
"Sayang, kamu melamun? tenang kan pikiranmu, Tante yakin kamu bisa," ucap Elysa. Netranya menatap ke arah Amara yang tampak tertekan. Amara menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.
"Aku tidak yakin, tan," keluh Amara. Elysa mengusap pundak Amara kemudian mengambil ponselnya. Elysa menekan kontak dan tersenyum sambil memandang Amara. Amara mengamati gerak-gerik Elysa yang dirasa mencurigakan.
"Halo Micho, tante Ada kabar baik untukmu." ucap Elysa sambil tersenyum ke arah Amara. Amara yang menyadari Elysa menghubungi Micho sontak memelototkan matanya Dan menggelengkan kepalanya. Namun, ulah Amara malah membuat seulas senyum dibibir Elysa.
"Kabar apa tante?" tanya Micho yang sedang menikmati secangkir kopi bersama dengan Damar Dan Juga Radit.
"Amara akan terbang hari ini, Amara juga mau memberikan kejutan untuk keluarga dirumah. Makanya dia tidak menghubungi keluarganya. Boleh tante minta tolong padamu untuk menjemput Amara di bandara besok?" tanya Elysa panjang lebar. Micho hanya diam. Mendengar nama Amara saja membuat dirinya muak. Lalu bagaimana besok? Bukankah wanita itu akan berubah menjadi wanita murahan di depannya?
"Micho, kamu mendengar tante?" tanyanya sambil melirik Amara yang hanya diam.
"Tapi tante,"
"Tapi apa? Hanya menjemput, kamu keberatan? Lagi pula kamu bilang kalian telah jadian sebelum ke negara I. Anggap saja ini adalah awal yang baik untuk hubungan kalian." ucap Elysa sambil tersenyum bahagia. Terdengar helaan napas panjang di sebrang.
"Okey, besok pagi Amara akan sampai di bandara, kau harus menjemputnya." ucap Elysa kemudian menutup ponselnya.
"Tante, sebetulnya ini tidak harus tante lakuin. Aku tidak enak kalo begini." ucap Amara sambil memegang pundak Elysa.
"Tidak papa, Micho baik. Pasti dia tidak keberatan untuk menolongmu, tante berharap hubungan kalian lebih dekat lagi." ucap Elysa lagi.
"Baik? Baik dari mananya?" batin Amara menggerutu.
****
"Siapa kak?" tanya Radit sambil meletakan cangkirnya. Radit sudah dua tahun membantu pekerjaan Prayoga. Dia salah satu orang kepercayaan prayoga yang mengelola Alexander group setelah jatuh ke tangan prayoga.
Micho melirik ke arah Radit yang tengah menunggu jawaban darinya.
"Tante Elysa, sahabat papa." ucap Micho kemudian bangkit dari duduknya.
"Kakak Mau kemana? Sebaiknya kakak menunggu makan malam. Aku sudah memesan makanan untuk kakak dan kak Damar." ucap Radit sambil berdiri juga.
__ADS_1
Micho diam, ingatannya tertuju pada saat Radit sempat menanyakan tentang Amara kala itu, rasanya ia tak rela membagi informasi tentang Amara pada orang yang dianggap saudara ini. Entah perasaan apa itu, yang jelas Micho tidak ingin Radit dengan perempuan murahan itu. Micho memilih untuk menghindar dan enggan jika Radit mengetahui jika Elysa membicarakan tenang Amara.
"Kau sendiri mau kemana? Kau tidak menunggu pesanan makanan sekalian?" tanya Micho. Netranya mengamati Radit yang tengah berpakaian rapi.
"Aku ada urusan, Kak. Aku memesan makanan kusus untuk kalian, nikmatilah malam ini. Aku pergi dulu, Kak." pamitnya kemudian melangkah pergi.
"Dit," suara Damar berhasil membuat Radit menghentikan langkah dan menatap ke arah Damar.
"Ada apa kak?" tanya Radit yang berdiri di depan pintu.
