Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
119


__ADS_3

"Okey, kita main bola sekarang. Olive tak pernah bangun malam hari, kata Kak Raka," ucap Micho dan mampu membuat Amara tersipu.


Micho berjalan kearah ranjangnya dan membaringkan Amara disana. Dia mengusap pelan pipi mulus Amara, Amara merasakan hawa panas yang menjalar ditubuhnya, seperti sengatan listrik yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Amara terdiam, rasa sesak menyeruak didadanya. Micho perlahan mendekat, menatap lekat wajah cantik Amara dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.


Micho mengangkat dagu Amara. Keduanya saling menatap dalam, melihat bibir merah muda membuat gejolak rasa yang menyeruak dihati Micho.


Micho mulai mendekatkan bibirnya, tubuh Amara mulai menegang dan memanas. Desakan rasa aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertautan. Tubuh mereka sedikit bergetar merasakan sensasi panas dingin yang melebur menjadi satu.


Ciuman itu semakin memanas, dengan lembut Micho m-e-l-umat bibir Amara. Mereka terhanyut dalam ci-uman yang semakin lembut, hangat dan manis.


Namun, Amara segera melepaskan ci-uman panas itu, ia menatap kearah Micho. Wajahnya terlihat memerah. Micho membalas tatapan lembut istrinya. Wajah keduanya tampak bersemu merah.


Amara menarik selimut untuk menutup tubuhnya, namun Micho segera menarik selimut itu dan melempar ke sembarang arah. Amara bangun dan beringsut mundur.


"Mas, pelan-pelan," lirih Amara. Tubuhnya bergetar hebat. Meskipun sudah untuk kedua kalinya. Tetap saja rasa takut dan gugup masih menggelayut di hatinya.


Micho tersenyum, melihat Amara yang seperti ini karena membuat dirinya semakin gemas pada istrinya itu.


"Aku akan hati-hati, apa kau sudah siap?" tanya Micho. Amara menatap Micho dan menghela napas panjang.


Amara mengangguk pelan, Micho mendekatkan wajahnya ke arah Amara, napasnya seakan memburu membuat Amara semakin gugup.


Kini bibir Micho berada di belakang telinga Amara, menggigit dengan halus membuat tubuh Amara bergetar. Bibir Micho beralih ke leher jenjang Amara, sentuhan yang lembut memabukkan membuat tubuh Amara lemas dan merasakan panas dingin seketika.


Amara tak kuasa lagi untuk menolak atau memberontak. Bahkan tubuhnya merasakan kenikmatan yang pernah dirasakan sebelumnya. Micho membuat gigitan kecil di leher amara, memberikan jejak kepemilikan disana.


"Ahhh," d*s*h Amara.


Membuat Micho menyunggingkan senyum dibibirnya. Micho terus menjelajah dan menyentuh lembut tubuh Amara hingga Amara kehilangan kendali. Amara kembali m**des*h saat Micho kembali memberikan memberikan sensasi yang berbeda.


R*ntih*n Amara terdengar menggoda di telinga Micho, membuat g*i*ra gairah ditubuh Micho semakin menggila. Senjata bawahnya merespon sempurna hingga menegang dan menyesakkannya.

__ADS_1


Micho pelahan melepas pakaiannya dan melempar kesembarang arah. Kini Amara dapat melihat dengan jelas tubuh milik suaminya yang tampak sempurna itu.


Micho menyambar bibir Amara. Lagi-lagi netranya melihat dengan jelas goresan bekas luka yang tampak jelas di lengan putih Amara. Micho tak akan mengabaikan itu, ia akan menanyakan besok. Mereka terhanyut dalam ciuman panas yang membius.


Tangan Micho mulai bergerak kebawah dan menemukan bukit kecil diatas gunung. Memainkannya sehingga membuat sang pemilik semakin terbang melayang, bibir mereka masih saja bertautan.


****, Micho merasakan senjata miliknya menegang sempurna saat serangan pemilik bukit berada dalam sasaran yang tepat.


Keduanya tampak gugup dan melepas ciumannya, mereka saling memandang dan mengatur pernapasan. Tatapan Micho seakan berharap ia menatap Amara dengan teduh.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, Baby percayalah padaku." ucap Micho membuat Amara memejamkan matanya.


Dengan perlahan Micho memainkan perannya, membuat tubuh Amara bergetar hebat. Amara menjerit saat merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk.


