
"Hentikan," tegas Amara. Rayen dengan mata membulat mengarahkan pandangannya ke arah Amara.
"Apa maksudmu? Bahkan aku belum mengatakan apapun," ucap Rayen dengan sorot mata tajamnya.
"Kau pikir aku akan terus mendengar celoteh yang menusuk telinga ini?" tanya Amara. Rayen menghela napas panjang. Tuan Milano dan Papa Rusdiantoro melirik ke arah 2 anak muda yang kini saling menatap tajam itu.
"Hentikan Rayen, kau tau aku tidak istimewa bahkan aku tidak patut dibanggakan. Lalu apa yang kamu cari? Tidak ada bagusnya bukan?" tanya Amara.
"Itu menurut papa, bukan aku, Ra. Bertahun-tahun aku menunggu dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk kita menikah," ucap Rayen.
"Menikah? Kau mau menikah? Menikahlah dengan orang istimewa dan patut dibanggakan oleh papamu, kau masih ingat jalan pulang bukan? Pintu keluar terbuka dengan lebar," ucap Amara pelan sambil melirik ke arah Tuan Milano.
"Kau mengusir kami?" tanya Rayen. Amara tersenyum dan menghela napas panjang. Suasana tampaknya tidak sebaik tadi. Udara semakin sesak dirasakan.
"Aku hanya menghindari hal yang tidak diinginkan. Papa mu yang membuat suasana menjadi tidak enak," ucap Amara tegas. Tuan Milano tampak diam, Papa Rusdiantoro juga sama diam tapi sudah jelas sekali perbedaan mereka. Papa diam dengan tenang, sedang Tuan Milano tampak emosi dan mengeratkan rahangnya.
"Rayen hentikan, kita pulang sekarang." ucap Tuan Milano.
"Tapi pa,"
"Tidak ada gunanya menunggu wanita sepertinya, tidak ada ruginya melepaskan wanita sepertinya. Masih banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih baik darinya," ucap Tuan Milano. Amara menghela napas panjang.
__ADS_1
"Maaf, Tuan Milano yang terhormat. Saya memang bukan wanita yang membanggakan bukan juga wanita istimewa. Tapi anda sedang bertamu, alangkah baiknya seorang yang terpandang seperti anda bisa bertamu dengan etika yang baik," ucap Amara.
"Cihh,,, Kau begitu kurang ajar Nona," ucap Tuan Milano tegas.
"Saya kurang ajar karna anda yang memulai. Pintunya ada disana, Tuan. Saya tidak ada waktu untuk meladeni perdebatan seperti ini," ucap Amara tegas.
"Aku tidak akan tinggal diam atas ulah putrimu," ucap ya tegas.
Tuan Milano mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Dia menarik tangan Rayen dan berlalu. Amara menghela napas lega dan mendekat ke arah papanya. Papa Rusdiatenan merangkul pundak Amara dengan tenang.
"Apa setiap datang untuk melamar seperti itu perlakuannya pa?" tanya Amara. Papa Rusdiantoro hanya tersenyum. Amara memejamkan matanya.
"Benar-benar kelewatan. Meskipun dia mempunyai kekuasaan setinggi langit sekalipun. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyakiti papa dan mama," ucap Amara. Papa Amara terdiam.
"Tapi Micho dan aku," ucap Amara tertahan oleh jari telunjuk papanya,
"Hanya sebatas teman?" tanya papanya sambil. Amara mendongak dan bingung harus menjawab apa.
"Papa tau apa yang terjadi, papa tau semuanya yang terjadi diantara kamu dan Micho." ucap papanya dengan tenang dan penuh kasih.
"Papa tau kejadian 4 tahun yang lalu?" tanya Amara. Papa Rusdiantoro mengangguk. Amara memeluk papanya dengan erat. Rasa sakit yang dulu mendera hatinya sekarang tak bisa dia sembunyikan lagi. Amara menangis di rengkuhan papanya.
__ADS_1
"Papa marah? Papa kecewa papa Amara?" tanya Amara di tengah isakannya. Papa Rusdiantoro menggeleng.
"Papa bangga padamu," sahutnya. Air mata Rusdiantoro meleleh terbawa suasana.
"Bangga?" tanya Amara. Sahutan papanya seakan memecahkan bongkahan Penyesalan yang selama ini di simpan dalam hatinya.
"Hem," ucap papanya. Amara melepas pelukan papanya dan menatap papanya.
"Lalu kenapa papa meminta Micho menikah denganku jika papa tau bahwa dia yang menghancurkan hidupku, menyakiti mama dan menjauhkan kita?" tanya Amara sambil menghapus air matanya.
Papa Rusdiantoro tertawa dan mengusap pundak Amara.
"Mama sembuh karna Micho menikahimu, papa bangga padamu juga karna Micho. Kamu menghancurkan pernikahan Micho. Lalu apa salah papa membiarkan dia menikah denganmu?" tanya papa. Amara memelototkan matanya, bingung dengan ucapan papanya.
"Papa bangga padaku karna Micho? Jadi papa malah setuju Micho melecehkanku begitu? Papa juga menghukum aku karna aku menggagalkan pernikahan Micho?" tanya Amara dongkol.
"Tidak semua yang kamu pikirkan benar, tapi tidak semua orang mau terbuka. Kadang kesalah pahaman muncul jika tidak saling mengungkapkan, Jadi... Nikmati prosesnya kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu sendiri nantinya." ucap papanya kemudian melenggang pergi.
"Pa, aku tidak paham."
"Lupakan saja," ucap papanya kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
😍😍😍uuu