Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
143


__ADS_3

Keduanya berjalan ke arah mansion dan bergabung dengan yang lainnya.


Andika, Micho, Bima yang tengah berbincang sontak mengamati dua wanita cantik yang kini berjalan beriringan. Dua wanita cantik dengan keistimewaan masing-masing tampak mengambil perhatian orang yang kini berada di acara tasyakuran itu. Mereka terus berjalan dan menghampiri Andika beserta Micho dan Bima.


"Sayang," ucap Micho dan Andika bersamaan. Bima, Sabrina dan Amara saling menatap.


Sekompak itukah kedua sepupu yang pernah terlibat percekcokan itu? Sabrina dan Amara tampak mengulas senyuman. Micho dan Andika saling beradu pandang, Andika memandang Micho dengan geram. Tampaknya Andika masih saja menaruh curiga pada Micho.


"Kenapa? Kau masih mencurigaiku?" tanya Micho. Andika terdiam, Micho menhgeleng pelan kemudian melangkah mendekat ke arah Amara. Menarik pinggang Amara dengan posesif dan mencium puncak kepala Amara.


Amara menatap Micho dengan gugup, bahkan wajahnya merah merona. Dia menatap di sekitarnya, banyak pasangan yang memperhatikan aksi Micho. Begitupun dengan Andika, tampak Andika mendekat ke arah Sabrina dan melakukan hal yang serupa.


"Kalian sudah selesai?" tanya Micho. Amara mengangguk pelan.


"Apa urusannya sudah beres?" tanya Andika pada Sabrina.


"Hem, kami sudah menyelesaikan masa lalu dan saling memaafkan," ucap Sabrina.


"Hem, Micho aku rasa aku terlalu mencurigaimu. Aku berharap semua sudah berakir, berbahahialah dengan istrimu," ucap Andika.


Micho tersenyum dan mengangguk, Bima dan Zahira yang membawa serta baby Ran tampak mendekat dan bergabung bersama dengan mereka. Mereka bercerita dan bercengkrama panjang lebar, menikmati indah acara malam ini dengan bahagia.


Beberapa saat kemudian, Amara, Micho dan Papa Prayoga pamit pulang karna memang acara telah usai. Setelah mengantarkan Papa Prayoga ke rumah. Amara dan Micho memutuskan untuk pulang ke mansion utama keluarga Rusdiantoro.


Micho memarkirkan mobil, dia tersenyum menatap ke arah Amara yang tampak berbunga. Wajah itu semakin lama semakin menawan dan membuat Micho semakin terpesona.


"Sayang," Micho mengusap pelan pipi Amara, membuat wanita cantik itu memejamkan Matanya.


Micho terdiam dan mengamati bibir merah muda yang tampak menggodanya, tak tahan dengan bibir Amara yang dari tadi menggodanya. Micho menyambar bibir ranum merah muda itu dan membuat gigitan kecil, Amara yang sempat terkejut kini membalas ciuman hangat suaminya. Mereka menikmati momen ini penuh cinta.


Setelah dirasa pasokan oksigen tengah habis, mereka mengakhiri ciuman itu. Keduanya saling menatap dan beradu pandang, Micho menerbitkan seulas senyuman yang kemudian membuat Amara tampak malu dan berhambur ke pelukan suaminya. Menenggelamkan wajah merahnya disana.

__ADS_1


Micho mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Amara beberapa kali.


"Sebaiknya kita ke dalam, aku akan melanjutkan sesuatu." Micho berucap pelan, membuat Amara tampak tersenyum-senyum sendiri di pekukan Micho.


"Apa yang akan kamu lanjutkan?" tanyanya.


"Sudah, nanti kamu juga akan tau. Kamu juga akan merasa bahagia," ucap Micho. Amara memdorong dada bidang Micho dan menatap wajah tampan itu dengan rona wajah yang merah merona.


"Dasar menyebalkan," ucap Amara kemudian melangkah keluar mobil.


Micho terkekeh melihat ke arah Amara, dia juga keluar kemudian mengikuti langkah Amara yang berjalan tampak terburu-buru karena malu. Dengan gerakan cepat Micho mengangkat tubuh Amara, Amara sontak melingkarkan tangannya ke leher Micho.


Amara tampak gugup ketika mereka berpapasan dengan Rafa yang kini baru saja pulang dari kantor.


