Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
111


__ADS_3

Amara berada di dapur bersama dengan Anin dan Olive, Amara menyiapkan makanan dari rumah kakak iparnya itu. Kini ia ingin sekali bertemu dengan manusia tampan yang mampu mengusik hatinya. Micho akan pulang jam makan siang, lalu dirinya yang diamanati untuk tetap dirimah malah keluyuran. Bagaimana kalau suaminya itu marah nanti? Amara melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.


"Udah selesai, gimana Olive kamu jadi ikut aunty?" tanya Amara. Gadis kecil itu mengangguk. Anin tersenyum dan memandang ke arah Amara.


"Apa Olive tidak akan merepotkanmu?" tanya Anin. Amara menggeleng pelan, dia rasa Olive bisa menjadi alasan kenapa dia harus keluar dari apartemen.


"Tidak sama sekali, Kak. Aku pamit sekarang,," ucap Amara sambil menenteng tas tangannya. Dia menggendong Olive dan berjalan menuju Parkiran. Anin membawakan rantang makanan dan mengikuti arah langkah Amara.


"Aku pulang kak,"


"Hati-hati, Ra." Anin menasehati, Amara tersenyum dan mengangguk.


"Olive, kamu jangan nakal nak. Jangan merepotkan aunty," Anin mengusap pelan puncak kepala putrinya.


"Siap mam," jawabnya. Amara memasang shiel beet miliknya dan milik Olive, kemudian menutup kaca.


"Okey tuan putri, kita berangkat sekarang. Bismilah," ucap Amara sambil tersenyum. Olive tampak melambaikan tanganya pada Anin dan mengangguk pada Amara.


Amara melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dirinya melirik ke arah Olive yang tampak tersenyum dan bernyanyi ala anak-anak kecil. Gadis kecil 4 tahun itu tampak bahagia.


"Olive, apa Olive senang?" tanya Amara. Pandangan matanya fokus ke arah depan.


"Iya, Olive senang belsama aunty. Lain waktu Olive mau main lagi sama aunty," ucap bocah kecil itu tampak menggemaskan. Amara tertawa melihat tingkah keponakanya itu.


"Hem, sebentar lagi Olive akan ulah tahun ke 5. Lalu, apa yang Olive mau?" tanya Amara santai. Gadis kecil itu menoleh dan tersenyum.


"Olive mau minta adik sama mama dan papa. Tapi, mama bilang tidak sekalang. Kan olive jadi sedih, Olive tidak ada teman bermain, apa susahnya memberi teman untuk Olive," jawab Olive.

__ADS_1


Senyuman yang sempat mengembang di bibir Olive berangsur menghilang, membuat Amara tampak mengernyitkan dahinya. Amara tau betul, Anin masih sangat trauma karna kehamilan yang pertama. Dan tentunya ponakan kecilnya itu belum mengerti bagaimana cara menghasilkan adik. Dia pikir membuat adik sama dengan beli bonekah dipasar? pikir Amara geli sendiri.


"Olive jangan bersedih. Kan ada aunty. Jadi Olive bermain bersama aunty," ucap Amara. Olive menatap Amara.


"Main dengan Aunty?" tanya Olive. Amara mengangguk pelan. Olive tampak memalingkan wajahnya dan menyedekapkan tangannya di dada. Olive juga mengerucutkan bibirnya. Amara mengernyitkan dahinya dan memandang ke arah Olive sambil tersenyum.


"Anak cantik tidak boleh cemberut, nanti cantiknya ilang lo," rayu Amara.


"Habisnya aunty belbohong," sanggah Olive.


"Aunty tidak berbohong, mana bisa aunty membohongi keponakan yang paling cantik." ucapnya.


"Kata uncle Micho, aunty dan uncle akan memberlikan adik buat Olive untuk teman belmain. Lalu, kenapa ini aunty bilang kalau aunty yang akan menemani Olive belmain?" ucap bocah itu dengan sebal.


Amara membelalakkan matanya, Micho? Bagaimana bisa suaminya itu mengatakan hal itu pada Olive? Kapan dia mengatakan hal itu? Padahal baru saja hubungan mereka membaik beberapa hari yang lalu. Amara menghela napas panjang, rasa bahagia menyeruak di hatinya.Sudah di pastikan wajahnya bersemu merah saat ini. Bayangan wajah tampan suaminya mengiang di otaknya.


