
Lajuu mobil begitu santai, tak ada kata yang sanggup terucap. Hanya keheningan yang mengisi di antara sepasang suami istri itu. Micho melirik Amara yang hanya diam dan memainkan ponselnya. Sesekali mereka mencuri pandang dan tatapan mereka saling bertemu membuat rasa gugup menyelimuti hati. Namun, Micho dan Amara kembali mengalihkan pandangan mereka ke depan.
Hening, hingga beberapa jam berlalu. Sampailah mereka di rumah besar keluarga Rusdiantoro.
Dari arah yang berlawanan, mobil mewah milik papa dan Rafa terparkir di tempat yang bersebelahan. Di sisi kanannya juga ada mobil mewah entah punya siapa. Amara dan Micho segera turun, papa dan Rafa juga turun dari mobil tampak sedikit buru-buru, mereka sama-sama mendekat. Amara tampak bingung dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Micho juga merasakan hal yang sama.
"Pa, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Amara sambil melihat ke arah papa yang tampak khawatir.
"Rayen, Rayen dan Tuan Milano datang. Papa yakin mereka akan melamarmu," ucap papanya.
Micho dan Amara saling berpandangan. Micho terdiam, perasaan aneh dan sakit ketika mendengar Amara akan dilamar. Status istri yang disandang Amara membuat perasaannya tak menentu. Amara menghela napas panjang dan menatap ke arah papanya.
"Pa, Aku sudah menikah. Lalu bagaimana bisa Rayen melamarku," protes Amara. Papa hanya diam, tampak senyum tipis yang menghiasi wajahnya ketika melihat Micho tampak mengeratkan rahang dan mengepalkan tangannya.
"Apa kau lupa, pernikahanmu hanya keluarga kita saja yang tau? Masuk, kita temui mereka!" ucap papanya tegas. Amara tampak terkejut, ucapan papanya bagaikan goresan luka yang semakin di perlebar di hatinya. Amara merasakan sesak yang mendera, melirik ke arah Micho yang memasang wajah dinginya.
__ADS_1
Rafa hanya diam menatap Amara dan Micho bergantian, rasa sesak menggelayuti dirinya. Meskipun rasa benci pada Micho bersemayam di hatinya, namun mendengar ucapan papa membuatnya sedikit ngilu.
Micho mengeratkan kuat-kuat rahangnya, rasanya dirinya tengah di permainkan oleh Tuan Rusdiantoro, waktu itu seakan meminta pernikahan dengan paksa, dan saat ini seakan tak memandang dirinya.
"Pa, mana bisa begitu?" sanggah Amara.
"Aku sedang tidak meminta pendapat darimu, masuk sekarang juga." ucap papanya tegas sambil menggandeng tangan Amara.
Amara menghela napas panjang. Matanya berkaca, Amara melangkahkan kakinya. Micho yang merasa dipermainkan tak bisa lagi menahan gejolak hatinya. Micho menarik pergelangan tangan Amara sehingga menghentikan langkah istrinya itu.
Rafa menghentikan langkahnya dan memandang pemandangan yang pasti sangat menyesakkan dada adik kesayangannya.
"Dia istriku," tegas Micho dengan sorot mata tajam yang mendominasi. Amara mendongak, Ada desiran aneh saat ini. Dirinya seperti dalam situasi yang begitu sulit untuk diterimanya terima.
"Kau suaminya? Suami yang terpaksa menikah karna aku membutuhkanmu? Saat itu aku butuh denganmu untuk menolong nyawa istriku. Saat ini sudah lain cerita, lepaskan tanganmu anak Muda," tegas Rusdiantoro.
__ADS_1
Micho seperti merasakan hantaman batu besar yang menghujam hatinya. Amara meneteskan air mata. Papa yang selama ini dia banggakan seakan mempermainkan pernikahan. Rafa hanya terdiam membisu tak sanggup untuk melakukan apapun.
"Lepaskan," ucap Rusdiantoro. Dengan lemah Micho melepas genggaman tangannya.
"Bagus, Amara adalah putriku. Aku berhak atas hidupnya" ucap Rusdiantoro.
"Tapi aku suaminya lebih berhak!" bentak Micho.
"Suami sebenarnya berhak atas istrinya, kau? bukankah tidak pernah menginginkan pernikahan ini?" tegas Rusdiantoro.
Amara hanya diam, apa yang di katakan papanya benar adanya. Amara mengikuti langkah papanya membawanya. Micho mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Entah, dirinya murka tak rela Amara jatuh di tangan orang lain nantinya.
"Aku akan melihat cinta atau tidak kamu pada Amara dari sini Micho. Mari kita bermain, sampai kapan gengsimu itu mampu mengalahkan dirimu," batin papa Rusdiantoro.
😍😍😍😍😍😍
__ADS_1