
Pagi hari yang indah, Amara membuka matanya dengan perlahan. Sinar lampu merasuk kedalam retina membuatnya mengerjab beberapa kali.
Amara menatap Micho yang kini memeluk erat tubuhnya, semalam setelah beberapa saat selesai bermain bola. Mereka ke kamar mandi bersama. Amara yang tampak merasakan sakit sedikit tidak nyaman sehingga Micho mengangkat tubuhnya. Kini, Amara merasakan badanya serasa remuk, Amara bangun dan menatap ke arah Micho yang masih tampak terlelap.
Amara menurunkan kakinya dan berdiri sejenak, ada rasa sakit yang terasa dari area sensitifnya.
"Aduh," lirihnya. Micho yang mendengar rintihan istrinya segera bangun.
"Apa masih sakit? Mau aku membantumu?" tanya Micho sambil menatap ke arah Amara.
"Aku bisa mas, jangan mengkhawatirkan aku," ucap Amara kemudian berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Micho tersenyum memandang ke arah punggung Amara yang menjauh darinya.
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Tuhan telah merencanakan semuanya dengan baik. Wanita yang begitu aku benci nyatanya adalah wanita yang benar-benar aku cinta dan mencintai aku," lirih Micho.
Waktu terus bergulir, setelah beberapa saat membersihkan badan dan shalat berjamaah. Kini mereka menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Micho meletakkan kepalanya di pangkuan Amara, menggenggam erat tangan Amara dan menciumnya beberapa kali. Masih jelas terasa bagaimana nikmatnya permainan tadi malam.
"Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku," Micho menatap Amara dengan sorot mata teduhnya.
"Apa?" tanya Amara sambil mengusap wajah Micho yang begitu halus itu.
"Kenapa kamu tak pernah mengatakan padaku jika menguasai ilmu beladiri?" tanya Micho. Amara menatap Micho dan tersenyum tipis.
"Bukankah kamu tak pernah bertanya? Lagi pula bukankah memang sebelumnya hubungan kita tidak pernah baik-baik saja?" jawab Amara sekenanya.
Micho melirik Amara dan mengusap pelan wajah cantik yang tampak lebih segar dan carah. Mungkin kebahagiaan hatinya mampu memancarkan aura bersinar dari wajahnya.
"Hem, begitu bodohnya aku pernah menolak pernikahan dengan wanita istimewa sepertimu." ucap Micho, Amara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan berlebihan, aku tetap Amara,"
"Wanita cantik yang sangat istimewa, sabar, dan baik hati." ucap Micho sambil menatap lekat wajah Amara.
"Kamu terlalu memuji, Mas."
"Tidak juga, aku berkata yang semestinya. Emm,,, Sejak kapan menguasai bela diri?" tanya Micho, ia bangkit dan bersandar di ranjang yang sama dengan Amara.
"Sejak SMA, Kak Rafa sangat menyayangi ku. Dia sangat posesif, dia takut aku terjerumus dalam pergaulan yang salah. Makanya dia menyita waktuku untuk hal yang seperti ini," ucap Amara. Micho tersenyum, Rafa? ternyata sahabatnya itu begitu menjaga adiknya dengan baik.
"Kamu beruntung meliliki kakak sepertinya," ucap Micho.
"Iya, baru sekarang aku mengerti bahwa apa yang sebenarnya dilakukan kak Rafa adalah yang terbaik, kalau dulu sih aku suka kabur." ucap Amara sambil tersenyum mengingat masa lalu yang menyenangkan dan menyebalkan secara bersamaan.
__ADS_1
"Kabur?" tanya Micho antusias.
"Hem, aku sih tipe orang yang susah diatur. Aku juga orang yang suka bergaul, dan Kak Rafa selalu takut kalau aku dekat dengan laki-laki. Makanya aku disembunyikan, semua kegiatan aku dijadwal olehnya. Membuat aku muak dan sering kabur," ucap Amara sambil tertawa. Micho melirik Amara yang tampak berbinar menceritakan tentang Rafa.
Dan kini Micho tau, kenapa dia tidak mengenal atau tau tentang Amara sebelumnya. Itu semua karna Amara dijaga ketat oleh Rafa.
"Lantas, jika Rafa menjagamu seposesif itu, bagaimana caranya kamu mengenal pria tadi malam?" tanya Micho sambil menatap Amara dengan sorot mata tajam.
