
Pandangannya dengan jelas memandang orang-orang di depannya. Salah satunya adalah Erika, sahabatnya. Rayen, Tuan Milano dan Satu orang paruh baya yang sempat terdengar di telinga Amara ketika Rayen memanggilnya Om Roy.
"Apa yang kalian inginkan?" teriak Amara sambil menatap satu persatu manusia yang berdiri mengelilinginya.
Mereka tertawa serentak, membuat nyali Amara sedikit menciut. Bagaimana bisa orang yang menyekapnya adalah orang yang sempat dekat denganya? Terlebih lagi Erika, sahabatnya.
"Erika," lirih Amara.
Pandangannya dengan jelas memandang wanita di depannya. Wanita yang pernah menemani harinya semasa kuliah.
Erika maju beberapa langkah ,sedangkan Rayen, Tuan Milano dan Pria paruh baya itu keluar memberi kesempatan pada Erika untuk bercengkrama dengan sahabatnya, lebih tepatnya musuh dalam selimut. Kini hanya mereka berdua di tempat yang sempit itu.
"Apa salahku? Kenapa kau begitu jahat Erika?"
tanya Amara, Erika tertawa dan menatap tajam kearah Amara.
"Kau bilang apa salahmu? Pertanyaan bodoh macam apa yang kau ucap?" tanya Erika sambil menatap Amara dengan tajam. Erika menarik Rambut panjang Amara. Amara merintih kesakitan. Wajahnya tampak merah menahan rasa sakit. Jika tidak terikat sudah pasti dia akan melawan manusia laknat di depannya.
"Aku tak tau apa salahku, aku tidak ada salah padamu Erika," ucap Amara lagi. Erika mengeluarkan pisau tajam dan mengoles di leher Amara, membuat rasa ngilu pada hati Amara.
"Salahmu kamu terlalu sempurna Amara, kamu terlalu sempurna. Kamu selalu mendapatkan apa yang aku mau, kamu selalu mendapatkan apa yang menjadi impianku," lirih Erika. Ia memainkan pisau di lehernya, membuat Amara memejamkan matanya.
"Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan Erika, kamu salah paham. Tolong lepaskan aku," ucap Amara.
Erika tampak emosi, ia menarik Rambut Amara dan mencengkram kuat lengannya. Amara mebelalakan matanya, dan hanya bisa meneteskan air matanya.
"Lalu apa yang sebenarnya?" bentak Erika.
"Apa kau pernah merasakan kehilangan, Amara? Kehilangan orang yang kamu sayangi dan itu disebabkan oleh sahabatmu? Rayen kau ambil, Dinda, Nada, semua meninggalkan aku karnamu!" bentak Erika, dia semakin menarik rambut Amara, semakin membuat Amara kesakitan. Amara mengerang menahan sakit.
"Arghhh ..."
Amara merasakan kram di perut bawahnya, dia menutup matanya. mencoba menahan rasa sakit yang diberikan Erika.
"Sakiti aku jika itu membuatmu puas. Lakukan saja Erika, tapi kau harus tau aku tidak pernah berniat untuk itu," ucap Amara di sela isak tangisnya. Erika tersenyum sinis, dia juga mengeluarkan air mata.
"Kamu tidak pernah tau rasanya di jauhi teman. Tidak pernah tau rasanya ditinggal oleh orang yang kau cintai, kamu tidak pernah tau rasanya diabaikan oleh orang yang kamu sayangi? itu menyakitkan Amara, menyakitkan! Dan semua terjadi padaku karna ulahmu!" ucap Erika. Dendam menguasai hatinya, sedang Amara tak pernah berniat seperti itu. Erika tampak menghapus air matanya.
__ADS_1
"Dan yang lebih menyakitkan lagi, kamu selalu beruntung walau beberapa kali aku mencoba menghancurkanmu," teriak Erika.
Erika menghempaskan kepala Amara hingga kembali membentur. Lagi-lagi Amara menutup mata menahan rasa sakit yang menusuknya. Amara membelalakan matanya. Air matanya mengalir deras.
"Jadi semua yang terjadi padaku atas ulahmu?" tanya Amara di sela isak tangisnya. Erika tersenyum licik.
"Ya, semua karna aku, preman itu datang karna kemauanku. Bahkan kejadian 4 tahun yang lalu," ucapnya.
Amara semakin terisak, 4 tahun yang lalu adalah hari dimana dia bertemu dengan sebuah tragedi yang membuatnya terluka dan tersiksa. Tragedi dimana dia mengjancurkan sebuah pernikahan. Amara meneteskan air matanya, bahkan Micho manusia yang telah memolongnya merasakan akibat dari ulah yang di perbuat Erika.
"Mas Micho, maafkan aku," lirihnya.
"Perlu kau tau Nona Amara, kali ini Tuan Milano dan Rayen ternyata mempunyai dendam yang sama kepadamu. Nikmati detik-detik kelenyapanmu Amara, aku akan bahagia jika kamu enyah dari dunia ini," ucap Erika dengan senyum liciknya.
