Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
filter kamera


__ADS_3

"Kau istri ku, berlaku atau tidak. Tetap harus berlaku," ucap Micho tegas sambil mendudukan Amara di kursi pinggiran pantai.


Amara membenahi duduknya dan mengambil makanan yang di persiapkan oleh kakek dan neneknya. Gadis cantik itu menyuapkan makanan ke mulutnya sambil menikmati pemandangan di depannya. Micho mengambil alih sendok Amara dan menyuapkannya ke mulut Amara. Amara menggelengkan kepalanya dan meletakkan makanan itu ke tangan Micho.


Amara bermain pasir dan berpose cantik saat Micho mengarahkan ponselnya ke arahnya.



"Apa hasilnya cantik?" tanya Amara dengan tampang narsisnya. Micho menggelengkan kepalanya. Amara memonyongkan bibirnya dan kembali bermain pasir.


"Jangan bertanya, kau seharusnya tau kalau kau tampak cantik, itu karna pertolongan filter kamera," ucap Micho sinis. Walaupun hubungan mereka sudah lebih baik, sikap menyebalkan Micho masih saja menempel sebagai ciri kas nya. Amara tampak terdiam.


"Baru kali ini ada yang bilang aku cantik karena bantuan filter kamera," protes Amara sambil melirik ke arah Micho yang berjongkok melipat celana panjangnya yang basah karna air laut.


"Memang siapa saja yang bilang kau cantik?" tanya Micho sambil berjongkok di samping Amara yang menulis dengan jarinya di pasir.


"Banyak orang yang mengagumiku, bahkan mereka mengantri untuk bersanding denganku," ucap Amara panjang lebar.


"Tapi kau tampak selalu sendiri, bahkan papamu memilih orang yang tidak kenal padanya untuk menjadi pendamping hidupmu," ucap Micho.


"Itu karna aku menjaga kehormatanku, tapi nyatanya manusia tidak bisa mencegah takdir. Takdir yang menghilangkan kehormatanku, hingga pada akhirnya mengantarkanku pada detik ini." jawab Amara yang semula sumringah menjadi sedikit bersedih. Micho memejamkan matanya, rasanya dia salah mengucakan pertanyaan itu pada Amara.


Sheyna Amara


Tulis Amara di atas pasir. Micho mengulurkan telunjuknya dan menulis di bawah tulisan Amara.


Istri Micho yang cantik


Amara memandang tulisan itu dan memandang ke arah Micho dengan senyumannya. Wajahnya merah merona.


"Tidak salah menulis?" tanya Amara. Micho tak menanggapi ucapan Amara ia berdiri dan mengibaskan tangannya membersihkan pasir yang menempel di celananya.


"Sudah puas mainnya?" tanya Micho sambil mengulurkan tangannya kepada Amara. Amara membalas uluran tangan Micho kemudian berdiri dan membersihkan pasir yang menempel di tangannya.


Deringan ponsel Micho terdengar, Micho melepaskan uluran tangan Amara kemudian mengambil ponselnya. Damar membuat panggilan untuknya, Micho segera menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan Damar.


"Ada apa?"


"Bos kemana saja? Kenapa hari ini tidak ada kabar?" tanya Damar di sebrang sana.

__ADS_1


"Apa kau merindukanku?" tanya Micho sambil menatap Amara yang kini berdiri menikmati angin pantai. Amara terdiam mendengar Micho yang ternyata juga bisa melawak.


"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Bos." Damar berbicara dengan pelan. Micho mengerutkan keningnya dan tampak serius.


"Ada apa?" tanya Micho.


"Aku tidak bisa mengatakan di telepon, sebaiknya kita bicara, apa kau sangat sibuk sehingga sulit untuk menemuiku?" tanya Damar lagi. Micho menghela napas panjang, hatinya begitu penasaran.


"Aku keluar bersama Amara," jawabnya santai. Damar tersenyum mendengar ucapan bos nya itu.


"Tampaknya kau sudah mulai terpesona dengannya, jika kau tak mau dengannya kau bisa memberikannya untukku. Aku siap untuk meminangnya," Damar mencoba untuk mempropokasi sahabatnya.


"Mau tidak digaji?" sentak Micho. Damar tertawa keras.


"Ampun Bos," ucap Damar di sebrang, masih dengan sisa tawanya.


"Sore kita bertemu," tegas Micho.


"Kalau sore masih sibuk, malampun tidak masalah. Nikmati kebersamaan bersama wanita secantik Nona Sheyna." ucap Damar sambil menutup ponselnya. Micho tampak kesal pada asistennya itu. Tapi semua itu bilang saat netranya mendapati Amara didepannya.


"Sebaiknya kita ke rumah nenek, setelah itu kita pulang, bukankah besok kamu harus bekerja?" tanya Amara sambil mengamati rambut Micho yang bergoyang karna terpaan angin. Micho menyimpan ponselnya kembali dan menatap wajah Amara yang memerah karna sinar matahari.