"Sayang, kamu harus tau. Aunty dan Om akan berusaha, mama dan juga papa juga akan berusaha. Jadi, Olive tidak boleh sedih lagi ya," ucap Amara.


"Hey, mana bisa begitu, Sayang?" ucap Amara sambil melirik ponakanya. Olive cemberut dan mengalihkan pandangannya.


"Jangan marah dong, ponakannya aunty." ucap Amara dan tidak mendapat respon dari Olive.


"Sayang aunty dan uncle minta maaf," ucap Amara memelas. Gadis cantik itu menatap Amara.


"Tapi lain waktu aunty dan uncle harus jajnji memberi teman pada Olive," ucap Olive. Amara menghela napas panjang. Lagi-lagi wajahnya merah merona, mendengar permintaan Olive membuatnya merasakan desiran aneh yang membahagiakan perasaannya.


"Aunty dan om akan berusaha. Sekarang sebagai gantinya Olive boleh meminta sesuatu pada aunty, yang penting Olive bahagia," ucap Amara sambil tersenyum. Olive tampak berbinar dan berpikir.

__ADS_1


"Aunty, ayo kita balapan, aunty harus mengalahkan mobil-mobil yang di depan." ucap Olive.


"Balapan?" tanya Amara. Olive tampak menganggukan kepalanya. Amara lagi-lagi harus menghela napas. Bagaimana bisa ponakannya itu mengajak balapan? Kak Raka, ajaran siapa seperti ini? gerutu Amara.


"Sayang, kan bahaya. Nggak boleh balapan, nanti aunty akan mengajak Olive ke mol. Kita main sepuasnya di sana, okey." rayu Amara. Namun, Olive tak menyahut.


Kini Amara hanya pasrah, ponakanya itu benar-benar manja.


Amara melirik kaca sepion, netranya mengamati mobil yang dari tadi di belakangnya. Mobil itu? Amara mencoba mengingat, yang jelas mobil itu mengikutinya dari tadi. Dan ingatanya tertuju pada malam kemarin ketika mobil yang sama mengejarnya.


"Mas Micho? Apa iya dia menyuruh anak buahnya untuk membuntutiku?" Amara melirik ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Micho. Amara hampir saja menelpon balik, tapi mobil dibelakangnya tampaknya menambah kecepatan dan hampir saja meminggirkan mobil Amara.


Amara terkejut, Amara menambah kecepatan mobilnya. Menghindari beberapa orang yang dia pikir anak buah Micho itu. lagi-lagi mereka orang yang memakai ikat kepala kuning.


Mas Micho, kenapa mengirim mereka? bukan menjaga, mereka malah menakutiku. Kalau begini, aku tidak bisa diam. Aku akan mengikuti permainan mereka dan akan membuat perhitungan denganmu nanti, Aku memang keluar rumah dan mengabaikan permintaanmu untuk tetap dirumah. Tapi tidak begini juga kan cara kamu menghukumku? gerutu Amara.


"Okey Olive, kita balapan sekarang. Bersiaplah, jangan marah lagi." ucap Amara. Olive yang tadi tampak murung kini tampak berbinar dan memandang ke arah Amara.


"Siap aunty," ucapnya sambil menikmati perjalanan yang sangat menantang karna Amara menambah kecepatannya.


Amara menancap gas dan menambah kecepatan laju mobilnya. Ditengah fokusnya menyetir, ia mencoba menghubungi Micho. Namun tak mendapat jawaban, Amara melirik ke arah Olive yang tampak santai dan bernyanyi. Padahal mereka dalam bahaya, bagaimana bisa ponakanya itu malah menikmati.


Mobil di belakangnya tampak kembali menambah kecapatan, membunyikan klakson untuk menghentikan Amara. Namun, Amara tetap konsisten berkendara. Amara terus saja mengawasi pergerakan beberapa mobil di belakangnya dari kaca sepion.


Beberapa saat kemudian Amara, menghilangkan jejak dengan menyelip di gang kecil yang dapat menghubungkan dirinya ke apartemen.


"Mas, aku harus membuat perhitungan denganmu," geram Amara.

__ADS_1


😅😅😅


Like ,komen, hadiah jangan lupa😂😂


__ADS_2