Tangan Amara mencengkeram kuat tubuh Micho mencoba menyalurkan sakit yang di deranya.


Micho mengecup bibir Amara dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Amara. Setelah dirasa Amara tengah tenang.


Amara dan Micho saling berhadapan dan saling memeluk. Micho mengecup beberapa kali puncak kepala Amara.


Mereka merasakan bahagia dan puas, ketika melakukan untuk kedua kalinya. Merasakan kenikmatan yang m membuat jiwanya seakan terbang melayang ke langit ke tuju. Micho menatap Amara dengan penuh cinta, wanita ini benar-benar memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa.


"Terimakasih, Sayang." lirih Micho sambil mengecup singkat bibir Amara.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Di malam yang sama, Nada meneteskan air mata. Melihat kebersamaan 2 orang di danau membuatnya sangat jatuh dalam perasaan yang menyakitkan.


Dirinya yang ingin mencari ketenangan di danau, malah harus melihat sesuatu yang tidak diinginkan. Rafa dan wanita itu? Kenapa mereka akrab sekali?


Nada mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Amara.


Ra, aku memutuskan akan kembali mengurus butik. Berbahagialah kamu disini. kirim.

__ADS_1


Nada menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bayangan Rafa sangat menyiksanya. Nada tak mau larut dalam kesedihan, ia mau pergi menjauh dan


melupakan tentang Rafa.


Akan lebih mudah untuk menyembuhkan luka yang diberikan orang lain dari pada luka yang diberikan oleh orang yang dicinta. Orang yang dicintai? Ya, hanya aku yang mencintainya.


Memang hanya aku yang mencintaimu. Yang selalu meneteskan air mata, dan berharap bisa bersanding denganmu.


Dan hanya aku yang sering kecewa, dengan cinta yang kuharapkan darimu, tetapi cintamu tidak pernah ada untukku.


Kau seperti ombak yang datang dan pergi tak beraturan, membuatku menunggu dan terus menunggu sesuatu yang jelas-jelas tidak pernah ada untukku.


Betapa bodohnya aku, hanya mampu memendamnya. Merasakan sakit sendiri, dan tak pernah mampu untuk mengutarakan.


"Nada, berhentilah berbuat bodoh. Tolong, jadikah wanita yang kuat. Lupakan dia, lupakan dia," ucap Nada lirih sambil menupuk dadanya. Nada berdiri setelah melihat jam yang menunjukan 23.00.


Sebuah tangan meraih Nada dalam dekapnya. Nada teekejut, tetapi juga merasakan kenyamanan. Nada mendongak, dilihatnya Radit menatapnya dengan tenang.


Ya, dari tadi lelaki itu mengikuti Nada. Entah karena obsesi untuk melampiaskan kekesalan pada Amara pada Nada. Atau ada hal lain yang tak dimengertinya. Yang jelas, melihat Nada menangis membuat dirinya seakan teriris hingga meraih Nada dalam dekapannya.


Nada memdorong tubuh Radit dan menatap tajam ke arahnya.


"Jangan seenaknya menyentuhku, kita memang berteman. Tapi ada batasan yang harus kita jaga," ucap Nada kemudian melenggang pergi.


Radit mengepalkan tanganya dan mengeratkan rahangnya. Nada, wanita itu dari dulu selalu menyulut emosinya. Disaat wanita lain yang dengan bangga menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma. Kenapa sekarang Nada malah memakinya? Kesal atau bangga? Yang jelas hati Radit bergemuruh marah.


"Lihat Nada, suatu saat nanti kau akan menyesal karna perbuatanmu. Wanita itu sama saja. Dia, Amara, dan kau, kalian tidak ada bedanya," lirih Radit.


Radit mengacak rambutnya. Bagaimana bisa hatinya marah pada Amara dan membenci Nada juga? Bukankah Amara tak pernah tau perasaannya? Radit memejamkan matanya, dipermainkan perasaan yang masih tak menentu.


Masa lalu membuat Radit menjadi casanova, masalalu membuat Radit membenci wanita. Bertemu Amara adalah hal yang merubah pendiriannya, tetapi rasa kecewa membuatnya kembali mengingat masa lalu. Nada, akankah wanita baik yang kurang beruntung itu juga akan menjadi targetnya?


🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2