
"Terimakasih, sayang. Aku harap kita akan selalu bahagia,"
"Aku juga berharap seperti itu, Mas." Amara terlarut dalam kebahagiaan. Menikmati hangat dekapan dari Micho, suami yang kini telah mengakui dirinya. Mengakui cinta kepadanya. Kini tiada lagi keraguan, cintanya telah tersambut oleh sang pujaan hati. Amara bahagia dan sangat bahagia.
"Apa aku boleh patah hati, Nad? Lihat mereka sangat bahagia, aku? Pantaskah aku bersedih atas kebahagiaan kakakku?" Radit memejamkan matanya, rasa sesak menyeruak di dadanya. Dia dan Nada yang tampak khawatir kepada Amara mengikuti laju mobil Amara dan menyaksikan tragedi yang berakhir bahagia namun mematahkan hatinya.
"Dit, bukankah melihat orang yang kita cintai bahagia adalah hal yang membahagiakan? Aku harap kamu bisa menerima, menerima kepahitan. Percayalah, suatu saat nanti kita juga akan bahagia seperti mereka," ucap Nada. Radit menatap ke arah Nada.
"Kamu menghiburku atau menghibur diri sendiri?" tanya Radit. Nada melirik Radit dengan sorot mata tajamnya.
"Jangan mengingatkan juga kali, tau gitu aku diam aja. Nyebelin banget sih jadi orang!" ketus Nada kemudian melenggang pergi. Radit tertawa terbahak dan mengikuti langkah Nada.
"Nad, nggak ngambek gitu juga kali sesama korban mencintai tanpa dicintai," ucap Radit sambil menarik tangan Nada. Nada terhenti karna tarikan Radit. Keduanya saling menatap hingga ada kecanggungan yang hadir diantara keduanya.
"Maaf, aku reflek. Bagaimana kalau kita makan, Nad? Aku laper banget," Radit tampak melepaskan tangan Nada dengan tak enak.
"Lain waktu aja, udah capek juga. Aku pulang aja Dit," ucap Nada. Rasa canggung masih menggelayuti hatinya sehingga dia memutuskan untuk pulang.
"Boleh aku meminta nomer ponselmu?" tanya Radit, Nada tampak memandangnya seakan tidak percaya.
"Kita berteman kan? Ya kalau boleh sih, kalau tidak boleh aku juga tidak memaksa." lanjut Radit, sambil memberikan ponselnya. Nada tampak ragu, namun sebentar kemudian ia menganggukkan kepalanya dan menuliskan nomernya di ponsel Radit.
"Kau Jangan menuliskan Namamu,!" pinta Radit. Lagi-lagi Nada menatap penuh tanya ke arah Radit.
"Lalu?" tanya Nada.
"Kau tulis saja, my baby," ucap Radit, Nada membelabakkan matanya dan memukul pundak Radit.
__ADS_1
"Kau itu keterlaluan banget sih, dasar buaya darat. Tadi aja sok patah hati nangis-nangis, sekarang udah kayak buaya kepanasan aja. Memalukan!" sungut Nada. Radit memandang Nada yang tampak kesal.
"Ini adalah misi," Radit menjelaskan sambil tersenyum.
"Misi?" tanya Nada.
"Hem, Misi untuk menyembuhkan hatiku dari patah hati. Biasanya aku cepat lupa, tapi patah hati dengan Amara rasanya berbeda. Kau tau, dadaku terasa sesak dan sakit," ucap Radit. Nada tampak semakin kesal pada Radit. Namun, ia tetap menulis My baby di ponsel Radit.
Menulis kata itu di ponsel Radit membuat hatinya berdesir, jantungnya berdetak kencang. Aktivitasnya sudah selesai, ia pun memberikan ponsel Radit kembali. Radit tersenyum tipis mana kalau melihat kontak Nada benar-benar tertulis My baby.
"Dasar buaya, kau pikir aku dokter? Seharusnya kau pergi ke RSJ, tampaknya otakmu itu sudah tidak waras." ucap Nada kemudian melenggang pergi.
