Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Kepala batu


__ADS_3

Perkelahian mereka begitu tegang hingga pada saatnya prayoga datang dan membuat mereka menghentikan Perkelahian.


"Hentikan! "


Suara itu terdengar nyaring, Micho dan Rafa saling menatap dan melepaskan cengkeraman. Micho mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Rafa juga melakukan hal yang sama. Prayoga menatap 2 orang itu bergantian.


"Hentikan, kita selesaikan masalah ini di ruang tamu." ucap Prayoga kemudian melenggang pergi. Rafa dan Micho saling menatap marah, kemudian mengikuti langkah prayoga.


Di sebuah ruangan, Prayoga berhadapan dengan Rafa, sedangkan Micho berhadapan dengan Amara. Beberapa teman Amara dan juga Damar tidak diperkenankan untuk masuk, mereka menunggu di luar dengan perasaan was-was.


"Micho, Nona Amara mengatakan pada Papa jika kamu telah melakukan hal yang merugikan dirinya. Nona Amara memintamu untuk menikah dengannya. Papa mohon, penuhi apa yang menjadi keinginannya." ucap Papanya. Micho terdiam, namun netranya melirik kearah Amara yang tampak mengusap Air matanya.


Amara menghela napas panjang, kenapa dirinya tampak seperti pengemis yang meminta belas kasih? Kenapa dirinya menjatuhkan harga diri yang selama ini dia jaga didepan semua orang, hanya karna untuk meminta pertanggungjawaban? bukan itu yang menjadi keinginan Amara. Wanita yang mengira dirinya sudah tidak suci lagi itu tidak ingin mengecewakan orang yang nanti akan menjadi pendamping hidupnya.


Okey, permainan segera dimulai Nona Amara. Kau akan menderita karna prasangka mu yang negatif itu. Kau telah menghancurkan kebahagiaan ku. Maka jangan harap hidupmu bisa bahagia. batin Micho.


"Aku tidak akan menikah dengannya," ucap Micho sambil memandang ke arah luar, mengabaikan sorot mata tajam 3 orang yang berada di depannya.


"Jangan Main-main denganku. Aku Akan menghancurkan perusahaan ayahmu jika kamu menolak untuk menikahinya." ucap Rafa dengan sorot mata dinginnya.


"Aku tidak perduli, sampai kamu bersujud di kakiku pun. Aku tidak akan menikah dengan Adikmu," ucap Micho lagi. Rafa berdiri dan menggebrak meja. Sedangkan Amara merasakan sesak di dadanya, penolakan yang dilakukan Micho benar-benar melukai hatinya.


"Laki-laki macam apa kau itu? Kenapa melakukan itu pada adikku! " bentak Rafa.


"Tanya pada adikmu, apa yang aku lakukan padanya? Mana buktinya jika aku melakukan sesuatu padanya? " bentak Micho lagi.

__ADS_1


Rafa menghela napas panjang dan melirik adiknya yang menundukkan kepalanya. Air mata Amara bertubi keluar dari matanya. Hatinya sesak sekali. Apa yang bisa dia lakukan? Micho seakan menolaknya tetapi dia juga tak menampik tuduhanya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?


Amara dengan jelas mengingat tetesan darah di seprai lusuh, Micho yang saat itu berkostum seperti preman juga menguatkan instingnya. Hanya ada dia disana, dan tak ada 4 preman yang membawanya ke sana. Apa yang terjadi jika memang Micho tak melakukan hal menjijikkan itu? darah siapa yang menetes jika bukan darahnya?


"Rara," ucap Rafa sambil memegang pundak Amara yang terhuyung lemah. Rafa menatap Micho dan Amara bergantian. Siapa yang harus dia percaya? dalam hatinya memang tak percaya jika Micho melakukan itu. lalu, apa yang harus dia lakukan? mendesak Amara untuk mengingat hal yang sebenarnya? bukankah Nada sudah menceritakan betapa kacaunya keadaan Amara saat itu? masih sanggupkah dirinya menekan perasaan Amara yang terpukul? Rafa menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kita pergi, Kak." ucap Amara. Tangisnya pecah sambil menatap Rafa dengan penuh permintaan.


"Tapi, Ra! " Sanggah Rafa.