"Bawakan satu wanita untuk kakakmu, dia sudah beberapa tahun bermain solo." ejek Damar sambil melirik ke arah Micho. Micho menajamkan tatapannya dan melempar bantal sofa ke arah Damar. Damar tertawa dan menepis bantal sofa dengan ke dua tangannya.
"Kau, beraninya menghina atasan. Kau pikir kau tidak solo karir? Bahkan sedari dulu tak pernah tampak berpacaran!" ejek Micho.
"Bukan aku tak laku, tapi aku tidak ingin!" tegas Damar.
"Cihh,,,siapa yang mau denganmu? dasar Manusia angkuh," bentak Micho.
"Stop! sesama jomblo dilarang saling menghina." ucap Radit dan berhasil membuat Damar dan Micho saling menatap.
"Apa yang memembuat Tante Elysa menghubungi mu?" tanya Damar sambil memyandarkan kepalanya di sofa.
"Wanita murahan itu minta di jemput besok di bandara." ucapnya sambil memyandarkan kepalanya juga.
"Nona Amara?" tanya Damar. Damar yang tadinya bersandar kini duduk dengan tegak.
"Siapa lagi wanita murahan selain dia, tidak ada manusia berkelas yang bertindak bodoh seperti yang dia lakukan untuk menggagalkan pernikahan orang lain." ucap Micho tampak emosi. Damar menghela napas panjang.
"Dia seperti itu karna dia pikir kau sudah menodainya, jika aku diposisinya mungkin akan melakukan halo yang sama," ucap Damar.
"Jadi kau membelanya? Bos mu itu aku apa dia?" bentak Micho. Damar terdiam.
"Bukan membela, aku hanya mencoba berada di posisi dia saat itu, kau juga salah karna tak menjelaskan yang sebenarnya," ucap Damar panjang lebar.
__ADS_1
"Itu hukuman untuk orang yang berburuk sangka, itu hukuman karna dia telah menggagalkan pernikahan ku. Itu belum Ada apa-apanya bagiku! " tegas Micho.
"Kau itu salah, seharusnya kau memberi tahu, tentang ini. Sampai kapan kau akan seperti ini? ini tidak sepenuhnya salahnya," ucap Damar lagi. Micho menghela napas panjang, mencoba menguasai hatinya. Bayangan Amara menari diotaknya.
" Dasar wanita murahan, bahkan bayangan mu juga murahan. Kenapa menari diotakku?" batin Micho menggerutu.
"Micho,"
"Hem,"
"Boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Aku penasaran dengan luka yang ada di lengan kananmu, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Damar sambil mengamati pergelangan tangan Micho yang di perban.
"Apa yang membuat mu penasaran? Aku tidak apa-apa." tanya Micho santai. Micho menghela napas panjang. Bahkan kebencian pada Amara membuat dirinya lupa berterimakasih pada perempuan tangguh yang membantunya membebaskan anak kecil di bandara beberapa minggu Yang lalu.
Micho memejamkan matanya, gerak lincah wanita itu sempat membuatnya terpesona. Mungkin dia cantik bahkan cantik sekali. Namun, sayang wajahnya bersembunyi di belakang masker sehingga tak mampu untuk melihatnya.
"Ceritanya panjang, untuk menjelaskan padamu Aku tidak bisa, makanan sudah siap sebaiknya kita makan saja.." cerca Micho tegas. Damar menoleh dan tersenyum tipis.
"Okey, lain waktu aku akan Memaksamu bercerita ! tegas Damar sontak membuat tertawa Damar Dan Micho.
" Siap boss," keduanya menikmati makan sore ini.
****
Radit tengah meminun alqohol sehingga membuat dirinya mabuk. 2 orang wanita berada si kanan Dan kirinya. Namun ketika menoleh hanya bayangan Amara yang Ada di penglihatanmu.
"Rara,,, kenapa kamu membuat aku gila. kau tau? aku melihat mu dimana-mana. Aku jatuh Cinta padamu, Amara..." ucap Radit ngelantur.
*****
__ADS_1
Like komen Dan hadiah ya....