Radit tertawa mendengar ucapan Nada. Misi macam apa yang dilakukannya? Atau hanya modus belaka? entahlah. Barangkali jiwa playboynya kembali pada dirinya setelah ia benar-benar tak ada kesempatan mendekati Amara. Radit memejamkan matanya, hatinya sesak. Amara benar-benar mengusik pikirannya.
"Radit, plis. Lupakan Amara, alihkan dirimu pada orang lain." batin Radit.
"Apa?" teriak Nada.
"Tunggu panggilanku!" teriak Radit lagi. Nada tertawa renyah sambil memandang Radit. Nada mengacungkan jempolnya dan tersenyum kemudian berjalan menjauh dari arena pasar malam.
"Nada, aku hanya ingin bermain-main denganmu. Aku memang buaya, yang beberapa tahun ini lemah karna cinta. Tapi sekarang aku tidak peduli lagi dengan kebohongan cinta. Lihat saja, aku akan mendapatkanmu entah kemudian mencampakanmu atau bagaimana, yang jelas aku butuh ketenangan." Radit mengepalkan tangannya. Menahan sesak yang mendera hatinya.
Micho dan Amara telah sampai ke mobil setelah membeli beberapa paper bag baju untuk anak panti. Amara sempat terkejut, tidak terpikir olehnya jika ternyata Micho juga mempunyai hati setulus ini. Mau berbagi dan ternyata ini adalah kegiatan rutinnya setiap bulan.
"Tidak harus memberikan harga yang mahal. Biarpun harganya tak seberapa, yang penting ikhlas. Pasti mereka juga bahagia menerimanya," ucapan Micho masih saja membuatnya takjub, saat Amara protes untuk memberikan beberapa pakaian anak panti di Mol.
Bukan maksud pelit atau ngirit, bagi Micho dari pada membeli 5 baju dengan harga fantasi. Lebih baik membeli 10 baju dengan harga sedang, karna akan menumbuhkan lebih banyak senyuman dari bibir anak yang mendapatkannya tanpa membuat dirinya keberatan.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang atau masih mau jalan-jalan?" tanya Micho sambil menatap ke arah Amara. Amara melirik jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan pukul 22.00.
"Kita pulang aja deh mas, udah malam juga kan?" sahutnya. Micho mengangguk dan melajukan mobilnya menuju ke Apartemen.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di apartemen. Amara dan Micho saling berpandangan, ada rasa canggung diantara keduanya. Amara tampak memejamkan matanya. Dirinya dan Micho telah sama-sama saling mengungkapkan perasaan. Lalu bagaimana jika Micho meminta haknya? Amara terus berpikir yang tidak tidak. Amara menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, menunggu apalagi? Apa kau tak ingin keluar?" tanya Micho. Amara tersenyum dan segera keluar dari mobil dengan langkah tergesa. Micho mengeryitkan dahinya. Dia rasa ada yang aneh dengan tingkah istrinya. Micho mengikuti langkah Amara hingga mereka berada di dalam kamarnya.
Amara segera menuju ke kamar mandi setelah meletakkan beberapa paperbag, jatungnya terasa berdetak lebih kencang. Amara menyandarkan tubuhnya di pintu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Tuhan, kenapa mendadak aku gugup sekali?" ucap Amara lirih.
"Sayang, mau apa? Jangan lama-lama," teriak Micho sambil mengetok pintu. Amara tampak memejamkan matanya, mencoba meminta jantungnya untuk tenang.
"Iya, Mas. Aku mau mandi," ucap Amara.
"Cepetan,!" ucap Micho. Amara tampak gugup.
"Ya Tuhan, apa aku benar masih punya mahkota? Lantas, bagaimana rasanya? Apa sakit? Kalgau waktu itu aku merasakan sakit. Lalu karena apa? Apa rasanya jauh lebih sakit dari yang waktu itu? Tuhan," pikir Amara. Otaknya sudah traveling kemana-mana hingga ketukan pintu terdengar membuat dirinya semakin gugup.
"Ra, ngapain lama sekali? Cepetan, aku juga mau mandi Ra."🤣🙃🙃🙃.
****
Jangan lupa ritualnya Like komen dan hadiah ya...
lm
__ADS_1