Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Ulah Wendi


__ADS_3

"Mau kemana kamu?" suara itu membuat Amara memejamkan matanya. Amara terdiam dan berdiri ditempat.


"Mau kemana kamu, Ra?" tanya seseorang yang kemudian mendekati Amara.


"tante Elysa," ucap Amara saat orang itu kini berada di depannya. Elysa tersenyum dan menatap Amara.


"Kamu Mau kemana?" kenapa keluar kamar?" tanya Elysa yang melihat gelagat aneh Amara. Amara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya ingin mencari udara segar tante," jawabnya.


"Ya udah, kita cari udara segar bersama. Tante membawa buah untukmu, tante taruh di meja dulu ya," ucap Elysa. Amara menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Kenapa harus ada Elysa datang di saat dia merencanakan sesuatu.


Tak mama dari itu Nada dan Elysa keluar bersama dari ruang rawat Amara. Amara hanya tersenyum. Nada tersenyum seakan mengejek. Dia tau rencana kabur Amara, dan pengen tertawa saat tante Elysa merecoki aksinya.


****


Seminggu telah berlalu, Micho berkutat dengan laptop di depannya. Perusahaan yang hatinya stabil kini mendapat goncangan. Beberapa partner kerja menarik saham dan membatalkan kerja sama. Micho merasa ada yang tidak beres.


"Shittttt ... Kenapa bisa begini?" bentak Prayoga yang tampak emosi sambil melemparkan beberapa berkas pada Micho yang saat ini sedang memijat pelipisnya.


"Aku juga tidak tau, Pa. Perusahaan ini sangat meresahkan. Namun, aku tidak bisa mengakses identitas mereka," ucap laki-laki itu.


Prayoga memijat pelipisnya, menerka sebuah kesimpulan. Namun, orang suruhanya bilang tak ada pergerakan apapun dari Alexander. Pemilik perusahaan yang kini berada dalam genggamannya. Bahkan Bima dan Andika, putra dari Alex juga sudah tidak mau lagi mengusik perusahaannya. Prayoga menghela nafas panjang.


"Sebaiknya kau mencari suntikan dana pengganti sebelum semuanya terlambat. Papa tidak mau tau lakukan apapun untuk kembali menstabilkan keuangan perusahaan." ucap Prayoga kemudian meninggalkan ruangan.


Emosi yang mengganggu fikiranya membuat Prayoga membanting kasar pintu ruangan laki-laki yang sekarang menjadi seorang CEO Alexander grup tersebut.


Brakkkkkk


Lelaki yang menjabat sebagai CEO perusahaan itu tampak menggembrak meja setelah Prayoga benar-benar sudah menghilang dari pandangannya. Ada beberapa kejanggalan yang selalu menghantui pikirannya.


Mico Aditya Pratama, anak angkat Prayoga yang sedari kecil hidup bersama Prayoga. Salah satu aset besar dan satu-satunya harapan Prayoga untuk kedepanya.


Seorang yang sudah dianggap Prayoga seperti darah dagingnya sendiri. Mempunyai talenta yang begitu tak diragukan lagi. Sosok baik yang selalu mengutamakan kebahagiaan Prayoga, lelaki yang dianggapnya orang tua sendiri. Sehingga setelah 4 tahun berada dinegara P, ia pindah hanya untuk meladeni keinginan papa angkatnya itu.

__ADS_1


Mikho menghela nafas panjang, menatap kearah monitornya. Laki-laki yang berusia 29 tahun itu tampak tersenyum saat menemukan angin segar. Mendapatkan informasi tentang perusahaan yang bisa menyuntikan dana kepada perusahaan yang kini mengalami krisis itu.


Jari jemarinya bergerak lincah diatas keyboard mengirimkan e-mail kepada perusahaan yang kata temannya mau menyuntikkan dana kepada banyak perusahaan. Untuk saat ini hanya ini yang bisa dia lakukan, perusahaannyaa sendiri belum bisa membantu banyak untuk perusahaan yang sekarang ada di tangannya.


****


Seminggu sudah paska Amara keluar dari rumah sakit. Luka Amara sudah lumayan sembuh. Kini Amara dan Nada hanya bisa saling menatap, Wendi orang itu benar-benar membuat mereka berdua kelabakan.


Wendi datang dengan membawa beberapa orang saksi dan arak-arakan serta membawa seserahan. Kini Sheyna bontique menjadi ajang sorotan media. Amara hanya bisa mengehela napas panjang saat menatap di depan sana banyak sekali wartawan.


