
"Ehhh,,,," suara Amara terdengar bersamaan dengan deringan ponsel. Micho mendekat ke arah Amara.
"Kau!!" ucap Amara ketika netranya jelas memandang ke arah Micho. Amara berusaha bangun, namun keadaannya yang lemah membuatnya kesulitan. Micho mendekat dan membantu Amara untuk duduk. Kedua pasang mata itu saling menatap. Lama, sehingga keduanya terhanyut dalam sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan.
Amara mengalihkan pandanganya dan mendorong Micho menjauh darinya.
"Bagaimana bisa kamu disini? Pergilah," ucap Amara lemah. Micho sedikit beraksi dan duduk di ranjang Amara, membuat gadis cantik itu beringsut mundur.
"Pergi aku bilang, kenapa masih disini!" bentak Amara, Amara merasa geram melihat Micho seakan malah menguji kesabarannya.
Micho menatap ke arah Amara dan merasa terkejut ketika melihat Amara yang mencoba bangkit. Dengan cepat Micho menahan bahu Amara dan menekannya agar tetap di posisinya. Hal itu membuat Amara histeris, bayangan masa lalu menghantui otaknya. Tubuhnya bergetar hebat, tatapan matanya tajam memandang Micho dan mencoba memberontak. Bayangan kejadian beberapa tahun silam seakan mendominasi pikiranya.
"Apa yang kau lakukan? Pergi aku bilang!" tegas Amara. Micho menghela napas panjang, apa sebegitu trauma dia sehingga seperti ini? batin Micho bertanya tanya.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu," ucap Micho tegas dengan tatapan yang mengintimidasi. Amara yang merasa aura dingin yang kuat tampak di wajah Micho tampan terpaku. Amara menghentikan gerakannya memberontak. Mata mereka saling menatap, saling beradu, hingga Amara menitihkan buliran Air mata yang jatuh tanpa diminta.
Micho merasa sedikit panik saat buliran air mata terus saja mengalir dengan sorot mata yang masih saja tajam, Micho mengusap air mata Amara dengan lembut. Amara merasakan detak jantung nya tak beraturan, sakit, takut, semua bercampur menjadi satu. Amara mencoba menguasai hatinya.
Amara kini menatap wajah Micho. Wajah tampan yang kini sangat dekat denganya. Deruan Napas Micho terdengar ditelinga Amara. Hembusan napas Micho terasa di wajahnya. Amara memejamkan mata indahnya.
Micho yang sadar akan posisi mereka saat ini yang begitu dekat segera melepaskan pegangannya, Micho berdiri dan berjalan ke arah jendela. Tangannya memegang dinding sedang tangan yang satunya berada di saku celananya. Netranya memandang gedung yang menjulang tinggi di luaran sana.
"Kenapa aku perduli dengannya? Aku membencinya, membenci dia yang telah Menggagalkan pernikahanku," ucap batin Micho. Micho mengepalkan tangannya kuat.
Amara masih terpaku menatap punggung Micho, hatinya masih saja merasakan ketakutan yang mendalam. Setalah 4 tahun kejadian itu, tak pernah sekalipun seorang laki-laki berada dalam satu kamar seperti ini.
Papanya? Bahkan pelukan papanya hanya sekali dia rasakan semenjak dia memutuskan untuk meninggalkan Negaranya. Rafa dan Raka? Bahkan saudara k,andungnya itu tak ada waktu untuk sekedar meluangkan waktu untuknya. Sampai Raka mempunyak putri cantik yang sekarang berumur 3 tahun itu dia belum sama sekali menggendongnya. Dan sekarang harus satu kamar dengan orang yang terakir kali bersamanya? Orang yang disangkanya mengambil mahkotanya? Ini sangat menyakitkan bagi Amara.
__ADS_1
"Amara, kamu sudah siuman, Nak." Tante Elysa masuk sambil membawa beberapa kantong plastik. Amara mendongak, Elysa yang menyadari Wajah Amara yang sembab segera mendekati gadis itu dan meletakkan kantong plastik di atas nakas.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Elysa sambil merengkuh Amara dalam dekap hangatnya. Elysa memandang ke arah Micho yang masih berdiri di Pinggiran jendela. Elysa melihat Micho mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak memerah.
