
"Apa dua karyawanmu yang mengantarkan perhiasan yang sengaja kamu tinggal masih bekerja di Pratama Yoga group?" tanya Amara. Micho tampak membelalakan matanya dan menatap Amara.
Micho mengingat Mela dan Lyly, dua karyawan kepercayaannya. Empat tahun lalu dia meminta mereka mengantarkan perhiasan itu pada orang yang menemukannya, dan mengancam mereka akan dipotong gaji jika tidak berhasil menemukan wanita itu. Lalu, bagaimana bisa Amara mengetahui kejadian itu?
Micho memandang Amara yang tersenyum dan menatap teduh ke arahnya.
"Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?" tanya Micho seolah mengintimidasi Amara. Amara melepas pelukannya kemudian berjalan ke arah laci dimana dirinya menyimpan satu set perhiasan itu.
Micho mengamati Amara yang kemudian membawa paper bag kecil ke arahnya. Paper bag yang sangat dia kenal. Paper bag yang mengingatkannya pada perhiasan itu. Micho memejamkan matanya, menghela napas panjang. Bagaimana bisa semua ini terjadi?
Amara telah sampai di depan Micho dan memberikan paper bag itu padanya.
"Kamu mengenalnya? Ini punyamu?" tanya Amara sambil mengarahkan paper bag pada Micho.
Micho hanya mengamati paper bag itu dan mengamati wajah Amara. Bagaimana bisa Amara tau itu miliknya? Bagaimana bisa takdir begitu saja mempermainkan dirinya?
Perhiasan itu untuk Sabrina sebagai kado pernikahan yang gagal, sengaja dia meminta dua karyawannya untuk memberikan pada yang menemukannya agar dia bisa melupakan Sabrina. Lalu, apa Amara yang menemukannya? Kenapa perhiasan itu ada pada istrinya?
"Bagaimana bisa perhiasan itu ada padamu?" tanya Micho. Amara terdiam kemudian membuka kotak perhiasan berwarna merah itu, manik mata keduanya memandang ke arah berlian mahal yang sangat indah itu. Kalung berinisial S yang sangat menyilaukan mata.
Micho masih enggan untuk menyentuh barang itu, ia malah meraih benda pipih yang ada di sakunya kemudian melenggang pergi ke balkon kamar dan menghubungi seseorang.
Amara tampak memandang punggung Micho yang menjauh darinya.
**
Deringan ponsel terdengar sangat nyaring, tampak dua orang wanita cantik tidur dengan pulas. Salah satu dari mereka mengerjabkan matanya saat telinganya mampu merespon deringan ponsel itu.
"Mel, bangun. Ponselmu berbunyi, angkat gih! Mengganggu," Lyly mengulurkan tangannya membangunkan Mela yang masih tertidur lelap.
"Siapa sih? Kenapa malam malam mengganggu," gerutunya. Namun, Mela tak kunjung bangun sedangkan ponselnya terus berbunyi.
"Mel, bangun!" teriaknya. Membuat Mela bangun, sedangkan dirinya menutup kepalanya dengan bantal.
__ADS_1
"Apaan sih Ly, masih malam juga!" sentak Mela.
"Ponselmu berbunyi, mengganggu tau!" teriak Lyly di bawah bantal.
Dengan hati yang dongkol Mela meraih ponselnya, dengan mata yang masih mengantuk dia melirik ponselnya yang menampakan nama Bos. Seketika wanita itu Mela beranjak kaget dan duduk.
"Bos?" lirihnya.
"Apa yang membuat bos menelpon?" Mela melirik jam yang menunjukan pukul dua pagi. Segera dia menggesel gambar telpon warna hijau dan meletakannya di telinga.
"Halo bos, ada apa malam-malam menelpon? Bos apa tidak tau ini sangat mengganggu? Bagaimana jika besok saya telat kemudian kerjaan saya berantakan? Lalu bagaimana jika saya kesiangan? Apa bos mau ber..."
"Saya akan pecat kamu jika kamu masih saja banyak bicara!" Bentak suara di sebrang, sontak membuat Mela berhenti berbicara dan mengusap dadanya.
"Maaf bos, saya keceplosan, habisnya tidak biasanya bos menelpon malam begini," lirihnya. Terdengar helaan napas disana.
"Jadi ada apa bos?" tanya Mela ragu. Mela mengulurkan tangannya membangunkan Lyli, tapi wanita itu tak kunjung bangun.
"Bukankah kau dan Lyly mendokumentasikan perempuan yang menerima perhiasan 4 tahun yang lalu? Kirim sekarang juga, jangan harap kalian bisa bekerja besok pagi kalau kalian tidak bisa mengirim sekarang," ucap suara disebrang.
Tut, tut, tut...
Mela menghela napas kasar saat mendengar pemutusan secara sepihak sambungan telepon itu.
"Dasar bos tiada akhlak!" gerutunnya. Mela mengguncang tubuh Lyli yang tampak sudah terlelap kembali.
