
Micho memijit pelipisnya, menghubungi ponsel papa nya dan tak kunjung mendapat jawaban. Micho mengirim beberapa pesan kepada Zata star dan tak kunjung mendapat balasan. Micho melirik ponselnya lagi. Lagi-lagi beberapa clien membatalkan kerjasama dengannya. Micho meremas beberapa berkas ditangannya. Damar dan Radit tampak saling berpandangan. Beberapa hari ini keadaan perusahaan semakin kacau, Zata star? Perusahaan itu menuntut untung dan tidak mau tau dengan kerugian.
Micho mengibaskan jasnya dengan elegan kemudian berdiri menatap Damar dan Radit bergantian.
"Kalian handel disini, tampaknya aku harus menemui papa sekarang juga." ucap Micho kemudian melenggang pergi, Damar dan Radit saling menatap. Micho adalah sosok pekerja keras, dan kini dia kembali di hadapkan pada masalah yang harus di selesaikan.
Micho menancap gas mobilnya. Pikirannya melayang jauh. Nama alexander group terngiang di otaknya. Damar pernah mengatakan bahwa yang memegang perusahaan itu sebelumnya adalah 2 tuan muda.
"Abimanyu, Andika?" lirihnya.
Beberapa saat kemudian, sampailah Micho didepan rumah papanya. Bi Rini tampak panik dan mengusap air matanya. Micho mendekat dan menghampiri orang yang dianggap bibinya sendiri itu.
"Ada apa, Bi?" tanya Micho sambil memegang pundak biar Rini dengan panik.
"Bapak, Bapak Den," ucapnya pelan.
"Papa kenapa?" tanya Micho panik.
"Bapak di bawa polisi, Den Micho." ucap Bi Rini. Seketika Micho memejamkan matanya. Rasanya sakit mendengar ucapan bibinya itu. Papanya, meskipun bagaimana adalah satu-satunya orang yang menyayanginya. Sekarang, apapun alasannya dia harus segera menemui papanya untuk menenangkannya. Seketika Micho memyambar kunci mobilnya dan menancap gas mobilnya. Micho mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Amara yang tengah selesai mengantarkan mamanya ke rumah Raka tampak mengenal mobil yang berjalan ugal-ugalan itu.
"Micho?" ucapnya, Amara memperhatikan mobil itu. Benar saja, itu adalah mobil milik Micho. Amara Menambah kecepatan mengejar laju mobil Micho. Amara tampak khawatir saat Micho tampak oleng dan tak berarah. Amara Mencoba mengkhlakson dan menghentikan laju mobil Micho dengan memaksa berhenti didepan mobil Micho.
Cittttt
__ADS_1
Suara decitan mobil Micho yang berhenti dengan dadakan di tepi jalan. Amara keluar dari mobilnya dan mengetok pintu mobil Micho. Micho keluar dengan sorot mata tajam. Amara menatap Micho dengan tajam juga.
"Apa kau berencana mati muda Tuan Micho? Kenapa membahayakan nyawamu?" bentak Amara.
"Apa perdulimu? Jangan menganggu jalanku, singkirkan mobilmu!" bentak Micho. Amara memejamkan matanya.
"Aku istrimu, Apa kau lupa?" tanya Amara. Micho menatap Amara dengan sorot mata yang mulai tenang. Amara mengamati Micho, ia yakin Micho sedang tidak baik-baik saja, Micho tampak diam. Micho menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dan memegang kepalanya.
"Apa ada apa?" tanya Amara lagi. Micho memejamkan matanya. Hatinya serasa kacau. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Yang dilakukan papanya? Micho masih terdiam dan mengusap kasar wajahnya.
Amara maju beberapa langkah, Amara mendongak dan menatap Micho Yang tampak gelisah. Amara memegang kedua pundak Micho dan menatap Micho dengan tenang. Micho merasa sedikit tenang mendapat sentuhan hangat dari Amara.
"Coba katakan, ada apa, Mas?" tanya Amara sambil memandang Micho seakan meminta penjelasan. Micho tampak mengusap kasar wajahnya dan menatap Amara. Panggilan Amara yang terdengar merdu di telinganya membuat Micho merasakan desiran hangat di hatinya.
