
Micho membaca lembar demi lembar surat itu. Yang benar saja, dia tampak seperti lelaki murahan yang berharap lebih pada Amara.
"DAMAR!!!!!!!! ucapnya sambil mengepalkan tangannya, mengeratkan rahangnya. Micho berdiri dengan amarahnya. Berjalan dan membuka pintu dengan kasar. Saat itu Radit tengah berada di depan pintu sambil membawa beberapa berkas penting untuknya.
"Kak, mau kemana?" tanyanya namun tak di tanggapi oleh Micho. Radit mengikuti Micho yang melangkah menuju ke ruangan Damar.
Brak
Micho melempar berkas perjanjian yang yang tadi dibacanya. Damar berdiri dan melirik berkas itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada apa kau bilang? Kau gila, Damar! Kenapa membuat perjanjian seperti itu!" bentak Micho. Damar menghela napas panjang.
"Aku hanya menuruti permintaanmu, katamu perjanjian itu harus menguntungkan mu," ucap Damar tanpa merasa bersalah. Micho menggebrak meja Damar, membuat laki-laki 28 tahun itu memejamkan matanya.
"Tapi tidak juga harus mengorbankan harga diriku, sekarang seakan aku yang mengharapkan dia. Kau tau, Perusahaan ku sebagai jaminannya. Dia bisa besar kepala dan semakin semaunya sendiri,"
"Kehilangan perusahaan jika kau mencintainya kan bos, lalu jika kau tak berminat mencintainya apa bisa? Kau tinggal berusaha untuk tidak jatuh cinta padanya maka kau akan tetap memiliki perusahaanmu, kau juga bisa menceraikan kapanpun kau mau, semua itu keputusan ada ditanganmu." ucap Damar, Micho menghela napas panjang.
"Sebenarnya bos mu itu aku apa dia? Kenapa selalu membelanya dan menyalahkan aku?" bentak Micho lagi.
"Apa kau takut akan jatuh cinta padanya? Lagi pula ketika kau jatuh cinta padanya kau bisa memiliki dia juga perusahaan. Asal kau sanggup membuatnya jatuh dalam pelukanmu juga, kalian saling mencintai itu jauh lebih baik. dari pada bermusuhan tak jelas seperti ini," ucap Damar.
"Ku potong gajimu bulan ini, kau terlalu banyak bicara dan mengaturku." ucapnya kemudian melangkah pergi. Damar membelalakkan matanya.
"Micho, tidak bisa begitu." ucap Damar sambil mengejar Micho.
"Aku tidak perduli," sanggah Micho. Ponsel Micho tiba-tiba bordering. Ada panggilan masuk disana, Micho mengambil ponselnya dan menatap layar ponsel Yang memperlihatkan nama gadis murahan di sana. Damar melirik Micho dan tersenyum.
"Angkat, ditelpon istri tercinta." godanya. Dengan wajah kesal Micho menggeser tombol hijau dan meletakan di telinganya.
"Ada apa?" ketus Micho.
"Halo, Nak. Ini mama, mama ingin berkenalan denganmu, bisa kamu ke rumah sakit sekarang?" tanya suara disebrang. Micho sedikit merasa bersalah.
"Mama?" tanya Micho. Wajah Micho yang semula jengkel berangsur membaik.
"Iya, mama sudah sadar. Mama ingin bertemu denganmu," ucapnya. Micho menghela napas panjang.
"Iya, Ma. Micho akan segera kesana." ucapnya.
__ADS_1
"Hati-hati ya Nak. Istrimu menunggu kedatanganmu, mungkin dia mau di pangku seperti tadi," ucap mamanya. Hati Micho sedikit berdesir. Ditunggu istri? Bahkan dia lupa jika telah sah menjadi suami.
Micho menutup ponselnya. Kini Radit juga berada diantara Damar dan Micho.
"Kenapa kalian ribut saja dari tadi?" tanya Radit. Damar dan Micho tak menjawab.
"Aku dengar kakak membuat perjanjian? perjanjian apa?" tanya Radit lagi.
"Kau ikut aku, akan aku beri tau kau nanti, antar aku ke rumah sakit Husada. Aku tak sudi se mobil dengan manusia laknat sepertinya," ucap Micho. Radit melirik Damar yang masih tersenyum.
"Antar dia, aku juga mau menghabiskan malam dengan indah." ucap Damar lagi.
"Sinting," gerutu Micho. Micho dan Radit melenggang pergi. Mereka menuju ke parkiran dan melajukan mobilnya.
"Siapa yang sakit, Kak?" tanya Radit, sambil menikmati alunan lagu director Salam mobil.