Amara hanya mampu terdiam, bagaimana bisa semua ini terjadi? Amara memejamkan matanya. Micho menguasai pikirannya.
"Erika aku yakin kamu tidak sejahat ini. Cobalah berfikir jernih, kita bicarakan secara baik. Aku tidak pernah berniat merebut mereka, tolong Erika, tolong maafkan aku jika aku salah di matamu," lirih Amara sambil menatap Erika berharap belas kasih pada temannya itu.
"Rasa sakit yang kamu rasakan, tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan Amara," ucap Erika. Erika menghela napasnya dan memejamkan matanya.
"Jangan meratapi kesedihan dengan cara yang salah Erika. Bahkan aku sudah merasakan sakit karna ulahmu, merasakan kecewa dan menderita karna tingkahmu, lalu apa lagi?" ucap Amara.
Erika mencengkram dagu Amara, membuat wanita itu mendongak dan menatap ke arah Erika. Peluh membasahi dirinya, membuat kepedihan di dahinya yang berdarah. Terlebih luka di hatinya yang menerima kenyataan ini.
"Cukup Amara. Jangan mendongengiku, jangan berharap aku kasihan dan kemudian melepaskanmu. Disana pembunuh bayaran telah di sewa oleh Tuan Milano untuk menghabisimu, selamat menikmati detik-detik kematianmu, Amara sayang." ucap Erika kemudian melenggang pergi.
Amara hanya menggelengkan kepalanya. Air mata terus menetes. Bayangan Micho menari di pelupuk matanya. Ternyata Micho memang tak sejahat yang dia pikirkan dulu.
Waktu terus berlalu, memberikan sejuta rasa yang membelenggu.
Jika kamu bertanya apa itu bahagia?
Jawabanya adalah Kamu. Kamu, suamiku.
Garis takdir sudah tertulis rapi olehNYa. Jika saat ini aku harus menutup mataku, maka kamu harus yakin bahwa ini adalah yang terbaik.
Namun, jika waktu masih berpihak padaku. Tuhan akan memberikan aku kesempatan untuk sekedar bisa memelukmu. memelukmu sejenak saja.
__ADS_1
Cinta?
Ya, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu dan sangat mencintaimu. Tuan Micho aditya pratama.
lirih Amara di dalam isak tangisnya, ia memejamkan matanya menahan gejolak rindu yang menyiksa batinnya. Dalam setiap helaan napas, nama Micho selalu mengiang di otaknya. Berharap lelaki itu datang dan menyelamatkannya.
Terdengar suara hentakan sepatu mendekat ke arahnya. Amara membuka matanya, dilihatnya Tuan Milano dan Rayen berjalan ke arahnya dan menatap dengan sorot mata yang mengejek.
"Halo, Nona muda Rusdiantoro. Masih mampukah kau sombong di hadapanku saat ini?" tanya Tuan milano sambil meletakan telunjuknya di pipi Amara, membuat Amara memalingkan wajahnya.
"Wah, ternyata kau masih saja angkuh, bagaimana kau siap untuk menghadap ilahi? Oh, siap tidak siap kau harus siap. Kecuali kau mau menerima pernikahan dengan Rayen, putraku," ucap Tuan Milano sambil menepuk pundak Rayen yang memandang ke arah Amara. Amara terdiam.
"Tidakkah kau berfikir bagaimana berjaya kita semua jika pernikahan ini terjadi? Kita akan menjadi keluarga yang kaya raya, Amara." ucap Rayen.
Amara masih terdiam, jadi keserakahan yang membuat mereka seperti ini? Keserakahan dan ambisi yang membuat mereka bertindak seperti ini? Amara memggelengkan kepalanya.
"Jangan harap, aku tidak akan pernah mau untuk itu Rayen," ucap Amara. Rayen tampak Murka dia maju beberapa langkah dan menarik kasar Rambut Amara. Amara hanya mampu memejamkan matanya, manahan sakit dan merapalkan doa pada sang maha pencipta.
****
Mata Micho merah padam seakan ingin sampai di tempat dengan cepat. Kini dia berada satu mobil dengan Raka. Sedangkan Rafa membawa beberapa orang dan berada dalam jalur lain.
"Micho, jangan membahayakan nyawamu!" bentak Raka.
"Bahkan Nyawaku tidak berguna, jika Istriku sampai celaka kak," ucap Micho.
Raka diam. Saat ini bukan saat yang tepat untuk menasehati adik iparnya itu, dia merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Micho saat ini.
"Ini Salahku, Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini. Arghhhh..." Micho mengumpatti dirinya tak karuan.
"Shittt," umpatnya lagi ketika lampu merah menyala.
"Micho tenangkan dirimu!" ucap Raka.
Raka mengambil Alih kemudi, dia tidak mau gegabah dan kehilangan nyawa secara sia-sia.
*****
__ADS_1
"Zidan, aku tidak bisa bersabar lagi. Putriku dalam bahaya, aku harus segera bertindak..." seseorang tampak mematikan ponselnya dan mengepalkan tangannya.
****