
Malam hari yang dingin. Rafa, Micho dan Damar tampak baik-baik saja di depan kakek dan nenek. Tetapi masih seperti biasanya jika tak ada mereka. Mereka makan malam bersama dalam satu meja. Suasana begitu hangat, mereka berkumpul dan menikmati menu makanan yang di siapkan oleh Amara dan Nada.
Micho melirik kesana-kesini berharap menu masakan yang sama seperti kemarin ada, namun dia tidak menemukan makanan yang dia cari. Amara tampak mengamati gerak- gerik Micho yang masih diam saja.
"Kamu mau yang mana? Mau aku ambilkan?" Amara berjalan ke arah Micho dan berdiri disampingnya.
"Ambilkan, sepertinya aku harus menyamakan selera dengan kakak ipar. Yang ada disini semua adalah makanan kesukaannya," ucap Micho sambil menatap Amara dengan tersenyum.
"Wah, sepertinya kamu cukup dekat dengan kak Rafa, sehingga makanan kesukaannya saja kamu tau." ucap Amara sambil memberikan nasi kepada Micho kemudian melirik ke arah Rafa yang hanya diam saja.
"Jangan membicarakan ku," sahut Rafa. Amara dan Micho saling berpandangan. Rafa, masih saja seperti singa. Pikir Micho.
"Maaf jika kamu tidak suka. Besok pagi Aku akan memasak menu makanan kesukaanmu," ucap Amara. Micho mengangguk dan menikmati makanan yang Ada di depannya. Rafa hanya melirik ke arah 2 sejoli yang di rasa tengah berpura-pura itu.
**
Setelah makan malam bersama dengan hidmad, Nada dan Rafa memutuskan untuk pulang. Sedangkan Amara
merehatkan badannya di kamar bersama dengan nenek. Kini Damar dan Micho berada di balkon atas, ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Damar tampak tersenyum melihat layar ponselnya yang menampakan foto Amara dan Micho yang tampak mesra.
"Apa itu?" Micho merebut ponsel Damar dan mengamati foto dirinya dan Amara. Damar mengirim foto itu ke ponselnya kemudian menghapus foto yang berada di ponsel Damar. Micho melempar ponsel Damar, kemudian Damar menangkapnya.
"Kau menghapusnya, Bos?" tanya Damar sambil tertawa. Micho tersenyum tipis kemudian melihat ponsel yang kini ada di tangannya.
"Hapus atau tidak bukan urusanmu," Micho menekan galeri dan menemukan beberapa foto cantik Amara. Micho menjadikan salah satu photo Amara sebagai wallpapernya. Micho tersenyum dan menatap ke arah Damar.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Micho sambil meletakkan ponselnya ke meja.
__ADS_1
Damar memberikan beberapa berkas laporan keuangan. Ada beberapa perusahaan yang kembali mengambil saham yang mereka tanamkan. Micho menghela napas panjang. Prayoga sudah beberapa hari ini pergi entah kemana. Dia hanya bilang ada urusan mendadak. Kini Micho sendiri yang harus menghendel perusahaan yang berada di ujung tanduk.
"Apa alasan mereka? Kau tidak bisa mencegahnya?" tanya Micho. Damar menghela napas panjang.
"Aku mendengar Ada sekelumit orang yang membuat isue tentang perusahaan ini. Mereka bilang perusahaan ini bukan resmi milik Papa Prayoga." ucap Damar panjang lebar.
"Lalu?"
"Sebaiknya kita mempertanyakan kebenaran ini pada Papa," ucap Damar. Micho menghela napas panjang, dia tau betul bahwa papanya memang mengambil paksa perusahaan ini. Lalu, bagaimana prosesnya itu tidak di ketahuinya. Dan setelah setahun berlalu, kini segala isue negatif berdatangan.
"Apa perusahaan itu juga yang membuat krisis disini?" tanya Micho.
"Aku rasa begitu, tapi mereka mempunyai sistem keamanan yang memadai sehingga Aku tidak bisa melacaknya." ucap Damar. Micho mengambil beberapa berkas di tangan Damar dan mengamati dengan teliti.
"Aku rasa ada yang tidak beres dengan papa, Aku harus segera mengurusnya." ucap Micho dengan tenang. Damar mengangguk pelan.
"Abimanyu, Zahira, Andika, Khalista?" gumam Micho. Damar memperhatikan beberapa berkas yang ada di tangan Micho yang menerangkan bahwa mereka adalah anak-anak dari Tuan Alexander pemilik dari Alexander group sebelumnya.
