninggalkanmu?"
"Sudahlah jangan menghawatirkan aku, lagi pula ini dekat dengan apartmen. Aku bisa pulang sendiri, kak." ucap Nada. Rafa menghela napas panjang dan mengangguk pelan. Rafa mengusap pundak Nada.
"Lain waktu jika kamu butuh bantuan katakanlah," ucap Rafa. Nada mengangguk pelan.
Nada menghawatirkan punggung Rafa yang menjauh darinya. Nada memejamkan matanya dan mengusap air matanya.
Nada mengambil botol yang ada di sampingnya dan mencoba melempar ke tong sampah. Namun, botol berisi air separo itu malah nyasar pada orang yang berjongkok di samping tong.
"Aduhhh," suara itu membuat Nada terkejut dan berjalan mendekati orang yang sekarang berdiri sambil memegangi jidatnya.
"Ma'af, Tuan. Aku tidak sengaja. Aku tidak tau kau berjongkok di sini," ucap Nada panjang lebar. Lelaki yang semula menunduk itu mendongak mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Kamu," ucap Nada dan Radit bersamaan.
"Dasar wanita sial, kenapa aku selalu sial saat di dekatmu. Sepertinya kamu harus mandi kembang 7 rupa supaya tidak membawa sial." ucap Radit sambil menatap tajam ke arah Nada.
"Apa kau marah padaku tuan? Aku tidak sengaja," ucap Nada sambil mengamati jidatnya Radit yang merah karna ulahnya. Radit menghela nafas panjang.
"Tuan," panggil Nada lagi.
"Kamu pikir aku tuanmu?" ucap Radit ketus.
"Percuma saja bicara pada kepala batu," batin Nada.
__ADS_1
"Apa kau masih marah? Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja," ucap Nada lagi.
"Lupakan saja nona, aku tidak perlu permintaan ma'af dari wanita sial sepertimu. Mau berapa kali minta maaf dan dimaafkan, lain waktupun kau Akan melakukan hal yang sama," ketus Radit. Nada mendengus kasar. Dia benar-benar jengkel pada manusia di depannya.
"Hei tuan, aku sudah bersusah payah meminta maaf, lalu kau masih menyebutku sial?" bentak Nada. Radit diam tak menanggapi ucapan Nada, membuat Nada semakin emosi tingkat dewa.
"Ya sudah, aku harus pergi, tidak ada waktu berdebat dengan kepala batu sepertimu," Nada hendak melangkah pergi. Namun, Radit menghentikan langkahnya.
"Tunggu nona, duduklah dulu, temanilah aku di sini sejenak," pinta Radit. Nada memejamkan matanya kemudian melangkah mendekat ketus arah Radit.
"Kau pikir waktuku hanya untuk meladeni manusia sepertimu?" bentak Nada sambil menggelengkan kepalanya. Nada benar-benar jengkel pada lelaki yang tidak dia kenal itu. Lelaki yang membuat dia sebal tetapi juga pernah menolongnya kemarin malam.
"Duduk!" pintanya. Nada menggelengkan kepalanya dan memutar langkahnya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa,"
"Kau diam saja disini, Nona. Jika kau berani melangkah selangkah saja, saya pastikan hidup anda tidak bisa tenang untuk kedepannya," ancam Radit. Seketika Nada menghentikan langkahnya, ancaman orang itu benar benar membuatnya takut. Nada mengumpat didalam hati, bagaimana ada orang semenyebalkan itu. pikirnya.
"Duduklah, nona. Kau tidak takut kaki indahmu itu kecapekan?" tanya Radit. Nada tampak kesal dan duduk di samping Radit.
"Terimakasih tuan yang terhormat atas perhatian anda," ucap Nada sambil memaksakan senyumannya.
"Radit," ucap Radit sambil mengulurkan tangan pada Nada. Nada yang semula hanya mengamati tampak menyambut uluran tangan Radit pada nya.
"Nada," ucap Nada sambil mengamati jidat Radit. Nada tersenyum dan menutup mulutnya.
"Kenapa tertawa?" tanya Radit. Nada menggelengkan kepalanya dan menghentikan tawanya.
"Lucu saja, aku baru kali ini menemukan orang sepertimu," ucap Nada. Radit menatap ke arah wajah cantik Nada yang tampak lebih sumringah.
"Syukurlah kalo aku bisa membuatmu tertawa. Setidaknya aku tidak melihat wajah jelekmu itu semakin jelek Karena menangis," ucap Radit. Nada tersenyum dan mendorong pundak Radit.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan," ucap Nada. Radit tertawa dan berdiri mengambil 2 coklat hangat di salah satu penjual di depannya. Radit mengulurkan satu cap coklat hangat pada Nada. Nada menerima coklat itu.
"Terimakasih, Dit." ucap Nada. Radit mengangguk dan duduk kembali di samping Nada.
"Kenapa menangis?" tanya Radit. Nada terdiam.
"Kau patah hati?" tanya Radit lagi. Nada menatap Radit dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan mengelak, aku tau tampang orang patah hati ya sepertimu," ucap Radit. Nada menghela napas panjang. Deringan ponsel membuat Nada meletakan coklat hangat dan mengangkat ponselnya.
"Iya bu aku pulang ke rumah sekarang juga." ucap Nada. Nada memasukan ponselnya dan menatap Radit.
"Aku pulang, gara-gara kamu aku di omeli." celetuk Nada kemudian melangkah pergi.
"Dit, makasih coklatnya," teriak Nada dari jauh hingga membuat Radit mengerutkan keningnya.
******
Micho membuka pintu kamarnya, nenek keluar beberapa menit yang lalu. Nenek bilang Amara telah tertidur, yang benar saja. Amara tengah tertidur dengan imutnya. Senyuman tertarik di ujung bibir Micho. Netranya menyapu dari ujung kaki sampai ujung rambut manusia yang tengah tidur di sofa.
Netranya mengamati setiap lekuk tubuh wanita cantik yang menyandang status sebagai istrinya itu. Wanita yang menggunakan hot pant itu memperlihatkan kaki jenjangnya. Micho menelan ludah kasar.
"Micho plis, jangan tergoda." gumamnya. Micho mendekat ke arah Amara. Rasanya adrenalinnya langsung terpacu ketika kulitnya menyentuh kulit Amara. Micho mencoba mengangkat tubuh Amara untuk tidur di ranjang.
Micho merebahkan Amara ke ranjang, namun ketika hampir berdiri. Tangan Amara meraih leher Micho sehingga Micho ambruk di samping Amara. Wajah mereka begitu dekat. Micho dapat mencium aroma wangi rambut Amara yang masih memejamkan matanya. Keadaan ini membuat Micho memejamkan matanya.
"Shittt," umpatnya.
Sesuatu yang hidup di bawah sana bangun dari tidurnya, membuat Micho ingin cepat-cepat melepaskan tubuh Amara. Semakin lama semakin menengang dan hasrat kelelakiannya muncul tiba-tiba saat berdekatan dengan Amara. Micho meraih tangan Amara dan meletakkan dengan hati-hati. Setelah itu pun Micho ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap hawa panas di tubuhnya segera menghilang.
Amara mengerjabkan matanya, melirik jam dinding yang menunjukan pukul 22.00. Amara mengerutkan keningnya ketika mendengar shower kamar mandi menyala.
__ADS_1
"Kenapa tu orang hobby mandi malam?" guman Amara. Beberapa hari ini Amara selalu mendapati Micho mandi di malam hari.
*****