"Jangan ikut campur urusanku, jika sudah puas kita pulang sekarang, jika belum puas puaskanlah," ucap Micho kemudian memutar langkahnya. Amara menghela napas panjang dan menghembuskan kasar. Micho, lelaki itu seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang baik, dan terkadang seperti singa.


"Sudah, nek, kek," jawab Amara.


"Kalau begitu sebaiknya kita ke rumah. Kalian harus istrahat dulu," Nenek Any menasehati.


Micho dan Amara melangkah pergi. Mereka masuk ke dalam mobil bergantian, Micho melajukan mobil dengan tenang. Tak Ada percakapan diantara keduanya. Amara menekan musik dan memperdengarkan lagu salah satu band di dunia permusikan.


jelaskan padaku isi hatimu


seberapa besar kau yakin padaku


untuk tetap bisa bertahan denganku


menjaga cinta ini


pertengkaran yang terjadi

__ADS_1


seperti semua salahku


mengapa selalu aku yang mengalah


tak pernahkah kau berfikir


sedikit tentang hatiku


mengapa ku yang harus selalu mengalah


pantaskah hatiku masih bisa bersamamu


Suara Amara mengalun merdu menirukan lagu yang terdengar. Micho memandang wajah cantik Amara yang mengarahkan pandangannya ke arah luar. Micho menghela napas panjang.


****


Waktu menunjukan pukul 13.00. Nada yang semula berguling kesana-kesini membuka matanya dan melirik jam dinding yang berada di kamarnya.


"Apa Amara jadi ke pantai?" tanyanya pada dirinya sendiri. Nada mengambil ponselnya dan menekan kontak Amara.


Amara tersenyum saat melihat nama kontak sahabatnya memanggil dirinya. Amara menggeser tombol hijau dan di dalam ponsel memperlihatkan wajah cantik Nada Aira damayanti, sahabatnya.


"Hay beb, tadi jadi ke pantai?" tanyanya sambil bersandar di pinggiran ranjang. Amara tersenyum dan memperlihatkan Pantai di sepanjang jalan yang dia lewati.


"Indah sekali, sayang sekali aku tidak bisa ikut denganmu." ucap Nada tampak prustasi.


"Memangnya kenapa bisa terkilir? Apa kak Rafa tidak menjagamu dengan baik?" tanya Amara sambil tersenyum. Mendengar nama Rafa membuat Micho sedikit mengalihkan pandangannya. Rafa, sahabatnya itu kini telah resmi menjadi saudara iparnya meskipun hubungan mereka tidak baik-baik saja.


"Aku terpeleset, saat pulang dari apartmenmu tadi malam," ucap Nada. Amara mengerutkan keningnya, Nada pulang malam? Lalu, siapa yang menemani semalaman? Apa iya selain menggantikan baju dan menyiapkan makanan, Micho juga yang memeluknya sehingga membuat tidurnya lelap dan nyaman?


"Kau pulang malam? bukan tadi pagi?" tanya Amara tampak terkejut. Nada mengangguk pelan.


"Lalu, ketika kamu pulang, siapa yang ada di apartemen?" tanya Amara sambil melirik ke arah Micho yang fokus pada setiran mobilnya seolah tak terjadi apa-apa.


"Suami menyebalkan mu, siapa lagi. Kamu itu tidak lajang lagi. Kamu itu punya suami, jangan seenak jidat sendiri." ucap Nada panjang lebar. Amara menatap ke arah Micho yang masih saja terdiam. Entah mendengar obrolannya dengan Nada atau tidak. Amara menghela napas panjang.it


Mungkin Micho kesambet, sehingga seperti itu. batin Amara.


"Sebenarnya kenapa sih kamu minum sebanyak itu? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Nada membenahi duduknya dan menatap Amara dengan penuh tanda tanya. Amara memejamkan matanya. Dirinya menghabiskan banyak minuman karna kecewa, kecewa pada seseorang yang pernah mengisi hatinya, bersama dengan wanita yang pernah di cintai, wanita yang pernah di gagalkan pernikahannya. Rasa bersalah pada Sabrina menghantui otaknya, sehinggaa mulai saat itu, Amara mencoba melupakan dan mencoba berhenti menyakiti dirinya sendiri. Mencoba memperbaiki kesalahan dan mencoba mengikhlaskan. Amara enggan membahasnya lagi masa lalu yang bisa membuatnya tenggelam dalam keterpurukan.

__ADS_1


Micho melirik ke arah Amara dan melihat sebuah Kesedihan, Micho meraih ponsel Amara sehingga membuat Amara terkejut kemudian mematikan ponsel Amara.


😃😃😃😃🤕


__ADS_2