
"Rara, jangan bersedih." suara itu membuat Amara mendongakkan kepalanya. Amara menangis pilu dipelukan Nada.
"Nada, ini beneran kamu?" tanya Amara meyakinkan. Nada mengangguk dan mendekap hangat tubuh Amara.
"Hemm, aku merindukanmu. Tanpamu sehari Saja membuat aku gila," ucap Nada. Amara melepas pelukannya dan mendorong pundak Amara.
"Kenapa kamu itu jadi narsis?" protes Amara sambil mengusap air matanya. Nada tertawa dan memandang sahabatnya.
"Bukannya kamu yang mengajariku?" sanggah Nada. Amara kembali mendekap hangat tubuh Nada.
"Terimakasih mau kesini untukku," ucap Amara.
"Kita berjuang bersama, merintis karir bersama dan sukses bersama." ucap Nada. Amara tersenyum mendengar penuturan Nada.
"You are my sunshine." ucap Amara. Nada mendorong tubuh Amara dari dekapannya.
"Kenapa malah mendorongku?" protes Amara. Nada mengamati wajah kesal Amara dan kembali merengkuh Amara dalam dekapannya.
"Kita berjuang mulai detik ini, Nona Sheyna Amara." ucap Nada dengan tegas.
"Semangat," sahut Amara sambil mengangkat tangannya bersemangat.
"Akan tetapi, berjuang tanpa ada mama, papa, Kak Rafa dan Kak Raka rasanya sangat berat, Nad." lanjut Amara.
"Jangan menyerah sebelum mencoba, kita berusaha bersama." ucap Nada lagi. Amara tersenyum dan mengangguk pada akhirnya.
"Apa yang membuatmu yakin untuk kesini? Apa Aku terlalu berharga bagimu?" tanya Amara dengan kenarsisannya. Nada menghela napas panjang dan tersenyum tipis.
"Apa aku Perlu menjawab pertanyaan tak berfaedah darimu itu?" Nada memiringkan kepalanya di depan wajah Amara. Amara menggelengkan kepalanya dan menggandeng tangan Nada kemudian menariknya menuju ke arah gedung.
Keduanya berjalan menuju ke arah gedung yang menjulang tinggi, mereka mengamati berbagai bahan pakaian dan beberapa desain cantik yang di rancang oleh Amara.
"Kamu dari mana? Aku sudah 2 jam disini, kenapa kamu baru muncul?" tanya Nada sambil mengamati pemandangan indah di bawah sana.
"Aku baru saja mengantarkan barang,"
"Pesanan?" tanya Nada penuh selidik.
"Tidak, Aku menemukan barang di dalam pesawat. Aku mengembalikan pada pemiliknya," Amara menatap langit biru yang indah.
"Apa?"
"Aku rasa perhiasan,"
"Pasti untuk orang tercinta," ucap Nada, Amara memandang Nada dengan tenang.
"Nada, tiba-tiba Aku kepikiran dengan calon istri Micho." Nada menatap Amara yang tampak gelisah.
"Apa yang membuat kamu memikirkannya?" tanya Nada sambil memegang pundak Amara.
"Aku merasa melakukan kesalahan, pasti dia bersedih karna ulahku." Amara memandang Nada dengan sorot kegelisahan.
"Jangan berfikir yang bisa membuat mu bersedih. Anggap saja kamu membebaskannya dari laki-laki jahanam seperti Micho." ucap Nada dengan tegas.
"Tapi, Nad. Aku menghancurkan pernikahan mereka, rasanya tak sanggup bila aku ada di posisinya. Ditinggalkan di hari pernikahan. Bahkan, dia tidak tau apapun tetapi harus merasakan kesedihan di hari bahagianya." Amara memegang tangan Nada yang berada di pundaknya.
"Coba katakan padaku, apa aku sangat jahat? aku mematahkan hati wanita lain demi suatu hal yang nyatanya tidak aku dapatkan." ucap Amara. Amara, gadis periang itu menjadi cengeng beberapa hari ini. Keadaan memaksanya untuk meneteskan air mata.
"Ra, coba tenangkan dirimu. Kita kesini untuk melupakan masa lalu, sebaiknya kita jalan-jalan. Aku dengar ada pasar malam diujung sana. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu disana?" tanya Nada dengan bahagianya. Amara menyunggingkan senyuman dan mengangguk pelan. Keduanya berjalan ke arah parkiran mobil.
__ADS_1
****
Mela dan lyli menundukkan kepalanya. Jam kantor sudah habis 15 menit yang lalu, tetapi mereka masih berdiri di hadapan Micho.
"Apa kalian masih betah berdiri disitu? Jangan membuang waktu, sekarang juga cari wanita itu dan berikan paperbag itu padanya,"
"Tapi, Pak. Nona itu menolak, bagaimana bisa kami memaksanya?"
