
"Bagaimana, dit? Kamu sudah dimana, kenapa tidak sampai-sampai?"
"Iya kak, ini sudah di restauran dekat apartemen. Aku akan segera menuju ke apartemen sekarang," jawabnya, dengan langkah cepat Radit membawa jas sobek itu menuju ke apartemen.
Tak berapa lama kemudian, Radit masuk ke dalam apartemen dengan akses card miliknya. Micho dan Damar yang tengah bercengkrama menoleh bersamaan.
"Malem, Kak." sapa Radit sambil tersenyum.
"Mana jas nya?" tanya Micho sambil mengulurkan tangannya, Radit mengulurkan tangannya dengan hati-hati.
"Ada apa? Kamu tidak melakukan kesalahan kan?" tanya Micho sambil mengamati jas kesayangan nya. Radit terdiam, sampai pada akhirnya Micho menyadari jika jas itu robek. Micho menghela napas kemudian melemparkan jas itu ke sofa dengan kasar.
Damar dan Radit saling berpandangan, Damar yang baru menyadari sesuatu melirik ke arah Micho yang menampakkan wajah kecewa.
"Maaf, kak." ucap Radit pelan.
"Kenapa bisa robek? Apa tidak mendengar ucapanku kemaren? Aku bilang jangan sampai jas itu lecet sedikitpun!" bentak Micho, matanya merah padam. Jas itu adalah jas istimewa yang dihadiahkan oleh Sabrina padanya pada ulang tahun yang ke 25 bulan lalu, Micho menghela napas panjang. Radit terdiam, melakukan pembelaan pun rasanya akan sia-sia saja. Micho melenggang pergi, Damar menepuk pelan pundak Radit.
"Jangan diambil hati, Micho masih dalam kondisi hati yang tidak baik, kamu maklumi saja." ucap Damar pelan.
"Iya, aku tau."
"Istirahatlah," ucap Damar.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Radit sambil menatap ke arah Damar.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Damar sambil duduk di sofa. Radit mengikuti Damar duduk, mereka saling berhadapan.
"Ada apa?"
"Aku ingin bertanya tentang Rara," ucap Radit sambil menatap Damar tajam.
"Rara?" tanya Damar memastikan.
"Hem," jawab Radit, Damar sedikit berfikir dan memandang ke arah Radit dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Siapa Rara?" tanya Damar sehingga membuat Radit mengernyitkan dahinya.
"Kakak pura-pura bodoh, atau memang bodoh?" kesal Radit. Damar tertawa dan menepuk pundak Radit.
"Masalahnya Aku tak kenal dengan Rara, aku tidak sepertimu yang suka main wanita." sanggahan Damar membuat Radit tampak kesal.
"Rara, Kak. Rara yang kemarin di gelandang Kak Micho. Apa Kak Micho mengenalnya? Apa ada sangkut pautnya Rara dengan kegagalan pernikahan kak Micho?" tanya Radit panjang lebar, Damar tersentak kaget. Jadi namanya Rara? Bagaimana bisa Radit mengenalnya? berbagai pertanyaan mengiang di otak Damar.
"Kak, jawab pertanyaanku!" tegas Radit, Damar menghela napas panjang. Kenal? Bahkan dirinya ataupun Micho baru bertemu 2 kali dengan gadis yang pernah dipanggil Nona Amara oleh papa Micho, kesalahpahaman membuat mereka harus melalui hal yang sulit. Damar menggelengkan kepalanya, pertemuan 2 orang itu menjadi sebuah tragedi yang pernah dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Tragedi yang sampai saat ini masih belum menemukan titik terang.
"Aku tidak bisa menjawabnya, kamu tanyakan sendiri padanya. Tapi, jangan sekarang." ucap Damar kemudian melangkah pergi.
Radit menghela napas panjang. Wajah Amara mengiang diotaknya, pertemuan terakhir saat itu ketika Amara didorong oleh Micho dan Rafa.Radit menangkap tubuh Amara yang terpelanting, kemudian Damar dan prayoga datang sehingga meminta mereka semua bubar, entah bagaimana wajah Amara terlukis jelas di ingatannya sebelum akhirnya otaknya mengingat gadis yang memukulnya dan membuat jas kesayangan Micho robek.
Senyuman yang semula merekah, kini berangsur menghilang. Radit mengepalkan tangannya, wajah gadis tadi tergambar jelas diotaknya meskipun dengan kedongkolan yang melanda.
