Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
123


__ADS_3

Micho yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya segera mengemasi beberaoa berkas, ia melirik ponsel yang menunjukan pukul 20.00. Micho tersentak kaget saat melihat lebih dari 20 panggilan tak terjawab dari istrinya.


Micho memejamkan matanya, kesibukannya hari ini membuat dirinya lupa mengabari atau hanya sekedar membalas WA dari istrinya. Ada rasa sesak yang mendera hatinya, entah kenapa bayangan Amara menari di pelupuk matanya. Micho membuat panggilan untuk istrinya. Panggilan vidio supaya dia juga bisa melihat wajah cantik yang selalu terngiang diotaknya.


Micho menghela napas panjang, berusaha menahan rindu pada orang yang tak segera mengangkat panggilan darinya.


"Astaga, kemana dia? Kenapa lama sekali mengangkatnya?" pertanyaan yang mengiang ketika dia mulai sebal. Micho berdiri dan berjalan, tangan kanannya masih senantiasa memegang ponselnya.


Amara mengucek matanya beberapa kali. Menyadari ponselnya bergetar, Amara segera menyambarnya. Bibirnya melengkungkan senyum menatap layar yang menampilkan nama Sayang disana. Dengan bahagia Amara mengamati wajah di cermin, memastikan dirinya tampil cantik meskipun baru bangun tidur.


Baru saja akan menggeser tombol itu ponselnya sudah kembali mati, Amara mendengus kesal.


"Kenapa masih saja hobi membuatku kesal?" cibirnya. Amara menelpon balik. Orang disebrang mengangkat dan tampak sebal memandangnya, dia tampak berada dalam mobil.


"Kemana saja? Kenapa lama sekali mengangkatnya?" cerca Micho. Amara hanya tersenyum memandang wajah yang begitu dirindukan, baginya sudah menjadi kesenangan tersendiri memandang wajah itu. Rindu di hatinya seakan lenyaplah sudah.


"Maaf, aku tertidur Mas," jawabnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Micho memandang Amara, ia melihat gurat kesedihan di wajah Amara. Namun, membuat dirinya semakin gemas melihat wajah imut tanpa polesan itu.


"Apa kamu merindukanku?" tanya Micho pelan. Pertanyaan Micho membuat wajah Amara menampakan semburat merah merona.


"Tidak," bantahnya.


"Kamu tidak pandai berbohong," ucap Micho. Amara tampak malu, tetapi juga berbunga.


"Pasti kamu merindukan aku kan?" tanya Micho, mencoba menggoda manusia cantik didepannya. Amara lagi-lagi menutup wajah malunya.


Micho meletakkan ponselnya dan menyandarkan di dasboars depan, kemudian ia memasang alat di telinganya.


"Kamu mau pulangkan? Hati-hati Mas, aku menantimu," ucap Amara.


"Hem, aku sudah tidak sabar ingin memelukmu. Aku sangat merindukanmu," ucap Micho.


"Aku sama," jawab Amara tampak malu.


"Sama apa?" tanya Micho. Tanpa bertanya pun sebenarnya sudah tau. Namun, menggoda istrinya tampak menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Ishhh, kenapa selalu begitu sih? Menyebalkan." ucap Amara. Micho tertawa.


"Sayang ..." ucapnya lirih. Tatapan matanya teduh dan menyimpan berjuta rindu, berjuta cinta, berjuta kasih sayang untuk istrinya.


Amara merasa tersentuh dan merasakan desiran aneh yang menjalar dihatinya. Panggilan sayang dari suaminya membuat hatinya bergetar. Hening, keduanya hanyut dalam tatapan mata yang dalam.


"Ya ..." sahut Amara. Tiba-tiba hatinya merasa sedih, air mata terbendung dimatanya. Namun, dengan tabah menahan jangan sampai menetes.


"Selamat 2 bulan pernikahan, aku sangat mencintaimu. Maaf, bila dua bulan ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku akan berusaha untuk memperbaiki ke depannya," ucap Micho.


Amara menutup matanya. Air mata tak sanggup terbendung lagi. Desiran hati begitu menyiksanya. Ungkapan dari suaminya menyayat hatinya. Bagaimana bisa Micho ingat tanggal ini? sedangkan dirinya tidak mengingatnya sama sekali.


"Hei, Nona. Kenapa menangis? Aku akan menutup telponya," ucap Micho. Amara mengusap pelan pipinya dan memandang wajah tampan suaminya.


"Jangan harap bisa masuk kamar jika menutup ponselmu," ucap Amara ketus. Micho tersenyum. Rasanya jika dekat sudah pasti dia akan merengkuh tubuh mungil istri cantiknya dan menciumnya untuk menenangkannya.