"Aku tidak perduli, cari dan berikan padanya." Micho melihat jam yang melingkar di tangannya kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. Mela dan lyli saling berpandangan. Mereka menghela napas panjang.
"Kemana kita harus mencari?" tanya Lyly sambil memandang ke arah Mela. Mela menghela napas panjang dan mencoba berfikir.
"Aku akan coba meminta bantuan," ucap Mela sambil menekan ponselnya dan berbicara pada seseorang di sebrang sana.
"Bagaimana?" tanya Lily setelah Mela mematikan ponselnya.
"Sebaiknya kita bersabar dulu, sambil menunggu kita ke pasar malam saja. Kita cari udara segar di sana." usul Mela. Lyli mengangguk pelan, keduanya berjalan ke arah pasar malam yang tak jauh dari tempat mereka berada.
****
Micho berjalan di pinggiran jalan sambil memandang ke arah bianglala yang berputar, bibirnya melengkung membuat senyuman. Otaknya melayang jauh mengingat masa indah dengan Sabrina. Netranya memandang bianglala yang berputar, hingga beberapa saat kemudian netranya mendapati sebuah bayangan yang membuat senyumannya menghilang.
Bayangan gadis Yang merusak pernikahannya? Apa iya matanya tak salah lihat? dada Micho terasa sesak. Dengan langkah cepat Micho menuju ke arah bianglala. Netranya memandang bianglala yang masih saja berputar. Tetapi gadis itu tidak dia temukan disana.
"Shittt, kenapa tiba-tiba aku melihat bayangannya? menjijikkan, kalo bukan adik Rafa aku sudah akan menghancurkan hidupnya." gerutu Micho yang masih berdiri di bawah bianglala. 5 menit sudah dia berdiri, entah apa yang dia cari atau dia tunggu. Micho mengusap kasar wajahnya dan melangkah pergi meninggalkan arena bianglala.
Amara dan Nada duduk di pojokan. Amara yang takut berputar di bianglala merasakan mual. Nada tertawa Sambil memijat punggung sahabatnya.
"Ini karna ulahmu, coba saja kalau name tidak memaksaku pasti tidak seperti ini." ucap Amara. Nada masih saja tertawa, ekspresi Amara yang takut menjadi hiburan baginya.
"Terus saja tertawa, kau kelihatan bahagianya sekali melihatku menderita." ucap Amara sambil menekan pelipisnya.
Amara menoleh ke kanan, wajahnya tiba-tiba berubah saat melihat bayangan seseorang melitas disana. Nada memandang arah mata Amara dan mengarahkan wajah amara ke hadapannya.
"Micho, ada Micho disana." ucap Amara. Nada mengernyitkan dahinya. Memegang pundak Amara dan menatapnya.
"Ra, kita kesini untuk melupakan Micho. Semua tergantung padamu. Kamu bisa lupa, jika kamu mencoba melupakan. Tapi, jika kamu terus saja mengingatnya mau sampai kapanpun tak akan bisa lupa meskipun kamu menghilang di ujung dunia," ucap Nada.
"Tapi aku melihatnya," sanggah Amara. Nada menggelengkan kepalanya.
"Kamu dengarkan aku, aku mohon jangan sakiti dirimu sendiri dengan mengingatnya. Please, Ra. Tidak ada Micho disini, kita harus melupakannya. Okey," ucap Nada dengan pelan. Amara menghela napas panjang dan memejamkan matanya.
"Tuhan, apa aku salah lihat? Apa aku hanya terlalu larut dalam penyesalan sehingga aku selalu melihat bayangannya? Aku mohon, beri aku kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan ini," gerutu batin Amara.
"Okey, aku akan melupakan semua tentang Micho, tentang hatiku yang berdesir saat melihatnya. Tentang semua yang berhubungan dengannya." ucap Amara. Nada tersenyum dan memeluk Amara.
"Aku percaye kamu bisa, Ra." ucap Nada. Amara mengangguk dan tersenyum. Keduanya meninggalkan area bianglala dan berjalan.
"Astaga, Nona. Ini beneran Anda?" ucap seseorang saat Amara dan Nada berjalan ke arah parkiran. Amara dan Nada saling berpandangan, Nada seakan bertanya siapa mereka? Amara menggelengkan kepalanya.
"Nona lupa pada kami?" tanya gadis itu pada Amara yang tampak berpikir. Amara tersenyum tipis. Net tanya memandang 2 orange yang berpakaian rapi itu.
"Maaf, aku lupa. Kalian siapa?" tanya Amara.
"Maaf, Nona. Tadinya kami mau mencari nona. Tapi, belum ada kabar. Tiba-tiba saja kami melihat Nona disini. Maaf, untuk memastikan kami mengikuti Nona." ucap gadis itu lagi. Amara dan Nada mengernyitkan dahinya.
"Tapi kenapa mencariku? apa aku mengenal kalian?" tanya Amara penuh selidik.
