Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Lembaran baru.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian ponsel Micho berdering. Micho melirik ponselnya dan mengerutkan keningnya. Menejer restauran miliknya tengah menghubunginya.


Ada apa? batin Micho.


"Halo, Pak. Ada apa? "


"Maaf Pak Micho, ada beberapa orang membuat kekacauan di kantor. Kita mengalami banyak kerugian, kita harus bagaimana, Pak? Apa kita sebaiknya melapor kepada pihak berwajib? " tanya Menejer itu. Micho mengeratkan giginya dan mengepalkan tanganya.


Rafa... Ternyata kamu benar-benar menghancurkan ku? kenapa kamu tidak pernah bisa melihat aku. kenapa kamu tidak pernah mau menekan egomu? batin Micho.


"Tidak perlu, Pak. Biarkan saja, kita perbaiki kerusakan kita. Lupakan saja apa yang terjadi hari ini,"


"Baik, Pak."


"Lakukan yang terbaik,"


"Siap, Pak Micho."


"Oh, iya Pak. Saya memberikan wewenang seutuhnya kepada Pak Andi karna mulai besok saya harus pergi ke negara P. Saya harap Pak Andi bisa mengelola cabang yang disini dengan baik," ucap Micho.


"Jadi apa bapak fokus disana?"


"Ya, tepat sekali. Saya akan terbang besok. Jadi saya mohon bapak mengelola bisnis kita dengan baik." ucap Micho kemudian menutup panggilanya.


"Ada apa, Mic?" tanya Damar.


"Ada kekacauan di kantor cabang, kita mengalami banyak kerugian. Aku rasa Rafa yang melakukan ini semua, si pemarah itu masih saja tak mengenalku hingga melakukan hal ini." ucap Micho. Damar menghela napas panjang.


"Apa kau yakin ini perbuatan Rafa? "


"Siapa lagi kalo bukan dia? bukankah dia masih saja salah paham tentang Alea? dan sekarang dibumbui dengan insiden dengan adiknya? aku benar-benar muak dengan kakak beradik itu." ucap Micho. Damar menghela napas panjang.


"Jadi kita akan berangkat besok?"


"Hem, aku butuh hiburan. Aku sangat pusing dengan semua ini. Bahkan Sabrina benar-benar tidak bisa dihubungi sampai sekarang, datangi rumah pun aku di usir. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, aku yakin Sabrina sangat terluka. Mungkin menjauh menjadi hal yang lebih baik dari pada aku menyakitinya terlalu dalam." ucap Micho panjang lebar.


"Micho, apa kamu akan meninggalkan papa? " tanya laki-laki paruh baya yang baru saja datang itu. Micho terdiam, melihat Papanya seakan mengusik hatinya. Dia berfikir, bahwa kegagalan pernikahannya karna ada campur tangan papanya dengan Amara.

__ADS_1


"Micho,"


"Ini keputusan Micho, Pa. Micho mohon jangan menghalangi Micho. Bukankah ini kemauan papa, papa mau aku tidak menikah. Apa ini adalah bagian dari rencana papa untuk dan bersekongkol dengan Rafa untuk menggagalkan pernikahan ku?" ucap Micho.


"Micho, jaga mulutmu. Mana mungkin papa melakukan itu. Papa memang tidak setuju, tapi bukan berarti papa melakukan semua itu," bentak papanya. Micho menghela napas panjang.


"Lagi pula, Apa yang yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Nona Amara? kenapa tidak mengatakan secara tegas kalau memang tidak melakukannya? kenapa kamu seakan menggantung jawabanmu? "


"Itu urusanku, Pa."


"Papa kasihan pada Nona Amara, Mic."


"Nikahi saja jika papa Kasihan,"


"Mulutmu itu dijaga, Mic. Papa pastikan akan membantu Nona Amara untuk menjadi ancaman bagimu. Papa tidak akan membiarkanmu menikah kalo tidak dengan Nona Amara." ucap Micho.


"Sudahlah Pa, terserah. Aku tidak perduli." ucap Micho sambil mencium tangan Papanya kemudian melenggang pergi dan diikuti oleh Damar.


"Micho berangkat, Pa. Asalamualaikum.! " ucap Micho saat keluar dari pintu apartemen.


"Walaikumsalam," ucap Prayoga sambil menggelengkan kepalanya. Micho terlalu berharga baginya dan dia sangat menyayanginya.


"Bisa menjelaskan apa yang terjadi antara kamu dan Amara?" tanya Radit. Micho membulatkan matanya.


"Kamu mengenalnya? " tanya Micho dingin. Radit terdiam.