"Mas ... "ucap Amara. Micho menatap teduh 2 bola mata nan indah didepannya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.


"Hemmm ..."


"Aku merindukanmu, aku juga Sangat mencintaimu. Cepatlah pulang, aku menunggumu," ucap Amara kemudian menutup ponselnya.


Micho menancap gas mobilnya. Jarak kantor ke apartemen hanya memakan waktu 1 jam, sehingga kini ia sudah berada dalam apartemen dan membuka pintu dengan akses cardnya.


Dengan tergesa-gesa Micho masuk kedalam apartemennya. Langkahnya terhenti ketika melihat Amara tertidur kembali disofa ruang tamu.


Micho menatap wajah sembab istrinya, Micho juga melirik sajian makan malam yang masih berjajar rapi diatas meja. Micho menghela napas panjang, rasanya sesak melihat Amara seperti ini.


Micho berjongkok, tangannya mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Amara. Micho mengamati wajah cantik yang tampak tenang seperti bayi itu. Ia juga mencium puncak kepala Amara. Tak lupa juga memegang jidat Amara yang terasa sangat dingin. Kenapa dia aneh? Padahal tidak panas, kenapa dia juga suka tidur?


Micho mengangkat tubuh mungil istrinya. Mencoba memindah Amara ke kamar. Namun, Amara membuka matanya dan tersenyum. Amara memandang kearah Micho.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Amara sambil duduk. Micho tersenyum dan kembali meraih tubuh Amara dan mengangkatnya, kemudian berjalan kearah kamarnya.


"Mas, turunkan aku. Aku bisa berjalan," ucap Amara lagi, namun tidak mendapatkan respon dari Micho. Micho membuka pintu dengan lutunya, ia pun membaringkan tubuh Amara diranjang empuknya.

__ADS_1


"Cepat tidur," ucap Micho.


"Aku mau menemanimu makan, aku sudah memasak banyak untukmu," ucap Amara. Amara menatap lekat wajah Micho. Rasa rindu yang tadi bergelayut sirnalah sudah.


"Kalau begitu aku mandi dulu. Tadi selesai meeting aku sangat khawatir. Kamu banyak melakukan panggilan, aku pikir kamu sakit," ucap Micho sambil mengusap pipi Amara.


"Aku hanya pusing," ucap Amara.


"Yakin?" tanya Micho sambil mengamati wajah Amara. Amara mengangguk.


"Apa perlu ke dokter? kamu tampak pucat," ucap Micho lagi. Amara menggeleng pelan.


"Mandilah Mas, aku akan menyiapkan baju untukmu,"


Micho mengangguk dan melangkah pergi.


Beberapa saat kemudian, Micho selasai mandi dan keluar menggunakan jubah handuk.


Tak ada Amara di kamar, hanya ada tumpukan baju dan celana yang sudah di siapkan Amara. Micho mengambil setelan piama itu. Dia memejamkan matanya, merasa dongkol pada Amara yang memberikan setelan piama warna pink kepadanya.


Tanpa banyak protes, Micho mengganti setelan piama yang disipakan Amara dengan piama biru dongker pilihanya sendiri. Dia berjalan ke arah ruang makan setelah berganti piama.


"Malam, Sayang." ucap Micho sambil memeluk Amara dari belakang. Amara tersenyum dan mengambil makanan di piring. Setelah selesai mengambilkan makanan, ia membalikan badanya.


"Makanlah Mas,"


Amara menatap ke arah Micho, senyum yang tadi menghiasi wajahnya sirnalah sudah. Air matanya mengalir deras ketika melihat Micho tak memakai piama yang dia siapkan. Micho yang menyadari Amara menangis mengusap pelan wajah istrinya.


"Sayang, kenapa? Apa ada yang sakit? Kita ke dokter ya?"


Amara memgusap air matanya dan berlari ke arah kamarnya. Ia menguci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Amara merasa kecewa pada suaminya.


Micho mengusap wajah kasar, bagaimana bisa Amara menangis? Apa karna piama? Micho berjalan ke arah kamar dan terkejut saat mendapati pintunya terkunci rapat.


"Sayang, buka. Kenapa? Apa kamu marah karna piama?"

__ADS_1


"Enggak aku buka, tidur saja di luar. Jangan harap aku memmbuka pintu! Salah siapa mengabaikan pilihanku," jawabnya ketus. Micho mengusap kasar wajahnya. Harapanya ingi segera pulang untuk memeluk istriya. Kenapa malah harus tidur di luar?🤣🤣


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2