
Micho menikmati pemandangan yang begitu indah itu, matanya enggan untuk mengalihkan pandangannya. Elysa tersenyum tipis melihat 2 insan itu bergantian.
"Ini untuk Joy, Tan." ucap Amara sambil memberikan setumpuk buku pada Elysa.
"Buat skripsi Joy?" tanyanya sambil mengamati buku yang terngorok di meja.
"Iya, Joy mememintaku untuk membelikannya," sahut Amara.
"Dasar anak bandel, ya sudah kita makan dulu saja. Micko tolong ambilkan itu, " ucap Elysa. Micho masih saja terdiam netranya masih saja terpesona dengan tampilan Amara. Gadis yang biasanya tampil dengan make up itu kini tampak lebih muda, lebih cantik dengan wajah polos tanpa riasan.
"Micho, apa kamu mendengar tante?" tanyanya lagi. Micho masih saja terdiam. Amara melangkah ke arah Micho dan mengambil piring yang berada di depan Micho. Micho yang sadar dari lamunannya mencoba meraih piring bersamaan dengan Amara yang meraihnya. keduanya saling menatap.
"Bisa lepaskan?" tanya Micho sambil berbisik.
"Lepaskan! Kau Itu memperlambat makan kita, kalo mau melamun bukan disini tempatnya." ucap Amara sambil memaksa mengambil piring itu. Micho merasa kalah telak dengan wanita yang notabenenya masih sakit itu.
"****," umpat Micho dalam hatinya.
"Sudah, bawa sini Ra. Nanti saja mesra-mesraanya." goda Elysa sambil tersenyum mengamati pasangan yang saling membenci itu. Amara dan Mich menoleh bersamaan.
"Mesra-mesraan?" ucap Mereka berdua bersamaan. Elysa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ra, duduklah disitu saja. Kita makan sekarang, kasiankan kamu masih sakit harus meladeni tante," ucap Elysa. Amara dan Micho mengernyitkan dahinya. Mereka merasa Elysa benar-benar membuat keadaan semakin memuakkan.
Mau tidak Mau Amara duduk disamping Micho, keduanya mengambil makanan dan duduk dengan tenang.
"Kalau bukan karena tante Elysa, aku tidak sudi berjejer makan dengan wanita busuk sepertimu," umpat batin Micho sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kalau boleh meminta, aku ingin kau dibuang di tengah lautan dan tak pernah menampakkan wajah lagi dihadapanku," ucap Amara dalam hati.
"Kita lihat saja, sampai kapan kalian Akan terus sepertimu ini?" batin Elysa.
Mereka menikmati makan siang dengan khidmad hanya terdengar dentingan sendok. Namun, Amara yang memang sedangkan sakit tidak bisa makan dengan lahab seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian makan siang telah usai, Bi Ira membereskan meja, sedangkan Elysa, Micho, dan Amara masih duduk dengan tenang sambil menyerahkan piring kotor pada Bi Ira.
__ADS_1
"Tante, saya harus pamit. Nanti malam saya sudah harus berangkat, jadi harus mempersiapkan banyak hal." ucap Micho sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. 3 jam sudah dia di tempat yang penuh dengan sandiwara baginya itu. Amara menoleh ke arah Micho, rasa lega menjalar di hatinya. Itu artinya dia tidak Akan bertemu dengan Micho lagi.
"Okey, hati-hati diperjalanan." ucap Elysa.
"Nona Amara, saya pamit. Terimakasih atas makan siangnya, semoga lekas sembuh." ucap Micho. Amara hanya mengangguk Pelan. Micho melangkahkan kakinya. Elysa dan Amara mengikuti langkah Micho.
"Micho," panggilan Elysa membuat Micho menghentikan langkahnya. Micho memutar tubuhnya sehingga berhadapan.
"Ya," jawabnya sambil menatap Elysa dan Amara bergantian.
"Sebelum kamu pergi, tante ingin ada status dihubungan kalian." ucap Elysa. Amara dan Micho tampak terkejut.
"Apa maksud tante?" tanya Micho seakan tidak suka dengan ucapan Elysa.
" Tante bisa dijelaskan?" tanya Amara.
"Tante Mau kalian mempunyai status, berpacaran misalnya." ucap Elysa tampak enteng, membuat Amara dan Micho terkejut dan saling menatap.
"Tante! Ini terlalu cepat," ucap Micho dan Amara bersamaan.
"Tante hanya ingin memastikan jika kamu tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain, dan Micho juga tidak berhubungan dengan wanita lain." ucap Elysa. Amara memejamkan matanya.
