Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
150


__ADS_3

"Baby Zie?" tanya Micho yang kemudian diangguki oleh Amara.


Micho tersenyum kemudian menatap ke arah bayi cantik yang menggemaskan itu, mengusap lembut pipi mulus tanpa cela, hadiah dari Sang Maha Pencipta. Tidak lama dari itu, terdengar ribut di depan pintu yang membuat baby Zie menggeliatkan kepalanya. Wajahnya tampak memerah.


Micho yang tampak sebal mengarahkan pandangannya ke arah pintu, ingin rasanya dia memaki orang diluar sana. Dengan langkah yang cepat Micho membuka pintu. Alih-alih marah, dirinya malah dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Mama Hana, Papa, Rusdi, Papa Kenzo, Mama Melati, Papa Prayoga dan juga Papa Roy tanpak berebut masuk.


Mereka sangat antusias dengan kelahiran cucu mereka.


"Papa, mama,"


Ucapan Micho sontak membuat mereka berhenti berbicara. Mereka menatap ke arah Micho dengan sorot mata tajam. Kini, Micho bagaikan tersangka yang sedang di buru polisi.


"Kenapa kau tidak mengabari kami? Kau tidak menganggap keberadaan kami? Seenaknya saja menyembunyikan kebahagiaan ini!" cerosos mereka bergantian.


Micho hanya diam, tak menanggapi ocehan orang tua beserta mertuanya yang pososif itu. Mereka masuk kedalam ruang rawat dimana Amara berada.


Mama Hana dan Mama Melati menghampiri Amara yang tengah menggendong cucu mereka. Mama Hana dan Mama Melati bergantian mencium puncak kepala Amara kemudian bergantian menggendong baby zie yang tertidur pulas.


"Selamat sayang, lihat cucu mama cantik sekali , dia sangat mirip dengan ayahnya," ucap Mama Hana sambil mengusap pelan wajah bayi mungil yang kini ada di gendongannya.


"Sayang, kenapa tidak mengabari kami?" tanya Mama Melati.


"Rencananya kami akan mengabari setelah lahiran, Amara takut kalau nanti malah membuat banyak orang khawatir ma," ucapnya.


"Tapi kamu tidak papa?" tanya Mama Melati,"


"Aku bahagia, sangat bahagia ma," sahut Amara sambil tersenyum.


"Siapa namanya, sayang?" tanya Mama Hana sambil menimang cucunya.


"Baby Zie, Zieta aurora Natasya," ucap Amara sambil tersenyum melihat ke arah Mama Hana.


"Wah nama yang bagus sekali, mama setuju." ucap mama Hana, berulang kali ia mencium baby Zie yang tampak imut dan menggemaskan itu

__ADS_1


"Uluh-uluh cantik sekali baby Zie. Oma akan memberikan kamu boneka cantik besok," ucap Mama Melati sambil terkekeh dan mengusap pipi baby Zie yang berada di gendongan Mama Hana. Ucapan Mama Melati membuat mereka semua terkekeh bersamaan.


"Ra, Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rafa yang tiba-tiba datang dan berjalan kearah Amara yang tersenyum melihat ke arahnya.


"Aku baik-baik saja, Kak," sahut Amara. Rafa mengusap pelan puncak kepala Amara dan tersenyum tenang.


"Mana keponakanku?" tanyanya. Mama Hana tersenyum dan berjalan ke arah Rafa, memperlihatkan baby imut itu pada Rafa.


"Lihat, dia cantik sekali," ucap Mama Hana.


"Kamu segera menyusul ya Kak," goda Amara. Rafa hanya terkekeh kecil.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat. Biarkan Baby Zie Kami yang menjaga," ucap Mama Melati. Amara mengangguk. Mama Melati membawa baby Zie ke luar ruangan agar Amara bisa beristirahat.


Rombongan para lelaki yang berada di sofa mendekat ke arah Amara.


"Selamat, Sayang. Akhirnya Kalian menjadi orang tua, Papa bangga dengan kalian. Papa berharap kalian bahagia selalu, " ucap Papa Rusdi sambil mengusap pelan pundak Amara. Amara tersenyum kemudian memandang kearah Papa Kenzo.


"Maafkan papa yang selama ini banyak sekali kesalahan padamu," ucap Papa Roy. Amara terdiam. Ada rasa sesak mengingat kejadian dimasa lalu, tapi dia merasa bahagia mendapat ucapan maaf dari papa mertuanya yang kini berdiri di depannya dan menyesali apa yang pernah dilakukannya.


"Lupakan masa lalu, papa telah mendapat hukuman yang setimpal. Bukankah semua orang memiliki kesempatan kedua?" Amara tersenyum. Micho merasa lega, dia mengecup pelan puncak kepala Amara.


Papa Roy meraih Amara dalam dekap hangatnya, ya berakhir bahagia. Mereka saling memaafka


Beberapa hari berlalu, di rumah besar Amara dan Micho, mengadakan pesta syukuran dan aqiqah untuk Baby Zie. Semua anggota keluarga berkumpul disana, keluarga Papa Rusdi, keluarga Papa Kenzo, keluarga Papa Roy Pratama dan keluarga Papa Prayoga. Bahkan Andika beserta Sabrina dan putranya, Zahira juga Bima dan putranya beserta keluarga besarnya juga turut diundang diacara itu.


Mereka berkumpul dengan keadaan yang bahagia, mereka menikmati kebersamaan dengan suka cita. Tiba saatnya pemotongan rambut Baby Zie, terdengar lantunan sholawat bergema indah mengiringi acara itu. Rasa bahagia begitu terasa.


Setelah acara selesai Amara dan Micho saling menatap ke arah baby Zie yang terlelap di box bayi. Kini sepasang suami istri itu saling berhadapan.


"Aku bahagia mempunyai kalian berdua," ucap Micho sambil menarik pinggang Amara dalam dekap hangatnya. Memberikan kenyamanan dan rasa cinta yang dalam. Tak ada lagi keraguan, cinta itu melekat di hati keduanya untuk selamanya.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€

__ADS_1


Β 


Aku dan kamu adalah kita...


saat tanganku mengenggam tanganmu...


merekah senyuman hangatmu di hadapku...


semua itu adalah cinta yang ada dan terasa..


Ketika ketulusan cinta itu hadir tanpa pamrih


senyuman dan tawa yang kau berikan adalah nyata


Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan kita


Kumohon, buat hari ini dan seterusnya menjadi hari yang terindah


sebelum senja menutup diri dan memisahkan kita


Aku sadar hidup sangat berarti dan tak akan ada artinya jika kita tidak saling percaya. Aku mencintaimu, kemarin, saat ini dan selamanya


Sheyna Amara.


The end....


πŸ€—πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Alkhamdulilahhh...usai sudahhh cerita Amara dan Micho yang like dan komenya sangat mengenaskan😭😭😭😭😭. Tapi tak apa, aku bahagia bisa membuat kalian bahagia.


Tetap dukung aku ya...Karya baru liris tanggal 1😍😍😍 love untuk kalian semua..


Salam sayang dari author remahan dan bukan siapa siapa.😍🀣😭...

__ADS_1


__ADS_2