"Ly, bangun. Kalau tidak bangun kita di pecat," teriak Mela di dekat telinga Lyli. Sontak membuat Lyli terkejut dan duduk dengan mengucek kedua matanya.
"Apaan sih, Mel?"
"Kau masih menyimpan foto nona Sheyna waktu itu?" tanya Mela pada Lyli yang masih di ambang kesadaran.
"Nona Sheyna?" tanya Lyli.
__ADS_1
"Ya, bos Micho meminta kita mengirim foto itu. Dia akan memecat kita jika tidak bisa mengirim saat ini juga," ucap Mela. Lyly sontak membelalakan matanya. Ponsel lamanya telah rusak dan dia mengganti dengan yang baru. Lalu, apa masih ada Foto yang diminta?
****
Sengaja menjauh dari Amara, Micho mencoba menenangkan hatinya di balkon kamar. Hatinya tak karuan menanti gambar yang akan dilihatnya nanti. Bukan perkara apapun, namun keterkejutan hatinya pada kenyataan yang sangat mencengangkan.
Dulu, Asistenya hampir saja menunjukan gambar penemu perhiasan itu dan dia menolaknya.
Lalu, apa memang begini takdir perjodohan dirinya dengan Amara? Tuhan Maha kuasa untuk melakukannya, bahkan Inisial S untuk Sabrina malah tergenggam di tangan Sheyna Amara. Ada seulas senyum yang mengembang di bibirnya. Amara, dia semakin yakin bahwa Tuhan menakdirkan mereka untuk bersama terlepas dari semua hal yang terjadi di masa lalu.
Amara berjalan ke arah Micho, dia tau Micho sama terkejut seperti dirinya. Dia melihat Micho yang mondar mandir sambil memegang ponselnya. Wajahnya tampak merah menahan Amarah karna menanti sesuatu. Amara mengusap pelan pundak Micho dan menatapnya teduh.
"Aku hanya butuh pengakuan, bukan apa-apa. Aku juga tidak cemburu pada masa lalu, yang ada aku mau kita sama-sama meyakini dan sama-sama bersyukur karna Tuhan telah menunjukan keagungannya. Jodoh itu Tuhan yang menentukan, hingga tak ada lagi rasa ragu dan bersalah karna aku menghancurkan pernikahanmu dulu," ucap Amara.
"Tapi jika kamu tidak mau menjawab, aku juga tidak akan memaksamu," ucap Amara. Micho terdiam, Amara memutar langkahnya kemudian melangkah pergi. Ada sedikit rasa kecewa yang bergelayut di hatinya.
Micho menghela napas panjang. Sampai pada akhirnya sebuah pesan gambar dari Lyli di terimanya. Micho membuka pesan gambar yang diberikan Lyli. Wanita cantik yang ada di dokumentasi Lyli 4 tahun yang lalu memang benar-benar istrinya. Hanya ini yang dia butuhkan untuk meyakinkan sekaligus menenangkan hatinya. Micho berjalan cepat dan menyambar tubuh Amara.
Amara terkejut dan menatap Micho dengan tenang. Keduanya saling menatap, raut bahagia tampak dari wajah Micho yang tadi terlihat gelisah.
"Aku bersyukur memilikimu. Jadi gadis di bandara itu kamu? Kamu juga yang menemukan perhiasaan itu? Hem?" tanya Micho sambil mengusap wajah Amara dangan wajahnya. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.
Micho mendudukan Amara di ranjangnya kemudian meraih kotak perhiasan yang berada di atas meja.
Micho perlahan membuka kotak perhiasan dan mengambil kalung berinisial S itu.
"S jodohku adalah di depanku, bukan orang lain. Tuhan telah menjodohkan kita, bahkan dari cerita yang rumit sekalipun kita masih tetap di persatukan. Sekarang dan sampai akhir hayat nanti, tetaplah menjadi wanita yang memberi alasan aku untuk tetap berjuang. Aku mencintaumu Sheyna Amara," ucap Micho. Amara meneteskan air matanya. Perkataan Micho membuat dirinya terharu.
"Aku juga mencintaimu mas, sangat mencintaimu."
Keduanya saling menatap. Micho menarik Amara dalam dekap hangatnya. Merasakan kebahagiaan yang sangat dalam.
***
__ADS_1
Dua gadis cantik tampak kelelahan, keduanya saling menatap dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Pasalnya, ponsel Lyly yang lama telah berada di gudang. Dan untuk mendapatkan memori card di ponsel itu mereka mengobrak abrik seisi gudang. Keduanya saling menatap tak bisa berkata apapun. Hanya bisa menghela napas panjang setelah beberapa menit yang lalu kehabisan napas karna pesan wa dari bosnya.
Lima menit dari sekarang, kalau tidak di kirim. Barang kalian akan ada di luar besok pagi!!!!🤣🤣🤣🤣