"Bagus jika kau sadar diri, Nona. Kau telah menghancurkan pernikahanku dan kau meminta ku untuk menikahimu? hatiku bukan mainan yang mampu kau kendalikan dengan harta dan kekuasanmu," ucap Micho. Amara menghela napas panjang dan berjalan kearah Micho.


Keduanya saling menatap, Micho mengamati wajah cantik gadis yang sebaya dengan Sabrina itu. Entah mengapa perasaannya berdesir ngilu menatap wajah cantik yang sembab karna air mata itu.


"Aku minta maaf, hanya kamu dan aku yang tau tentang kebenaran malam itu. Kau boleh menolak menikah denganku. Tapi ingatlah, bahwa aku akan menjadi sebuah ancaman bagi pernikahan mu. Mau sampai kapanpun, aku akan menjadi ancaman, aku tidak akan membiarkan manusia seperti mu bahagia diatas penderitaan ku. Jangan harap bisa menikah, Tuan Micho aditya Pratama." tegas Amara. Micho menatap sinis kearah Amara.


"Kau pikir aku tidak membencimu? Bahkan aku sangat membencimu, aku tarik kata-kataku untuk meminta menikah denganmu. Aku cukup tau saja bahwa ada manusia menjijikkan seperti mu," ucap Amara sambil menepis telunjuk Micho yang berada di depannya. Amara menghela napas panjang dan berlari meninggal apartemen Micho.


Rafa menatap tajam ke arah Micho.


"Jangan harap kau bisa bahagia setelah ini Micho, kita belum selesai." ucap Rafa kemudian melenggang pergi. Prayoga menatap kearah Micho dan menepuk pundak Anaknya.


"Jangan membahas masalah ini, Pa. Aku lelah." ucap Micho kemudian melenggang pergi.


😌😌😌

__ADS_1


Amara berlari kearah kamar hotelnya. Amara yang berlinang air mata beberapa kali menghela napas panjang. Hatinya terasa sesak, sakit, dan perih. Mengingat semua kejadian demi kejadian membuat dirinya semakin terluka.


"Ra, sebaiknya kita pulang. Kakak akan membuat perhitungan untuknya, kakak tidak akan membiarkannya hidup tenang karna membuatmu menangis." ucap Rafa. sambil menatap Amara dan mengusap air matanya. Mungkin Rafa tidak percaya jika Micho melakukan hal itu, tapi Rafa tetap saja benci jika adiknya meneteskan air mata.


"Kak, lupakan hari ini. Jangan lagi mengungkitnya. Jangan pernah lagi membahas tentang ini. Aku juga mohon jangan menceritakan apapun pada mama dan papa. Cukup kita yang tau, aku akan hidup baru dengan lembaran baru. Aku akan pergi melupakan luka ini, " ucap Amara. Rafa merengkuh adik kesayangannya dalam dekap hangatnya.


"Kakak setuju, kakak akan menyimpan rahasia ini." ucap Rafa.


"Kakak juga harus berjanji untuk tidak melakukan sesuatu untuk Micho. Aku salah karna menggagalkan pernikahannya, Kak. Aku mohon lupakan tentang hari ini" ucap Amara. Rafa menghela napas panjang dan mengangguk.


"Terimakasih, Kak."


aku akan berusaha membahagiakan diriku sendiri. Aku akan pergi ke negara P untuk mengejar cita-citaku dan meraih kebahagiaan ku. batin Amara.


👌👌👌👌👌👌👌


Damar menatap kearah Micho dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu terlalu menggantung kebenarannya, cobalah mengerti perasaannya." ucap Damar.


"Biarkan wanita sepertinya mendapatkan hukuman," ucap Micho.


"Sabrina dan keluarganya benar-benar murka dan enggan menemuiku, mereka sudah memutuskan kontak pergi entah kemana. Ini hal yang sangat menyakitkan bagiku, Damar." ucap Micho. Damar menghela napas panjang dan mengangguki ucapan Micho.


Beberapa saat kemudian ponsel Micho berdering. Micho melirik ponselnya. Micho mengerutkan keningnya. Menejer restauran miliknya tengah menghubunginya.

__ADS_1


Ada apa? batin Micho.


🙂🙂🙂🙂


__ADS_2