
Rafa mengeratkan tangannya. Rasanya ingin melayangkan bogem mentah di pipi Micho Adytia Pratama yang berada di depan matanya. Emosinya melupakan kerinduan pada adik tercinta. Benar saja, Rafa menarik Micho keluar ruang rawat. Rasa penasaran kenapa Micho bisa disini hilang di telan emosi.
Rafa memberikan pukulan demi pukulan ke wajah Micho. Micho yang tadinya terdiam mulai membalas, terjadi perkelahian hebat di parkiran rumah sakit.
"Ini Karna ulahmu, mamaku harus menderita jauh dari putrinya! Kau bangsat, pengecut, hadapi aku, bukan menyakiti keluargaku!" ucap Rafa disela pukulannya. Rafa yang dulu salah paham dengan Micho mengira ini adalah bagian dari misi Micho untuk menghancurkannya.
"Kau pikir apa yang aku lakukan? Adikmu sendiri yang memilih pergi, dia juga menggagalkan pernikahanku Rafa!" teriak Micho.
Mereka saling berbagi tendangan, pukulan, hingga keduanya mengalami lebam di pipinya. Banyak orang yang menyaksikan, bahkan mengambil gambar dan vidio 2 orang tampan yang sedang berkelahi itu.
"Hentikan,!" bentak Pak Rudi yang baru datang, sambil mengamati Rafa dan Micho yang adu kekuatan. Namun, 2 orang itu tak menggubrisnya.
"Hentikan!" teriak Pak Rudi lagi. Micho dan Rafa berhenti dan memegang wajah masing-masing.
"Rafa, kamu mau membunuh mama? kenapa melakukan hal bodoh disaat yang tidak tepat?" bentak pak Rudi dengan suara lantangnya.
Rafa terdiam, Micho juga sama. Raka merangkul Amara yang masih menangis pilu di belakang papanya. Tampak petugas keamanan baru datang dan membubarkan kerumunan.
"Maaf, Pa!" ucap Rafa. Pak Rudi menatap tajam ke arah Micho dan Rafa bergantian.
"Urus pernikahan Rara pagi ini, kita coba lakukan hal yang di inginkan mama. Sekarang juga!" ucap papanya tegas.
Rafa, Micho, Amara dan Raka tercengang. Mereka terkejut dengan ucapan papanya, Amara maju dan menatap papanya.
"Menikah pa? dengan siapa?" tanya Amara, namun tidak dijawab oleh papanya.
Micho hanya diam, mendengar permintaan papa Amara membuat hatinya berdesir. Amara menikah? kenapa hatinya tak rela? Karena tidak Akan bisa balas dendam atau hal yang lain yang membuatnya tak rela?
"Baik pa, aku akan segera mengambil berkas di rumah Rayen?" ucap Rafa. Memang dari beberapa orang sababat papanya yang sering datang kerumah dan melamar Amara adalah keluarga dari Rayen. Amara terkejut dan memandang papanya.
__ADS_1
Micho memejamkan matanya. Hatinya terasa sesak. Sesak sekali, Kenapa hatinya terluka mendengar ini?
"Rayen?" tanya Amara disela isak tangisnya. Papanya terdiam.
"Bukan saatnya membantantah, Ra. Keselamatan mama jauh lebih penting dari segalanya." ucap Rafa sambil memegang pundak Amara.
Amara menatap Rafa disampingnya, Amara meneteskan air mata. Rayen? Lelaki yang selalu mengejarnya, tetapi cinta tak pernah bisa hadir untuknya. Ada banyak hal yang Rara simpan rapat tentang Rayen.Amara hanya diam, mencoba berdamai dengan keadaan.
"Sanggupkah?" lirihnya.
"Kak Rafa benar, mama lebih penting dari apapun." ucapnya. Amara memejamkan matanya, mencoba menguasai hatinya, jika ini yang terbaik untuk kesembuhan mamanya, dia akan melakukannya.
"Iya, Ra. Maaf jika kami melukaimu di hari kedatanganmu, tapi kita harus mencoba melakukan hal yang diinginkan mama, mama merindukanmu dan keinginan mama melihat kamu menikah. Semoga apa yang kita lakukan nanti, bisa membuat alam bawah sadar mama mau merespon dan keadaan mama bisa stabil," ucap Raka. Rara tersenyum dan menatap ke arah dua kakaknya.
"Aku akan bertanggung jawab atas ulahku, aku akan melakukan apapun untuk mama." ucap Amara meski dengan berat hati.
"Mau kemana, kau pemuda?" tanya Pak Rudi ketika Micho melangkah. Suara serak berat itu mampu menghentikan langkah Micho. Micho kembali menoleh. Rara, Rafa dan Raka juga menatap ke arah papanya.