"Atasan kami meminta kami untuk memberikan ini pada Nona." ucap gadis satunya sambil menyerahkan paperbag. Amara mengernyitkan dahinya dan tertawa.
__ADS_1
"Astaga, kalian karyawan di Pratama yoga tadi siang?" tanya Amara. Mereka mengangguk pelan. Amara menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Nona, please tolong kami. Terima ya, gaji kami bisa dipotong jika Nona menolak." ucap gadis itu sambil memegang pundak Amara.
"Sebaiknya kita mencari tempat, kita bicara disana." ucap Amara sambil menunjuk sebuah restaurant.
"Tapi Nona, apa tidak merepotkan?" tanya gadis satunya. Amara menggeleng dan mereka berjalan ke arah restaurant.
"Jadi bagaimana?" tanya Amara, 2 orang itu saling berpandangan.
"Jadi begini, Nona."
"Panggil aku, Sheyna saja. Aku tidak mau kalian memanggil Nona,"
"Tapi,"
"Tidak ada tapi, kalian panggil aku Sheyna dan dia sahabatku Nada." ucap Amara tegas sambil menatap 2 orang didepannya. 2 orang didepannya mengannguk pelan.
"Lalu siapa nama kalian?"
"Saya Mela, dan dia teman saya Lyli." ucap Mela. Amara mengangguk dan tersenyum.
"Jadi kenapa mencariku?" tanya Amara lagi sambil memandang 2 orang didepannya bergantian.
"Atasan kami memberikan ini pada Anda," ucap Lyli sambil meletakkan paperbag diatas meja. Amara mengamati paperbag itu. Nada hanya diam sambil mengamati wajah 2 orang itu bergantian.
"Tapi aku tidak bisa menerimanya," ucap Amara. 2 orang itu tampak putus asa.
"Jika Nona menolak, maka gaji kami akan di potong." ucap gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Mela. Amara memandang ke arah Nada seakan meminta pendapat. Nada mengannguk dan tersenyum.
Amara mengambil paperbag itu dan mengambil kotak perhiasan itu, dia membuka kotak itu. Ke empat wanita itu terkejut ketika melihat sepasang cincin yang indah, dan kalung indah berinisial S. Amara merasakan sesak didadanya, haruskah dia menerimanya? ini terlalu mewah, dan dia tak pantas menerima hadiah seperti ini dari seseorang lelaki. Amara takut untuk itu. Nada yang tadi mengangguk kini menjadi bimbang, dipastikan Amara mengingat kembali kesedihannya. Cincin seperti itu untuk pasangan, sedang Amara baru saja mengalami hal yang begitu berat.
"Maaf, tapi saya tidak bisa menerimanya." ucap Amara.
"Kami mohon, Nona. Kami mau makan apa jika gaji kami dipotong separo? Bahkan atasan kamu bisa saja memecat kami." ucap Lyli.
Amara menghela napas panjang. Menerima barang ini seperti mencabik dirinya, mungkin seorang wanita bahagia ketika cincin itu dari pasangan yang dia cintai. Tapi, Amara berusaha melupakan tentang itu. Pernikahan? bahkan hal yang didamba oleh setiap manusia itu menjadi hal yang begitu di takutkan oleh Amara saat ini. Dirinya yang merasa sudah tidak memiliki kehormatan, merasa tak punya sesuatu yang dapat dipersembahkan untuk suaminya kelak.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya." ucap Amara lagi dengan keras.
"Tapi, Nona."
"Jangan memaksaku, aku bilang tidak itu artinya tidak!" bentak Amara. Membuat Lyli Dan Mela diam membisu. Nada mengusap pundak Amara dengan halus.
"Ra, tenangkan dirimu. Mereka hanya menjalankan perintah, kamu tidak kasihan pada mereka?" tanya Nada. Amara yang sempat marah menghela napas panjang dan mencoba mengendalikan emosinya. Amara melirik kotak perhiasan itu dan mengambilnya.
"Okey, aku terima. Maaf aku membentak kalian. Sampaikan terimakasihku padanya." ucap Amara mencoba tersenyum. Mela Dan Lyli tersenyum. Mereka saling berpandangan Dan bernapas lega.
"Terimakasih, Nona. Kami tidak tau lagi harus bagaimana." ucap Mela.
"Sama-sama." sahut Amara.
"Silahkan, Nona." ucap pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Mereka menikmati hidangan dengan hikmad. Beberapa Saat kemudian Mela Dan Lyli pamit.
"Sheyna...Aku rasa mereka memang saling kenal. Inisial nama di kalung juga S." ucap Mela.
"Lalu, kenapa menolak Pak Micho? Apa Pak Micho berbuat salah sampai Nona Sheyna marah sekali ketika kita merengek, untung saja ada Nona Nada yang membujuk." ucap Lyli.
"Entahlah, yang penting kita sudah memberikannya." ucap Mela.
__ADS_1
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
maaf telat.... 😂😂😂😂