"Lupakan gadis gila itu, kau playboy sejati. Carilah wanita lain yang jauh lebih baik darinya," ucap Micho dan melenggang pergi. Radit mengeratkan rahangnya. Dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, dan tak tau kepastian apapun.


Amara, wanita yang sudah tidak bisa dihubungi itu mengusik hatinya.Dimana kamu Rara? batin Radit.


🙂🙂🙂🙂


Pagi hari di kediaman keluarga Rusdiantoro. Keluarga mereka berkumpul. Papa, Mama , Raka, Anin Rafa dan Amara saling memandang. Mereka syok dengan keputusan yang Amara Ambil. Memutuskan pergi ke Negara P setelah hampir seminggu tidak pulang. Ada apa sebenarnya? Pikir mama dan papanya.


"Sayang, apa benar tidak ada sesuatu?" tanya mamanya. Amara tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak mamanya.


"Apa Rara tampak berbohong, Ma?"

__ADS_1


"Ini terlalu mendadak, Sayang." ucap mamanya.


"Tapi aku sudah merencanakan jauh hari,Ma. Dan sekarang adalah final." ucap Amara.


"Amara sudah dewasa, Ma. Biarkan dia memilih apa yang menjadi pilihan hidupnya," ucap Papanya dan disenyumi oleh Amara. Mamanya mengangguk meskipun terasa berat. Mamanya memeluk erat Amara dan mengusap pelan pundak Amara.


"Hati-hati disana. Mama hanya bisa mendoakan kebahgiaan mu, Nak." ucap Mamanya. Amara mengeratkan pelukannya. Berat, jika pada akhirnya dia harus mengambil keputusan untuk pergi jauh dari keluarga. Tapi inilah jalan yang tepat untuk memulai lembaran baru tentang kehidupannya.


Beberapa saat kemudian papa dan mama meninggalkan ruang tamu. Raka dan Anin yang menangkap kesedihan diwajah Amara mendekat, Rafa tidak bercerita apapun dan itu membuat Raka dan Anin semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Amara.


"Apa kamu juga akan membohongi kami?" tanya Raka. Amara mencoba tersenyum dan menatap kakaknya.


"Aku tidak berbohong, Kak."


"Sungguh? "


"Hemmm,,, "


"Kalo begitu semoga berhasil, sukses dan meraih apa yang menjadi cita-citamu..."


" Amin, Kak. Terimakasih."


Pagi menyapa, suasana bandara begitu ramai. Pesawat untuk tujuan negara P sudah hampir berangkat. Kini Amara duduk di bangku paling depan. Air matanya mengalir deras mengingat perpisahan yang menyesakkan dadanya dengan keluarganya.


Amara yang dari tadi memakai masker tengah mengucir kuda rambutnya. Amara menghapus Air matanya, netranya melirik orang disampingnya. Dari tadi bersebelahan, tetapi tidak saling bicara. Diapun mengabaikan orang disampingnya, orang yang juga memakai masker, Topi dan jaket tebal. Orang itu tampak diam dan Amara malas sekali untuk memulai percakapan.


Beberapa jam berlalu, Sampailah mereka ke tempat tujuan. Saking berdusel Amara masih enggan untuk berebut jalan, ia menanti antrian sambil duduk. Netranya mendapati sebuah kotak, Amara mengambil kotak itu dan mengamatinya.


"Apa milik orang tadi?" Amara mengerutkan keningnya. Ia menyambar kotak itu dan berdiri, berharap orang bermasker itu masih ada di depan sana.


Amara menyela kerumunan dan tak mendapati orang bermasker itu. Amara melirik sebuah kartu nama yang berada disana.


"Pratama Yoga group?“


Nanti saja aku mencari, Aku harus segera pergi.. pasti yang menjemputku sudah datang. batin Amara.


Yang benar saja, sopir pesanan papanya sudah menjemputnya. Amara segera masuk kedalam mobil setelah berjalan cukup lama. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.

__ADS_1


Sheyna Amara Rusdiantoro. Jangan pernah terlarut dalam kesedihan... kamu mampu membahagiakan dirimu dengan usahamu. Lupakan masa lalu, hiduplah dengan lembaran baru Sampai takdir menuntumu mu untuk bertemu dengan manusia yang mampu menerima mu dengan segala kekurangan mu.....Micho Aditya Pratama.Kamu yang menghancurkan hatiku, Kamu mampu menggetarkan hatiku, walaupun kita tak saling mengenal. Aku menjadi Ancaman bagimu? Mana bisa, aku akan melupakan mu... mulai detik ini.... Amara...


😍😍😌😌😌


__ADS_2