
"Kenapa mereka selalu menghantui otakku?"
Micho mengusap kasar wajahnya. Apa yang sebenarnya ada di otaknya. Takut untuk menghadapi mantan di negara I atau takut jika akan kehilangan jejak Amara dan tidak bisa balas dendam padanya?
"Apa yang membuatmu terlalu banyak berfikir?" tanya papanya. Micho hanya diam tak menyahut.
"Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja aku masih ragu untuk memimpin perusahaan itu, aku takut papa mengambil yang bukan hak papa." ucap Micho.
"Micho, papa tau apa yang baik dan tidak. Jangan memikirkan itu, sekarang tugasmu hanya mengelola saja." ucap Prayoga sambil menepuk pundak Micho dan berlalu.
"Pa, boleh aku bertanya?" ucap Micho sehingga menghentikan langkah Prayoga.
"Jika tentang perusahaan lain waktu saja," ucapnya.
"Bukan itu," ucap Micho. Prayoga memutar langkahnya dan menatap Micho.
"Ada apa?" tanya Prayoga.
"Bolehkah aku tau siapa orang tua kandungku, Pa?" tanya Micho. Prayoga tampak sedikit pias kemudian memutar kembali langkahnya.
"Pa," ucap Micho.
"Bukankankah papa sudah bilang itu tidak penting? Kamu anakku, dari kecil aku yang mengasuhmu."ucap Prayoga kemudian melenggang pergi.
Micho menghela napas panjang, Prayoga selalu enggan membahas itu. Lalu, siapa sebenarnya sepasang lelaki perempuan yang selalu muncul seperti film tetapi tidak jelas diotaknya itu? Micho menghela napas panjang.
Micho meraih ponselnya dan dan menghubungi Damar.
"Ada apa Bos?"
__ADS_1
"Segera kembali dan cari tau siapa pemilik senjata api ini," ucap Micho.
"Baik bos,"
"Besok kita harus ke negara I, aku harap kamu mempersiapkannya dengan baik, Kerahkan orang terpercaya untuk menghendel disini, " ucap Micho kemudian menutup lagi ponselnya.
Damar menggenggam erat peluru yang ada ditangannya, dia sudah mengantongi beberapa komplotan yang mempunyai senjata itu. Damar menghela napas panjang.
"Apa yang mereka mau?" batin Damar.
*****
Sheyna Boutique, hari ini begitu ramai pengunjung. Nada dan beberapa karyawan tampak sibuk melayani customer yang berdatangan. Akan tetapi, waktu yang sudah menunjukan pukul 09.00 tidak menampakkan wajah Owner Syena Boutique.
"Emy, kamu sudah melihat Bu Amara?" tanya Nada pada pegawainya.
"Pagi, Sayang,"ucap Elysa sambil mencium pipi Nada.
" Pagi Tante," sahutnya.
"Kenapa tampak panik? Dimana Amara?" tanyanya.
"Amara belum Ada kelihatan, tante. Aku jadi kawatir, Bi Ira juga tidak bisa di hubungi. Tadi aku juga tidak berfikir untuk menghampiri nya, biasanya Amara berangkat lebih pagi dari aku," ucap Nada.
"Ya sudah, kamu tetap disini. Tante akan ke apartemen, kali aja Amara masih Ada di sana," ucap Tante Elysa. Nada sedikit tenang kemudian tersenyum.
"Terimakasih, Tante." ucap Nada. Elysa segera menancap gas mobilnya menuju ke apartemen Amara. 30 menit berlalu, Elysa segera turun dan mengetuk pintu kamar.
"Bu Elysa." sapa Bu irah.
__ADS_1
"Apa Amara masib di rumah?" tanya Elysa sambil berjalan masuk.
"Nona Amara tidak menyahut panggilan saya, Bu." ucap Bu Irah.
"Sudah lama?" tanyanya.
"Berualangkali, Bu." ucapnya.
"Bibi ada kunci duplikat?" tanya Elysa. Bisa irah tampak sibuk mencari dan pada akhirnya menemukan duplikat kunci kamar Amara. Elysa segera menaiki tangga dan menuju dimana Kamar Amara berada. Dengan cepat Elysa membuka pintu dan mendapati Amara masih menggunakan Dres dan jaket semalam. Elysa mendekat dan memegang dahi Amara, yang benar saja badan Amara pantas sekali.
"Bibi, tolong hubungi Dokter Mia. Minta datang kesini sekarang juga." ucap Elysa sambil membenahi posisi Amara. Elysa tampak kwatir kemudian menekan tombol kotak Micho.
Micho yang tengah Berkut at dengan laptop melirik ponselnya.
"Tante Elysa?" gumamnya.
"Iya tante, Ada apa?"tanya Micho antusias.
"Micho bisa kesini, Nak?" tanya suara disebrang.
"Tante dimana? Apa di rumah?" tanya Micho lagi.
"Tante ada di rumah Amara. Amara demam, wajahnya pucat sekali Micho, tante menghubungi Joy dan Om Herman tidak bisa. Bahkan Dokter pribadi tante juga belum datang, Bisa kamu datang? Tante share lokasinya," ucap Elysa.
Sebelum sempat Micho menjawab, Elysa sudah mematikan ponselnya. Micho menghela napas panjang. Amara sakit? tanyanya dalam hati. Tanpa menunggu lama, Micho
menancap gas mobilnya menuju ke alamat yang di kirimkan oleh Elysa.
🤭🤭🤭🤭
__ADS_1