
"Sabrina," gumam Amara.
Nada memandang Amara dan mencoba mencari titik fokus yang di lihat oleh Amara, namun apa yang dilihatnya hanya punggung seseorang yang entah siapa pemiliknya.
"Ra, ada apa?" tanya Nada. Amara menyambar kunci mobilnya dan menancap gas mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Nada. Nada tampak khawatir dan menyusul kemana Amara pergi dengan mobil kencangnya.
*****
"Pak Mico," panggil Damar pada Micho yang masih saja mengamati punggung Taza yang menjauh dari pandangannya.
"Pak Mico,"panggilnya lagi. Micho tersentak kemudian menoleh kearah Damar yang memanggilnya.
"Iya, Ada apa Damar?" tanyanya.
"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Damar sambil tersenyum. Damar yang dari tadi mengamati gelagat bosnya itu semakin yakin jika bosnya sedang jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Micho menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dan menunjukan foto pada Damar.
"Itu foto yang aku ambil 6 tahun yang lalu. Apa kau melihat kemiripan dia dengan Nona Taza?" tanya Mico pada Damar. Damar mengulum senyum setelah mengamati foto itu.
"Kenapa tersenyum? Aku butuh jawabanmu, bukan senyumanmu," ucap Micho.
"Pak, ada kemiripan diantara mereka. Tapi bukankah didunia ini memang banyak wajah yang mirip?" ucap Damar. Mico menghela nafas panjang.
"Kau benar Damar," Sahut Micho.
"Apa bapak mengingat mantan setelah bertemu dengan Nona Taza? Atau Malah Nona Taza yang yang memikat hati Bapak?" tanya Damar lagi. Micho menatap tajam kearah Damar. Damar hanya menyunggingkan senyum.
"Sebaiknya Bapak mundur teratur, bahkan Nona Taza sudah bersuami. Tidak baik menggoda istri orang. Bapak juga sudah mempunyai istri yang cantik, apa anda mau memberikan istri anda pada saya saja?" ucap Damar. Micho tidak tahan lagi mendengar celoteh sahabat karibnya yang dari tadi berbicara formal itu. Micho mendorong pelan pundak Damar dan berlalu pergi. Damar tertawa, tidak salah lagi bosnya memang merasakan dilema cinta.
Damar yang sudah beberapa tahun menemani Micho sudah sering kali melihat foto Sabrina yang ditunjukan kepadanya. Seperti Micho Damar sempat berfikir jika itu adalah Sabrina.
Namun, tak ada gerak-gerik yang mencurigakan. Wanita itu bukan pura-pura tidak mengenal, tetapi gerak tubuhnya menunjukan benar-benar tidak kenal. Damar menghela nafas panjang kemudian mengikuti langkah Micho yang berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
Damar menghela nafas panjang, setelah mengetahui Bosnya itu mengikuti Mobil Taza yang juga melajukan mobilnya menuju kearah kanan. Micho mengikuti laju mobil Taza dan berjalan di belakangnya. Damar tersenyum tipis, memandangi 2 mobil itu.
"Micho, Micho selamat berjuang. Kau memang harus menyelesaikan masa lalu, agar masa depannya mempunyai alur, Aku yakin Sabrina sudah menemukan tujuan hidupnya. Sekarang giliran kamu memahami jalan hidupmu," ucap Damar.
Micho mengejar laju mobil Taza yang kencang, pelan. Kencang, pelan hingga sampailah mereka di sebuah bandara. Micho kehilangan jejak Taza. Namun, beberapa saat kemudian Micho menemukan keberadaan Taza, tetapi alangkah terkejutnya Micho saat mengetahui Taza membawa bayi yang tampan. Rasa sesak menyeruak dihatinya. Micho menghela nafas panjang.
"Sabrina ,dimana kamu? jika Taza itu kamu seperti yang aku duga. Lelaki mana yang telah merebut hatimu? Apa kalian benar menikah dan mempunyai anak?" gumam Micho. Dengan segala resah dan sesak yang mendera Micho melajukan mobinya dengan kencang.
*****
Disebuah rumah yang megah. Micho dan Damar saling berpandangan, sejak pertemuan dengan wanita cantik yang memperkenalkan namanya Taza Alexandra tadi siang, sosok Micho masih saja terdiam. Entah apa yang ada difikirannya.
"Bos ... apa yang bisa saya lakukan?" tanya Damar. Micho melirik asistennya itu. Entah, Micho enggan mengeluarkan suara.
