Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Rasa


__ADS_3

Micho memejamkan matanya, melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Amara dengan posesif. Amara merubah posisi tidurnya, dengan mendadak Amara menghadap ke arah Micho. Tangannya melingkar di pinggang Micho. Micho yang masih saja terjaga kini bisa menatap wajah polos Amara yang tampak mempesona, semakin imut dan menggiurkan baginya.


Micho mengarahkan tangannya ke arah dagu Amara, mendongakkan dagu lancip itu, mengamati bibir ranum merah muda yang begitu menguji nyalinya. Micho mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dan semakin dekat.


"Dasar, manusia bejat. Manusia laknat!Harusnya tidak menikahiku, harusnya menolak permintaan papa. Agar kamu bahagia bersamanya, Aku menyakitinya karna kebejatanmu, menyakitinya karna kesalahanmu,menggagalkan pernikahannya kalian karena ulahmu," celoteh Amara di tengah tidurnya.


Micho menghentikan aksinya karna merasa seolah umpatan dari Amara di tujukan padanya. Micho memejamkan matanya, merasakan desiran sakit yang tersirat dari ucapan Amara. Micho mengernyitkan dahinya.


"Ada apa dengan wanita murahan ini? Jadi dia merasa bersalah pada Sabrina selama ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Jadi, dia merasa bersalah? Micho lagi-lagi memejamkan matanya. Selama ini dia menyimpan dendam pada manusia yang merusak pernikahannya. Merusak pernikahannya karna mencari keadilan. Merusak pernikahannya karna dia merasa ternodai.


"Jadi apa sejatinya aku sendiri yang merusak pernikahanku? Aku yang selama ini menutupi kebenaran tentang malam itu." ucap Micho pada dirinya sendiri. Micho memandang wajah Amara, ada sebuah rasa bangga pada wanita disampingnya.


"Nikahi aku dan kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya atas hidupku!"


"Setelah mencuri mahkotaku, lalu kamu ingin pergi dan bahagia diatas penderitaan ku? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Tuan Micho aditya Pratama yang terhormat,"


"Kamu pikir uangmu bisa menggantikan apa yang telah kau hancurkan? Bahkan semua yang kamu miliki tidak mampu menggantikan kerugianku, Tuan Micho."


Ucapan Amara beberapa tahun yang lalu mengiang di otaknya. Micho menghela napas panjang, dia yang selama ini membiarkan wanita yang telah dinikahinya itu penuh dengan prasangka. Jadi, apa sebenarnya ini kesalahannya? Pikirnya


"Tidak, ini bukan salahku, ini adalah hukuman yang pantas untuk wanita yang mempunyai prasangka yang buruk pada orang lain sepertinya," ucap Micho menepis segala pikiran yang bergejolak di hatinya.


Micho melepaskan dagu Amara, Amara bergerak melingkarkan tangannya ke leher Micho, menyusupkan wajahnya di dada bidang Micho. Micho merasakan detak jantung yang tak beraturan, perasaan nyaman dan tenang di rasakannya, emosi yang membuncah sirnalah sudah. Micho memejamkan matanya dan berlayar ke angkasa. 🤣🤣🤣


****


Radit hanya bisa memandang gedung menjulang tinggi tanpa bisa memandang wajah yang selalu dirindukannya. Kini pandangannya tertuju pada 2 mobil milik Micho.


Kenapa? Kau terkejut? Aku juga tidak menyangka, aku harus menikah dengan manusia murahan sepertinya. Ucapan Micho terngiang ditelinganya.


"Apa benar kalian tidak saling mencintai? Kak Micho tidak pernah sampai seperti ini menjaga wanita, jika tidak ada hati padanya. Lalu, kenapa kalian seperti Tom dan Jerry jika di dekatku? Apa yang sebenarnya terjadi di hubungan kalian?" Radit menyandarkan punggungnya, memejamkan matanya dan memegang pelipisnya.


Radit keluar dari mobilnya. Netranya menangkap seorang wanita yang tersungkur di pinggir jalan sambil memegangi kakinya.


Radit mengerutkan Keningnya dan melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.

__ADS_1


"Malam-malam begini, wanita macam apa yang ada di luar rumah," gerutunya.


Wanita itu tampak meraih kantong makanan dan mencoba berdiri. Namun, Keseimbangan dirinya tak memadai, wanita cantik itu terpelanting dan hampir saja terjatuh kembali. Wanita itu memejamkan matanya, takut jika dirinya merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya. Tetapi, Radit yang sengaja berdiri di belakang wanita itu segera menangkap tubuh ramping wanita itu.


Sejenak Radit terpesona. Wajah itu begitu cantik, namun sesaat kemudian wanita itu membuka mata dan mencoba berdiri. Lagi-lagi dia hampir terjatuh.


"Aaaaa," wanita itu memekik saat menyadari kakinya terkilir. Radit memandang wanita cantik yang bertemu denganya kemarin di restaurant.


"Dasar wanita, apa-apa teriak. Menggelikan!" ucapnya ketus. Sambil membopong wanita itu dan berjalan ke pinggir.


Nada mendongak, ya wanita itu adalah Nada yang merasa lapar setelah keluar dari apartment Amara. Dia memutuskan mencari makan dan akan kembali ke apartment nya. Namun, batu kerikil menghambat jalannya hingga dia tersungkur.


Nada menatap wajah tampan seseorang yang kini membawanya duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang rindang. Dia berjongkok dan tanpa permisi melepaskan sepatu Nada. Nada merasakan desiran aneh yang menjalar di hatinya, sentuhan itu membuat dirinya terbuai. Dengan reflek Nada menendang pria itu hingga dia terduduk di tanah. Nada menutup mulutnya karna terkejut. Radit itu memelototkan matanya dan berdiri.


