
"Apa laki-laki itu kamu mas?" tanya Amara.
Amara kembali terisyak, kakinya seakan tak kuasa menahan badannya sehingga ia terhuyung kedepan. Dengan cepat Micho menahan tubuh Amara dan merengkuh Amafa dalam dekapan hangatnya.
"Apa kamu benar-benar lelaki itu, Mas?" tanya Amara lagi. "Apa kamu orang yang menolongku, apa kamu lelaki bermasker itu?" tanya Amara bertubi ditengah isak tangisnya.
Micho hanya diam, hatinya benar-benar bahagia. Sekian lama menahan rasa ingin tau itu pada wanita tangguh itu, wanita yang mampu menarik perhatiannya, wanita yang menolongngnya dan belum berterimakasih padanya. Wanita yang mampu membuatnya kagum ternyata dia ada di depan matanya. Gadis yang mampu menarik perhatiannya itu adalah istrinya sendiri, bagaimana bisa ini terjadi? Kenapa dulu dia tak menyadari itu?
"Jawab, Mas! Jawab," ucap Amara lagi. Micho melepas pelukannya dan menatap wajah Amara yang sembab karena menangis. Micho meletakkan kedua tangannya di pipi Kanan dan kiri Amara.
"Tenangkan dirimu, aku mohon jangan menangis lagi. Tenangkan dirimu, Sayang!" ucap Micho pelan. Ucapan Micho bagaikan sihir yang kemudian membuat Amara terdiam.
"Kalau aku lelaki itu kenapa?" tanya Micho, reaksi Amara yang diluar dugaanya, karna banyak menuai tanda tanya di otaknya.
Amara terdiam rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk mengatakan apapun. Amara menatap lekat wajah Micho. Bertemu dengan lelaki waktu itu adalah hal yang membahagiakan. Bertemu lelaki itu membuatnya bangkit dari keterpurukan dan mampu memberinya harapan. Amara ingat betul harapan yang sempat dia ucapkan waktu itu.
Tuhan, bolehkah aku berharap bahagia suatu saat nanti? Bolehkah aku berharap dipertemukan dengan lelaki yang baik, seperti laki-laki itu? Laki-laki yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain. Lelaki yang mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain, lelaki yang bertanggung jawab dan mencintai aku apa adanya? Bolehkah aku berharap menjalani kehidupan dengan bahagia?
Sekarang takdir telah menjawab semua harapannya, sekarang takdir sudah memberikan apa yang menjadi kemauannya. Micho, lelaki yang dulu sangat di bencinya nyatanya adalah orang yang mambangkitkan harapannya. Lelaki yang baik yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya. Lelaki yang mau berkorban dan lelaki yang mencintai dirinya dengan apa adanya.
Amara larut dalam kepiluan sampai tak kuat menahan dirinya. Amara merosot menjatuhkan dirinya. Dengan cepat Micho meraih tubuh Amara dalam rengkuhannya, dia panik dan membawa Amara ke dalam kamar. Dia takut jika kandungan Amara terganggu karna hampir saja jatuh.
"Sayang, hei kamu kenapa?" tanya Micho setelah membaringkan istrinya di ranjang. Micho mengusap air mata Amara, menatap dengan teduh wanita yang begitu dia cintai. Dia tidak tau apa yang membuat istrinya seperti ini.
"Coba katakan kalau mas lelaki itu," ucap Amara. Micho sontak menatap lekat ke arah Amara. Apa sepenting itu? Apa lelaki itu juga mempunyai cerita indah dan ruang istimewa di hati istrinya? Micho mengusap pelan pipi Amara dan tersenyum.
"Apa dia istimewa?" tanya Micho pelan.
Amara terdiam, ingatannya tertuju pada satu set perhiasan berinisial S yang dia simpan di laci. Lelaki itu dan pemilik satu set perhiasan yang pernah dia terima dulu dia percayai adalah orang yang sama. Jika orang di bandara itu adalah Micho, apa artinya pemilik perhiasan berinisial S itu juga Micho?
Amara memejamkan matanya. Apa Micho tau jika yang menemukan perhiasan itu dirinya, kemudian meminta asistenya mencarinya? Atau justru dia tak tau sama sekali? Apa Tuhan benar-benar menunjukan kebesarannya dan memperlihatkan jika jodoh telah di takdirkan dan diatur olehnya?
"Hei, apa dia istimewa?" tanya Micho lagi. Amara menatap ke arah Micho.
"Ya, dia istimewa. Laki-laki yang baik, Laki-laki yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain. Laki-laki yang mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain, dan lelaki yang bertanggung jawab," ucap Amara.
__ADS_1
Amara tak bisa berucap apapun lagi. Dia terus menangis. Amara memandang kearah Micho, ia menatap Micho dengan tenang. Micho tersenyum dan menarik Amara dalam dekapannya.
"Apa kamu jatuh cinta padanya?" tanya Micho.
Amara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Micho. Amara menyusupkan wajahnya di dada bidang Micho. Mencari kehangatan, ketenangan dan kenyamanan di sana.
"Kenapa tidak menjawab? Hem?" Micho menghoda istrinya, membuat Amara tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada Micho. Micho mengeratkan pelukannya, bahagia sekali menemui kenyataan ini. Amara, wanita ini begitu istimewa. Wanita yang penuh kejutan, wanita yang Tuhan kirimkan untuknya.