"Istirahatlah... Aku akan pergi sebentar," ucap Micho kemudian melangkah pergi.
"Bos ... jangan mengabaikan ku. Kau harus memberi tau ku," ucap Damar lagi. Lelaki yang sudah bertahun-tahun menjadi asistennya itu. Dia mengikuti langkah Micho yang tergesa-gesa.
"Bos... apa iya bos masih mengira jika Nona Taza adalah nona Sabrina?" tanya Damar agak mengeraskan suarannya.
Micho tampak mengepalkan tangannya. Kini bayangan Taza dan Sabrina bergantian memenuhi memori otaknya. Hari ini adalah hari ulang tahun Sabrina, dan hari ini juga kemunculan Taza alexandra. Micho menghela nafas panjang. Tanpa menghiraukan asistennya ia pun melesat pergi.
Micho menancap gas mobilnya. Biasanya dia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahun Sabrina. Namun saat ini Micho memilih untuk pergi menuju sebuah rumah yang berada tak jauh dari rumahnya.
30 menit berlalu, kini Micho menatap kearah rumah disebrang sana. Rumah yang pernah berhias dengan keindahan untuk menyambut malam pertunangannya. Namun harus gagal karna ulah Wanita badut yang selalu menjadi bayang-bayangnya.
"Shittttttt," umpat sambil Micho memukul setir mobil dengan keras, rasa sesak menyeruak di dadanya.
"Sabrina, aku akan mencarimu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak peduli lagi bagaimana Papa akan marah padaku. 4 tahun kita pernah menjalin hubungan. 4 tahun pula kita berpisah dan nyatanya aku tidak mampu menghapus namamu," lirih Micho sambil mengamati rumah megah dipinggir jalan.
Micho melirik jam yang menunjukkan pukul 20.00. Dia pun melajukan mobilnya menuju kearah restauran yang tak jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
😁😁😁
Amara meletakan beberapa gelas di depannya, setelah merasakan sakit yang menghujam hatinya, Amara mencoba untuk melupakan segala rasa sakitnya dengan Minuman alkhohol yang selama ini dia hindari. Entah sakit kali ini berlipat-lipat dari sakit yang pernah dirasakan hingga membuatnya berbuat nekat. Melihat suaminya bermesraan didepannya seperti di sayat belati yang tajam.
"Dasar, manusia bejat. Manusia laknat. Harusnya tidak menikahiku, harusnya menolak permintaan papa. Agar kamu bahagia bersamanya, Aku menyakitinya karna kebejatanmu, menyakitinya karna kesalahanmu,menggagalkan pernikahannya kalian karena ulahmu," celoteh Amara di tengah mabuknya. ucapan Amara terdengar nyata ditelinga Nada. Nada hanya bisa mengusap air mata di tengah ke khawatirannya.
"Amara, ayo kita pulang." ucap Nada. Amara tertawa.
Nada merangkul Amara, mau kemana membawa Amara? pikirnya. Nada membawa Amara menuju ke apartemennya. Ponsel Amara berdering, Ada nama mama di sana. Nada menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.
"Iya tante, Amara bersama Micho." ucap Nada terpaksa membohongi orang tua Amara. Nada mematikan ponselnya dan Memapah Amara.
Diujung sana, Rayen dan Erika tampak mengamati 2 wanita cantik itu. Memastikan Apa itu benar-benar orang yang di kenalnya?
Rayen tersenyum tipis, tetapi Erika tampak mengepalkan tangannya.
******
Disisi lain, Micho menghabiskan malamnya dengan menikmati rokok di sebuah bar. Bayangan Sabrina, Taza mengiang diotaknya bergantian. Hingga deringan ponselnya mengganggu lamunanya. Micho mengambil ponselnya dan mendapati Rafa memanggilnya.
Micho menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.
"Amara bersamamu?" tanya orang disebrang to de poin dengan Nada sinisnya. Micho memejamkan matanya. Bahkan dia lupa telah menikah lemarin. Dan sekarang saat seseorang menanyakannya hatinya seakan baru ingat dan mengkhawatirkannya.
"Dia istriku, jangan ikut campur lagi urusannya, nikmati malammu, Tuan Rafael rusdiantoro." ucap Micho kemudian mematikan ponselnya.
"Amara," gumamnya pelan, hatinya sedikit sesak menyebut nama itu, Mikho menyambar kunci mobilnya dan berjalan ke luar bar.
#####
😍😍😍😍😍
__ADS_1