Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Kakak beradik yang kompak


__ADS_3

Sebelum sempat Micho menjawab, Elysa sudah mematikan ponselnya. Micho menghela napas panjang. Amara sakit? tanyanya dalam hati. Tanpa menunggu lama, Micho


menancap gas mobilnya menuju ke alamat yang di kirimkan oleh Elysa.


30 menit berlalu, Micho turun dari mobil dan memandang apartemen elit di kawasan kota P.


"Halo tante, aku sudah di bawah."


"Lantai 21 Micho," ucap Elysa kemudian menutup ponselnya. Micho segera berjalan ke arah lift dan memencet angka 21.


Beberapa menit kemudian, sampailah Micho di lantai 21. Micho menatap Elysa yang sudah menyambutnya di depan pintu.


"Tante, bagaimana? Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit?" tanya Micho. Elysa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Dokter Mia sudah datang tadi, maaf tante merepotkanmu," ucap Elysa. Micho mengangguk pelan.


"Lalu, bagaimana keadaan Amara?"' tanya Micho hingga membuat ini satu anak itu tersenyum m


" Amara sudah lebih baik, panasnya sudah turun. Ayo! Kita lihat keadaannya sekarang, kamu mengkhawatirkannya? " goda Elysa kemudian berjalan menuju ke arah apartemen Amara. Micho hanya terdiam menanggapi ucapan Elysa.


Micho tampak sedikit takjup masuk di apartemen itu, pandangan matanya tertuju pada sebuah dinding yang memperlihatkan bingkai foto keluarga besar yang bahagia.


Foto Amara, Raka, Rafa beserta kedua orang tuanya. Micho menghela napas panjang hingga ingatannya melayang memikirkan kejadian beberapa tahun yang lalu.


Flash back


Alea Bianca Natasha, gadis cantik itu tengah menangis pilu, membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ibunya. Micho yang kebetulan sedang lewat di kasir rumah sakit mendengar obrolan Alea dengan Kasir. Micho tak bisa melihat temanya menangis itu mencoba mendekat dan membantu membayar semua biaya rumah sakit untuk ibu Bianca.


Bianca yang masih menangis tampak merasa lega. Micho mengajak Bianca untuk makan malam di sebuah tempat makan terdekat.

__ADS_1


"Tenanglah Bi," ucapnya saat sudah berada di restaurant.


"Aku tidak tau lagi harus bagaimana kak, Aku janji akan mengembalikan suatu saat nanti," ucapnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, makanlah." ucap Micho." ucap Micho.


"Aku keluar sebentar Ada urusan," ucap Micho kemudian melenggang pergi.


Disebrang sana, Rafa yang melihat keakrapan antara Micho dan Bianca mengepalkan tangannya.


"Rafa, kamu disini? baru saja Aku mau memberi tahu kalau Bianca Ada di sini, udah disini aja lo." ucapnya Micho yang menyadari Rafa Ada disana. Micho mendekat ke arah sahabatnya. Rafa terdiam dan tak menjawab ucapan Micho.


"Rafa," panggil Micho pada Rafa.


Micho merasa Ada yang tidak beres, apa Rafa salah paham? Ya Bianca adalah gadis yang di suka Rafa. Namun, Bianca tak pernah mau menjawab ungkapan cinta Rafa. Gadis itu hanya ingin menyelesaikan kuliahnya dan membantu ayahnya membiayai pengobatan ibunya.


"Rafa,"


"Bisa aku jelaskan Rafa, tolong dengarkan aku." ucap Micho. Rafa menggelengkan kepalanya dan memukul Micho hingga terjadi perkelahian di antara mereka. Bianca keluar dari restauran dan mendekati keduanya.


"Berhenti," bentak Bianca.


"Kak Rafa, apa yang membuatmu seperti ini? Tolong jangan mencari keributan," ucap Bianca.


"Bi," ucap Rafa sambil memandang Bianca.


"Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun dari kakak. Jangan ganggu hidupku," ucap Bianca kemudian menghampiri Micho yang menyeka darah segar di sudut bibirnya. Rafa lelaki itu murka dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Kenapa kamu tidak mencoba membalas cinta Rafa?" tanya Micho pada gadis yang dikenal Rafa, Damar dan Micho bekerja paruh waktu di sebuah restaurant itu. Bianca berhenti dan menatap ke arah Micho.

__ADS_1


"Kak, aku tau siapa diriku aku bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Kak Rafa yang mempunyai segalanya." ucap Bianca.


"Itu bisa dibicarakan baik-baik Bi," jawab Micho.


"Jangan membahas ini kak, aku tidak mau memikirkannya. kesehatan ibu jauh lebih penting dari apapun saat ini." ucap Bianca.


"Tapi kau juga mempunyai perasaan pada Rafa?" tanya Micho lagi. Bianca menghela napas panjang.


"Sekarang, perasaanku tidak aku perdulikan, aku ingin fokus dengan kesehatan ibu. Kakak jangan membahas ini, ku mohon" ucap Bianca. Micho mengangguk pelan.


Flash back off


"Micho, tante keluar sebentar, tolong kamu jaga Amara. Tante akan segera kembali," ucapnya.


"Bi, aku tinggal sebentar. Biar Micho yang menjaga Amara. Bibi lanjutkan memasak," ucap Elysa dan diangguki Bi Ira.


Micho melangkahkan kakinya menuju ke Kamar Amara, langkahnya pelan sekali. Netranya memandang ke arah gadis yang kini tampak pucat dengan infus yang Ada ditangannya. Micho terus menatap wajah yang tampak cantik meskipun memejamkan matanya itu. Sebuah perasaan aneh menjawab dihatinya, hingga deringan ponsel Amara diatas nakas mengagetkannya.


Micho melirik ponsel Amara dan terlihat nama Kak Rafa memanggilnya. Micho memejamkan matanya.


"Dasar, kakak beradik yang kompak. Aku bener-benar yakin jika kalian suara sekandung, suka salah paham dan susah untuk di beri tau, dan sekarang kau terlihat posesif sekali pada adikmu sampai-sampai kau tau aku ada didepannya sehingga kau menelponya" gerutu Micho.


"Ehhh,,,," suara Amara terdengar bersamaan dengan deringan ponsel. Micho mendekat ke arah Amara.


"Kau!!" ucap Amara ketika netranya jelas memandang ke arah Micho.


🤭🤭🤭


Masih ingat Bianca?? Kenalan sama Bianca di novel "sampai akhir nanti" ya🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2