"Papa, papa di tahan," ucap Micho sambil memalingkan wajahnya. Amara memejamkan matanya dan tampak terkejut.
"Jangan banyak bicara, aku tidak punya banyak waktu. Lepaskan tanganmu, Nona Amara!" ucap Micho dengan tegas. Micho menarik tangannya dari genggaman Amara dan membuka pintu mobil.
Amara menahan pintu mobil sehingga membuat Micho tampak marah. Micho yang tampak marah menatap Amara dengan sorot mata tajamnya. Amara menatap Micho dan menarik Micho dalam dekapannya.
Micho tampak merasakan kedamaian. Amara mengusap pelan punggung Micho. Micho terkejut dan tampak mematung, pelukan yang seperti ini adalah pelukan yang dirasakannya saat mendapat pelukan dari Mama Hana.
"Tenangkan dirimu, Mas. Tenangkan dirimu," ucap Amara pelan. Micho yang sedang emosi tampak sedikit tenang. Amara melepas pelukannya dan menatap Micho dengan sorot mata teduhnya.
"Aku ikut denganmu," ucap Amara. Ucapan Amara membuat Micho menatap Amara. Dirinya selalu sendiri menghadapi kesusahan, dari dulu. Bahkan, dia merasa sendiri dan tak mempunyai siapapun. Ucapan Amara membuat Micho terharu, ada sesak yang menyeruak di hatinya.
__ADS_1
"Jangan membuang waktumu hanya untuk perduli denganku, Amara." ucap Micho. Amara tersenyum dan menggeleng pelan.
"Papa juga papaku, bukan hanya kau yang mengkhawatirkannya. Aku juga," ucap Amara. Micho lagi-lagi harus menyaksikan kebaikan hati dari sosok cantik yang berdiri di hadapannya. Entah dorongan dari mana, Micho menarik Amara dalam dekapannya. Menyalurkan segala kesedihan yang dia rasakan.
Amara memejamkan matanya, seakan merasakan kesedihan yang dirasakan Micho juga. Amara merasakan detak jantung yang tak beraturan.
"Mas, apa setelah berusaha membahayakan nyawamu kau juga mau membahayakan nyawaku? Aku tak bisa bernapas, aku bisa mati," ucap Amara.
Micho yang mendengar ucapan Amara sontak melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik yang tampak merah karena sesak napas itu. Micho tersenyum dan menatap Amara, mengusap puncak kepala Amara dan menyelipkan rambut Amara yang berterbangan di telinganya. Amara tampak tersenyum dan menatap Micho yang tampak tenang.
"Mana mungkin aku membahayakan nyawa orang yang mampu membuatku merasa tenang, yang ada aku akan mempertahankannya untuk selalu berdiri di sampingku," ucap Micho lirih. Amara tampak mengernyitan dahinya dan menatap Micho denganku penasaran.
"Ulangi, aku tidak mendengar dengan jelas," ucap Amara. Micho tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil. Amara masih berdiri dan mematung, mencoba mengingat apa yang di ucap Micho.
"Nona, singkirkan mobilmu yang menghalangi jalanku," ucap Micho sambil menurunkan kaca mobilnya. Amara tampak terkejut dan tersenyum memandang wajah tampan yang tampak tenang itu.
"Tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang, Sayang." ucap Micho dan kembali menutup kaca mobilnya. Amara yang tampak malu mendengar ucapan Micho berdiri kearah mobilnya dan memegang dadanya yang merasakan detak yang tak beraturan mendengar panggilan sayang dari Micho.
tinnnnnnn
Suara klakson Micho membuyarkan lamunanya, Amara segera menancap gas mobilnya. Mereka melaju menuju tahanan dimana Prayoga berada.
Micho masih senantiasa tersenyum, ia menatap mobil Amara yang Ada di depannya.
Amara, terimakasih selalu membuat aku merasa lebih baik jika kau ada di dekatku. ucap Micho lirih sambil mengamati wallpaper ponselnya yang menampakan wajah cantik Amara.
__ADS_1
😍😍
.