Damar melangkah menuju balkon kamar Micho. Micho yang tengah berdiri sudah mengganti baju kerjanya dengan kaos oblong dan celana pendek. Micho menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Damar. Meskipun, dia tau sahabatnya itu kini Ada di dekatnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Damar sambil bersandar ke dinding, netranya memandang ke arah Micho yang menghindari tatapannya.
"Cih..., hikmah apa yang bisa diambil? Aku kehilangan tunangan, kehilangan calon istri. Hikmah apa yang bisa dipetik dari sini? Apa Bisa menjelaskan?" tanya Micho dengan emosinya.
Damar masih dengan sorot mata teduhnya, memandang ke depan dengan tenang.
"Jodoh ditangan Tuhan, Tuan Micho Aditya Pratama. Apa kamu lupa?" ucap Damar.
Ucapan Damar bagaikan tamparan keras bagi Micho. Micho menghela napas panjang, mencoba berdamai dengan keadaan. Apa harus dia membuang segala hal yang berkaitan dengan Sabrina untuk melupakannya? apa iya jas yang sempat membuat nya berfikir tentang Sabrina harus rusak karena takdir enggan menjodohkan mereka. Apa perlu dirinya membuang segala tentang Sabrina, seperti perhiasan yang kini entah siapa yang memiliki?
Micho, walaupun dia lelaki, dia mempunyai rasa kecewa dan rasa sedih. Kehilangan kepercayaan dari Sabrina adalah pukulan terberat baginya, untuk mendapatkan cinta dari Sabrina begitu sulit. Dan sekarang harus kandas begitu saja? 3 tahun bukan waktu yang singkat. Micho menghela napas dalam-dalam.
Tuhan, jika aku tidak di takdirkan berjodoh dengan Sabrina kenapa engkau mempermainkan perasaanku?Apa sesakit ini takdir mu? tanya batin Micho.
"Micho, percayalah. Tuhan tidak akan mengujimu diluar batas kemampuanmu, mungkin sekarang kamu belum bisa menjelaskan apapun. Namun, suatu saat nanti semua akan terungkap," ucap Damar kemudian melenggang pergi.
Micho menatap kepergian Damar. Micho menghela napas panjang.
__ADS_1
Sabrina, jika kita berjodoh pasti kamu akan tetap menikah denganku, jika tidak jodohku aku ikhlas kamu bahagia dengan lelaki yang bisa membuatmu bahagia. ucap batin Micho.
******
Nada yang sedang emosi menggerundel, ia duduk dan menghentakan kakinya. Amara mengernyitkan dahinya, tidak biasanya sahabatnya itu seperti itu.
"Kenapa, Nad?" tanya Amara sambil menyeruput lemon tea kesukaanya. Nada terdiam, netranya mengamati makanan pesanannya dengan manyun.
"Kenapa? " tanya Amara lagi.
"Kau tau, ada lelaki buaya yang mau mengajak aku ke apartemennya. Resek bangetkan? memangnya aku perempuan apaan?!" kesalnya panjang lebar membuat sudut bibir Amara melengkung mengulas senyuman.
"Cie, digodain?" goda Amara.
"Apaan sih, Ra. Orang lagi kesel malah di ketawain," cerocos Nada.
"Emang kenapa sih?" tanya Amara sambil menyeruput lemon tea kesukaannya.
"Aku pikir tadinya dia ngintipin orang di depan toilet, aku memukulnya..." ucap Nada dan menggantungkan kalimatnya.
"Lalu?" tanya Amara antusias.
"Ternyata dia sedang mencoba mengamankan jas kakaknya yang nyangkut di pintu," ucap Nada. Amara tersenyum sambil menutup mulutnya, Nada tampak kesal sekali dengan tingkah sahabatnya itu.
"Rara, ah. kenapa tertawa?" kesal Nada.
"Habisnya kamu lucu, Nad. Masak iya kamu bisa salah sasaran, biasanya mata kamu itu jeli sekali mengamati situasi." ucap Amara kemudian tertawa terbahak-bahak membuat Nada kesal dan meninggalkan mejanya.
Amara yang menyadari kepergian Nada segera membayar makanan yang tidak jadi disentuh Nada, iapun berlari mengejar Nada.
"Nad, kenapa pergi?"
"Aku tidak jadi lapar, aku kenyang melihat kamu tertawa." ucap Nada. Amara tersenyum sambil mengamati Nada yang melangkah menuju apartemennya.
Rara, kamu bisa bahagia dengan caramu. Kamu bisa berhasil dengan usahamu. Tatap masa depan dan lupakan Masa lalu. Semangat.
__ADS_1
😃😃😃😊👌👌👌👌👌