Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
142


__ADS_3

"Hai, selamat malam Nona," ucap Sabrina sambil mengamati punggung wanita yang menikmati indah taman bunga.


Deg


Amara merasakan deguban jantung yang cepat, suara itu mengingatkannya pada kejadian 4 tahun silam. Kejadian yang sangat menyiksanya karna rasa bersalah yang berkelanjutan.


Amara memutar langkahnya dan menatap ke arah Sabrina, ia berdiri di depan Sabrina. Keduanya saling menatap, bahkan Sabrina terkejut melihat ke arah Amara. Melihat Amara juga mengingatkan luka yang pernah tertoreh 4 tahun silam.


Jadi dia juga yang menjadi istri Micho? tanya batin Sabrina.


Dia menatap ke arah wajah cantik perempuan yang kini berada di depannya. Cantik, sopan, dia juga tampak tenang dan elegan. Berbeda dengan waktu itu yang tampak judes, menggebu, angkuh dan sombong.


Sabrina menatap Amara dari atas kemudian menatap perut datar yang kata Micho tengah mengandung. 4 tahun berlalu, dan dia baru mengandung? Apa yang terjadi sebenarnya? Dia bilang waktu itu Micho menodainya. Lalu, bagaimana yang terjadi sebenarnya? Pikir Sabrina.


Amara melangkah dan mendekat ke arah Sabrina, dia mengulurkan tangannya dan menatap Sabrina kemudian tersenyum.


"Selamat malam, Nona Sabrina. Aku Sheyna Amara, senang bertemu denganmu," ucapnya gugup.


Sabrina menatap uluran tangan Amara kemudian membalas uluran tangan wanita cantik yang tampak gugup itu sambil tersenyum juga.


"Senang juga bertemu denganmu. Em, Micho bilang kamu ingin bertemu denganku?" ucap Sabrina.


Amara memejamkan matanya, rasanya sangat senang bisa bertemu dengan wanita ini. Wanita yang pernah di cintai suaminya. Cemburu? Pasti rasa itu ada, namun dia tau Micho telah melabuhkan cinta seutuhnya untuk dirinya.


"Ya, itu benar Nona. Aku ingin memberikan hadiah ini untuk babymu." Amara memberikan sebuah bingkisan yang sengaja dia persiapkan. Dia mengambil paper bag di meja dan memberikan pada Sabrina.


"Wah, terimakasih Nona Sheyna." Sabrina tersenyum sambil menerima paper bag itu. Amara merasa lega dan bahagia atas sambutan hangat wanita cantik di depannya.


"Sebaiknya kita ke dalam, angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Apalagi kamu sedang hamil," ucap Sabrina. Amara menatap ke arah Sabrina dan menggenggam erat tangan Sabrina.


"Maaf Nona, aku meminta waktumu sebentar lagi, boleh? Ada hal yang ingin aku bicarakan Nona," ucap Amara. Sabrina tampak terdiam dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita duduk di sana, supaya kita bisa santai," ucap Sabrina. Kedua wanita itu menuju ke arah teras rumah yang nyaman. Mereka duduk dan saling berhadapan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Nona Sheyna?" tanya Sabrina sambil mengamati wajah cantik Amara yang tampak gugup. Amara menghela napas panjang dan menghembuskan pelan.


"Aku ingin mengucapkan permintaan maaf kepada anda, Nona Sabrina." Amara menatap Sabrina yang terlihat tenang, tetapi wajahnya juga menampakkan gurat kesedihan.


"Maaf?" sahutnya.


"Hem," jawab Amara santai.


" Untuk?" tanya Sabrina lagi.


"Untuk kesalahan di masa lalu, yang mungkin sangat melukai hati anda, perasaan anda," ucap Amara lagi.


Sabrina terdiam, luka? Memang dia terluka waktu itu. Namun, Tuhan ternyata memberikan hal indah yang mungkin memang tidak ditakdirkan mendapatkannya bersama Micho.


"Hei, aku sudah melupakannya," ucap Sabrina.


"Salah paham?" tanya Sabrina.


"Ya, aku salah paham sehingga melakukan hal itu. Sebenarnya Mas Micho tidak pernah melakukan tuduhan yang aku lontarkan waktu itu, Nona. Aku terjebak dalam pemikiran dangkalku. Mas Micho yang menolongku dari preman yang mencoba melecehkanku, tapi malah aku menuduhnya. Maafkan aku yang pernah melukaimu," ucap Amara, tetesan air mata masih membasahi pipinya.