"Malam Kakak Ipar," Micho menyapa. Rafa tersenyum melihat kedua orang didepanya.


"Malam, Amara kenapa?" godanya, dia melihat Amara yang mencoba ingin turun tapi suaminya menahannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya takut istriku kelelahan. Makanya aku menggendongnya," ucap Micho. Rafa tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ra, jangan malu. Seharusnya kau bangga suamimu begitu mengkhawatirkanmu, sekarang masuklah dan istirahat. Tampaknya kalian kecapean," ucap Rafa.


"Terimaksih kak, kami kedalam dulu." Micho melangkah pergi. Rafa menatap kedua adiknya dengan senyum, ia memejamkan matanya. Alea Bianca, wanita yang sangat dia cintai itu nyatanya masih saja mengabaikan dirinya. Rafa memandang langit luas, berharap suatu saat nanti Tuhan menuntunnya untuk bertemu dengan jodohnya dan bahagia seperti adiknya.



Micho membaringkan Amara di ranjang dengan pelan. Mencium puncak kepala Amara dengan sayang, kemudian melepaskan jas beserta kemeja dan menyisakan kaos dalam sehingga menampilkan tubuhnya yang atletis. Amara menatap suaminya dan terdiam.


"Apa aku terlalu tampan sehingga membuatmu terpesona?" tanyanya sambil memakai kaos oblong berwarna putih.


"Mana ada, kamu juga seperti kebanyakan lelaki. Hanya saja lebih sedikit," Amara memalingkan wajahnya dan tersenyum, ia bangun dan berdiri di depan Micho. Micho mendekat dan mengangkat dagu Amara.

__ADS_1


"Ish, tidak usah malu mengakui ketampanan suamimu," ucap Micho. Amara menepis pelan tangan Micho dan melangkah.


"Mau kemana? Istirahatlah," ucap Micho sambil menarik pinggang Amara sehingga keduanya dekat dan merapat. Micho menunduk dan menempelkan hidungnya ke hidung Amara. Membuat keduanya merasakan sensasi panas dingin yang memabukan. Walaupun beberapa bulan menikah, posisi seperti ini tetap membuat jantung keduanya berdetak tak beraturan.


"Aku juga mau ganti baju mas," ucap Amara.


"Mau aku bantu?" tanya Micho. Amara memejamkan matanya dan memahan tawa.


"Aku bisa sendiri mas," ucapnya. Micho mengusap pipi Amara dan menatap lekat ke arahnya. Netranya berfokus pada satu bekas luka jahit yang tampak samar di lengan kiri Amara. Luka yang menyimpan tanda tanya dan sampai sekarang belum sempat untuk dia tanyakan.


"Sayang,"


"Hem,"


"Boleh aku bertanya?" tanya Micho. Amara mengangguk pelan. Micho menjauhkan wajahnya dari Amara kemudian menatap lengan Amara.


"Ini luka apa?" tanya Micho. Amara menatap lengan kiri yang di pegang Micho. Ingatannya tertuju pada kejadian beberapa bulan lalu di bandara. Amara tersenyum dan menatap ke arah Micho yang menatapnya dengan cinta.


"Bekas luka," ucap Amara. Micho berdecak sebal. Dia tau itu bekas luka, tapi luka apa? Amara tertawa melihat ekspresi suaminya. Micho yang merasa geram membuat serangan dadakan yang membuat Amara tampak kualahan. Micho menciumnya dengan rakus hingga membuatnya kehabisan napas.


"Mas, hentikan," ucapnya sambil memdorong dada Micho.


"Masih mau menjawab yang membuat jengkel?" tanya Micho. Amara menggeleng pelan kemudian berjalan ke arah sofa. Micho mengikuti langkah Amara dan duduk di samping Amara kemudian membaringkan tubuhnya di pankuan Amara.


Amara menatap Micho yang kini ada di pangkuannya, tangannya mengusap pipi Micho dengan lembut.


"Luka ini luka sayatan pisau, jadi ceritanya waktu itu aku ..." Amara menghentikan ucapannya. Waktu itu dia ke bandara ingin melihat wajah Micho, orang yang di bencinya untuk terakir kalinya makanya di mengajak Nada dengan alasan untuk mencari udara segar, namun malah melihat penculikan. Lalu, apa dia harus menceritakan alasannya ke bandara?


"Waktu itu kenapa?" tanya Micho antusias.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2