
Silau lampu mobil menambah kesan cantik untuk wanita yang sekarang berdiri mematung didepan sana. Lelaki tampan itu mengamati wajah cantik dari dalam mobil, perlahan lelaki itu turun dan mendekat kearah Amara.
"Apa berniat mati malam ini, Nona? " tanyanya santai. Amara merasakan detak jantung tak beraturan akibat kejadian cepat itu. Amara segera menurunkan tangannya, membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Rasa syukur Rara panjatkan karena selamat dari maut yang hampir saja menghampirinya.
"Hemm,,," deheman orang didepannya membuat Amara menghela napas panjang.
"Apa berniat bunuh diri? " tanya lelaki itu lagi, Amara menatap tajam kearah lelaki didepannya. laki-laki dengan sorot mata teduh dan ramah, namun ucapannya menyebalkan di telinga Amara.
"Bukan urusan Anda! " ucap Amara kemudian melangkah pergi. Dengan sigap lelaki itu menahan tangan Amara, membuat gadis cantik itu menepis tangan lelaki itu dengan kasar.
"Jadi urusanku karena kamu mengganggu jalanku," ucap lelaki itu lagi. Amara menghela napas panjang dan mendur beberapa langkah, keduanya berhadapan. Laki-laki itu tersenyum.
Tuhan, berikan satu wanita cantik sepertinya untukku. gumamnya.
"Aku Minta Maaf, " ucap Amara.
"Tidak semudah itu, " bantah laki-laki itu. Menatap wajah cantik Amara membuatnya jatuh hati pada wanita yang berdiri didepannya. Dia ingin mengulur waktu untuk mengetahui nama gadis itu.
"Lalu aku harus apa? " tanya Amara. Lelaki itu tersenyum dan bersandar di pintu mobil.
"Ikut aku,"
"Jangan Harap,"
"Tidak Ada penolakan,"
"Saya tidak mau menerima, "
"Masuk mobil atau aku akan memaksamu? " tanya laki-laki itu. Amara menatap tajam kearah Lelaki itu. Lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Radit," ucapnya. Amara menatap wajah tampan dengan rambut berantakan karna terpaan angin malam itu. Amara menatap tangan lelaki itu yang terukur didepannya.
"Aku bukan penjahat, apa tampangku seperti perampok? " tanyanya sambil tertawa. Amara sedikit terkejut, dia terdiam dan berfikir.
"Apa masih meragukanku? " tanyanya lagi. Amara masih saja terdiam.
"Jangan banyak berfikir, otakmu tidak sanggup menjangkau dalamnya cintaku padamu," ucapnya. Amara tersenyum mendengar gombalan receh manusia didepannya.
"Rara, " ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Radit.
"Bahkan namamu dan namaku tersatukan oleh huruf R. Mungkin kita berjodoh, Nona cantik. " ucap Radit. Amara terkekeh dan melepas tangannya dari genggaman Radit.
__ADS_1
"Sudah berapa wanita yang masuk dalam jeratan cintamu? aku rasa kau sekelas buaya darat, " ucap Amara. Radit tertawa dan memandang cantik wajah Amara.
"Aku tak pernah,"
"Tak pernah bisa menghitung jumlahnya kan?" tanya Amara sambil tertawa. Sejenak Amara melupakan kesedihannya. Amara menepi dan duduk di bawah rindangnya pohon di pinggir jalan.
Radit tertawa, bahkan pacaran dengan banyak wanita dan berganti-ganti dirinya tak pernah merasakan bahagia seperti ini.
"Jangan mengada-ngada, aku benar tidak punya pacar," ucap Radit. Amara tersenyum dan memandang Radit, menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Model kayak dirimu itu, aku sudah hafal. Bahkan tanpa mengenalmu aku tau dari sorot matamu," ucap Amara.
"Aku akan berhenti jadi playboy jika kamu mau jadi pacarku, " ucap Radit. Amara tertawa dan menatap Radit dengan tenang.
"Jangan harap Tuan, bahkan 100 orang sepertimu mu mampu aku dapatkan jika aku mau, " ucap Amara kemudian melangkah pergi.
Radit tersenyum dan memandang Amara, Pesona wanita cantik itu benar-benar membuatnya kagum.
"Ra, Tunggu." ucap Radit. Amara menoleh kearah lelaki tampan itu.
"Apa? "
"Masuklah mobilku, tidak baik wanita cantik sepertimu berkeliaran di jalan seperti ini, " ucapnya sambil tersenyum. Amara menghela napas panjang dan tersenyum.
