Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
100


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Damar tengah sampai di apartemen. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat Taza Alexandra tengah tak sadarkan diri.


"Ada apa ini?" tanya Damar sambil menatap tajam ke arah Micho. Damar sedikit kecewa dengan ulah Micho yanh dirasa sangat keterlaluan. Pasalnya Amara akan sakit jika melihat semua ini.


"Damar, aku butuh waktu bersama Sabrina."


"Tapi tidak harus dengan seperti ini Micho," sanggah Damar.


"Jangan banyak bicara, kau itu bawahanku. Lakukan apa yang aku perintahkan!" ketus Micho. Damar menggelengkan kepalanya tak percaya.


Dengan ragu Damar membantu Micho membawa tubuh Sabrina ke dalam mobil. Mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sabrina mengerjabkan matanya. Netranya memandang kearah mobil yang tampak asing, Sabrina memegang pelipisnya mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Dimana aku?" ucapnya lirih. Micho terkejut menatap kearah Sabrina yang sudah sadar lebih cepat dari perkiraan.


"Nona, Taza... " ucap Micho.


Sabrina menoleh, dirinya terkejut melihat 2 orang yang ada didepan dan sampingnya.


"Kenapa aku bersama kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya Sabrina panik. Micho menghela nafas panjang, dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada wanita yang tengah hilang ingatan ini.


"Tenang dulu Sabrina ..."ucap Micho.


Dada Sabrina seakan bergemuruh hebat, denyutan dikepalanya seakan semakin menekan otaknya. Micho melihat sabrina tampak kesakitan dan memijat kepalanya.


"Aku bukan sabrina. Aku Taza turunkan aku sekarang juga!" ucapnya. Micho menatap kearah Sabrina, memegang kedua bahu Sabrina. Sabrina menepis dengan cepat.


"Jangan kurang ajar !" bentak Sabrina lagi. Kini Micho bisa melihat sorot mata indah yang pernah disakitinya. Sorot mata indah yang pernah menangis dihadapannya.


"Sabrina maafkan aku, aku butuh waktu menjelaskan padamu," ucap Micho sambil mendekap erat tubuh Sabrina. Ucapan itu terlontar begitu saja dibawah alam sadarnya. Micho memejamkan matanya, disaat yang sama wajah Amara muncul di benaknya.


Deg.....


Hati Sabrina seakan terhantam batu besar yang membuatnya runtuh. Sabrina terpaku dan terdiam, mencoba mencerna apa yang didengarnya. Hingga sebuah mobil menghadang dihadapan mobil Micho. Menghentikan laju mobil micho.


Sabrina mendorong tubuh Micho. Micho terhuyung kebelakang. Micho dan Damar saling berpandangan, dilihatnya 2 manusia tampan keluar dari mobil itu.


Sabrina sedikit tersenyum. Ia hampir melangkah namun Micho menariknya kembali dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sabrina ... Beri aku waktu."


Lagi-lagi hati Sabrina merasa sesak. Ucapan Micho benar-benar mengusik hatinya, disertai bayangan bayangan yang berputar cepat dimemori otaknya.


Sabrina mendorong tubuh Micho dan melayangkan satu tamparan keras kearah Micho.


"Jangan kurang ajar, saya tidak segan mengambil kembali saham yang saya tanamkan jika anda bertingkah." bentak Sabrina.


Micho sedikit terkejut, ia menatap lekat kearah Sabrina sambil memegang wajahnya yang terasa panas karena tamparan wanita di depannya.


"Sabrina, kamu boleh marah, boleh memukulku sesuka hatimu. Tapi jangan seperti ini. Aku tau aku salah. Aku tau aku menyakitimu. Maafkan aku. Beri aku waktu," ucap Micho sambil memegang erat tangan tangan Sabrina. Micho menatap lekat wajah cantik itu.


"Bola mata itu ... " gumam Sabrina pelan. Matanya memerah, kepalanya seakan mau meledak.


Sabrina mencoba menepis tangan Micho, mengabaikan semua ucapan Micho yang mengusik hatinya. Perhatiannya tertuju pada seseorang yang mendekat kearahnya.


Dengan kekuatan extra Sabrina menarik tangannya dan membuka pintu mobil. Sabrina keluar dari mobil, begitu juga Micho dan Damar.


Namun, langkah Sabrina terhenti ketika 2 pasukan siap mengadakan baku hantam dan saling memukul. Micho mengerutkan keningnya ketika melihat segerombolan orang yang memakai ikat kepala emas sudah berada disana.


Mereka?


Micho menarik tangan Sabrina dan mencoba membawanya masuk kembali kearah Mobil.


"Lepaskan aku... lepaskan! jangan gila kamu." ucap Sabrina. Micho seakan tak menghiraukan ucapan Sabrina, ia terus saja memaksa.


Andika yang mengetahui istrinya dalam bahaya segera mengeluarkan segala kekuatannya untuk menumbangkan lawanya.