"Maaf," ucap Nada.


"Aku hanya menolongmu, apa kau pikir aku akan menodaimu begitu? Cobalah mengerti situasi, cantik." ucap Radit menekan kata cantik sambil mengibaskan tangannya untuk membersihkan celanya. Nada hanya memaksa tersenyum sambil mengamati wajah tampan manusia di depannya.


Radit kembali berjongkok, dan meletakkan kali Nada di pahanya. Nada merasa jantung berdetak tak karuan, pasalnya tidak pernah sekalipun ada manusia yang berani seperti ini.


"Dit, woi. Hanya kaki Dit, hanya kaki. Bahkan kau bisa membayar semalaman hanya untuk mencelup pisangmu," umpat Radit pada dirinya sendiri.


"Pisang, kenapa kau tegang setelah sekian taun pensiun. Kenapa baru sekarang, saat aku patah hati karna Rara,,," gerutu Radit yang menahan gejolak rasa yang membuncah akibat memegang kaki Nada🤣🤣🤣🤣🤣.


"Nada," seseorang datang menyapa mereka. Nada menurunkan kakinya dan seketika berdiri, Radit juga berdiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Rafa sambil memegang pundak Nada.


"Aku hanya terkilir, Kak." ucap Nada sambil memakai sepatunya.


"Sudah malam, sebaiknya kamu masuk ke apartmen," Rafa mengambil makanan di bangku dan merangkul pundak Nada. Nada mengangguk, netranya mengamati Radit yang sedikit pias.


"Trimakasih," ucapnya pada Radit. Radit mengangguk pelan.


Rafa dan Nada berjalan menjauh, Radit hanya memandang punggung 2 orang itu. Entah, apa yang saat ini di rasakannya.


"Jangan terlalu percaya pada tampang lelaki seperti itu, kelihatannya dia bukan lelaki baik-baik," ucap Rafa. Nada memandang wajah Rafa yang jauh lebih tinggi darinya itu.

__ADS_1


"Andai saja kamu cemburu, betapa Aku sangat bahagia, Kak." keluh batin Nada. Rafa mengantar Nada sampai depan apartmentnya.


"Ya sudah, aku pulang dulu," ucapnya kemudian kembali melangkah pergi.


Rafa kesini hanya untuk memastikan apakah Amara bersama Micho apa tidak. Tadi, setelah dari rumah Micho dan tidak menemukan keduanya, Rafa menuju ke apartment dan mendapati mobil Amara dan Juga Micho disana. Tak sengaja Rafa melihat Nada yang tampak di rayu, dia tak mau adiknya itu terjerumus di pergaulan yang salah.


*****


Kring kring kring


Bunyi alarm pengingat di ponsel Amara membangunkan Micho dari lelapnya, ia meraih ponsel itu dan melihat jam yang menunjukan pukul 05.00. Micho mematikan suara ponselnya. Di tatapnya layar ponsel yang menyimpan caption Lucu dan berhasil membuat dirinya melengkungkan seyuman.


Hai Rara cantik yang pemalas, bangun!!! Waktu nya Shalat Subuh,😍😍😍😍😍


Pengingat itu membuat Micho enggan memejamkan matanya kembali, ia melirik ke arah wajah Amara dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Lagi-lagi bibirnya tersenyum. Entah perasaan apa yang kini hadir dalam hatinya.


Micho menurunkan selimut Amara, niatnya ingin membangunkan untuk Shalat Subuh berjamaah. Namun, noda merah tampak di bokong Amara, sehingga membuat Micho mengernyitkan dahinya. Lagi-lagi Micho tersenyum. Kini Micho menutup kembali tubuh wanita yang masih tertidur lelap itu dengan selimut.


Setelah membersihkan dirinya dan Shalat subuh, Micho menghampiri Amara. Entah kerasukan malaikat dari mana, Micho mengecup kening Amara lama, Micho mengusap rambut Amara dengan pelan. Rasa nyaman kembali dia rasakan. Wangi rambut Amara membuatnya terbuai. Dia enggan untuk beranjak, namun ada hal lain yang harus dia lakukan di hari minggu ini.


Micho meraih jas dan memakai sepatunya, Micho melangkah pergi setelah menyiapkan segelas susu dan roti di meja samping tempat tidur Amara.


Beberapa saat kemudian, Amara bangun dan mulai mengerjabkan matanya setelah mendapati sialu lampu. Dia merasa nyenyak, lelap dan hangat. Amara menetralkan pandangannya dan merentangkan tangannya ke atas. Dia duduk, ingatannya kembali pada saat dirinya melihat Micho beradegan mesra dengan Sabrina.


"Meskipun menikah tanpa cinta kenapa aku tetap sakit melihat dia bersama wanita lain?" ucapnya. Amara menghela napas panjang.


Micho, semalaman dia bermimpi dipeluk suaminya itu hingga lelap tertidur.


Amara melirik bajunya dan mengernyitkan dahinya.


"Nada mengganti bajuku?" tanyanya pada dirinya, karna memang hanya Nada yang menemaninya malam tadi. Amara menoleh dan mendapati sarapan di mejanya.


"Nada... tau aja aku lagi pms dan males gerak. Baik banget nyiapin sarapan," ucap Amara sambil berdiri.


😍😍😍😍😍😍


Like komen Vote... yuk kasihh dukungan buat aku....biar mas Micho, mbak Amara, Rafa Radit Nada, Damar buruan up 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2