Sabrina terdiam, melihat wanita di depannya membuatnya terharu. Merasa ternodai dan melakukan hal yang diluar dugaan? Itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh orang yang terkoyak karna merasa kehilangan hal yang berharga baginya. Apa salah wanita itu? Tetap salah karna menghancurkan pernikahannya, tapi Sabrina juga memposisikan dirinya pada Amara. Jika diposisi Amara, mungkin dia akan melakukan hal yang sama.


"Jikalau belum terlambat, hal yang ingin aku lakukan adalah melihat kalian kembali bersatu. Tapi nyatannya, aku mengetahui hal ini setelah aku menikah dengannya 3 bulan yang lalu, dan kaupun telah menikah," ucap Amara.


Sabrina terkejut, baru tiga bulan yang lalu? Lalu, apa dalam 4 tahun ini wanita di depannya hidup dalam kesalahpahaman, ketidak nyamanan? Astaga, apa seperti ini kenyataannya? Sabrina pikir hanya dirinya yang sedih waktu itu, nyatanya wanita di depannya juga merasakan hal yang sama.


Sabrina berdiri dan berjalan ke arah Amara. Dia memegang pundak Amara sehingga Amara berdiri. Keduanya saling menatap, Sabrina mengusap tetesan air mata Amara. Membuat Amara membelalak kaget dan bahagia. Sabrina kenapa sebaik ini? pikirnya.


"Kau tidak bisa menghakimi dirimu sendiri dengan perasaan bersalah. Kau tau, kenyataan ini membuat kita harus berpikir bahwa jodoh, rezeki dan maut telah di takdirkan oleh Tuhan." Sabrina memandang Amara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku dan Micho mungkin pernah bersama, tapi sejujurnya aku tidak pernah merasakan cinta padanya. Aku mencintai orang lain di masa kecilku yang nyatanya adalah suamiku saat ini. Seperti dirimu, aku mengetahui semua setelah pernikahan. Jadi, berbahagialah kamu dengan Micho, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu memintanya," ucap Sabrina.


Amara menatap ke arah Sabrina masih ada hal yang mengganjal di pikirannya. Tidak pernah mencintai Micho?


"Kau tidak pernah mencintainya?" tanya Amara. Sabrina tersenyum dan menggeleng.


"Micho, dia sangat baik. Wanita mana yang mampu menolak kebaikannya? Micho menyukaiku dan berharap padaku. Aku mencoba untuk memberikan kesempatan pada dirinya dan diriku untuk mencoba menjalani semua tanpa cinta di hatiku, karna aku berpikir cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Nyatanya disaat kami akan melangkah dalan pernikahan ternyata gagal karna kedatanganmu. Jadi, bukankah semua telah direncanakan Tuhan? Jodoh tidak akan pernah tertukar Sheyna. Meskipun kita memiliki awalan huruf S yang sama di nama kita," ucap Sabrina sambil tersenyum.


Amara menatap Sabrina dan meraih Sabrina dalam dekap hangatnya. Keduanya tersenyum dan saling berangkulan.


"Tuhan juga menakdirkan hal lain yang begitu mengejutkan. Suamiku dan Micho ternyata adalah saudara sepupu. Ini adalah jalan Tuhan, kau tidak perlu lagi merasa bersalah. Aku sudah menemukan kebahagiaanku dengan suami dan anakku. Berbahagialah juga dirimu," ucap Sabrina.


"Terimaksih Nona Sabrina,"


"Sama-sama Nona Sheyna,"


"Tapi kau benar bahagia bersama suamimu bukan?" tanya Amara. Sabrina tertawa dan mengangguk.


"Aku bahagia, kalau tidak percaya baca kisahku di Novel othor remahan sokhibah el jannata "Sampai Akhir Nanti" aku bahagia bersama suamiku disana, bahkan aku tidak memikirkan Micho," ucap Sabrina. Amara membelalakan matanya dan kembali memeluk Sabrina.


"Okey, kapan-kapan aku baca karya othor yang berantakan dan belum direvisi itu, di apk noveltoon kan?"🤣🤣🤣 sahut Amara.


"Iya, di apk yang gratis baca sepuasnya tanpa koin itu. Pembaca modal kuota aja, sukur sukur mau memberikan like, komen, hadiah, atau votenya itu sudah bikin othornya semangat.


"Ya udah, sebaiknya kita ke atas. Pasti kita sudah di tunggu di atas," ucap Sabrina. Amara melepas pekukannya dan menatap Sabrina.


"Sekali lagi terimakasih telah memaafkanku," ucap Amara. Sabrina mengangguk pelan.


Keduanya berjalan ke arah mansion dan bergabung dengan yang lainnya.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2