"Aku akan menjawabnya nanti, sekarang aku yang gantian akan bertanya beberapa hal padamu," ucap Amara sambil beranjak dari pelukan Micho.
"Jawab dulu," pinta Micho.
"Aku bilang nanti, aku akan bertanya padamu dulu," sanggah Amara. Micho menghela napas panjang.
"Apa?" tanya Micho, dia membaringkan kepalanya di pangkuan Amara dan mencium perut datar di mana buah cintanya berada, membuat Amara merasa sangat bahagia.
"Apa? Kenapa lama sekali?" tanya Micho tak sabar, membuat Amara tertawa. Amara mengusap kepala Micho yang berada di pangkuannya dengan lembut.
"Boleh tau sesuatu yang istimewa yang pernah mas berikan pada pasangan?" tanya Amara. Micho terdiam.
"Apa yang kamu inginkan? Aku akan memberikan untukmu." Micho menggenggam tangan Amara dengan erat kemudian menciumnya dengan lembut. Amara menggeleng pelan.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Micho. Dia bangun dan menatap wajah Amara yang tampak sembab.
"Aku hanya bertanya, tidak meminta," ucapnya.
"Apa kamu mau tas? Sepatu? Rumah? Mobil? Katakan saja, atau kamu mau..."
Cup
Amara membungkam Micho dengan ciuman. Micho seketika terdiam, dia menyeringai tipis. Amara hampir saja melepas ciumannya, malah Micho yang enggan melepaskannya, membuat Amara tampak dongkol dan mendorong Micho dengan kesal.
"Sepertinya kamu mulai nakal, tapi tidak papa aku sangat suka," goda Micho yang berhasil membuat Amara malu.
"Aku butuh jawaban, mas," ucap Amara. Micho tampak enggan menjawab.
__ADS_1
"Aku belum pernah memberinya untukmu, apa yang kamu mau?" tanya Micho lagi.
"Bukan aku," sahut Amara.
"Lalu?" tanya Micho.
"Ya tentunya dulu mas pernah berhubungan dengan orang lain, pasti ada lah sesuatu yang istimewa yang mas berikan," ucap Amara.
"Yang berlalu biarlah berlalu, bukan waktunya untuk cemburu dengan masa lalu,"
Micho tampak sedikit geram dan berdiri kemudian berjalan ke arah jendela. Dia ingat betul, satu-satunya sesuatu yang istimewa baginya adalah satu set berlian yang limitid edition yang dia pesan dari temanya, perhiasan itu adalah perhiasan yang mempunyai harga fantasti. Kado pernikahan yang akan dia berikan pada Sabrina tetapi gagal dan entah dimana keberadaannya. Amara mengingatkannya pada luka yang telah sembuh, dan bukankah Amara telah berdamai dengan Sabrina? Lalu untuk apa membahas masa lalu kembali? Pikirnya.
Amara berjalan ke arah Micho dan berdiri disamping Micho, ia menarik Micho sehingga mereka saling berhadapan. Mata mereka saling beradu.
"Jangan marah, Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Kamu tadi memaksaku untuk menceritakan masalalu, sekarang aku memaksamu untuk melakukannya. Beratkan?" tanya Amara sambil tersenyum, Micho memejamkan matanya. Apa ini yang dirasakan Amara saat dia mendesaknya? Padahal hanya menjawab apa susahnya? Bukankah cinta mereka saat ini telah bersatu?
"Maafkan aku," ucap Micho. Amara mengalungkan tangannya di leher Micho dan mendongak, sedang Micho menunduk ke arah Amara.
"Jika laki-laki yang menolongku itu adalah kamu, aku meyakini jika kamu juga yang meninggalkan sesuatu di pesawat waktu itu," ucap Amara.
Micho tampak mematung, meninggalkan sesuatu di pesawat? Micho menatap Amara dengan sorot mata teduh, mencoba mencerna ucapan Amara dengan tenang. Satu-satunya yang sengaja dia tinggalkan adalah perhiasan, lalu apa maksud dari Amara?
"Apa maksudmu?" tanya Micho sambil mendekatkan wajahnya ke arah Amara.
Amara tersenyum, jadi Micho memang tidak tau jika dia yang menemukannya? Jadi memang Tuhan yang mengaturnnya? Amara tertawa, lucu saat mengingat dua orang karyawan Pratama yoga yang menangis kepadanya waktu itu. Karyawan yang akan dipotong gajinya jika dirinya menolak perhiasan itu. Jadi Pratama Yoga adalah perusahaan Micho? pikirnya.
"Kenapa tertawa?" tanya Micho. Amara tersenyum dan menyambar bibir Micho, keduanya tenggelam dalam samudra indah. Kali ini, Micho melepas ciuman Amara. Micho memegang kedua pipi Amara dan menatapnya lekat.
"Kenapa tertawa?" tanya Micho lagi.
"Apa dua karyawanmu yang mengantarkan perhiasan yang sengaja kamu tinggal masih bekerja di Pratama yoga group?" tanya Amara. Micho tampak membelalakan matanya.
🤣🤣🤣
Like komen hadiah yokkkkk... panjang sekali lo🤣
__ADS_1