"Saya sudah tidak ada urusan, saya harus pamit, Om." ucap Micho.
"Rafa, segera urus berkas pernikahannya. Kamu minta data diri darinya." ucap Pak Rudi sontak membuat 4 orang didepannya tercengang.
Rafa dan Raka melepas rangkulan dari Amara karna terkejut. Amara memelototkan matanya. Menikah? Berkas Micho? Apa maksudnya.
Micho masih terdiam, mencerna ucapan Papa Rafa.
"Apa maksud papa? Rara menikah dengan manusia keparat itu?" tanya Rafa tak trima.
"Pa, jawab." bentak Rafa sambil mengepalkan tangannya. Rafa melirik ke arah Micho. Pak Rudi masih belum bereaksi.
__ADS_1
Micho masih terdiam. Lidahnya terasa kelu, harus menikah dengan Amara? Apa takdir harus seperti ini? Setelah 4 tahun berlalu gagal menikah dan menghindari pernikahan dengan Amara. Lalu, sekarang takdir seakan memintanya harus menikah dengan Amara juga? Gadis yang menghancurkan pernikahannya? Micho memejamkan matanya. Entah hatinya merasakan apa, campur aduk tak karuan.
Amara menatap papa juga kakaknya bergantian. Rafa, Rafa bejalan kearah Micho dan menarik kerah baju micho. Micho mengepalkan tangannya.
"Bangsat, kau. Apa yang kau inginkan dariku keparat? Kenapa kau menghancurkan kebahagiaan keluargaku,!" ucap Rafa, Rafa menendang memukul Micho tanpa Ampun. Micho tak membalas, bahkan rasa sakit yang diberikan Rafa tak sebanding dengan sesak hatinya.
Amara Menggelengkan kepalanya, Micho dan Rafa selalu seperti ini. Raka tak tinggal diam, ia menarik Rafa dan menamparnya.
"Rafa, hentikan! Kau pengecut, menyerang dia yang jelas-jelas mengalah." bentak Raka. Rafa memegang pipinya yang terasa panas. Rafa memandang papanya yang tampak sedih menatap Amara, Rafa dan juga Raka bergantian.
"Mau kalian membangkang, menolak ataupun tak trima. Pernikahan Amara dan kamu, tetap terlaksana pemuda. Nyawa istriku lebih dari apapun, aku bisa melakukan apapun untuk menghancurkan hidupmu,!" ucap Pak Rudi kemudian melangkah pergi. Micho seakan merasakan hantaman batu besar, hatinya sesak. Menolak? Bahkan untuk menolakpun dia tak bisa, ancaman papa Rafa bisa menghancurkan kebahagiaan keluarga terutama papa yang dia sayangi.
"Pa, kenapa harus dia?" bantah Rafa. Pak Rudi menghentikan langkahnya.
"Papa tidak Mau menuggu lebih lama lagi, siapkan pernikahannya sekarang." ucap Pak Rudi kemudian melangkah pergi.
Amara meneteskan air matanya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah. Netranya mengamati wajah Rafa, Raka, dan berakhir mengamati wajah Micho yang penuh luka. Pernikahan macam apa yang akan dijalaninya. Ingin bahagia bertemu keluarga, nyatanya takdir tak sejalan dengan apa yang dia pikirkan. Rafa mendekati Amara dan meraih Amara dalam dekapannya.
"Kamu kuat Rara, maafkan kakak tidak bisa mencegah ini, keputusan papa mutlak." ucap Rafa putus asa. Tubuh Amara bergetar hebat, dia menangis di pelukan kakaknya.
Raka menepuk pundak Amara dan mengajaknya masuk. Kini Raka menatap Micho yang masih berdiri, dia juga menatap Rafa yang masih emosi. Dia tau, Micho adalah salah salah satu sahabat adiknya dulu, sekarang? kenapa ini terjadi? Hal apa yang membuat mereka seperti ini? Rara, kenapa Rara bisa datang bersama dengan Micho? Pertanyaan yang mengiang di otak Raka.
Raka membawa Rara masuk, yang terpenting untuk saat ini adalah kondisi mama, masalah ini akan dia tanyakan nanti.
Micho menghela napas panjang, kenyataan ini begitu menggoncang perasaannya. Amara dan dia menikah? Dia hanya bisa pasrah.
π€π€π€π€
Like komen dan vote yokk.... yang rame nanti aku up lagi kalo rame ππππππ.. Meskipun likenya seupritt tetap semangatπππ π π π
__ADS_1