"Kau biarkan saja keadaan seperti ini, jika memang papa menggunakan prosedur yang benar, meskipun perusahaan ini terpuruk sekalipun aku akan membangun kembali. Jika papa terbukti salah, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Micho kemudian melemparkan berkas ke meja. Damar mengangguk dan memberesi beberapa berkas yang berserakan di meja.
"Bagaimana bisa papa mengambil perusahaan ini? Sebenarnya siapa Tuan Alex? Kenapa bisa Tuan Alex mengelola perusahaan milik Om David yang seharusnya bisa saja di kelola papa?" gumam Micho sambil memijit pelipisnya.
"Sebaiknya Anda istirahat, Tuan." Damar memberikan saran. Micho melirik Damar dan mengangguk pelan.
"Aku rasa Anda akan sedikit tenang jika mendapat pelukan hangat dari Nona Amara." ucap Damar sambil tersenyum. Micho melirik ke arah Damar dan melemparkan bantal sofa pada Damar. Damar tertawa dan mengamati punggung Micho yang menjauh dari pandangannya.
Damar menghela napas dan tersenyum.
"Micho kau tampak bahagia beberapa hari ini, aku rasa kau telah jatuh hati pada manusia sebaik Sheyna Amara." ucap Damar kemudian melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
****
Rafa dan Nada menikmati suasana sebuah pasar malam yang indah di dekat apartment Nada dan Amara. Rafa beberapa kali mengumpat sehingga membuat Nada terpaksa meminta berhenti di pasar malam.
Kini mereka duduk di bawah pohon sambil menikmati keramaian.
"Sebenarnya apa yang membuat kakak seperti ini?" Nada mengarahkan pandangannya ke arah Rafa yang tampak sedikit tenang. Selama ini tak pernah ada yang tau tentang masalalu Rafa dengan detail. Yang Nada tau dan Amara, wanita yang di cintai Rafa lebih memilih orang lain sehingga membuat Rafa enggan membuka hati. Rafa hanya diam.
"Kak," panggil Nada sehingga membuat Rafa menoleh.
"Nad, bagaimana perasaanmu jika kau selalu bersanding dengan manusia laknat yang menusukmu dari belakang? Menodai persahabatan hanya karna wanita?" tanya Rafa. Nada menghela napas panjang. Mencoba mencari jawaban yang bisa di terima oleh Rafa.
"Kakak yakin dia menodai persahabatan kalian? Atau kalian hanya salah paham?" tanya Nada. Rafa sedikit tersentak dan memandang ke arah Nada. Rafa memperhatikan wajah cantik yang kini memandangnya dengan teduh. Cantik? Ya baru kali ini Rafa mengamati wajah Nada yang begitu mempesona. Wajah cantik yang selama ini hanya mampu menduduki sebagai adik di hatinya.
"Aku," Rafa menghentikan ucapannya. Nada mengusap pelan pundak Rafa. Meskipun ini membuat hatinya dag dig dug tak karuan, Nada mencoba untuk tetap bisa menguasai hatinya.
"Kadang kala, apa yang kita lihat tak sejalan dengan kenyataan. Kakak bisa membicarakan dengan baik, apapun masalahnya, kakak bisa membicarakan dulu," ucap Nada. Rafa tersenyum dan meraih Nada dalam sekarang hangatnya. Nada memejamkan matanya, Ini begitu membuat dirinya bahagia.
"Terimakasih, Nada. Kau dan Amara adalah adik terbaik yang aku punya," ucap Rafa pelan. Nada merasakan perih ketika Rafa mengucap kata adik yang begitu jelas terdengar di telinganya.
Nada meneteskan air mata, mencintai Rafa dalam diam membuat dirinya sakit. Mengungkapkan? bahkan hanya untuk menodai ikantan kakak beradik seperti ini dirinya tak mampu.
"Nada, kamu menangis? Ada apa?" Rafa melepas pelukannya dan mengangkat wajah Nada. Menghapus air mata Nada yang menetes tanpa henti.
"Nad, bicara sama kakak, ada apa?" tanya Rafa. Nada menggelengkan kepalanya.
"Kak, mencintai dalam diam itu sakit, begitupun cinta yang bertepuk sebelah tangan," ucap Nada. Rafa mengusap pelan pundak Nada dan kembali meraih Nada dalam dekap hangatnya.
*****
__ADS_1