"Mama mertua," ucap Micho.
"Uhukk..." Radit tersedak udara, Micho melirik Radit.
"Kenapa? Kau terkejut? Aku juga tidak menyangka, aku harus menikah dengan manusia murahan sepertinya," ucap Micho. Radit menoleh ke arah Micho.
"Manusia murahan seperti apa kak?" tanya Radit. Micho menoleh ke arah Radit dan menghela napas panjang.
Radit mengernyitkan dahinya. Wanita yang menghancurkan pernikahan? Bahkan saat itu, penyebab gagalnya pernikahan masih tidak dia ketahui dan disembunyikan dari media.
"Jadi kakak telah menikah?" tanya Radit. Micho menghela napas panjang. Sebenarnya dia juga tidak tau ada hubungan apa Radit dengan Amara. Namun, dia merasa Radit mengenal Amara.
"Ya, pernikahan karna sebuah keterpaksaan."
"Siapa dia kak?" tanya Radit.
"Nanti kau juga Akan tau, sekarang aku masuk dulu. Apa kau mau ikut?" tanya Micho setelah Radit memarkirkan mobilnya.
"Aku mau nyari makan malam dulu, Kak
Aku lapar sekali," ucap Radit. Micho mengangguk dan melenggang pergi.
*****
Nada dan Rafa menikmati makan malam dengan lahab. Nada mengamati Rafa yang tampakk murung setelah selesai makan.
__ADS_1
"Kakak kenapa?" tanya Nada.
"Aku hanya menghawatirkan Amara. Dia menikah dengan orang yang menoreh luka dia hatinya, bagaimana bisa dia bahagia." ucap Rafa. Nada tersenyum dan menatap Rafa.
"Kak, percayalah. Jodoh, sudah ada yang mengatur, jodoh juga tidak akan salah tempat. Jadi kakak tidak usah khawatir," ucap Nada. Nada memejamkan matanya, bahkan dia mencintai orang yang jelas-jelas menganggapnya adik sendiri.
"Terimakasih, Nada. Setidaknya kakak lega mendengar ucapanmu,"
"Sama sama, Kak." ucap Nada.
"Lalu, kapan kamu sendiri menikah?" tanya Rafa sambil menyeruput kopinya. Nada menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya.
"Aku belom menemukan orang yang tepat, Kak. Kakak aja duluan, aku belakangan." ucap Nada. Rafa tersenyum dan menggenggam tangan Nada yang berada di atas meja. Membuat perasaan Nada tak beraturan.
"Kakak bahagia jika melihat adik-adik kakak bahagia. Menikahlah, Nada. Carilah bahagiamu," ucap Rafa kemudian bangkit dan melangkah pergi.
Nada menghela napas panjang dan menahan sesak dia dadanya. Nada menatap punggung Rafa yang menjauh darinya. Rasa sesak menderanya.
"Aku mencintai mu, Kak Rafa." ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa dia minta.
Nada melangkah pergi, dia berdiri dan berjalan tanpa Arah. Hatinya begitu sakit, dia tau Rafa mencintai orang lain.
Brak,,,
Nada terkejut saat dia menabrak meja seseorang. Makanan yang di makan itu tumpah di atas meja orang itu.
"Kalo jalan pake mata jalan ngelamun!!!" ucap seorang yang kini membersihkan baju karna terkena jus yang dia pesan.
"Maaf Mas, aku tidak sengaja. Aku akan menggantinya," ucap Nada panik.
"Maaf, memang bajunya bisa kering dengan permintaan maafmu itu?" bentak pria itu masih sibuk membersihkan bajunya.
"Aku juga akan membelikan baju untukmu," ucap Nada. Orang itu tampak kesal dan berdiri, ia menatap Nada dengan sorot mata tajam. Sejenak mereka saling memandang. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu?!!!" ucap keduanya bersamaan ketika mereka telah menemukan memori 4 tahun lalu.
"O, kita pernah bertemu sebelumnya, dan kenapa selalu membuat hidupku susah?" bentak pria itu. Nada menghela napas panjang. Dia ingat, dia pria yang 4 tahun lalu meminta ganti rugi karna jas yang dibawanya sobek. Dia mengajak ke apartment dan Nada Menamparnya.
Nada menghela napas panjang dan mengambil cek didalam tasnya.
"Tulis berapapun yang kamu mau, jangan mengajakku untuk bermalam bersamamu!" ucap Nada kemudian melangkah. Radit mengernyitkan dahinya, dia tidak terima dengan tuduhan Nada. Radit menarik tangan Nada hingga mereka saling berhadapan dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
*****