"Aku tidak mau pulang, kau pergilah jangan memikirkanku," ucap Amara.
"Tanpa memikirkan, otakku akan berfikir sendiri." ucap Radit. Lelaki yang hanya selisih setahun dengan Amara itu berhasil membuat Amara tertawa ngakak.
"Radit, please! Jangan menjadi manusia aneh dengan tingkahmu, terimakasih telah menghiburku." ucap Amara kemudian melangkah pergi.
"Ra, aku tidak akan melupakan malam ini. Aku akan mencarimu lagi, Cantik." teriak Radit.
Amara tertawa mendengar teriakan Radit dan masuk kedalam mobil TAXI pesananya.
"Kota X, Pak," ucap Amara.
"Jauh sekali, Nona."
"Berapapun biayanya akan saya bayar." ucap Amara. Sopir taxi itu mengangguk pelan.
Disebrang jalan, sepasang mata wanita cantik tampak berbinar. Kepergian Amara menciptakan senyum tipis disudut bibirnya.
__ADS_1
😊😊😊😊
Radit yang masih tersenyum dan membayangkan wajah Amara dikejutkan dengan ponselnya yang berdering.
"Ibu? " gumamnya kemudian menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Bu.Ada apa? "
"Walaikumsalam Radit, gimana kuliahmu sudah kelarkn hari ini?"
"Iya, Bu. Radit sudah mengambil semua yang berhubungan dengan kelulusan," ucap Radit.
"Ya sudah, segera menyusul Den Micho. Kasihan kan Den Micho hanya bersama Den Damar. Nanti kamu disana ikut bantu apa yang menjadi keperluan Den Micho. " ucap ibunya.
"Iya, Bu. Radit juga mau berangkat menyusul Mas Micho. Hanya saja ada sedikit insiden, jadinya Radit berhenti. Ini juga mau jalan lagi kok Bu." ucap Radit.
"Ya sudah, hati-hati jangan ngebut," ucap ibunya.
"Iya,,,Bu. Radit berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, "
😊😊😊😊😊
Nada memarkirkan mobilnya didepan rumah mewah yang berhiaskan banyak bunga didepannya itu. Langkah kakinya terburu-buru, dirinya sedikit berlari untuk segera sampai disalam rumah. Namun, kakinya yang menginjak kubangan air dilantai yang licin membuat kakinya tergelincir, Nada terkejut dan memejamkan matanya.
Sebuah tangan kokok melingkar sempurna menahan pinggangnya dan tangan Nada dengan reflek melingkar dileher orang itu.
"Bukalah matamu, Nada." ucap lelaki itu, Nada membuka matanya. Mata indahnya memandang wajah Tampan dari makhluk yang bernama Rafael Hendra Rusdiantoro. Tampaknya lelaki itu baru saja pulang dari kantornya, melihat setelan jas yang masih melekat di tubuhnya.
Secepat Kilat Nada berdiri dan tersenyum canggung, hatinya merasakannya desiran aneh yang menjalar di hatinya. Namun berbeda dengan Rafa yang biasa saja karma menganggap Nada adalah adiknya seperti halnya Amara.
"Ada apa, Nada? dimana Rara, kenapa kamu tampak panik? " tanya Rafa.
"Ada yang ingin aku bicarakan,Kak. Ini tentang Rara, " ucap Nada. Rafa menghela napas panjang, dia tau pasti telah terjadi sesuatu dengan princes nya itu sehingga enggan pulang beberapa hari ini.
"Sebaiknya kita ke paviliun belakang. Papa dan mama mungkin sudah tidur, aku tidak mau melihat mereka khawatir jika mendengar kabar buruk dari Rara." ucap Rafa.
Nada mengangguk dan mengikuti langkah Rafa ke paviliun belakang. Mereka duduk di depan dan saling berhadapan. Rafa berdiri dan mengambil 2 kaleng minuman dingin di lemari pendingin di pojok ruangan.
"Apa yang terjadi dengan Rara? " tanya Rafa. Nada memejamkan matanya. Dia tau betul ekspresi wajah yang lebih menakutkan dari ini yang akan dia hadapi jika mengatakannya.
__ADS_1
😊😊😊😊
Hai,,, Like,komen dan Vote ya..... kasihh aku semangat...bakal up lagi jika kalian masih mendukung ku... 😅😅😅😅😅