Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
118


__ADS_3

Micho menempelkan hidungnya pada hidung Amara, melingkarkan tangannya di pinggang Amara.


"Ya aku percaya itu, walaupun aku menyadari setelah sekian lama kita tenggelam dalam kesalahpahaman," ucap Micho sambil tersenyum.


"Pasti kamu mencoba membohongi ku," tukas Amara sambil mendorong pelan tubuh Micho. Mana ada jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukankah waktu itu dihatinya masih ada Sabrina?


"Mana ada kebohongan. Aku berkata jujur, Nyonya," ucap Micho. Amara menghela napas panjang, mencoba memahami ucapan Micho.


"Apa karna aku cantik?" tanya Amara narsis sontak membuat Micho tertawa.


"Karena kamu mencuri separuh hatiku bersamamu," ucapnya. Amara tersenyum-senyum menampakan rona merah di pipinya.


"Jangan mencoba menggodaku," ucap Amara sambil meletakkan kedua tangan di dada bidang Micho.


"Aku tidak menggodamu, Nyonya," ucap Micho dengan lembut kemudian mengusap bibir Amara dengan ibu jarinya. Membuat gelora hasrat panas kembali muncul dalam dirinya.


"Kau jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkinkah? Padahal pertemuan kita sangat memprihatinkan, dihatimu juga masih ada sabrina kala itu," ucap Amara.


Micho diam, ia menatap kearah Amara dan melepaskan pelukannya. Bahkan sampai sekarang dirinya belum sempat membawa Amara bertemu dengan mantan yang sekarang adalah ipar baginya itu.


"Iya, sangat memprihatinkan. Sampai aku harus kehilangan tender besar karna ulahmu." Micho mengulas senyuman yang mampu menggetarkan jiwa Amara. Amara menatap Micho dengan penuh tanya, bagaimana bisa? Apa yang dilakukan dirinya sehingga Micho kehilangan tender?


"Apa yang aku perbuat? Aku hanya menamparmu-kan?" tanya Amara sedikit menekan kata-katanya.


"Bukan itu pertemuan pertama kita," ucap Micho. Amara tampak terkejut, bukan itu? Lalu kapan? tanya batinya.

__ADS_1


Micho tampak mengambil sesuatu dari saku celananya. Micho memperlihatkan sebuah id card mahasiswa yang menampakan wajah imut Amara 4 tahun lalu. Amara tersentak kaget.


Amara mengulurkan tangannya dan mengambil id card itu. Dia memandang id card itu kemudian menatap ke arah Micho.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Amara. Dia ingat betul, benda itu hilang sehabis dia wisuda. Entah dimana, dan itu bukan lagi hal penting baginya karna kelulusan sudah dia lewati.


"Kafe Depan kampus, menjelang malam. Kamu ingat saat itu kamu menabrak orang yang membawa beberapa tumpukan berkas? Berkas itu berantakan dan kamu pergi entah kemana?" tanya Micho.


Amara menerawang jauh, ya dia ingat. Nada menelpon dirinya mengatakan jika ibunya masuk rumah sakit. Amara tampak terburu dan mengabaikan segalanya.


"Jadi aku menghancurkan meetingmu?" tanya Amara sambil tersenyum takut. Micho menangkup kedua pipi Amara dan memiringkan wajahnya.


"Hem, dari sini aku tau namamu. Tau wajah cantikmu, dari sini setiap harinya aku memandangmu. Walaupun saat itu kebencian mendera hatiku," ucap Micho. Amara memejamkan matanya.


"Apa karna kamu kesal padaku makanya kamu sengaja mencoba mengerjaiku malam itu?" tanya Amara. Ia menatap lekat wajah Micho penuh tanya.


"Maafkan aku, Mas. Aku menghambat kebahagiaanmu." Amara yang memang mempunyai hati yang sangat lembut tampak menitihkan air mata. Micho mengusap wajah cantik istrinya dan mencium puncak kepala Amara.


"Kenapa menangis? Aku sudah melupakannya, justru sekarang aku bahagia. Sangat bahagia bersanding denganmu. Suatu hal yang sangat indah cara Tuhan menjodohkan kita, aku sangat mencintaimu Sayang," ucap Micho.


Amara semakin terisak, Micho membawa Amara dalam dekapannya. Membiarkan Amara mendapat kenyamanan dalam dada bidangnya.


"Aku sudah bertemu Sabrina dan Andika, aku juga meminta maaf kepada mereka. Urusanku dengan mereka telah usai," ucap Micho.


"Kenapa tidak mengajakku?" Amara mendorong Micho dan memanyunkan bibirnya menatap Micho.

__ADS_1


"Aku tak sengaja bertemu mereka saat memberikan hadiah yang kau beli di pasar malam kemarin untuk anak panti," ucap Micho. Amara terdiam dan tampak masih kesal.


"Apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya Amara.


"Aku memberikannya martabak kesukaannya," sahut Micho. Ucapan Micho membuat Amara merasakan ketidak nyamanan. Sesak menyeruak di dadanya. Amara memejamkan matanya, melelehkan buliran air mata yang mewakili perasaannya.


"Jangan salah paham, aku hanya membantunya. Itu adalah bentuk perminta maafanku padanya, dan tanda pertemanan kita. Andika adalah sepupuku, mana bisa aku membiarkan pertengkaran terus terjadi diantara kami," Micho mengusap pelan pipi mulus Amara.


Amara tampak sedikit tenang jadi Andika sepupunya? Jadi, Sabrina adalah Iparnya? Apa takdir serumit ini? Apa ini juga cara Tuhan memperlihatkan bahwa jodoh tak akan pernah teetukar?


"Aku percaya padamu, Mas." ucap Amara. Amara mengalungkan kedua tangannya di leher Micho. Ia menatap lekat wajah Micho dan tersenyum. Micho lagi-lagi harus melihat sisi baik Amara, wanita itu benar-benar sangat bijaksana.


"Sepertinya Sabrina hamil, makanya ngidam martabak," ucap Micho. Mendengar nama itu masih saja membuat Amara sebal. Meskipun Micho telah mengatakan dirinya hanya menganggap Sabrina teman dan ipar. Mungkin karna belum terbiasa, lama kelamaan dia pasti akan bisa menyesuaaikan.


"Aku sangat mencintaimu, segera ramaikan hari kita dengan datangnya makhluk disini, jadilah ibu untuk darah dagingku. Jadikan aku seorang ayah untuk mereka," ucap Micho sambil mengusap pelan perut datar Amara. Amara membelalakan matanya, lelehan air mata kembali membasahi pipinya.


Kini dia begitu yakin akan cinta Micho. Sangat yakin. Amara berhambur kedalam pelukan Micho, Amara sangat terharu. Micho mampu membuat hatinya melayang. Meminta dirinya untuk menjadi ibu dari anaknya? Sangat membahagiakan.


Micho menerbitkan senyuman yang sangat manis. Dia mendekatkan bibirnya di telinga Amara.


"Boleh aku mencoba berikhtiar sekarang?" goda Micho. Amara mengangguk pelan, dia tak sanggup untuk menolak. Rasa ragu yang tadinya masih bersisa di hatinya lenyaplah sudah. Olive hanya sebuah alibi untuknya, tapi saat ini tak adalagi alasan untuk menolak cinta Micho yang nyatanya sangat tulus. Micho tersenyum kemudian mengangkat tubuh Amara.


"Okey, kita main bola sekarang. Olive tak pernah bangun malam hari, kata Kak Raka," ucap Micho dan mampu membuat Amara tersipu.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Like komen dan hadiah ya, jangan lupa


__ADS_2