"Sayang, apa yang terjadi? Bicara pada tante," ucap Elysa sambil memandang wajah Amara dengan kekawatiran yang luar biasa. Amara menggelengkan kepalanya. Mau menceritakan kebenaran? itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Micho, ada apa? Jangan membuat tante panik. Apa kalian bertengkar karna tante mau menjodohkan kalian?" ucap Elysa sambil berdiri dan menatap Amara juga Micho bergantian. Amara dan Micho tampak terkejut, kenapa Elysa merasa seperti itu? Micho yang semula keras sekarang tampak lebih tenang. Micho memutar langkahnya dan menatap Elysa.
"Tante, kami tidak bertengkar." ucap Micho.
"Bohong, tante bisa membaca dari wajah kalian. Okey, tante tidak akan ikut campur tentang jodoh kalian lagi, anggap saja tante tidak pernah mengenalkan kalian. Anggap saja tante tidak pernah mempertemukan kalian, Micho pergilah, maaf karena tante membuat masalah diantara kalian," ucap Elysa kemudian memyambar tasnya.
"Tante," Amara berdiri dan melepas inpus ditangannya.
"Aduh," rintihnya. Micho mendekat ke arah Amara namun Amara segera berlari mengejar Elysa.
"Apa lagi? Tante yang membuat kalian bertengkar, lebih baik kalian sudahi saja jika keberatan, tidak masalah bagi tante." ucap Elysa.
"Bukan begitu tante, maafkan Amara. Amara hanya terkejut ada Tuan Micho di kamar," ucap Amara lagi. Elysa masih saja dalam moode yang tidak baik.
"Tante, percayalah kami tidak bertengkar, iyakan Tuan Micho?" ucap Amara sambil memaksa senyuman di wajah cantiknya kemudian memandang Micho. Micho yang semula diam mencoba tersenyum setelah Amara menatapnya seakan memaksanya untuk berkata iya.
"Micho diam saja, Ra. Itu artinya kalian bertengkar." ucap Elysa.
"Tante, sebaiknya kita duduk. kita bicarakan lagi nanti, tante membawa banyak makanankan? Sebaiknya kita makan dulu," ucap Amara mengalihkan pembicaraan. Elysa tampak lebih tenang dan memandang ke arah Amara. Gadis cantik itu mengatupkan ke dua tangannya seakan mohon kepadanya. Elysa tersenyum dan menepuk pundak Amara, membuat Amara dan Micho bernapas lega.
"Okey, kalian ada dibawah kendaliku." ucap batin Elysa. Tanpa diketahui Amara dan Micho Elisa menyinggingkan senyum bahagia.
__ADS_1
"Kalo begitu kita makan, biar Bi Ira yang menyiapkan." ucap Elysa.
Mereka menuju ruang makan, sedangkan Amara yang merasa gerah menatap ke arah Elysa.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku ganti baju dulu tan, rasanya tidak nyaman sekali. Dari kemarin nggak ganti," ucapnya sambil tersenyum malu.
Micho melirik Amara, yang benar saja Amara masih mengenakan dress dusty dan juga jaket miliknya.
"Jaketnya aku kembalikan lain waktu, Tuan Micho." ucap Amara kemudian melenggang pergi. Micho tak menggubris ucapan Amara dirinya sibuk mengambil makanan di atas meja.
"Micho, apa benar-benar tidak terjadi apa-apa diantara kalian?" tanya Elysa. Micho meletakkan ponselnya dan tersenyum.
"Tidak ada apapun," ucapnya.
"Tante berharap kalian bisa bersama," ucap π€Elisa. Micho menghela napas panjang.
"Bukankah taste bilang aku harus membantu papa? Lalu, bagaimana bisa aku memikirkan itu?" tanya Micho seolah take menampik.
"Itu bisa diatur," ucap Elysa.
"Tante, aku punya ini untuk joy. Berikan padannya, ya..." suara Itu membuat Micho dan Elysa menoleh bersaman. Dilihatnya Amara turun dari tangga dengan celana pendek selutut dan kaos oblong Berwarna Pink yang longgar, rambutnya di jepit ke atas sehingga menampakkan leher jenjangnya. Anak rambut bersliweran sehingga membuat aura cantiknya begitu kuat.
Micho menikmati pemandangan yang begitu indah dan menyita perhatiannya itu, matanya enggan untuk mengalihkan pandangannya. Elysa tersenyum tipis melihat 2 insan itu bergantian.
ππππππ
__ADS_1