Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
116


__ADS_3

"Aku sudah mengantongi beberapa bukti pelaku kerusuhan, tapi aku belum tau pasti. Aku akan memastikan besok," ucap Damar sambil meletakan beberapa berkas di atas meja.


Rafa dan Micho menatap ke arah Damar dan menatap ke arah berkas di atas meja.


"Kenapa kau mengganggu, aku belum selesai berbicara dengannya," kesal Rafa sambil menatap ke arah Damar.


"Apa yang ingin kau tanyakan lagi? Bukankah semua sudah jelas?" Sanggah Micho.


Rafa berdecak, fikiranya melayang jauh. Apa sebenarnya papanya telah mengetahui cerita ini sehingga memaksa Micho menikahi Amara waktu itu? Rafa tersenyum lebar, dia memang jenius. Tapi, papa Rusdiantoro jauh lebih jenius darinya. Rafa menggelengkan kepalanya kemudian mengambil berkas di atas meja.


"Gengster?" tanya Rafa. Damar mengangguk pelan, Rafa tampak berfikir begitupun dengan Micho.


"Apa yang mereka mau? Kenapa menjebak Amara ? Lalu, apa ada hubungannya dengan kita ? Bagaimana bisa mereka mencoba menghqncurka Amara dan kita di waktu yang bersamaan?" pikir Rafa.


"Kau tau, sebenarnya ini adalah jebakan untuk Amara, dari teman dekatnya yang menyukai Rayen. Tanpa sengaja, wanita itu adalah adik dari salah satu teman kita yang pernah bermasalah dengan kita. Jadi mereka memanfaatkan untuk merusak semuanya," ucap Damar.


Rafa mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Siapa yang berani mengusik ketenangan adiknya? Amara merasa hancur beberapa tahun, dan ternyata ada tangan di balik semua yang terjadi? Rafa benar-benar tampak menahan emosi. Bagaimana dia bisa terkecoh dalam permainan seperti ini? Micho benar, bahwa di setiap waktu tertentu dirinya memang suka seenaknya sendiri.


"Siapa mereka?" tanya Micho.


"Sem, Sem Firdaus. Erika larasati," ucap Damar. Rafa dan Micho menghela napas kasar. Nama Sem masih teringat jelas di ingatan mereka.


"Mereka mempunyai ikat kepala kuning?" tanya Micho. Damar mengeluarkan beberapa foto dari amplop coklat dan memberikan pada Michk.


"Tidak ada, bukan pemilik ikat kepala itu. Mereka orang yang berbeda. Memangnya ada apa?" tanya Damar. Micho menggelengkan kepalanya. Dirinya sudah sedikit lega mendapat informasi ini. Tapi dia masih harus mencari hal lain setelah menyelesaikan kasus ini. Gengster berikat kepala kuning, siapa mereka sebenarnya?


"Apa yang harus kita lakukan?" tanua Damar. Micho menatap Damar dengan intens.


"cari bukti akurat dan jebloskan mereka ke bui. Aku tidak ada banyak waktu untuk bermain dengannya," jawab Micho.


"Segampang itu?" sanggah Rafa.

__ADS_1


"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni Sem, ada hal yang lebih penting dari itu. Yang terpenting mereka mendapat balasan setimpal meski bukan dari tangan kita sendiri," ucap Micho kemidian melenggang pergi.


Damar dan Rafa saling berpandangan, Micho tidak pernah berubah. Sosok yang sebenarnya sangat baik, suka diam dan ke diamanya kadang kala tak menyelesaikan masalah.


"Rafa, aku harus pergi."


"Iya Damar, hati-hati," ucapnya.


***


Di malam yang sama di tempat yang sama pula. Masih di sekitar danau yang indah itu. Bianca menyedekapkan tangannya menahan hawa dingin yang menusuk ditubuhnya. Tiba-tiba seseorang memberikan segelas teh hangat kepadanya. Diapun menoleh,


tampak Rafa dengan wajah datarnya menyodorkan teh itu padanya. Bianca meraih teh itu dan meletakkan disampingnya.


"Seharusnya tidak kau Terima, jika hanya kau biarkan disitu, aku memberikan nya agar kau merasa hangat dan tidak kedinginan"


Bianca tersenyum sinis. Mendapati Rafa di depanya membuat dirinya teekejut dan merasa malu secara bersamaan.