"Iya atau kita batalkan saja? Anggap kalian tidak pernah bertemu dan kita selesaikan sampai disini," ucap Elysa mengintimidasi.
Amara dan Micho saling memandang. Mereka seakan muak dengan semua ini, tapi rasa sayang pada Elysa lebih penting dari apapun.
"Maaf tante, rasanya waktu saya tersita hanya untuk mengurusi perjodohan yang tidak disetujui dari pihak manapun ini," ucap Micho merasa terganggu dengan permintaan Elysa.
Amara terkejut dengan ucapan Micho, bagaimana perasaan Tante Elysa? pertanyaan yang ada dipikirannya. Meskipun sebenarnya dia memang enggan untuk memberikan status lebih dari sekedar kenal. Tapi, perasaan Elysa dia utamakan, Elysa adalah sahabat mamanya. Menyakiti Elysa sama saja menyakiti hati mamanya.
"Jadi kita akhiri sampai disini?" tanya Elysa. Micho mengangguk pelan, membuat wajah Elysa tampak kecewa.
"Terimakasih karna tante sudah memberikan perhatiannya kepada saya, tapi saya mencintai orang lain," ucap Micho, ucapan Micho membuat Elysa tertegun ditempat. Rasa kecewa memenuhi hatinya.
"Saya permisi," ucap Micho lagi kemudian melangkah. Amara merasa murka melihat Elysa sesedih itu.
__ADS_1
"Tunggu," teriak Amara. Micho yang tadinya melangkah menghentikan langkahnya, senyum licik terbit di sudut bibirnya. Dia sengaja menolak untuk memastikan Amara masih mengharapkan pernikahan dengannya.
"Apa lagi Nona? Saya rasa tidak ada gunanya juga harus menjalin hubungan tidak masuk akal seperti ini, saya Mencintai orang lain!" ucap Micho tegas, Amara merasakan sakit yang bertubi ketika melihat Elysa semakin terisyak menyaksikan keduanya saling berdebat.
"Mana wanita itu? Apa mantan pacarmu yang kamu maksud?" tanya Amara. Micho sedikit bereaksi mendengar ucapan Amara, Amara mengikuti permainannya atau benar-benar bertannya? pikir Micho.
"Bukan urusanmu," ucap Micho.
"Ini jadi urusanmu. Aku Menyetujui pérjodohan ini, kalau yang kamu cintai hanya mantanmu aku maju. Beri aku kesempatan untuk mengambil hatimu, kalau yang kamu cintai orang yang berstatus sebagai kekasihmu, maka aku mundur. Aku tidak bercita-cita menjadi pelakor," ucap Amara.
Elysa menyunggingkan senyuman di sela isak tangisnya. Amara benar-benar diluar dugaanya. Semakin Elysa kagum dengan persona gadis itu, gadis cantik itu mau mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain yang disayanginya.
Micho merasa menang, sekarang dia tau Amara masih benar-benar mengharapkannya. Dengan begini semakin gampang dirinya menyakiti hati Amara.
"Siapa?" tanya Amara tegas.
"Mantan," ucap Micho.
Walaupun ucapan Micho berhasil membuat Amara tersenyum sinis dan harus sedikit menang hung malu, setidaknya dirinya akan mudah balas dendam di kemudian hari. Pikir Micho.
"Masih saja kau mengharapkan mantan yang jelas-jelas tidak akan mau menerimamu," ucap Amara.
"Apa maksudmu?" cerca Micho.
"Pasti kau menyakitinya, mana mau dia kembali padamu. Masih mending ada aku yang meminta kesempatan darimu," ucap Amara dan berhasil membuat Micho menatap sinis pada Amara.
"Jaga bicaramu, Nona." sentak Micho sambil mengarahkan telunjuknya pada Amara. Amara menepis tangan Micho dan menatap tajam ke arah Micho.
"Lelaki itu sama saja bangsatnya, aku pikir kau mempunyai jiwa bangsat seperti lelaki di luaran sana sehingga di tinggalkan kekasihmu," bentak Amara. Dirinya yang tadinya sakit merasa sembuh mendadak setelah berhasil mengumpati manusia laknat didepannya.
"Okey, dengan menjadi kekasihmu aku bisa leluasa membalas sakit hatiku. Dengan mengumpati mu seperti ini membuat hatiku kembali merasakan mood yang baik. Aku rasa tidak ada salah ya aku mencoba senuah permainan, " ucap Amara dalam hati.
"Stop, tante sudah menyerah. Sebaiknya kita akhiri sampai disini,"
"Tidak," jawab Micho dan Amara bersamaan.
__ADS_1
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
.