Sesaat kemudian setelah mendapatkan celah, Andika berlari dengan cepat kearah Sabrina yang menolak masuk kedalam mobil.


Dengan cekatan Andika memberikan pukulan didada Micho, Micho terhuyung mundur dan melepaskan cengkraman tangannya dari Sabrina. Damar menghela nafas panjang, ia mendekati Sabrina.


"Nona, beri waktu Tuan Micho untuk berbicara. Sebentar saja."ucap Damar.


"Bicara apa? Setelah semua kacau seperti ini kau baru memberikan penawaran?" tanya Santun sambil membentak.


"Tapi Nona... "


"Pergi dari sini. Pergi! " bentak Sabrina.

__ADS_1


Sabrina terkejut. Ketika Andika dan Micho saling mencengkeram kuat, mereka berguling mencoba melawan satu sama lain beradu kekuatan. Micho yang berada diatas membabi buta memukul pipi Andika. Tak mau kalah Andika menggunakan lututnya menghantam punggung Micho.


Micho terguling kesamping. Andika berdiri dan akan berlari, namun Kaki Micho seakan sengaja menjegalnya sehingga Andika runtuh kembali.


Sabrina masih terpaku menyaksikan 2 orang tampan itu bergantian, wajah 2 orang yang saling terlibat baku hantam. Sabrina mematung. Kepalanya yang tadinya berat seakan mendapatkan tekanan yang kuat tiba-tiba saja ringan tanpa beban.


Sabrina tampak menutup mulutnya rapat, air mata mengalir deras dipelupuk matanya.


Bayangan demi bayangan terekam jelas dimomorinya, Sabrina memandang kearah Micho. Wajah Micho mengingatkan pada rasa sakit yang menggerogoti batinnya selama ini. Rasa sakit yang kemudian membuatnya membenci manusia yang bernama laki-laki.


Hatinya seakan perih mendapati wajah yang 4 tahun lalu menorehkan luka tak berdarah didirinya.


Memberikan sakit yang bahkan tidak pernah bisa dia lupakan. Dan dengan entengnya meminta waktu dengan paksa? Omong kosong apa yang diucapkan oleh Micho aditia pertama? Sabrina menggelengkan kepalanya. Rasa sesak menyeruak didadanya, Airmata tak mau berhenti mengalir.


"Jangan menangis ... Sayang." ucap keduanya bersamaan. Andika dan Micho saling menatap tajam. Sorot mata mematikan yang tampak.


"Sayang... Ayo kita pulang." ucap Andika


"Sayang...Beri aku kesempatan.!" ucap Micho bersamaan dengan ucapan Andika. Keduanya saling melirik dengan tatapan tajam, seakan mempunyai hak kepemilikan atas Sabrina.


Sabrina menatap tajam kearah Micho, mereka saling berpandangan. Sorot mata teduh tercipta diantara keduanya. Andika menunduk mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan meskipun hatinya seakan tercabik melihatnya.


"Aku bukan Sabrina, jangan pernah memanggilku Sabrina." ucap Sabrina. Air matanya masih saja mengalir, ini adalah pertemuan pertama setelah hari itu terjadi. Ini sangat menyakitkan bagi Sabrina.


"Jangan membohongiku... bahkan hatiku tidak bisa untuk kamu tipu. Aku masih mencintaimu Sabrina..." ucap Micho.


"Terlambat Micho, kamu sudah menyakitiku. Urus saja anak dan istrimu." bentak Sabrina.


"Aku tidak menghamilinya Sabrina. Itu jebakan dari ayahku untuk menggagalkan pernikahan kita. Bahkan aku selalu mencarimu, aku butuh waktu untuk menjelaskan semua!"


Jebakan? Jebakan macam apa? 4 tahun sudah berlalu dan kini mengungkap kebenaran? Ibarat nasi sudah basi, Sabrina hanya tersenyum kecut kemudian menatap kearah Andika yang tampak sayu. Sabrina mundur beberapa langkah, matanya menatap lekat kearah Andika.


Jari lentiknya mengusap pelan wajah tampan yang kini tampak memar. Air mata Sabrina mengalir deras. Andika menggengam tangan Sabrina yang berada dipipinya. Satu tangan lagi mengusap air mata Sabrina.


Micho yang masih merasakan sesak seakan tidak terima menikmati pemandangan didepannya. Micho melangkah dan menarik Sabrina hingga dihadapannya. Membuat Andika kembali geram menahan amarah.


"Sabrina dengarkan aku dulu..." ucap Micho sambil memegang pundak Sabrina. Andika memalingkan wajahnya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kita sudah selesai sejak lama. Singkirkan tanganmu, aku sudah bersuami. Tidak ada gunanya mendengarkan semua celoteh omong kosongmu." ucap Sabrina. Ucapan Sabrina seperti telak mematikan untuk Micho.

__ADS_1


__ADS_2