"Wendi, apa yang kamu lakukan?" tanya Amara, Kini dia menarik Wendi masuk ke dalam ruangannya agar obrolan mereka tidak bisa di dengar oleh media.


"Aku mau kita menikah," sahut laki-laki kemayu itu. Amara memejamkan matanya. rencananya besok dia akan pulang dan sekarang wendi membuat ulah yang membuatnya muak.


"Wendi, hentikan kegilaanmu," bentak Amara, tetapi laki-laki kemayu itu hanya tersenyum saja.


"Aku berhenti kalo kita menikah, Amara sayang." jawabnya dan membuat Amara lebih muak.


"Aku tidak bisa menikah denganmu," jawab Amara lagi.


"Kamu tidak ada alasankan? Kita menikah saja sekarang, sebentar lagi penghulu datang." ucap Amara sambil menatap ke arah Nada seakan meminta bantuan. Tapi Nada hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah punya calon," ucap Amara terpaksa.


"Calon?" tanya Wendi sambil mendekat ke arah Amara.


"Iya, Wendi."


"Tapi Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan orang lain Amara," jawabnya sambil menaruh telunjuknya di dagu, membuat Amara ilfil tetapi mengundang tawa di bibir Nada. Amara terdiam dan mencoba berfikir lagi.


" Kamu tidak percaya?" tanya Amara Wendi menggeleng pelan. Amara mengambil ponselnya dan menekan kontak seseorang.


**


Micho tersenyum tipis sambil mengetik di atas keyboard. Pada saat itu sebuah panggilan masuk, Micho melirik ponselnya yang menampakkan nama Wanita murahan disana.

__ADS_1


Micho mengernyitkan dahinya, enggan mengangkatnya. Amara, wanita yang selalu membuatnya muak itu berkali-kali kembali menelponya. Mau tidak mau mico mengangkatnya.


"Ada apa Amara? Aku sibuk bekerja," ucapnya pada Wanita yang menyandang sebagai kekasihnya itu. Wanita yang berasal dari keluarga terpandang yang meminta pernikahan pada sosok Micho.


"Sayang, aku merindukanmu. Aku akan terbang kesana besok" ucap suara disebrang. Micho menghela nafas panjang. Micho merasa jijik pada wanita di sebrang, wanita yang akan berusaha merebut hatinya. Dia pikir dengan pergi dari negara P bisa menghindari wanita murahan itu. Tapi nyatanya nyali Amara benar-benar beberapa kali lipat dari yang dia pikirkan.


"Jangan menggangguku Amara, aku sibuk tidak bisa meladenimu." ucapnya.


"Sibuk apa? Apa kau sibuk berkencan dengan Mantan kekasihmu?" tanya Amara jutek. Mico menghela nafas panjang.


"Lakukan apa maumu, aku sibuk. jangan lagi menelponku." ucap Micho. Micho menutup panggilan Amara.


Micho memejamkan matanya. Setiap matanya terpejam, bayangan Sabrina selalu saja mengiang diotaknya. Wanita cantik yang mencuri hatinya sejak wanita itu masih dibangku kuliah. Wanita yang berstatus sebagai kekasihnya selama 3 tahun. Sekarang sudah 4 tahun berlalu sejak pembatalan acara pernikahan. Namun, perasaan yang dia rasakan masih sama. Masih mencintai dan menyayangi Sabrina.


Amara? Rasa benci pada gadis itu selalu ada dalam hatinya. Dan sekarang, dia suka menelpon seenaknya membuat Micho semakin muak saja.


ceklek


Pintu ruangan terbuka Prayoga melihat wajah putranya tampak begitu sedih. Prayoga menghampiri putranya dan duduk di depannya.


"Kalau mukamu masam seperti itu, sudah dipastikan kau itu memikirkan mantan kekasimu." ucap Prayoga. Mico terdiam.


"Lupakan dia." ucap Prayoga lagi.


"Pa, aku sudah meninggalkannya. Apa masih belum cukup?" bentak Micho.


"Kalo diotakmu hanya wanita itu mana bisa kamu bekerja." ucap Prayoga. Micho music saja diam.


"Wanita seperti apa dia, bisa-bisanya membuatmu seperti ini." gerutu Prayoga.


"Papa bahkan tidak mau tau sedikitpun tentang dia waktu itu, papa selalu menolak bertemu dengannya. Papa mendukung Amara untuk menggagalkan acaraku dan sekarang papa bertanya seperti apa dia?" cibir Micho. Prayoga menghela napas panjang. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing


👌👌👌👌👌👌


Like, komen, vote ya 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2