"Pria?" tanya Amara Antusias. Micho melepaskan genggaman tangan Amara dan memegang dagu Amara.
"Iya, pria yang menolongmu, pria yang mengakui kamu adalah miliknya." ucap Micho tampak geram. Amara tertawa dan menatap Micho dengan senyuman yang menggoda.
"Apa kamu cemburu?" tanya Amara. Micho terdiam dan menerawang jauh. Mengingat wajah itu membuat aliran darahnya memanas.
"Jawab saja," ucap Micho.
"Jawab juga pertanyaanku, apa kamu cemburu?" goda Amara. Micho mengalihkan pandangannya.
"Jawab iya apa susahnya sih?" goda Amara. Micho meraih pinggang Amara yang tampak menggoda dan imut. Micho membawa Amara kepangkuanya. Amara tertawa dan menyusupkan wajahnya di dada Micho.
"Jangan menggodaku, jawab saja pertanyaanku," pinta Micho yang tampak sedikit menahan emosi.
"Mantan?" tanya Micho lagi. Amara tertawa. Micho tampak menahan kesal.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" goda Amara. Micho terdiam dan mendorong Amara pelan. Dia berjalan ke arah jendela dan menatap gedung tinggi di sebrang. Amara berjalan ke arah Micho dan mendongak ke atas.
"Kamu marah?" tanya Amara. Micho terdiam. Amara menghela napas panjang.
"Kita impas sekarang. Kau tau, melihat kamu mengucap kata cinta pada perempuan lain membuat aku sakit," ucap Amara di telinga Micho.
Hembusan nafas Amara membuat Micho memejamkan matanya. Desiran lembut membuat dirinya tenang, Micho menyambar pinggang Amara mereka saling menatap lekat.
"Aku sangat mencintaimu, Amara." Micho meyakinkan Amara.
"Aku tau, aku juga sama. Lalu, apa masih mau tau tentang Kala Zidan?" tanya Amara. Micho menghela napas panjang.
"Hem, lupakan tentang dia sekarang. Saat ini waktunya kita berbahagia," ucap Micho.
"Mas boleh aku meminta sesuatu?" tanya Amara pelan.
"Apa?" tanyanya lembut.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Sabrina. Ada rasa sesak yang masih tersimpan disini, aku ingin mengucapkan maaf padanya," ucap Amara. Micho menatap Amara dengan tenang, mengusap wajah cantik Amara.
"Kamu serius?" tanya Micho. Amara mengangguk pelan.
"lain waktu aku akan mengajakmu kesana, jika kamu benar-benar ingin bertemu dengannya. sekarang ada hal yang aku tanyakan lagi padamu," ucap Micho.
"Apa Mas?" tanya Amara.
"Luka dilenganmu itu,"
Deringan ponsel Micho terdengar nyaring, saat dirinya belum selesai mengucapkan pertanyaannya. Micho merangkul pundak Amara sambil mengangkat panggilan dari Damar.
"Halo Damar, ada apa?" tanya Micho.
"Sidang terakhir hari ini Pak, dari Alexander group akan mendatangkan saksi." ucap Damar.
"Aku akan kesana nanti, Damar."
"Baik pak," ucapnya kemudian menutup ponselnya.
"Ada apa mas?" tanya Amara.
"Hari ini sidang terakhir papa, aku akan bersiap kepengadilan sekarang." Micho mengecup pelan puncak kepala Amara dan mengusap puncak kepala Amara.
"Aku ikut," ucap Amara.
"Kamu dirumah saja, aku takut nanti kamu membuyarkan konsentrasiku," ucap Micho. Amara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, Mas."
"Aku masih kenyang, nanti aku makan siang dirumah," ucapnya. Micho meraih dasi dan memakainya. Amara membantu Micho untuk memasang dasinya.
"Aku berangkat, sayang." ucap Micho. Amara meraih tangan Micho dan menciumnya.
"Hati-hati Mas." ucapnya. Micho tersenyum dan melenggang pergi. Amara membaca pesan masuk diponselnya. Satu pesan diterima dari orang kepercayaan papanya.
Nona, datanglah ke kafe nirmala ada kabar penting untuk Anda.
😁😁😁😁😁
Hai hai hai... jangan lupa ritualnya ya...
__ADS_1