Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
136


__ADS_3

"Mama," sapa Amara.


Mama Hana menoleh ke arah Amara berada, air mata mengalir deras dari pipinya. Perlahan Mama Hana mendekat ke arah putri yang sangat dia sayangi.


Mama Hana memeluk erat Amara yang 2 hari entah dimana keberadaanya. Mengusap lembut puncak kepala Amara dengan kasih sayangnya. Papa Rusdiantoro melihat interaksi kedua wanita yang begitu dia sayangi itu. Sangat membahagiakan, karna bukan hanya karna Rafa mama Hana Menangis.


Tetapi juga mengetahui Amara telah bertemu dengan orang tua kandungnya yang membuat Mama Hana takut bila nanti putrinya itu akan meninggalkannya.


"Sayang, mama sangat merindukanmu," lirihnya.


"Amara juga sangat sangat merindukan mama, sangat mengkhawatirkan keadaan mama. Mama baik-baik saja?" tanyanya. Mama Hana mengangguk pelan. Dia mengusap air matanya, dia pikir putrinya akan membencinya. Nyatanya tidak seperti apa yang dia pikirkan.


"Mama, aku bahagia mempunyai mama, papa dan kalian semua. Terimakasih telah memberi kasih sayang sedari Amara kecil sampai dengan saat ini," lirih Amara.


"Bahkan, aku tau mama dan papa akan selalu menyayangiku sampai nanti," lanjut Amara.


Mama Hana melepas pelukannya, dia tau arah pembicaraan putrinya. Mama Hana mengusap pelan pundak Amara. Menatap mata berkaca Amara dengan sayang.


"Maafkan mama dan papa yang menyembunyikan kebenaran, Sayang. Bukan apa-apa, kamu terlalu berharga bagi kami sehingga kami tidak mau kamu terluka," lirih mamanya. Papa Rusdi mendekat dan menatap 2 wanita itu bergantian.


Papa Rusdi mengalungkan tangannya pada pundak Amara dan istrinya. Mencoba menjelaskan kasih sayang tulusnya pada Amara. Kasih sayang yang di berikan dengan nyata dan tanpa omong kosong belaka.


"Kami sangat menyayangimu," ucapnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Amara berhambur memeluk papanya, meneteskan air mata. Dia tidak bisa berkata apapun. Tanpa menjelaskanpun Amara tau bagaimana kedua orang tua angkatnya sangat menyayanginya.


Isakan tangis terdengar di telinga papa Rusdi, tangis bahagia, tangis haru semua berkumpul menjadi satu dalam hatinya.


Micho merasa lega menyaksikan kebahagiaan yang dirasakan Amara. Mempunyai keluarga yang begitu lengkap, harmonis dan bahagia adalah impian semua orang.


Jika kenyataan yang menyakitkan terjadi diantara dia dan orang tuanya. Dia tidak akan membiarkan anaknya nanti merasakan apa yang dia rasakan.


Micho mendekat ke arah dimana mertua dan istrinya berada. Mama Hana menatap Micho dan memeluknya, Micho merasakan bahagia di saat seperti ini. Di dalam pelukan Mama Hana membuat dirinya tenang dan nyaman.


"Kalian harus selalu bahagia, sekarang semua sudah membaik. Bahkan Amara juga mempunyai 2 mama dan 2 papa. Kami akan selalu menjaganya, dan kamu Micho. Jangan menyakitinya," ucap Mama Hana.


Micho mengangguk pelan, Micho menghela napas panjang. merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna.


Suara itu membuat mereka menoleh, Rafa telah sadar dari pingsannya. Keadaanya telah membaik. Dia hanya mengalami luka ringan di tangan dan kakinya.


"Kakak," Amara berlari kecil ke arah Rafa.


"Stop! Kau itu bukan lagi gadis. Jangan berlari, itu membahayakan keponakanku!" cerocos Rafa. Mama dan papa saling memandang dan menatap ke arah Amara yang kini berhenti tepat di samping ranjang Rafa.


Mama mendekat dan menatap ke arah Amara yang tersenyum.


"Benarkah? Apa disini ada keponakan Rafa? Apa artinya papa dan mama akan mendapat cucu?" tanya Mama Hana.

__ADS_1


Amara mengangguk, mama Hana tampak tersenyum dan mengusap pelan perut Amara.


"Selamat sayang," ucapnya.


Papa Rusdi mengusap pelan pundak Micho dan merangkulnya sejenak.


"Selamat, Nak. Papa Harap kalian bahagia selalu, menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohnah," lirihnya. Micho tersenyum dan mengangguk pelan.


Hingga pada Akhirnya pintu terbuka. Tampak sepasang suami istri yang lebih muda dari Mama Hana dan Papa Rusdi mengucapkan salam. Mereka semua menoleh ke arah asal suara.


Sepasang suami istri itu mendekat, mereka tampak sedikit pucat. Amara melangkah maju dan menyambut kedatangan orang tua kandungnya.


"Papa, mama, kenapa kesini? Kalian harus istirahat. Nanti aku yang akan menghampiri kalian," ucapnya tampak khawatir.


Melati dan Kenzo memejamkan matanya, dia bangga dipanggil putrinya dengan sebutan yang sangat membahagiakan. Melati mengusap pelan pundak Amara.


"Kami tidak papa, justru kami sangat mengkhawatirkan kamu Nak," ucapnya.


Kenzo menatap Papa Rusdi dan Mama Hana kemudian mendekat ke arah mereka.


"Mbak, Mas. Saya Kenzo, dan dia Melati istri saya. Kami adalah..." ucapan Kenzo menggantung. Rasanya sangat tidak enak ketika akan mengatakan bila dia orang tua Amara sedangkan sedari kecil Amara berada dalam pengasuhan orang di depannya.


****

__ADS_1


__ADS_2