Rafa melangkah pergi, Bianca membiarkannya. Dia memeluk lututnya, hatinya begitu sakit ketika mengetahui kenyataan yang sangat sulit di terima. Dirinya menatap cek yang diberikan Micho dengan deraian air mata. Bagaimana bisa ini terjadi?


Terbesit kesedihan, ketika dia menerima kenyataan hidupnya hampa. Dan sekarang dia menyakiti hati orang baik sebaik Micho.


Saat itu seseorang meletakkan jasnya diatas punggung nya, menghilangkan sedikit rasa dingin yang sejak tadi menusuk tubuhnya. Bianca terdiam, ia menyembunyikan air mata yang terus saja tumpah membasahi wajahnya.


Orang itu duduk disamping Bianca.


"Menangislah, jika itu membuatmu merasa lega," ucap Rafa pelan. Bianca masih tetap diam. Namun dia tau, suara itu adalah suara Rafa.


"Maaf kak, aku harus pergi." Bianca berdiri dan hendak melangkah. Namun, tangan Rafa menahannya.


"Tetaplah disini, kurasa dirimu tidak baik-baik saja, bahaya jika kau mengendarai mobil"

__ADS_1


Bianca tidak mengindahkan perkataan Rafa, ia menarik tangannya dan berjalan menjauhi Rafa. Rafa bangkit dari duduknya, berjalan kearah Bianca.


"Berbagilah padaku, mungkin bisa membantu melegakan perasaan mu," ucap Rafa saat berhasil menahan tangan Bianca dalam genggamannya.


"Apa kau ingin pulang? Aku akan mengantarkan mu, ini sudah sangat larut." tanya Rafa. Bianca mendongak, menatap ke arah Rafa. Dia benar-benar belum siap untuk berbicara apapun, apa lagi dengan Rafa. Orang yang mampu menggetarkan hatinya sampai saat ini.


"Kau tenang saja Kak, tidak akan ada yang terjadi padaku," ucap Bianca dengan canggung. Barada di depan Rafa membuatnya tidak Nyaman. Rafa memandang wajah cantik disampingnya.


"Jangan terlalu percaya diri, mana tau bahaya diluaran sana? Aku akan memgantarmu."


Rafa menarik tangan Bianca menuju ke arah Mobilnya.


***


Seusai menyelesaikan pekerjaanya dengan Damar, Micho segera kembali ke apartemen. Mengetahui Amara selalu dalam pengawasan orang jahat membuatnya tak tenang. Tentang Preman beberapa tahun lalu dan beberapa minggu lalu telah di ketahui. Tapi, ada hal yang masih mengganjal di otaknya tetntang gengster berikat kepala kuning itu.


Micho segera membuka pintu, dilihatnya Amara tengah tertidur di sofa, Olivia tampak tidur di ruang tamu. Micho berjalan kearah Amara, berjongkok dan menatap lekat wajah cantik Amara yang tampak lelah.


Micho terus saja memandangi wajah cantik yang kini berada dekat dengannya, ia membelai wajah cantik itu dengan pelan, Amara menggeliat membuat Micho mengulas senyum indah. Micho menghela nafas panjang, dan mencium puncak kepala Amara.


"Selamat malam, Nona. I love you, aku sangat mencintaimu, segera ramaikan hari kita dengan datangnya makhluk disini." ucap Micho sambil mengusap pelan perut datar Amara. Micho mengangkat tubuh Amara dan membawanya ke kamar.


Micho membaringkan Amara di ranjang dengan pelan. Ia menatap bibir merah Amara yang tampak menggoda. Micho memejamkan matanya, merasakan dorongan hasrat yang menggebu dalam dirinya.


Micho mendekatkan wajahnya ke arah Amara, mendekati bibir merah muda itu dengan tenang. Amara yang merasakan sesuatu membuka matanya.


"Bisa dikondisikan bibirnya Tuan Micho?"😂😂😂😂😂.


Micho teekejut dan membuka mata. Dia menatap wajah yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya. Ada rasa malu saat dirinya ketahuan mencuri ciuman dari Amara.


😀😀😀😀😁

__ADS_1


__ADS_2